Ringkasan Khotbah - Part 1


Tips: untuk mempermudah pencarian gunakan "Ctrl+F"
 lalu masukkan nomor ringkasan khotbah, misalnya "#22"
atau bisa juga judul yang terdapat di Daftar Isi
untuk memperbesar / memperkecil tulisan, "Ctrl+" / "Ctrl-"
untuk melihat ayat-ayat Alkitab, bisa menggunakan web:



Daftar Isi

#21 - 20/12/2009 – Pendewasaan MRII Kebon jeruk, "Tangisan Nabi Hagai" - Pdt. Aiter, M.Div.

#22 - 27/12/2009 - "Aku Melupakan Apa yang di Belakangku" - Pdt. Aiter, M.Div.

#23 - 3/01/2010 - Seri Khotbah Kalimat Paradoks dalam Alkitab (#1) "Jadilah Batu Sandungan & Jangan Jadi Batu Sandungan" - Pdt. Aiter, M.Div.

#24 - ...

#25 - 17/01/2010 - "Hidup Adalah Kristus, Mati Adalah Keuntungan" - Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.

#26 - 24/01/2010 - Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#3) "Tuaian Banyak, Pekerja Sedikit" - Pdt. Aiter, M.Div.

#27 - ...

#28 - 7/02/2010 - "Tujuan Kedatangan Yesus ke dalam Dunia" - Pdt. Michael Densmoor

#29 - 14/02/2010 - Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#5) "Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#1)" - Pdt. Aiter, M.Div.

#30 - 21/02/2010 - Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#6) "Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#2)" - Pdt. Aiter, M.Div.

#31 - 28/02/2010 - Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#7) "Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#3)" - Pdt. Aiter, M.Div.

#32 - 7/03/2010 - "Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu" - Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.

#33 - …

#34 - 21/03/2010 - "Coram Deo" - Pdt. Liem Kok Han, S.Th.

#35 - 28/03/2010 - Kebaktian Perdana di Gedung Baru, "Kesedihan Yesus" - Pdt. Aiter, M.Div.

#36 - 4/04/2010 - Kebaktian Paskah & Perjamuan Kudus, "Dukacita Menjadi Sukacita" - Pdt. Aiter, M.Div.

#37 - 11/04/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #1" - Pdt. Aiter, M.Div.

#38 - 18/04/2010 - "Panggilan Simson" - Ev. Alwi Sjaaf

#39 - 25/04/2010 - "Providence & Suffering" - Pdt. Liem Kok Han, S.Th.

#40 - 2/05/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #2: Signal Pertama" - Pdt. Aiter, M.Div.

#41 - 9/05/2010 - "Kasih Tidak Berkesudahan" - Pdt. Tumpal H.

#42 - 16/05/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #3: Signal Kedua" - Pdt. Aiter, M.Div.

#43 - 23/05/2010 - "Hari Pentakosta: Mujizat Di Pentakosta" - Pdt. Aiter, M.Div.

#44 – 30/05/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #4: Signal Ketiga" - Pdt. Aiter, M.Div.

#45 - 6/06/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #5: Signal Ketiga (#2)" - Pdt. Aiter, M.Div.

#46 - 13/06/2010 - "Firman Menjadi Daging" - Pdt. Ivan Kristiono, M.Div.

#47 - 20/06/2010 - "Kesetiaan Rut" - Ev. Eko Sumardi, M.C.S.

#48 …
#49 …
#50 …
#51 …

#52 - 25/07/2010 - "Ketika Firman Tuhan Datang Kepada Kita" - Pdt. Agus Marjanto, M.Div.

#53 - 1/08/2010 - "Ibadah yang Sejati" - Pdt. Andi Halim, S.Th.

#54 - 8/08/2010  - "Eksposisi Kitab Yunus #8: Refleksi Kepada Seluruh Eksposisi Yunus 1" - Pdt. Aiter, M.Div.

#55 – 15/08/2010 - “…” - Pdt. Aiter, M.Div.

#56 - 22/08/2010 - "Eksposisi Kitab Yunus #10 : Yunus 2 (#2) - Ciri Allah Sejati (#1)" - Pdt. Aiter, M.Div

#57 – 29/08/2010 - “Eksposisi Kitab Yunus #11: Yunus 2 (#3) - Ciri Allah Sejati (#2)” - Pdt. Aiter, M.Div.

#58 …

#59 - 12/09/2010 - "Iman Perwira Di Kapernaun" - Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.






Pendewasaan MRII Kebon Jeruk  
#21 – 20/12/2009

"Tangisan Nabi Hagai"
Pdt. Aiter, M.Div.

Hagai 1:1-11.
Kita bersyukur hari ini kita bisa mengadakan Kebaktian Pendewasaan memakai Kampus Emas ini. Dulu tempat ini dipakai Pdt. Stephen Tong untuk Kebaktian Minggu GRII Pusat, dan setelah GRII Pusat pindah ke Kemayoran maka banyak jemaat di wilayah Jakarta Barat merasa kejauhan pergi ke Kemayoran, dan banyak jemaat mengusulkan dibentuknya MRII wilayah Jakarta Barat. Maka setelah mempertimbangkan dan menggumulkan beberapa tahun, maka bulan Agustus tahun 2009 ini kita mulai PRII (Persekutuan Reformed Injili Indonesia) Kebon Jeruk setiap hari Sabtu jam 13.00 di Jln. Panjang Kav.10 (Samping Restoran Bumbu Desa), dan hari ini diadakan pendewasaan menjadi MRII Kebon Jeruk. Setelah itu, MRII akan rutin kebaktian Minggu jam 17.00 WIB di samping Restoran Bumbu Desa tersebut. 

Hari ini temanya adalah “Tangisan nabi Hagai”. mari kita melihat latar belakang dari seluruh PL dari pertama munculnya mezbah sampai akhirnya jadi Bait Allah. Dalam PL orang-orang mendirikan mezbah untuk beribadah kepada Tuhan. “Mezbah” pertama (meskipun tidak ditulis secara hurufiah) yang didirikan oleh manusia dicatat di Kej. 4. Di “mezbah” pertama inilah terjadi pembunuhan: Kain membunuh Habel. Pembunuhan ini terjadi pada saat ibadah. Waktu “mezbah” yang begitu suci didirikan, di situ juga dosa juga bekerja. Paulus mengatakan, “… dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian bagiku …” (Rom. 7:13). Beribadah itu baik, tetapi waktu seseorang beribadah, dosa masuk di dalamnya sehingga terjadi pembunuhan; Mengabarkan Injil itu baik, tetapi waktu orang yang pergi mengabarkan Injil akhirnya sambil mengabarkan Injil sambil berbuat dosa. 

Dalam PL, mezbah menjadi suatu ingatan penting bahwa manusia membutuhkan Tuhan, menyatakan kehadiran Tuhan dan harus menyembah Tuhan. Manusia harus sadar dirinya adalah ciptaan dan membutuhkan Allah Pencipta, dan sebagai wujud respons manusia kepada Sang Pencipta, manusia mendirikan mezbah dengan memberikan korban-korban persembahan yang menyenangkan Tuhan. Habel adalah orang pertama yang sangat mengerti isi hati Tuhan, mengapa? Selain dia memberikan persembahan yang terbaik untuk Tuhan berupa anak sulung kambing dombanya, Habel juga mempersembahkan lemak-lemak binatang tersebut untuk Tuhan. Mengapa korban persembahan binatang mesti beserta lemak-lemaknya? Habel adalah orang pertama yang mengkaitkan persembahan itu harus berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan Tuhan. Sebelum Musa menuliskan hukum tentang mempersembahkan binatang beserta lemak-lemaknya, Habel jauh-jauh hari sudah mengerti konsep ini. Musa mencatat dalam Im. 1:3, 8 tentang mempersembahkan korban bakaran lembu harus beserta lemak-lemaknya; dan Im. 1: 10, 12 tentang mempersembahkan kambing domba harus beserta lemak-lemaknya. Mengapa demikian? Karena lemak menimbulkan bau yang menyenangkan Tuhan (Im. 1:9, 13). Meskipun Habel hidup jauh sebelum Musa hidup, iman dia sudah menerobos sampai ke tahta Tuhan yg paling dalam, yaitu bagaimana menyenangkan hati Tuhan di dalam memberikan korban persembahan. Hal ini tidak berarti Tuhan memilik hidung untuk mencium seperti manusia. Dan Habel juga adalah orang pertama yang dicatat di dalam Kitab Ibrani sebagai orang beriman. Di mezbah itulah Habel menyatakan imannya kepada Tuhan yang dia sembah. 

Sampai kepada jaman Abraham, Abraham terus ingat mendirikan mezbah untuk beribadah kepada Tuhan. Mezbah juga merupakan tempat manusia bersekutu dengan Tuhan. Oleh sebab itu setiap manusia yang ingin bersekutu dengan Tuhan berhak mendirikan mezbah. Dan di PL kita melihat sangat banyak didirikan mezbah-mezbah. Setiap orang bias dirikan mezbah dari satu kota ke kota yang lain. Sampai kapankah mezbah-mezbah ini terus didirikan? Mari kita melihat di jaman Musa.

Pada jaman Musa, Tuhan memerintahkan Musa mendirikan Kemah Suci (Kel. 25, 26). Tuhan-lah yang memberitahukan kepada Musa apa saja yang perlu dibuat secara detail, baik ukurannya maupun materi yang dipakai dan harus dilapis dengan apa. Semuanya itu harus dibuat sesuai petunjuk Tuhan, karena ibadah orang Israel harus berbeda dengan ibadah bangsa lain. Kalau bangsa-bangsa lain mendirikan kuil-kuil tempat ibadahnya berdasarkan ide mereka sendiri, namun orang Israel tidaklah demikian. Tuhan-lah yang menentukan semuanya itu, termasuk siapa yang harus bertugas di dalamnya. Jaman sekarang, orang sudah tidak lagi mau cari tahu apa yang Tuhan mau dalam ibadah, tetapi maunya memaksa Tuhan yang setuju apa yang manusia lakukan di dalam ibadah.

Apa bedanya mezbah dan Kemah Suci? Kalau mezbah bisa banyak didirikan, namun Kemah Suci hanya satu. Mezbah didirikan orang dari satu kota ke kota lain atau dari satu tempat ke tempat lain (seperti jaman Abraham), tetapi Kemah Suci di didirikan waktu orang Israel ada di padang gurun. Karena orang Israel hidupnya berpindah-pindah selama 40 tahun di padang gurun, maka Kemah Suci juga ikut dibawa berpindah-pindah menurut pimpinan tiang awan dan tiang api. Dan tabut perjanjian ditempatkan di sana (Bnd. Kel. 40:20-21).

Pada jaman Daud, waktu Daud sudah tinggal di rumahnya yang mapan, dia memanggil Nabi Natan dan menceritakan pergumulan yang dialaminya, “… Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.” (II Sam. 7:2), Lalu Nabi Natan menjawab, “… Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau.” (II Sam. 7:3). Perhatikan kalimat berikutnya, “Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman.” (II Sam. 7:4-6).

Pertama kali saya baca ayat di atas, saya sangat tersentuh sekaligus heran; Tersentuh karena Tuhan katakan dari dulu Tuhan tinggalnya berpindah-pindah. Bukankah dunia ini milik Tuhan? Mengapa Tuhan ingin ambil satu tempat saja perlu waktu yang sangat panjang. Heran karena Daud ingin rumah Tuhan cepat-cepat didirikan, tetapi Tuhan berkata TIDAK. Nabi Natan juga setuju ide Daud, tetapi Tuhan katakan TIDAK. Tuhan memang tahu semua pikiran Daud itu baik, tetapi belum saatnya, karena saatnya mendirikan rumah Tuhan bukan di jaman Daud, melainkan Tuhan menetapkannya di jaman Salomo. Jadi daud mempunyai mata yang melihat ke depan atas kebutuhan mendirikan rumah Tuhan secara permanen, namun bukan dia orangnya yang akan mendirikan rumah Tuhan. Kadang-kadang kita juga melihat di jaman ini, ada orang-orang tertentu ingin sekali gereja cepat-cepat dibangun, maka tidak heran kalau banyak gereja langsung buka cabang, beli tanah bangun gereja, renovasi gereja, dan lain-lain. Semua ini memang baik, namun cara Tuhan kadang-kadang berbeda, Tuhan memilih mengembara di padang gurun 40 tahun dengan tidak ada tempat yang tetap. Saya tidak bisa membayangkan jikalau nanti MRII kita selama 40 tahun berpindah-pindah kontrakan. Tema Tuhan mengembara 40 tahun dalam kemah sebagai tempat kediaman, merupakan tema yang menarik. Dalam prinsip Pdt. Stephen Tong mendirikan cabang-cabang Gereja Refomed mengadopsi cara seperti di atas, yaitu silahkan sewa tempat untuk persekutuan (kadang-kadang perlu pindah berkali-kali), lalu gumulkan baik-baik sampai tiba waktunya baru beli tempat sendiri. Persekutuan Reformed Injili (PRII) Kebon Jeruk sampai Sabtu kemarin masuk pertemuan ke-20, dan selama 20 kali pertemuan tiap Sabtu kas hanya sekitar 15 juta. Orang kira Kebun Jeruk daerah orang-orang kaya, pasti persembahan akan besar. PRII dimulai dengan dana nol dan tidak ada dukungan dari GRII Pusat. Kita harus berjuang sendiri sampai jadi. 

Saya tidak bisa bayangkan perasaan Daud waktu idenya ditolak oleh Tuhan, dan Tuhan memilih Salomo untuk mendirikan rumah Tuhan. Padahal usul dan inisiatif datang dari Daud. Kalau saudara dalam rapat majelis mengutarakan ide bagus namun ide saudara ditolak, bagaimana perasaan saudara? Ada orang tertentu yang langsung tinggalkan gereja. Bagaimana respon Daud setelah idenya itu ditolak Tuhan? Dia tidak marah kepada Tuhan, namun dia mempersiapkan bagian yang bisa dia siapkan demi mensukseskan pembangunan rumah Tuhan (Bnd. I Taw 28:11-21; 29:1-9). Ini namanya berjiwa besar. Jikalau setiap orang tahu bagiannya masing-masing di dalam Kerajaan Allah, maka pekerjaan Tuhan akan berlangsung dengan baik. 

Salomo adalah seorang anak muda yang dipakai oleh Tuhan untuk mengerjakan perkara yang besar, yaitu mendirikan Bait Allah secara permanen. Namun, setelah Bait Allah jadi, orang-orang Israel malah terus berdosa kepada Tuhan dan bahkan Salomo sendiri akhirnya jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala. Maka akhirnya Tuhan ijinkan Bait Allah dihancurkan oleh musuh dan orang-orang Yahudi di Kerajaan Selatan (Yehuda) ditawan ke Babel. Dan setelah 70 tahun, mereka pulang kembali ke Yerusalem atas perintah Raja Koresh untuk mendirikan Bait Allah yang sudah hancur itu. Saudara perhatikan di sini terjadi sesuatu yang menarik sekali, waktu kembali dari pembuangan menuju ke tanah perjanjian, Tuhan memakai Yosua / Yesua bin Yozadak, dan waktu dulu orang Israel keluar dari Mesir masuk ke tanah perjanjian, Tuhan memakai Yosua (pengganti Musa). Jadi ada 2 Yosua yang pernah membawa orang Israel masuk ke tanah perjanjian. Nama “Yesus” di dalam bahasa PL sama dengan “Yosua” yang artinya “Juruselamat” Jadi dua Yosua yang membawa orang Israel masuk ke tanah perjanjian merupakan gambaran dari Yesus yang adalah Yosua sejati yang akan membawa umatNya masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 

Dua orang yang membawa orang Israel pulang dari pembuangan Babel ke tanah Perjanjian adalah Yosua dan Zerubabel. Yosua adalah gambaran dari Yesus, sedangkan Zerubabel adalah tokoh penting di dalam Silsilah Mat. 1 yang kehadirannya mengikat mata rantai dari Daud sampai lahirnya Mesias. Dua orang inilah yang memegang peranan penting dalam pembangunan kembali Bait Allah yang sudah dirubuhkan. Langkah pertama yang dibangun adalah mezbah (Ezra 3:2-3) lalu orang-orang Israel beribadah di situ dan mempersembahkan korban persembahan kepada Tuhan. Lalu selanjutnya mereka meletakkan dasar Bait Suci TUHAN (Ezra 3:10) dan setelah muncul gangguan dari pihak musuh, maka pembangunan rumah Tuhan akhirnya dihentikan. Gangguan yg datang waktu pembangungan rumah Tuhan itu adalah gangguan dari org Samaria. Orang Samaria itu adalah kelompok orang Yahudi yang di Kerajaan Utara. Sebelum kerajaan Salomo terpecah menjadi 2: Utara (=Israel) dan Selatan (=Yehuda), dulunya bangsa Israel adalah satu kesatuan. Jadi yang menjadi penghambat pembangunan rumah Tuhan pada waktu itu adalah orang-orang Yahudi itu sendiri. Ini satu fakta yang masih terjadi sampai hari ini. Seringkali penghambat gereja-gereja baru didirikan bukanlah orang non-Kristen, melainkan orang Kristen itu sendiri; Penghambat penginjilan bukan orang non-Kristen, tetapi orang Kristen itu sendiri. 

Sebagai pemimpin dan orang kunci, Yosua dan Zerubabel tidak boleh lengah. Tetapi kedua orang ini akhirnya takut dan tidak lagi melanjutkan pembangunan karena dilarang juga oleh pihak pemerintah. Seluruh rakyat akhirnya juga menjadi pasif karena pemimpin mereka juga sudah pasif. Satu gereja akan hancur, jikalau pemimpinnya pasif. Jikalau di satu gereja, gembalanya tidak suka mengabarkan injil, maka kita akan temukan hampir seluruh jemaatnya juga tidak suka kabarkan Injil atau pasif. Semua persembahan yang dibawa pulang dari Babel untuk pembangunan rumah Tuhan, akhirnya tidak digunakan, dan orang-orang Yahudi yang pulang dari pembuangan tadi akhirnya kembali ke pekerjaan mereka masing-masing dan melupakan panggilan mula-mula. Lalu kemungkinan persembahan yang tidak jadi digunakan itu, mereka gunakan untuk pembangunan rumah sendiri.

Akhirnya Tuhan membangkitkan dua nabi: Hagai, dan Zakharia untuk menegur Yosua, Zerubabel dan orang-orang Yahudi yang sudah menikmati kesenangan dunia dan melupakan pekerjaan Tuhan. Dalam Hag. 1:5, 7 muncul 2x kalimat “Perhatikanlah keadaanmu!”, mengapa? Karena mereka belum sadar ada sesuatu bahaya yang sudah terjadi dalam hidup mereka. Mereka menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; mereka makan, tetapi tidak sampai kenyang; mereka minum, tetapi tidak sampai puas; mereka berpakaian, tetapi badan mereka tidak sampai panas; dan upah hasil jerih lelah pekerjaan mereka ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang. Pernahkah saudara evaluasi diri saudara dan kehidupan keluarga saudara? Mengapa usaha saudara selalu ada gangguan yang begitu besar? Mengapa di rumah tidak ada sukacita? Perhatikanlah keadaanmu! Mengapa semuanya ini terjadi? “Oleh karena rumahKu yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (Hag. 1:9). Di dalam hidup saudara, pernahkah saudara renungkan berapa banyak kebocoran uang yang keluar? Saudara menabung terus untuk diri sendiri, lalu mobil saudara tabrak tiang dan harus keluarkan uang puluhan juta bayar ke bengkel mobil lalu ada orang yang uang Perusahannya dilarikan oleh bendahara kepercayaannya; dan lain-lain. Perhatikanlah keadaanmu! Oleh sebab itu, dahulukanlah pekerjaan Tuhan. Nabi Hagai menegur dengan begitu keras, dan akhirnya terjadi pertobatan besar-besaran dan akhirnya pembangunan rumah Tuhan difokuskan kembali. Saya mau Tanya, dalam hidup saudara, saudara lebih pentingkan rumah sendiri atau rumah Tuhan? Kalimat Pdt. Stephen Tong yang terus saya ingat dari pertama kali saya dengar dia ucapkan adalah “Kalau saya terus memperhatikan rumah Tuhan, masakan rumahku tidak diperhatikan oleh Tuhan?” Saya pernah satu kali semobil dengan Pdt. Stephen Tong berdua, lalu saya tanya beliau apa maksud ayat dalam Yoh. 2:17, “… Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.” Beliau menjawab: kita harus terus mengorbankan diri kita sebesar-besarnya untuk pekerjaan rumah Tuhan. Lalu dia balik tanya saya, apa maksud ayat itu menurut saya? (ini teknik apologetika Pak Tong: tanya balik). Lalu saya bilang, jawabannya sama. Lalu saya menambahkan kalimat, “Saya mengamati hidup bapak, kalimat itu ada di dalam diri Bapak.” 

Saudara-saudara, barangsiapa yang terus rela mengorbankan dirinya untuk pekerjaan Tuhan, orang itu pasti tidak dibuang Tuhan. Waktu saya masuk penginjilan ke daerah-daerah terpencil, saya menemukan seluruh buah-buah pelayanan beliau di sana, dan jejak-jejak kakinya yang pergi melayani dari masa muda, tidaklah sia-sia. Orang-orang di pedalaman tidak melupakan beliau, dan apa yang pernah dilakukan beliau terus membekas di dalam diri orang-orang di pedalaman. 

Rumah Tuhan hanya bisa jadi jikalau seluruh jemaat mulai meninggalkan urusan rumah sendiri, dan kembali mengutamakan pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan harus diutamakan lebih dari urusan keluarga kita. Dengan cara inilah gereja Tuhan baru akan diberkati Tuhan. Setelah Hagai menegur dua pemimpin tersebut, dan mereka akhirnya sadar akan kesalahan mereka. Ini belum cukup, karena semua orang Yahudi juga harus mengalami pertobatan yang sama dan semua orang harus terlibat di dalam pembangunan rumah Tuhan, tidak ada yang terkecuali. Saya tidak tahu kapan MRII Kebon Jeruk akan punya tempat ibadah secara permanen. Namun Tuhan memberikan beban pelayanan yang begitu berat di wilayah Barat ini, karena wilayah Barat akan menjadi salah satu tempat yang sangat padat penduduknya.

Point terakhir, apa yang harus dilakukan setelah rumah Tuhan selesai? Waktu rumah Tuhan sudah jadi, Alkitab mengatakan akhirnya orang-orang Yahudi melakukan dosa, terjadi korupsi, dan orang-orang mulai meninggalkan pekerjaan Tuhan. Penyakit rohani jaman sekarang adalah ketidakkonsistenan di dalam mengutamakan pekerjaan Tuhan. Secara periodik orang masih bisa konsisten, tetapi kalau secara jangka waktu yang panjang, sulit untuk konsisten. Setelah rumah Tuhan selesai, akhirnya orang kembali lagi memikirkan urusan rumah sendiri dibanding pekerjaan Tuhan. Akhirnya Tuhan tidak lagi berkenan kepada mereka, dan akhirnya Tuhan mengirimkan nabi yang berikutnya, yaitu Nabi Maleakhi yang kembali menegur umat Tuhan. Nabi Maleakhi menegurkan kembali semua umat Tuhan. Alkitab mencatat satu-per-satu nabi yang dibangkitkan oleh Tuhan di PL dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Pada waktu Nabi Zakharia menegur dosa dan kesalahan orang-orang Yahudi, dia akhirnya dibunuh, “… Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya … mulai dari darah Habel sampai kepada darah Zakharia yang telah dibunuh di antara mezbah dan Rumah Allah …” (Luk. 11:49-51). Dimanakah Zakharia dibunuh? Di antara mezbah dan Rumah Allah itu adalah tempat berdoa syafaat. 

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang tertulis dalam Alkitab, dan biarlah kita berdoa, kalau tiba waktunya kita dapat tempat ibadah yang permanen, kita terus semua bersehati, terus mengutamakan pekerjaan Tuhan dan bergandeng-tangan melakukan pekerjaan Tuhan. Tuhan pasti memberkati keluarga dan pekerjaan kita. Mari kita berdoa.

(ringkasan ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah-Danny)


#22 – 27/12/ 2009 

"Aku Melupakan Apa yang di Belakangku"
Pdt. Aiter, M.Div.


Filipi 3:5-14.
Dulu saya pernah memikirkan mengenai seluruh anatomi tubuh manusia yang Tuhan ciptakan ini, saudara perhatikan rata-rata seluruhnya menghadap ke depan, hanya satu yang menghadap ke belakang yaitu pantat. Apa bijaksana yang Tuhan mau nyatakan? Mengapa Tuhan ciptakan seperti itu? Lalu waktu saya membaca bagian ayat ini, Paulus mengatakan lupakan apa yang di belakang; lihat apa yang di depan. Tuhan ciptakan mata taruh di kepala supaya lihat ke depan, kalau mau lihat ke belakang, leher mesti menoleh ke belakang, tetapi tidak begitu leluasa, hanya melihat ke depan yang leluasa. Mengapa? Supaya manusia selalu memandang ke depan, dan bukan hidup terus memandang ke belakang.

Apakah ini kontrakdiksi dengan mempelajari sejarah? TIDAK. Belajar sejarah memang selalu menoleh ke belakang dan belajar hal-hal masa lampau. Tetapi yang Paulus maksudkan adalah menoleh ke belakang melihat semua prestasi yang pernah dicapainya. Jadi kita mesti mengetahui ada hal tertentu yang betul-betul kita harus sampahkan di belakang, dan ada hal tertentu yang kita mesti gali dari belakang. Jikalau kita tidak bisa bedakan mana sampah dan mana “harta” di belakang, kita akan menjadi orang yang sangat kasihan. Ada orang yang lihat ke belakang tapi dia lihat sampah terus, ada yang lihat ke belakang, tapi yang dia temukan seluruh “mutiara” dari orang-orang bijaksana jaman dulu. Pdt. Stephen Tong adalah orang yang suka melihat ke belakang untuk menganalisa sejarah dan menemukan semua bijaksana yang terkandung dalam kebudayaan Timur, Barat, dll, maka dia akan mendirikan museum. 

Ada orang yang selalu melihat ke belakang tapi yang dia lihat adalah sampah. saya pernah ketemu satu orang bapak di rumah sakit. Dia bilang “saya sangat benci satu orang”. Saya tanya siapa orang itu? Dia bilang orang itu adalah saudara kandungnya sendiri dan dia sangat benci sampai hari itu. Lalu saya coba tanya, mengapa dia begitu membenci saudara kandungnya? Dulu waktu saudaranya susah dia pernah bantu, dan sekarang saudaranya itu sudah kaya dan malah menghina keluarga dia padahal dia sudah membantunya dulu. Lalu saya penasaran dan bertaya, “saudara kandung bapak itu sekarang ada dimana? Lalu dia jawabnya mengagetkan saya, “sudah mati beberapa tahun yang lalu”. Orangnya sudah mati, tetapi bencinya masih “hidup” terus. Waktu kebencian sudah muncul maka kebencian akan menyita dan mencuri kehidupan seseorang bahkan sampai bertahun-tahun, sehingga orang itu sulit sekali dipakai Tuhan. Saudara-saudara, jadikan sampah apa yang betul-betul sampah. Kalau yang tidak berguna itu dijadikan sampah itu gampang sekali, tetapi kalau suatu prestasi pelayanan dan pengalaman kesuksesan hidup dijadikan sampah, ini yang paling sulit. Apa yang Paulus anggap sebagai sampah dalam hidupnya? Semua prestasi dan kebanggaan yang pernah dia miliki: disunat pada hari ke-8 dari bangsa Israel. Bukankah seluruh orang Yahudi juga disunat pada hari ke-8? Ya, kalau saudara melihat semua kalimat Paulus ini, saudara akan menemukan dia memakai semacam gradasi untuk menjelaskan makin lama makin tinggi gradasinya. Waktu orang Yahudi menyombongkan diri mereka disunat pada hari ke-8, orang tua mereka akan senyum-senyum dan berkata dalam hati “kamu bisa disunat pada hari ke-8 karena saya yang menyunatkan / membawa kamu disunat”. Sunat hari ke-8 bukan membuktikan bayi tersebut yang beriman, melainkan orang tua bayi tersebut yang beriman kepada janji-janji Allah kepada Abraham. Dari suku Benyamin, orang Ibrani asli. Kalau disunat pada hari ke-8, semua orang Israel juga disunat pada hari ke-8. Tetapi apa kaitannya dengan suku Benyamin? Tidak semua orang Yahudi adalah suku Benyamin atau tidak semua suku di Israel adalah suku Benyamin. Seluruh suku Israel ada 12, tetapi hanya 1 yang adalah suku Benyamin. Jadi ini sudah lebih spesifik. Mengapa Paulus membanggakan dia dari suku Benyamin? Kalau saudara lihat di PL, suku Benyamin adalah suku yang paling kecil dan suku yang dianggap suku yang hina. Waktu Saul diangkat sebagai raja, dia pernah mengatakan, “Bukankah aku seorang suku Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin?” (I Sam. 9:21). Mengapa demikian? Karena salah satu kaum di suku Benyamin pernah melakukan dosa percabulan yang luar biasa sekali, maka semua suku Israel yang lain sangat menghina suku Benyamin (Hak. 19-21). Suku Benyamin pernah dianggap sebagai borok diantara 12 suku Israel. Jadi apa kelebihan suku Benyamin? TIDAK ADA. Memang dari suku Benyamin pernah keluar satu raja yang memerintah Israel yaitu Saul,  tetapi raja ini akhirnya ditolak dan dibuang Tuhan. Dan ini menjadi hal yang sangat memalukan suku Benyamin. Paulus bangga dia dari suku Benyamin, karena diantara seluruh kaum di suku Benyamin, hanya pernah muncul satu orang seperti Paulus yang berbeda kualitasnya dibanding seluruh kaum di suku Benyamin yang pernah ada. Tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurah aku tidak bercacat.  Bandingkan dengan Kis. 22:3-4, “Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia, tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah menganiaya pengikut-pengikut Jalan Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.”

Semua orang Yahudi dituntut untuk setia menjalankan Taurat, tetapi tidak semua orang yahudi disebut orang Farisi. Paulus berani menyatakan dia adalah orang Farisi. Orang Farisi adalah orang-orang yang tidak usah pegang Alkitab di tangannya, tetapi semua ayat PL sudah dihafalnya sejak masa mudanya. Kalau orang bisa hafal banyak ayat Alkitab, seringkali ini menjadi kebanggan orang tersebut. Saudara kalau tidak hati-hati, saudara akan menjadi sombong seperti orang-orang Farisi. Paulus bukan hanya bangga dia adalah orang Farisi biasa, namun dia adalah Farisi dari Mazhab yang paling keras (Kis. 26:5). Jadi di dalam ordo orang-orang Farisi: ada semacam Farisi abangan, dan ada Farisi yang betul-betul orthodox (mazhab yang palng keras). Kalau saudara kumpulkan semua kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Paulus, saudara betul-betul setuju bahwa tidak ada orang sejaman dia yang mempunyai prestasi pelayanan dan pengalaman pelayanan yang sangat mengagumkan pada jamannya. Dia dianggap pembela agama Yahudi yang paling berani pada jamannya, penangkap dan pembunuh orang-orang Kristen yang paling rajin. Dia adalah pembunuh yang paling berani membunuh orang Kristen pada gereja mula-mula. Semua orang-orang Farisi biasanya beraninya keroyokan ramai-ramai. Tetapi Paulus tidaklah demikian, dia terjun sendiri: tanpa memakai budak, tanpa memakai orang-orang yang sudah dicuci otak seperti halnya teroris jaman sekarang. Aku penganiaya jemaat, bukan aku suruh orang menganiaya jemaat. Dalam mentaati hukum taurat aku tidak bercacat. Saudara berani katakan kalimat ini? Beranikah saudara katakan saudara tidak ada cacat cela? Kalau seorang istri berkata kalimat ini, suaminya pasti langsung kasih tau berapa banyaknya kesalahan si istri. Demikian sebaliknya. Dalam dunia ini, sedikit orang yang berani mengatakan kalimat yang mirip seperti itu. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa dalam hal keuangan, dia tidak bercacat; dalam hal wanita, dia tidak bercela. Hanya orang-orang yang sudah mencapai level iman tertentu yang berani mengatakan kalimat seperti itu. Kita kembali ke perkatan Paulus tadi, “dalam mentaati hukum taurat aku tidak bercacat”. Ini adalah prestasi yang luarbiasa yang dimiliki Paulus sebelum dia menjadi orang Kristen. Kesombongan jaman sekarang ini adalah kesombongan secara rohani, yaitu prestasi-prestasi rohani yang pernah dicapainya. Seseorang kalau sudah makin banyak pelayanan dan makin lama jadi orang kristen, kadang-kadang makin sombong, bukan makin rohani. Waktu Paulus bisa berhadapan langsung sama Mahkamah Agama untuk meminta surat rekomendasi menangkap dan membunuh orang Kristen, pernahkah saudara pikirkan mengapa Paulus bisa gampang bertemu Mahkamah Agama yang begitu terhormat pada waktu itu? Ada commentary (tafsiran) yang mengatakan kemungkinan besar Paulus adalah salah satu anggota Mahkamah Agama sehingga dia bisa leluasa masuk ke Mahkamah Agama dan meminta surat rekomendasi. Bayangkan berapa tingginya kepercayaan kepada Paulus waktu itu. 

Semua kebanggaan Paulus ini akhirnya dianggap sebagai sampah setelah Yesus menundukkan dia. Waktu Yesus menundukkan dia, ini suatu mujizat besar, karena siapakah orang  sejaman Paulus yang tingkat rohaninya dan intelektualnya yang melebihi Paulus yang bisa menundukkan Paulus? Siapakah yang bisa berdebat ilmu agama dengan Paulus? Agama mana yang bisa taklukkan Paulus? TIDAK ADA. Bagaimana dengan Petrus? Tingkat intelektual Petrus kalah jauh jika dibandingkan dengan Paulus. Namun Yesus sendiri menaklukkan Paulus. Pada saat Paulus dibutakan, itulah hari dimana Tuhan menguburkan semua kesombongan Paulus yang adalah sampah. Semua prestasi Paulus hanya sampai kepada prestasi “menjalankan/perbuatan” bukan kepada prestasi “iman” kepada Tuhan Yesus. Waktu Tuhan Yesus membutakan Paulus, seluruh kebanggaan Paulus bisa membaca ayat Alkitab menjadi sirna, karena jaman dulu tidak ada Alkitab khusus untuk orang buta. Lagipula bagi orang Yahudi, hanya orang-orang berdosa yang mendapat murka dari Tuhan. Dan sekarang Paulus akan dianggap orang yang dimurkai oleh Tuhan, lalu orang kusta dianggap orang yang dimurkai Tuhan dan Paulus sudah tidak bisa lagi mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup dan tidak bercacat kepada Tuhan, karena dirinya sendiri sekarang sudah ada cacat yaitu buta. Mengapa Paulus rajin melayani Tuhan tapi sekarang dimurkai Tuhan? Inilah pertanyaan yang terus digumulkan oleh Paulus. Sejak waktu itulah Paulus harus memikirkan ulang seluruh filsafat pelayanannya dan hari itulah Tuhan mengubah seluruh konsep hidup dia. Di dalam hidup ini kadang-kadang kita perlu minta ada satu wakttu dimana Tuhan membutakan” hidup kita sehingga kita baru sadar mana yang sampah dan mana yang bukan. Setelah Paulus dirubah oleh Yesus, barulah dia bisa melayani Tuhan dengan leluasa dan ada hari depan. Barangsiapa yang masih mempunyai kesombongan rohani akan sulit dipakai oleh Tuhan secara besar, karena orang tersebut selalu mencuri kemuliaan Tuhan. Orang yang belum dirubah oleh Tuhan, selalu arah hidupnya menoleh ke belakang kepada prestasi-prestasi yang pernah dicapai. Orang yang jalannya selalu menoleh ke belakang, selalu tidak mungkin jalannya akan cepat (kecuali dikejar anjing). Semua pelari olimpiade kalau bertanding, mata mereka harus tertuju ke depan dan terus berlari-lari sampai ke tujuan di jalur yang sudah ditentukan baginya. Tidak ada pelari yang menoleh ke kiri-kanan, namun semua harus selalu terfokus ke depan. Semua orang yang ingin jalan makin lama makin cepat, maka mata mesti konsentrasi ke depan supaya tidak jatuh tersandung.

Setelah Paulus menyadari semua di belakang itu sampah, dia mengarahkan ke depan kepada satu point penting, “dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorangawi dari Allah dalam Kristus Yesus”. (Flp. 3:14). Jadi hadiah di depan adalah panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Siapakah yang berlari mengejar panggilan seperti itu? Justru banyak orang Kristen melarikan dari panggilan Tuhan. Jarang orang mau lari menghampiri dan menggenapkan panggilan.  Mayoritas orang-orang Kristen melarikan diri dari panggilan dan pelayanan. Paulus lain, dia tahu panggilan Tuhan baginya itu menuju ke mana, maka dia larinya menuju ke sana. Saya sangat terkagum2 sama Paulus. Saudara mau tau apa panggilan Tuhan terhadap Paulus? Apakah sesuatu yang enak? TIDAK. Panggilan Tuhan kepada Paulus adalah panggilan yang beratnya luar biasa, “Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku." (Kis. 9:15-16). Dan, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” (Kis. 20:22-24).

Waktu kita sudah tahu panggilan kita ke depan sesuatu yang berat, berani tidak kita lari menuju ke panggilan tersebut? Setiap tahun, pelayanan di Reformed pasti selalu dilipatgandakan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Banyak gereja dan pendeta kalau bisa setiap tahun kurangin pelayanan. Di Reformed kami tidak ada istilah libur atau cuti dari pelayanan, setiap waktu harus siap selalu. Berbahagialah orang-orang atau gereja-gereja yang sepanjang tahun Tuhan masih memberikan kepercayaan pelayanan yang semakin banyak. Untuk KKR Regional Tahun depan (tahun 2010), saya sudah merencanakan akan mengunjungi lebih banyak kota lagi. Dari KKR Regional tahun 2006 – 2009 saya dan Ev. Radjali sudah mengunjungi 162 kota / desa di seluruh Indonesia. Pergi mempersiapkan KKR Regional betul-betul perlu kekuatan yang sangat besar, karena mengelilingi kota-kota yang kecil-kecil ini resikonya sangat besar, kadang-kadang harus menempuh perjalanan yang begitu jauh dan jalan begitu rusak, istri dan anak mesti ditinggal di rumah, dan kadang harus menyeberang naik perahu kecil, dll. Tetapi karena desakan dari Tuhan, maka kita harus kerjakan ini semua. Tahun 2010, saya perkirakan bisa masuk melayani ratusan kota. Semuanya ini Tuhan pimpin secara bertahap sampai tahun ini, dan sekarang kita harus berlari terus ke depan. 

Bulan Januari 2010, kami akan KKR Tana Toraja Trip-2 sampai ke Palopo. Dulu waktu survey untuk KKR trip-1, saya dengan Ev. Jimmy Mihardja hampir naik motor ke Palopo survey, tetapi karena waktunya tidak memungkinkan maka kami hanya bisa survey di Makale, Rantepau dan sekitarnya. Waktu survey untuk trip-1, saya dari Makasar naik bis malam menuju Toraja dengan menempuh perjalanan sekitar 9 jam. Setelah survey dari pagi sampai sore, malamnya saya naik bis malam lagi dari Toraja menuju Makasar. Akhirnya KKR Toraja Trip-1 sudah selesai dilaksanakan 26-29 Oktober 2009 dan menjangkau sekitar 12.500 siswa-siswi. 

Kita harus berlari menuju ke panggilan Tuhan atas kita pribadi lepas pribadi. saya tanya saudara punya panggilan ke mana? Menuju ke villa besar? Kalau paulus menuju ke Israel, bangsa-bangsa lain, menuju ke Raja-raja. Setiap kita mesti gumulkan baik2. Saudara sedang berlari menuju ke mana? Atau saudara masih menoleh ke belakang dan sedang bernostalgia dengan prestasi, dengan ilmu, dengan gelar yang didapat sebelumnya? Akibatnya saudara tidak akan pernah maju-maju. Mari kita tinggalkan semua yang sampah lalu kita bersama-sama berlari menuju panggilan sorgawi bagi kita masing-masing di tahun 2010. Mari kita berdoa.  

(ringkasan ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah-Danny)


 #23 – 3/01/2010 

Seri Khotbah Kalimat Paradoks dalam Alkitab (#1)
"Jadilah Batu Sandungan & Jangan Jadi Batu Sandungan"
Pdt. Aiter, M.Div.


Matius 15:7-14.  
 Beberapa hari yang lalu, saya terus memikirkan, akan khotbah seri apa di permulaan MRII di tahun ini. Akhirnya Tuhan memimpin untuk saya mulai dengan Seri Khotbah Kalimat-kalimat Paradoks Dalam Alkitab. Hari ini kita akan membahas  kalimat pertama, yaitu: Jadilah Batu Sandungan, & Jangan Jadi Batu Sandungan. Sekarang kita akan memperhatikan ayat-ayat yang mengatakan tentang batu sandungan:

1.       Perhatikan Mat. 15:12, murid-murid (rasul) Yesus berkata, “... Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?” Lalu Yoh. 6:60 murid-murid (bukan rasul) Yesus berkata, “... Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Dan 1 Kor. 1:22-23, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

2.       Sekarang kita lihat Roma 14:21, “Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu.” Lalu Mat. 17:27 tentang membayar bea Bait Allah dua dirham, “Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kau pancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga."

Dua kelompok ayat di atas isinya ada perbedaan kualitas yang sangat besar. Kapan harus menjadi batu sandungan, dan kapan tidak boleh menjadi batu sandungan? Tentang tema kita harus menjadi batu sandungan, konteksnya berbicara tentang menyatakan kebenaran & Injil keselamatan. Karena, pada waktu kita menyatakan Injil keselamatan kita pasti akan menjadi batu sandungan bagi orang yang hidup di dalam gelap, ini sesuatu yang tidak bisa dikompromi.  Injil yang kita beritakan itu pasti akan menjadi batu sandungan bagi mereka yang tidak percaya. Alkitab katakan, bagi orang-orang Yahudi berita salib adalah batu sandungan. Mengapa? Karena semua orang Yahudi sudah mengetahui bahwa keselamatan di dalam Allah, tetapi sekarang mengapa keselamatan bisa di dalam Kristus? Jikalau Kristus adalah Allah, orang Yahudi tidak akan menerima bahwa ada dua Allah. Mereka percaya Allah yang sejati adalah Allah yang di dalam PL (Yehova), jadi tidak mungkin menerima konsep ada Allah lain selain daripada Yehova. Mereka pasti akan memilih keselamatan hanya di dalam Yehova bukan di dalam Yesus. Maka baik Yesus maupun para rasul jika memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi, mereka akan menganggap pemberitaan itu sebagai batu sandungan. Setelah Yesus khotbah begitu keras di dalam Yoh. 6, tentang diriNya yang akan di matikan, “makanlah dagingKu, dan minumlah darahKu”, maka segera muncul respons dari para murid, “... Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Jadi khotbah Tuhan Yesus pada waktu itu menjadi batu sandungan kepada beribu-ribu orang (minimal 5.000 laki-laki, belum termasuk wanita) dan bahkan ada tafsiran yang mengatakan kemungkinan total bisa 10.000 orang yang waktu itu dikenyangkan oleh Tuhan Yesus melalui mujizat 5 roti dan 2 ikan. Setelah itu orang terus berbondong-bondong mengikuti Yesus, karena mereka datang kepada Yesus hanya untuk melihat dan mengalami mujizat (ingin makan roti gratis). Sekarang ini kalau gereja ingin penuh, gampang sekali. Tawarkan saja mujizat dan tawarkan makanan. Waktu pertama kali PRII, kita tulis alamat PRII ada di “jln. Panjang - Samping Rest. Bumbu Desa), lalu ada orang yang mau ikut bilang, “Saya pesan 5 tempat untuk 5 orang”. Dia kira acara PRII kita ada kaitan dengan makan bersama di Bumbu Desa. Padahal kita pakai Bumbu Desa sebagai penunjuk tempat saja, bukan kita ada join dengan mereka. Semua acara TV yang unsurnya ada menawarkan mujizat-mujizat seperti pengusiran setan, dan sebagainya selalu akan menjadi siaran siaran favorit banyak orang, dan acara humor-humor yang menyenangkan telinga akan menarik minat banyak pemirsa. Jadi mata dikenyangkan karena melihat hal-hal mengenai mujizat dan telinga dikenyangkan karena mendengar hal-hal yang menyenangkan. Maka gereja-gereja yang menawarkan ada mujizat-mujizat dan khotbah-khotbah yang menyenangkan telinga pasti akan menarik massa besar datang. Lalu cara yang lain supaya jemaat bisa datang banyak adalah siapkan makanan enak. Orang-orang tadi yang mengikuti Yesus adalah orang-orang yang sudah melihat dan mengalami mujizat makan roti gratis, lalu apakah mereka adalah orang beriman? Begitu dengar khotbah Yesus yang begitu keras, akhirnya seluruh orang banyak dan murid-murid (bukan rasul) Yesus meninggalkan Yesus. Sisa 12 rasul yang masih bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mengapa mereka meninggalkan dan marah kepada Tuhan Yesus? Karena di dalam PL, makan daging binatang haram saja tidak boleh, apalagi makan daging manusia. waktu Yesus berbicara hal-hal rohani, selalu dimengerti hal-hal jasmani. Khotbah Yesus yang keras ini sangat menjadi batu sandungan bagi seluruh murid-murid yang motivasinya tidak beres. Khotbah seperti ini hampir tidak dikhotbahkan oleh gereja-gereja aliran teologia sukses. 

Di mana ada orang Kristen yang sungguh-sungguh memberitakan Injil Kristus, maka kita pasti menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang belum percaya, karena mereka sudah mempunyai agama dan kepercayaan masing-masing. Apalagi di Indonesia, hampir tidak ada orang yang saudara lihat KTP-nya yang tidak ada agama, betul tidak? Lalu kita memberitakan Yesus satu-satunya Juruselamat umat manusia, kita secara tidak langsung sudah dianggap menghina agama orang lain, karena setiap agama punya konsep keselamatan masing-masing. Kita sering dianggap menghakimi orang lain dan menganggap hanya kekristenan yang benar. Waktu kita menyatakan kebenaran selalu kita dianggap menghakimi orang lain. Saudara perlu ingat, setiap kebenaran di dalamnya pasti ada unsur penghakiman terhadap yang salah. Orang sering bilang, Gereja Reformed itu selalu kritik gereja-gereja lain, dan hanya menganggap dirinya yang benar yang lain salah. Gereja Reformed suka menghakimi gereja-gereja lain. Jadi orang ini menganggap analisa dia tentang Gereja Reformed adalah kebenaran yang harus dia katakan, dan ingat, pada saat orang ini kritik Gereja Reformed, dia sedang menghakimi Gereja Reformed juga.  Betul tidak? Ini yang saya sebut tadi, pada saat kita menyatakan kebenaran, di dalamnya pasti ada unsur penghakiman. Waktu Yesus mengabarkan Injil Keselamatan, maka orang-orang Yahudi menggangap Yesus menghakimi kebenaran yang selama ini diterima oleh orang-orang Yahudi, khusus tentang keselamatan. Mereka harus pilih: Keselamatan di dalam menjalankan Taurat atau keselamatan di dalam diri Tuhan Yesus. 

Saudara-saudara, dunia yang kita hadapi sekarang ini, adalah dunia seperti itu dan Injil akan semakin ditolak karena dunia semakin hari semakin rusak. KKR Regional kepada siswa-siswa akan semakin dipersulit. Guru agama Kristen  sendiri bukan agama Kristen, dan mata pelajaran agama Kristen sudah mulai dihapus dalam kurikulum. Sekolah-sekolah Kristen ada yang kepala sekolahnya bukan orang Kristen tapi yang setuju kekristenan. Ada kepala sekolah yang saya temui namanya Petrus, tetapi bukan orang Kristen. Dulu adalah orang Kristen sekarang sudah pindah agama. Khotbah Injil akan dianggap sebagai batu sandungan besar dan merupakan satu kebodohan untuk diterima. Ini point pertama yang ingin khotbahkan: Injil menjadi batu sandungan

Point kedua, jangan menjadi batu sandungan. Apa yang kita tidak boleh menjadi batu sandungan? Di dalam PB kita menemukan jawabannya, Paulus mengatakan untuk hal-hal yang tidak prinsip, kita jangan menjadi batu sandungan. Hal apa? Salah satunya adalah Hal mengenai makanan.  Jaman Paulus ada pro dan kontra mengenai makanan persembahan berhala apakah boleh dimakan atau tidak. Lalu kalau kita bandingkan Roma 14:1-7 kita akan menemukan ada pro dan kontra juga apakah orang Kristen boleh vegetarian atau tidak? Dan pro dan kontra terhadap pengkultuskan hari-hari tertentu. Ada orang yang menganggap hari Sabat itu mutlak hari Sabtu, tetapi dia lupa hari Sabtu nya di Indonesia belum tentu hari Sabtu di negara lain, karena ada perbedaan jam yang sangat jauh. Jika di luar negeri mereka rayakan Sabat di hari Sabtu, di Indonesia belum tentu hari itu jatuhnya di Sabtu. Jadi hari Sabtu mana yang kita pegang? Perhitungan jam mana yang kita pakai?

Mengenai makan makanan persembahan berhala, sampai hari ini masih banyak pro dan kontra di antara orang-orang Kristen. Dan perdebatan ini akan terus ada sampai Yesus datang kali kedua (kiamat). Alasan-alasan orang yang tidak setuju makan makanan persembahan berhala: makanan tersebut sudah dipersembahkan kepada setan / leluhur / ilah-ilah lain dan kalau kita makan kita ikut terlibat di dalam persembahan berhala seperti mereka. Bagi orang yang setuju, mereka mengatakan di dalam Kristus sudah tidak ada lagi mana makanan najis dan mana yang tidak. Biarlah memasuki tahun yang baru ini, saudara betul-betul bebas dari konsep yang salah tentang makan makanan persembahan berhala. Mari kita membaca I Kor. 8:1-13, “... Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: "tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa." ... Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya ... Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan ... Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai "pengetahuan", sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala? ... Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus. Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.”

Dari baca ayat di atas, apakah boleh kita makan makanan persembahan berhala atau tidak? Jawabannya: BOLEH, JANGAN, TIDAK. Waktu kecil di Sumatera Utara saya dengar kalimat begini (dengan nada dan gaya Batak): “Segala sesuatu yang bergerak di bawah air boleh dimakan, kecuali kapal selam, itupun karena keras, kalau tidak putus; Segala sesuatu yang terbang di langit boleh dimakan, kecuali kapal terbang, itupun karena cepat, kalau tidak putus; Segala sesuatu yang bergerak di darat dan yang berkaki empat boleh dimakan, kecuali meja, itupun karena kayu, kalau tidak putus”. Mari kita memperhatikan cara Paulus menjawab kesulitan ini. Paulus tidak mempersalahkan orang yang sedang lemah iman yang tidak boleh makan makanan persembahan berhala, melainkan yang Paulus permasalahkan adalah orang yang sudah kuat iman, tapi memakannya lalu menjadi batu sandungan bagi orang yang lemah imannya. Paulus menegur orang seperti ini. Paulus katakan untuk hal seperti ini, Paulus selama-lamanya tidak akan makan makanan tersebut. Bukan berarti Paulus tidak boleh makan, tetapi dia tidak mau makan apabila setelah makan menjadi batu sandungan bagi orang-orang lain. Orang Kristen boleh tidak masuk ke kuil-kuil, misalnya kita melihat acara-acara penyembahan berhala disana? Jawabannya: BOLEH. Tetapi kalau waktu kita masuk ke kuil tersebut lalu ada orang Kristen yang lain melihat kita masuk, lalu menjadi batu sandungan bagi dia, lebih kita jangan masuk kuil tersebut. Jadi kebebasan kita jangan kita gunakan apabila menjadi batu sandungan bagi orang lain. Lalu apa artinya tadi saya katakan BOLEH, JANGAN, dan TIDAK ?

BOLEH. Karena di dalam Kristus kita sudah dimerdekakan dari seluruh perhambaan yang pernah mengikat kita.  “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa”. (I Tim. 4:4-5).

JANGAN. Kalau menjadi batu sandungan bagi orang lain, lebih baik kita jangan melakukannya. Karena kita tidak rugi apa-apa kalau kita tidak makan, dan kita tidak untung apa-apa kalau kita makan.

TIDAK. Kalau makan itu terus menjadi batu sandungan bagi orang lain, maka Paulus mengatakan selama-lamanya dia tidak akan makan makanan itu lagi. Bukan berarti dia tidak boleh, tetapi dia membatasi dirinya sendiri dan menyangkal dirinya.

Bagi orang yang tidak setuju makan makanan persembahan berhala, saya mau tanya: ‘Mungkinkah seseorang itu lepas dari betul-betul tidak memakan makanan persembahan kepada berhala?” TIDAK. Waktu saudara makan di restoran / rumah makan milik orang Kristen dengan ada foto-foto Yesus dipajang di situ, apakah saudara berani menjamin bahwa makanan yang saudara makan di sana bebas dari makanan persembahan kepada berhala? Tidak Mungkin! Coba kita mundur ke belakang bagaimana bisa jadi nasi. Nasi yang saudara makan, sebelum adalah beras, dan sebelumnya adalah padi yang ada di sawah-sawah yang ditanam oleh petani. Dan tahukah saudara bahwa sebelum petani-petani menanam padi, mereka sudah melakukan sesajen dan mempersembahkan hasil bumi tersebut kepada dewa-dewa yang mereka percaya? Petani-petani di Indonesia rata-rata non-Kristen dan banyak yang masih percaya kepada animisme. Lalu sayur dan buah-buahan yang kita makan juga sama, kebanyakan sudah di doain oleh para petani dan dipersembahkan kepada dewa-dewa mereka. Petani di Indonesia dan petani di negara manapun juga melakukan hal yang sama, kecuali kalau petani itu sudah jadi Kristen. Kita tetap tidak mungkin lepas dari makan makanan persembahan berhala, karena sering orang non-Kristen berdoa dan mempersembahkan seluruh yang tumbuh di bumi dan yang ada di langit itu kepada dewa-dewa mereka. Nah kalau begitu kita makan apa saja semuanya sudah dipersembahkan kepada dewa bumi dan dewa langit. Saudara makan nasi, pepaya, daging binatang, ikan, dll semuanya itu sebelumnya sudah dipersembahkan kepada berhala baik oleh para petani maupun nelayan. Banyak nelayan pergi tangkap ikan, tanya dewa mereka dulu dan setelah dapat ikan mereka lakukan sesajen kepada dewa-dewa mereka.

Jadi, untuk hal yang tidak prinsip, kita jangan mutlakkan dan jangan jadi batu sandungan. Kadang-kadang kita perlu belajar adat-adat kota-kota yang kita kunjungin. Waktu kami KKR di satu desa kecil di Sumatera Utara, waktu kami minta seorang Pendeta wanita berdoa maju ke depan, dia kewalahan meminjan sarung dari jemaat-jemaat wanita yang hadir duduk di KKR tersebut, karena adat di situ wanita kalau naik mimbar mesti pakai sarung. Untung waktu itu saya tidak tunjuk MC wanita yang memimpin pujian, karena tentu MC kami tidak tau harus pakai sarung kalau naik di atas mimbar. Dan ini pasti akan jadi batu sandungan bagi orang-orang yang hadir di KKR tersebut.

Untuk hal-hal yang tidak prinsip, kita mesti betul-betul hati-hati bertindak. Tetapi untuk hal yang bersifat prinsip, Injil harus dikabarkan meskipun Injil harus jadi batu sandungan bagi sebagian orang. Tetapi kita harus ingat, batu sandungan tersebut bukan muncul dari diri tetapi dari isi pemberitaan kita (Injil). Kalau kita memberitakan Injil, kita sendiri yang menjadi batu sandungan bagi mereka, celakalah kita. Paulus mengatakan, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” (I Kor. 9:27). Berarti waktu mengabarkan Injil, kita harus penuh rasa cinta kasih dan bersikap sopan kepada mereka. Kebenaran Injil harus didukung oleh karakter agung dari kita yang menyampaikannya. Banyak orang mengatakan kebenaran, tetapi orang menolak kebenaran yang dikabarkan sekaligus menolak orang yang mengatakannya. Petrus mengatakan, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (I Pet. 3:15-16). 

Mengapa orang-orang Yahudi begitu membenci Yesus? Apa yang mereka benci? Mereka membenci Injil yang dikabarkan Yesus dan seluruh perkataan Yesus yang keras kepada mereka. Tetapi mereka tidak bisa menolak karakter Yesus yang agung dan tidak bersalah itu. Maka mereka selalu mencari-cari kesalahan apa yang bisa mereka dapatkan dari Yesus. Namun mereka tidak memperolehnya, lalu mereka merubah isi kalimat-kalimat Tuhan lalu memfitnah Tuhan Yesus. 

Kita kembali ke 1 Kor. 1:22-23, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”. Jadi Kristus yang disalibkan, inilah rahasia tanda, dan Kristus yang disalibkan, inilah rahasia hikmat itu. Paulus mengatakan, “... di dalam Dialah (Yesus) tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” (Kol. 2:3). Seluruh orang Yunani mengejar hikmat, namun mereka tidak mendapatkan hikmat yang sejati, karena mereka menolak Kristus. Hikmat yang sejati hanya ada di dalam Kristus. Lalu seluruh orang Yahudi menantikan tanda Mesias, namun tidak menemukannya karena mereka menolak Kristus. Tanda Mesias yang sejati ada di dalam diri Tuhan Yesus. Waktu Yesus dilahirkan ada tanda: “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Luk. 2:12). Lalu tanda Roti Hidup (Yoh. 6: 25-35) merupakan tanda kematian, dan tanda nabi Yunus (Mat. 12:38-42) merupakan tanda kematian dan kebangkitan Yesus (untuk point ini saya pernah khotbahkan di GRII Pusat). Seperti Yunus ada di dalam perut ikan 3 hari 3 malam, demikian juga Anak Manusia akan ada di dalam rahim bumi 3 hari 3 malam. Waktu Yunus di perut ikan, dia ibarat sedang ada di dalam dunia orang mati, “... dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.” (Yun. 2:2). Lalu waktu dia dimuntahkan keluar setelah 3 hari 3 malam (ibarat kebangkitan dari dunia orang mati), tubuhnya tidak mengalami kerusakan meskipun zat-zat dalam perut ikan bisa merusak kulit dan tubuh Yunus. Apa bukti tubuh Yunus tidak mengalami kerusakan? Buktinya: waktu Yunus masuk ke kota Niniwe dan berkhotbah tidak ada orang yang lari karena melihat tubuh Yunus yang begitu menyeramkan, seperti zombie yang muncul dari tengah-tengah laut. Demikian juga dengan Yesus yang akan mati dan akan bangkit dari kematian dan tubuhNya tidak akan mengalami kerusakan. (3 hari 3 malam bukan bicara hal hurufiah 3x24 jam, karena ini bicara paralelisme). Jadi Kristus adalah penggenapan dan puncak dari seluruh nubuatan Mesianik yang mestinya orang Yahudi harus terima. Namun mereka menolakNya. Kristus adalah rahasia hikmat, sumber hikmat dan Hikmat itu sendiri, namun orang Yunani menolakNya. Pemberitaan salib bagi orang Yahudi merupakan suatu batu sandungan, dan bagi orang Yunani suatu kebodohan. 

Saudara akan menemukan 2 jenis kekristenan: yang satu selalu menekankan mau lihat tanda mujizat baru mau percaya kepada Yesus (seperti orang Yahudi), yang satu lagi mau bukti untuk memuaskan keinginan pengetahuan dia (seperti orang Yunani). Sebagian orang menghina Yesus tidak berhikmat, kalimat-kalimatNya banyak kontradiksi, satu sisi bicara, “... Damai sejahtera bagi kamu...” (Yoh. 20:21), sisi yang lain bicara, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat. 10:34). Satu sisi kita harus menyembah Tuhan Yesus, sisi yang lain Yesus berkata, “... Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Mat. 4:10). Dalam kebaktian Minggu MRII inilah kita akan membahas semua point-point penting mengenai kalimat-kalimat paradoks: kalimat yang seolah-olah kontradiksi namun sebetulnya tidak. Mari kita berdoa. 

(Ringkasan ini sudah diperiksa dan diedit oleh pengkhotbah-Danny)


#25 – 17/01/2010 

"Hidup Adalah Kristus, Mati Adalah Keuntungan"
Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.


Luk. 13:1-3; Flp. 1:21; 2 Tim. 4:6-8; 2 Kor. 12:9-10.
Saya sungguh mengucap syukur boleh berada di tengah-tengah saudara dan diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membawakan Firman di tempat ini. Saya juga bersyukur meskipun umur yang relatif muda, MRII Kebon Jeruk boleh memiliki anggota yang cukup memadai. 

Di dalam bacaan Lukas 13:1 tadi dicatat pada suatu kali datang segerombongan orang melaporkan kejadian yang begitu mengenaskan kepada Tuhan Yesus, “Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.” Kapan peristiwa itu terjadi? Yaitu saat orang Israel sedang memperingati keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir. Ini memang perintah Tuhan untuk setiap tahun memperingati kejadian tersebut. Menjadi orang Yahudi tidak mungkin jadi seorang yang vegetarian. Karena paling sedikit setiap satu tahun, mereka harus memakan daging domba. Kemudian Pilatus mengutus prajurit-prajuritnya, di luar memakai jubah tapi dalamnya terdapat pedang dan senjata tajam, pura-pura ikut mempersembahkan korban bakaran, tiba-tiba jubah dilepas dan langsung menghunus pedang, membunuh orang-orang Galilea. Kejadian yang dilaporkan kepada Tuhan Yesus ini adalah yang kedua kalinya. Kira-kira 2.000 sampai 3.000 orang mati. Sangat mengenaskan! Dan Pilatus bisa memakai alasan, “Oh mereka sedang mau memberontak terhadap penjajahan Romawi.” Sangat ironis, orang-orang Galilea ini dibunuh dengan sadis saat sedang melakukan kehendak Allah.
Apa motivasi segerombolan orang ini melaporkan hal tersebut kepada Tuhan Yesus? Ada yang mengatakan bahwa motivasi mereka adalah:

1.       Sedang Mempertanyakan Keadilan & Pemeliharaan Allah, “Tuhan begitu keji, kenapa Tuhan tidak mencegah hal itu? Bukankah mereka sedang memuliakan nama Tuhan dan mentaati Firman Tuhan? Di mana keadilan dan proteksi Tuhan kepada umat pilihanNya?” Setelah peristiwa Holocaust yang membunuh 6 juta orang-orang Yahudi, para teolog Yahudi mulai mempertanyakan dan meragukan apakah mereka adalah umat pilihan Tuhan lagi atau tidak?  Mereka mempertanyakan the problem of evil. Segerombolan orang-orang tadi tidak mempunyai motivasi seperti itu. 

2.       Supaya Tuhan Yesus Mengecam Pilatus karena Pilatus melakukan penghinaan yang begitu luar biasa. Tapi motivasinya juga bukan itu. 

Apa motivasi mereka? Menurut saya, motivasi mereka adalah mengatakan kepada Yesus bahwa orang-orang Yahudi yang dibunuh oleh Pilatus, adalah yahudi-yahudi gadungan. Orang-orang Galilea ini mati di dalam dosanya, karena tidak mungkin orang yang sedang melakukan kehendak Allah namun Allah tidak melindunginya. Mereka telah menjadi batu sandungan. Itu motifnya.  masyarakat Yahudi adalah masyarakat yang sangat suspicious (sangat mencurigai): jikalau ada penderitaan langsung dikaitkan dengan dosa. Dalam Yoh. 9:1-3, ketika Tuhan Yesus bersama dengan murid-muridNya bertemu dengan seorang yang buta sejak lahir, murid-muridNya bertanya, “... Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Yesus menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Saudara masih ingat ketika Ayub menderita? Dia sangat menderita, sahabat-sahabatnya datang dan mencemooh Ayub: Akuilah dosa-dosamu, kamu pasti berbuat satu kekejian dihadapan Tuhan sampai kamu begitu menderita, berkat Tuhan ditarik semua daripadamu, semua anak-anak mati, harta benda ludes, istri pun memaki-maki engkau, bahkan kesehatan yang adalah berkat Tuhan ditarik dari padamu. Orang-orang Yahudi ini ingin agar Tuhan Yesus mengecam orang-orang Galilea yang dibunuh oleh Pilatus. Apa akibatnya? Mereka ingin mengatakan: Orang-orang ini sudah mati karena dosanya, berarti kami yang masih hidup lebih suci dari mereka, lebih diperkenan oleh Tuhan, lebih taat kepada Tuhan, lebih adil daripada mereka yang sudah mati. Mereka langsung mengatakan self-righteousness, (membenarkan diri). Tuhan Yesus tahu motivasi orang-orang ini, karena Ia adalah Allah, lalu Dia berkata, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?”  (Luk. 13:2). Yesus katakan, “Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” (Luk. 13:3). Di sini kita lihat bahwa orang-orang ini  memberitahu kepada Kristus supaya Kristus menghakimi orang-orang yang sudah mati sekaligus membenarkan diri mereka.  Masih ingat tentang pemungut cukai dan orang Farisi yang berdoa di Bait Allah? Orang Farisi memaki-maki pemungut cukai, kemudian dia membenarkan diri di hadapan Tuhan.

Dari situ kita pelajari beberapa hal:
1.       Orang-orang yang mati dibunuh dengan sadis oleh Pilatus, kemungkinan mereka adalah orang-orang yang lebih suci, yang lebih pantas hidup, yang lebih taat kepada Tuhan, dan yang lebih diperkenan oleh Tuhan daripada saudara dan saya yang masih hidup. Ketika saya mendengar tentang peristiwa pembakaran ratusan gereja di Situbondo pada tahun 1996, saya mendengar bahwa ada 1 gereja yang dibakar habis bersama dengan seorang pendeta beserta istrinya, beberapa anaknya dan pembantunya. Satu-satunya yang hidup adalah Yakub Christian, teman saya di UK Petra di Surabaya, dia waktu itu ada di Ternate, dia yang lolos. Saudara tahu? Pendeta yang dibakar di dalam gereja, saat ditemukan sudah menjadi arang, tetapi dalam posisi berdoa! Pendeta ini tetap setia kepada Tuhan. Cerita ini begitu menyentuh hati saya. Kalau saya, seorang hamba Tuhan masih dibiarkan untuk hidup, itu bukan karena saya lebih baik daripada mereka yang mati, tapi ini adalah satu anugrah bagi saya bahwa ada rencana Tuhan, pekerjaan Tuhan yang harus saya genapkan. Bicara tentang iman, mungkin hamba Tuhan itu mempunyai iman lebih besar daripada saya. Ketika saya membaca tentang Tsunami di Aceh, satu pendeta dengan keluarganya dihantam Tsunami, semua mati. Hamba Tuhan yang berjuang di Aceh pasti mempunya fighting spirit, semangat perjuangan yang begitu luar biasa, tantangan yang begitu besar. “Siapakah saya Tuhan? Sehingga engkau mengijinkan saya masih hidup?”. Ketika 911 terjadi, 11 September 2001, dua gedung World Trade Center (WTC) rubuh dan hampir 3.000 orang meninggal. Pada waktu itu ada seseorang anak Tuhan di lantai 100. Dia telepon ke istrinya, tapi Handphone istrinya dalam keadaan off,  lalu dia telpon ke rumah tapi masuk answering machine. Dia mengatakan kepada istrinya, “Saya di dalam kondisi yang sangat kritis, saya mungkin akan meninggal sebentar lagi, tapi jangan khawatir akan kondisi saya, saya berada di dalam tangan Tuhan yang penuh kasih, Tuhan begitu menyertai saya pada saat ini.”  Waktu Istrinya mendengar rekaman mesin tersebut, istrinya menangis. Hal ini muncul di Koran di Amerika (ketika itu saya masih studi di sana).  Jikalau saudara dan saya dilewatkan oleh Tuhan, bisa memasuki tahun ini, bukan karena engkau dan saya lebih baik, lebih layak hidup atau lebih suci daripada mereka yang tidak bisa memasuki tahun 2010. Ini semata-semata hanya karena kemurahan anugrah Tuhan bagi kita. Amin?

2.       Pasti ada diantara orang-orang yang dibunuh oleh Pilatus yang memang mati karena dosa mereka.  Pada jaman Tuhan Yesus, ada sekelompok orang yang namanya orang Zelot. Mereka adalah orang-orang yang bermain di dalam politik praktis dan politik kekuasaan. Mereka melihat bahwa event memperingati keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah suatu event yang sangat dapat dimanfaatkan untuk pemberontakan terhadap kerajaan Romawi. Mereka menunggangi acara tersebut. Mempolitisasi agama dengan berusaha agar rakyat disulut emosinya lalu disuruh memberontak terhadap pemerintahan Romawi. Dan orang-orang Zelot ini juga mati pada saat peristiwa itu, mati di dalam dosa. Dan Tuhan Yesus berkata, “Jikalau engkau tidak bertobat, engkau akan binasa dengan cara demikian. Engkau pikir orang-orang di Galilea itu lebih besar dosanya daripada engkau? Tidak kataku! Tapi jika engkau tidak bertobat, engkau akan mati dengan cara demikian.” Saya pernah konseling satu orang (bukan jemaat Reformed) pasangannya kena AIDS. Kenapa orang main perempuan, ada yang kena AIDS tapi ada juga yang tidak kena AIDS? Itu berarti peringatan bagi kita, jangan lagi bermain-main di dalam dosa. “Jikalau engkau tidak bertobat” kata Yesus, “Engkau akan binasa dengan cara demikian!” Ada hamba Tuhan yang dinonaktifkan oleh salah satu gereja karena melihat gambar-gambar porno. Dia memakai uang dan sekretariat gereja. Sudah diperingatkan pengurus beberapa kali, dia tidak menggubris, akhirnya dinonaktifkan oleh Sinode yang mengutusnya. Ini satu peringatan! Inilah point kedua dimana kita  harus menginstropeksi diri. Kita meninggalkan tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru dengan hati yang mengevaluasi diri serta  hati yang penuh dengan pertobatan.

3.       Bagaimana reaksi kita ketika kita mendengar ada orang mati di dalam dosa?  bagi orang-orang yang melaporkan kepada Tuhan Yesus, mereka melihat orang-orang Galilea mati di dalam dosa, dan mereka minta Tuhan Yesus untuk mengutuki mereka. Mereka tidak punya belas kasihan di dalam hati mereka. Ketika kita melihat orang mati di dalam dosa, apakah kita akan mengatakan, “Rasain kamu!” Ataukah kita penuh satu penyesalan, “Mestinya saya memperingatkan dia, sebelum dia mati semestinya saya menginjili dia.” Masih ingat perumpamaan tentang Samaria yang murah hati? Seorang Yahudi pulang dari Yerusalem menuju Yeriko, Yerusalem adalah tempat Bait Allah, dia baru selesai beribadah. Di tengah jalan dia dirampok, dipukuli, dia dalam keadaan sekarat, hopeless and helpless. Lalu datang seorang imam tetapi pura-pura tidak melihat. Kenapa? Karena si Farisi ini, si imam ini berpikir, “Pasti orang ini buat dosa! Makanya dia ditimpa musibah seperti ini.” Itu yang pertama, suspicious. Yang kedua, dia berpikir “Rasain kamu!” Langsung dia jalan. Tidak mempunyai belas kasihan. Ketika 911 terjadi, hampir 3.000 orang mati di dalam 2 gedung kembar. Pada saat itu tidak ada satupun orang Yahudi mati, kenapa? Ada yang bilang mereka mempunyai intelejen yang begitu canggih, hari itu mereka tidak masuk kerja. Tapi yang kedua, orang Indonesia tidak ada satupun yang mati kecuali anak salah satu konglomerat yang berada di dalam salah satu pesawat. Bagaimana bisa? Ya karena pesawat pertama mulai sekitar jam 09.07, yang kedua jam 09.15. Orang Indonesia jam karet. Datangnya jam 09.30. Teman-teman saya berkata, “Puji Tuhan, jam karet menjadi blessing in disguise (berkat yang terselubung).” Tapi saudara tahu berapa Muslim yang meninggal pada saat itu? 300an orang: orang terpelajar, professional dari Arab. Mengenai hal ini media Barat mengatakan, “Bersyukur! Rasain!” Apakah itu sikap kita orang Kristen? Biarlah kita masuk tahun yang baru dengan hati yang berbelas kasihan. Ketika melihat orang mati di dalam dosa, bukan bersyukur / memuji melainkan kita menangisi dia dan berbelas-kasihan kepada dia.

Kemudian  di dalam Flp. 1:21. Paulus memberikan satu rumusan hidup bagi orang Kristen, bukan hanya di dalam tahun ini, tetapi di dalam tahun-tahun yang akan datang. “For me to live is Christ, and to die is gain (bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan).”  Apa artinya “hidup adalah Kristus?” Paulus melihat dengan begitu tajam, dia memberikan satu landasan filsafat hidup orang Kristen.  Kekristenan itu bukan hanya semata-mata tentang idea, kognitif, belief, doktrin, tapi kekristenan itu about life (mengenai hidup). Seringkali kita mempercayai Kristus sebagai Juruselamat tapi tidak sebagai Tuhan. Sebagai Penyelamat jiwa tapi bukan sebagai Penguasa hidup kita. Ketika Paulus berkata, “To live is Christ” berarti kekristenan dengan hidup ini menyatu. Abraham Kuyper berkata bahwa ketika Alkitab berbicara tentang Kristus dengan umat pilihanNya / gerejaNya, selalu dibuat suatu hubungan yang organis. Alkitab mengatakan hubungan orang Kristen dengan Kristus seperti pokok anggur dan rantingnya. Ranting mengambil makanan --> hubungan organis. Digambarkan juga dengan Kepala dan tubuh, kepala dan tubuh ini menjadi satu, darah mengalir, ada roh yang satu. Kristus juga mengatakan: Saya membuat suatu perjanjian yang kekal di dalam perjamuan kudus: inilah tubuhKu, makanlah, inilah darahKu, minumlah. Makanya Pdt. Dr. Stephen Tong selalu mengatakan, theologia Reformed adalah theologia organis (Organic Theology). Paulus lebih jauh mengatakan di Gal. 2:20,Bukan aku lagi yang hidup, tapi Kristus yang hidup di dalamku.” Alkitab berkata, kita di dalam Kristus, Kristus di dalam diri kita. Hidup adalah Kristus, artinya adalah mempunyai hubungan life

Lalu apa artinya, “to live is Christ”? Ada 3 hal:

1.       Kita harus men-display / memanifestasikan sifat-sifat Kristus di dalam hidup kita. Buah-buah Roh harus muncul di dalam diri kita. Hanya Paulus, tidak ada rasul lain yang berani mengatakan, “Ikutlah teladanku, seperti aku mengikuti teladan Kristus.” Seringkali kita jadikan Kristus sebagai tameng dan excuse bagi kelemahan-kelemahan kita,Oh jangan lihat saya, saya kan manusia, sekalipun saya hamba Tuhan, majelis, pengurus, atau aktifis, saya kan juga manusia, lihat Tuhan Yesus saja, jangan lihat saya. Jadi kalau engkau melihat kelemahan dalam hidupku, maklumlah.“ Saudara tahu? Mahatma Gandhi hampir menjadi orang Kristen, kenapa dia tidak meneruskan? Bagaimana mungkin dia menjadi orang Kristen, kalau dia melihat British Colonialisme di India begitu kejam. Kenapa Belanda yang menjajah Indonesia tidak bisa membuat Indonesia mayoritas orang Kristen? Karena tidak ada teladan hidup. Suatu kali seorang missionary menginap di rumah kami ketika kami lagi study, namanya John Chambers, seorang misionaris 30 tahun di IPB (Institut Pertanian Bogor): seorang doctor dalam bidang pertanian, ahli dalam menemukan bibit jagung. Lalu dia ceritakan saat ia di Bogor ketika masih menjadi misionaris dan professor di situ. Dia memberikan bibit jagung penemuannya yang mempunyai masa panem lebih cepat dan buahnya begitu lebat kepada petani-petani. Tetapi petani-petani membuang bibit jagung pemberiannya, sampai petani-petani itu melihat sendiri betapa baik bibit jagung tersebut saat dipanen di pekarangan rumah John Chambers. Mereka langsung minta lagi bibit jagung itu. Mereka melihat bukti, melihat keteladanan. Penginjilan yang paling efektif yaitu saudara dan saya menjadi teladan, C.S. Lewis mengatakan, “Yang menghalangi orang datang kepada Kristus / batu sandungan yang paling besar adalah orang Kristen.” Celakalah jikalau Saudara dan saya yang sudah tidak menginjili namun membuat orang-orang yang bertobat dari hasil KKR dari Hamba-hamba Tuhan, akhirnya orang tersebut tidak mau datang gereja lagi karena kita menjadi batu sandungan bagi mereka.

2.       To treasure / kita melihat di dalam hidup kita bahwa yang paling berharga adalah Kristus. Rasul Paulus  mengatakan di dalam Flp. 3:7 semua kehebatanku jika dibandingkan dengan Kristus, itu semua merupakan suatu kerugian / sampah.  Bukankah Paulus seorang yang begitu pintar, berpotensi, fighting spirit begitu hebat, begitu tajam pemikirannya, belajar di bawah seorang professor yang begitu besar, namanya professor Gamaliel? Mengapa dia katakan hal seperti itu? Ada yang mengatakan, “Tuhan pilih Saulus karena Tuhan tahu Saulus banyak potensinya, dan Tuhan pilih dia supaya dia mengerjakan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan.” TIDAK! Paulus mengatakan semuanya ini suatu kerugian.  Jangan salah sangka, jikalau kita mempunyai potensi sebelum menjadi orang Kristen, HARUS digunakan bagi pekerjaan Tuhan? Ketika saya selesai membawakan satu seminar, seorang konglomerat besar bicara kepada saya, “Benyamin, saya punya kuasa, saya punya kekayaan, saya punya koneksi, saya akan gunakan semua itu bagi kerajaan Tuhan.” Saya bilang, “Puji Tuhan Pak.” Tetapi lain perkara kalau Bapak itu mengatakan begini, “Pekerjaan Tuhan tidak bisa jalan kalau tanpa saya.” Jangan pernah ada kita yang berkata seperti itu! Ketika Paulus menuliskan Flp. 3:7, dia mengatakan bahwa potensinya adalah suatu kerugian, apa artinya? Bukankah potensinya bisa digunakan bagi pekerjaan Tuhan begitu hebat?  Seringkali orang yang punya banyak potensi tidak lagi bersandar pada Tuhan namun bersandar pada kekuatan diri. Itu sebabnya Paulus dalam 1 Kor. 2:1-5 mengatakan ketika saya menyampaikan Firman Tuhan, mempresentasikan Injil, Saya tidak sekalipun mengandalkan hikmat manusia yang ada dalam diriku, tapi semata-mata adalah hikmat Kristus dengan kuasa RohNya. Ada seorang bernama C.T. Studd yang kemudian mendirikan Worldwide Evangelization for Christ (WEC), badan misi yang mengirimkan missionaris begitu banyak di seluruh Indonesia. Beliau adalah salah satu orang yang paling langka di seluruh dunia, seorang Inggris, berasal dari keluarga yang begitu kaya, termasuk salah satu dari Seven Cambridge Scholars, bukan hanya itu, atletik nomor 1 di Inggris pada saat itu. C.T. Studd ketika dia menjadi orang Kristen, dia kemudian memikirkan, kalau dia melayani Tuhan dengan semua potensi yang ada pada dia, dia merasa akan membawa banyak batu sandungan, dia kemudian berkata, Tuhan saya menyerahkan semua harta saya untuk mendirikan satu badan misi yang namanya Worlwide Evangelization for Christ. Setelah itu dia diutus menjadi misionaris oleh badan misinya sendiri, diberi uang sama dengan misionaris yang lain, uang yang begitu sedikit, harus berjuang mati hidup di situ. Di situ baru dia bertumbuh di dalam Tuhan, bergantung dan dipakai oleh Tuhan. Kira-kira ini yang dimaksudkan oleh Paulus. Sekali lagi, jangan salah tafsir, saya tidak melarang kita memiliki potensi. Semuanya harus digunakan untuk Tuhan, tapi jangan kita bergantung pada potensi, melainkan bergantung pada Tuhan saja.

3.       To sacrifice / Hidup adalah Kristus, bergantung kepada berapa banyak, berapa besar saya berkorban bagi Kristus. Ketika Paulus berbicara tentang sacrifice, Paulus tidak hanya maksudkan pengorbanan yang pasif, apa artinya? Ketika kita menjadi orang Kristen, kita didiskriminasikan. Contohnya, naik jabatan jadi sulit. Tetapi, yang Paulus maksudkan adalah pengorbanan secara aktif, Apa artinya? 2 Kor. 12:9-10 mengatakan  karena Kristus, aku akan melakukan kebenaran dan untuk itu aku harus mendapatkan satu penderitaan. Orang Kristen itu harus punya musuh. Kalau tidak punya musuh,  bukan orang Kristen yang sejati, musuh kita bukan orang yang kita benci, musuh kita adalah orang yang membenci kita, kenapa dia membenci kita? Bukan karena semata-mata kita orang Kristen, tapi semata-mata karena kita menjalankan perintah Tuhan. Hidup kita tidak berkompromi dengan dosa, hidup kita penuh konsisten dengan Firman. Kebenaran kita nyatakan, disitu kemudian kita dimusuhi dan harus berkorban.

4.       To die is gain / Mati adalah keuntungan. Apa artinya? Orang Kristen mempunyai kekasih jiwa, yaitu Tuhan Yesus. Ketika kita meninggal, kita menghadap kepada kekasih jiwa kita. Ada seorang ibu dari teman kami. Sebelumnya dia adalah seorang Katolik tetapi menerima Kristus saat dia sakit kanker. Dia begitu kesakitan tetapi mulutnya selalu tersenyum. Anak-anaknya tahu, waktunya sudah tidak lama lagi, ibunya akan meninggal, lalu mereka menangis. Tetapi ibunya berkata, “Kenapa menangis? Kalian iri ya sama mama?” Anak-anaknya langsung menjawab, “Iri bagaimana? Mama sebentar lagi mungkin akan pergi” Mamanya menjawab, “Lho? Saya bukan pergi, saya pulang ke rumah Tuhan. Saya sebentar lagi akan bertemu dengan kekasih jiwa saya.”  Lalu anak-anaknya mencucurkan air mata.

Ketika Paulus menuliskan “mati adalah keuntungan.” Apakah artinya hanya sebatas itu saja? Tidak, bukan hanya itu, ada arti yang lebih dalam. Dalam 2 Tim. 4:6-8 Paulus mengatakan, darahku sudah mengalir, kematianku sudah dekat, aku telah mengakhiri pertandingan dan aku sudah mencapai garis akhir. Paulus pada akhirnya dipancung kepalanya oleh kaisar Nero, tapi bagi saya, Paulus mati bukan karena dipancung oleh Nero, Paulus mati karena kehendak Tuhan, rencana Tuhan dalam hidupnya sudah dia genapi. Amin saudara? Setiap orang Kristen yang mati harus menganggap mati itu adalah keuntungan, apa artinya? Artinya saudara dan saya sudah menggenapkan rencana Tuhan dalam hidup kita. 

Saat malaikat pencabut nyawa datang, tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Tetapi berbeda dengan Kristus, Ia adalah satu-satunya yang jikalau Dia tidak menyerahkan nyawaNya, Dia tidak mungkin mati. Walaupun kayu salib memang adalah hukuman yang sengaja dibuat agar orang menderita pelan demi pelan sebelum mati, dicatat yang paling lama berada di atas kayu salib sebelum mati adalah 12 hari. Sebelum mati, Kristus berkata, “Bapa ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu.” Lalu “It is Finished /sudah selesai.” “Hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan.” Mari kita berdoa. 


(ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah-DW)


#26 – 24/01/2010 
Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#3)
"Tuaian Banyak, Pekerja Sedikit"

Pdt. Aiter, M.Div.


Mat. 9:35-38, Luk. 10:1-3,16, Yoh 4:3-5.
Minggu ini kita masuk dalam tema paradoks yang ketiga. Paradoks adalah sesuatu yang seolah-olah konflik atau kontradiksi, tapi sebetulnya tidak. “Tuaian banyak, pekerja sedikit”. Ini kalimat paradoks yang sulit sekali kita pahami. Jikalau tuaian banyak, maka seharusnya Tuhan kirim pekerja yang banyak untuk tuaian tersebut, namun faktanya Tuhan tetap kirim pekerja sedikit. Lalu minta pekerja yang minta kepada Tuan yang empunya tuaian untuk kirim pekerja lebih banyak. Ini yang saya sebut paradoks. Mari kita melihat pemunculan ayat-ayat tersebut dalam Matius, Lukas dan Yohanes: 

Pertama, kalau kita baca Mat. 9:35-38 dan Mat. 10:5-8, maka kita akan melihat konteks Yesus bicara adalah ditujukan kepada 12 rasul. Yesus ingin mengatakan bahwa domba-domba yang tidak bergembala, “... karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.” (Mat. 9:36) dan yang hilang dari umat Israel, “melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Mat. 10:6), itulah tuaian yang harus dituai, namun sekarang pekerja sedikit. Lalu Yesus ingin murid belajar melibatkan diri memikirkan hal ini, ”Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:38).

Kedua, tema yang sama muncul lagi di dalam tulisan Lukas. Kalau lihat konteks Luk. 10:1-2 serta Luk. 10:17-20 Yesus tujukan kepada 70 murid yang bukan rasul. Dan menarik sekali bila kita bandingkan versi Matius dan versi Lukas, kita menemukan ada beberapa perbedaan dan persamaan. Perbedaannya adalah yang di Matius ditujukan kepada 12 rasul, dan yang di Lukas ditujukan kepada 70 murid. Lalu persamaannya adalah sama-sama bicara tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Serta ada persamaan yang lain, yaitu: Luk. 10:3, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”. Kalimat tersebut keluar ditengah-tengah konteks utus 70 murid. Dan Mat. 10:16 ditempatkan di dalam konteks utus 12 rasul, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Ketiga, Yohanes juga mencatat kalimat yang mirip sama seperti di atas, “... Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituaii.” (Yoh. 4:35). Kalimat ini ditujukan kepada 12 rasul.

Jadi di dalam PB, kita hanya menemukan 3 tempat ayat yang berbicara mengenai tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit dan mengenai ladang yang sudah menguning. Di bagian kitab-kitab yang lain, sangat jarang atau hampir tidak pernah ditemukan lagi kalimat dengan formulasi yang sama seperti itu. Mengapa? Dari jaman PL sampai jaman PB, mata orang-orang Yahudi masih tertutup untuk melihat ladang yang mana yang sudah menguning dan tuaian mana yang siap dituai. Mereka merasa mereka sudah hidup dalam agama yang baik, menjalankan Taurat, rajin beribadah, dan anak-anak mereka disunat pada hari ke-8, dan lain-lain. Jadi mereka tidak sadar diri mereka sedang terhilang dan tersesat seperti domba yang tidak bergembala. Maka tidak pernah muncul dari mulut orang-orang Yahudi, orang-orang Farisi atau ahli-ahli Taurat kalimat, “Tuaian memang banyak, pekerja sedikit.” Penyakit seperti ini juga kita jumpai di kota-kota yang katanya kota/desa Kristen di Indonesia. Mereka merasa dari dulu mereka sudah Kristen. Mereka menganggap sebelum saudara lahir, mereka sudah Kristen.  Mereka  mengatakan kalau mau kabarkan Injil, jangan ke kota kami, karena kota kami sudah Kristen, pergilah ke gunung-gunung ke desa-desa terpencil yang penduduknya belum Kristen sama sekali. Jadi di kota mereka, mereka sudah tidak lagi mengabarkan injil dan sudah tidak peka lagi melihat tuaian banyak ada di mana. Bagi mereka semuanya sudah dituai dan tidak ada tuaian yang belum dituai karena semua orang yang lahir di kota mereka itu langsung “Kristen”. Dalam Mat 23:15 Yesus mengatakan, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.” Di sini kita melihat bahwa orang-orang Farisi tidak punya visi dan mata yang melihat bahwa tuaian memang banyak. Bagi mereka dapat “Injili” satu jiwa saja sudah cukup dan mereka sudah merasa puas. Mereka sangat berpandangan sempit. Misi “penginjilan” mereka adalah mencari jiwa bukan dikaitkan dengan tuaian banyak tetapi untuk dimasukkan sebagai penganut agama mereka. Penginjilan yang gagal adalah mengabarkan injil dengan motivasi mengisi bangku gereja mereka yang kosong. Motivasi seperti ini pasti tidak akan diberkati Tuhan. Mengapa? Karena mereka berpandangan sempit dan bukan melihat secara konteks Kerajaan Allah. Yesus mengabarkan injil bukan untuk memasukkan orang ke denominasi gereja yang Yesus dirikan, karena Yesus tidak pernah dirikan satu denominasi gereja dengan Dia berkata “Akulah Gembala Sidangnya”. 

 Boleh dikatakan, di Indonesia dari jaman dahulu jarang kita lihat ada orang yang mempunyai mata terbuka. Tetapi Puji Tuhan di jaman ini ada orang yang Tuhan celikkan mata untuk “melihat tuaian”, dia adalah Pdt. Dr Stephen Tong mengabarkan Injil bukan hanya kepada orang-orang dewasa, tetapi juga menjangkau anak-anak kecil. Lalu sekarang kita bisa melihat, gereja-gereja lain mulai tercelik dan mulai memiliki pandangan bahwa anak kecil harus di injili (KKR Anak), siswa-siswa harus di injili (KKR Siswa). Dulu orangtua hanya menyerahkan anaknya ke guru agama di sekolah dan ke guru Sekolah Minggu di gereja, lalu merasa tugas mereka sudah “selesai”. Urusan anak tersebut sudah diselamatkan atau belum, tidak diperhatikan; sudah mengerti Alkitab atau belum, juga tidak diperhatikan. Makanya tidak heran, banyak orang-orang jaman dulu setelah lulus SMA banyak yang tidak mengerti Alkitab. Mengapa? Karena bagaimana seseorang bisa mengerti dan tertarik akan Alkitab kalau seseorang itu belum diselamatkan, dan ditambahkan lagi Hamba Tuhan yang berkhotbah tidak ada kuasa dan tidak mempertumbuhkan iman jemaat yang sudah Kristen. Jika demikian, bagaimana jemaat bisa dicelikkan dan bertumbuh dalam iman? Lebih ironis lagi, gereja-gereja tradisional yang sudah berpuluh-puluh tahun berdiri, jemaatnya sekarang rata-rata orangtua, sedangkan anak-anak mudanya lari ke aliran yang lain. 

Saudara-saudara, waktu Yesus membawa para rasul berkeliling ke semua kota dan desa mengabarkan Injil, Ia mau mereka belajar mempunyai hati yang terbuka melihat tuaian yang memang banyak, bukan untuk pariwisata. Selamat mereka mengikuti mission trip bersama Yesus: mendengar Yesus mengajar dan mengadakan mujizat, TIDAK ADA diantara rasul yang berkata,  “Yesus, benar-benar tuaian sangat banyak, tapi pekerja sedikit”. Mereka hanya diam-diam saja. Hanya Yesus yang melihat dengan tajam. Ada orang-orang yang ikut KKR Regional ke kota-kota, yang dia lihat bukan tuaian memang banyak, tetapi makanan di kota mana yang lebih enak. 

Kaitan tema “Tuaian Memang Banyak” dari versi Matius, Lukas dan Yohanes kalau kaitkan akan menjadi tema yang menarik.  Matius 9:35 mengatakan, ”Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa ... dan memberitakan Injil”, jadi Yesus adalah pengkhotbah KKR Regional pertama. Lalu waktu Yesus melihat orang-orang banyak, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan melihat mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Siapakah domba-domba tersebut? Mereka odalah orang-orang Yahudi yang katanya sudah pegang/jalankan Taurat dan rajin beribadah. Beberapa waktu lalu, waktu saya memimpin seminar untuk para pendeta-pendeta di Rantepau – Tana Toraja, dalam sesi tanya jawab saya ditanya seorang pendeta, “Mengapa kabarkan Injil tidak tidak pilih tempat orang yang belum dengarkan Injil? Mengapa pilih Tana Toraja yang sudah Kristen?” Ini adalah pertanyaan yang sangat bagus dan yang selalu ditanya orang. Saya jawab begini, “Yesus datang ke dunia ini masuk dalam budaya dan tanah orang Yahudi. Mengapa? Bukankah orang-orang Yahudi sudah pegang Alkitab, sudah beribadah dan sudah menjalankan Taurat? Dan waktu Yesus mengutus 12 rasul ke ladang misi, Yesus mengatakan: Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (Bnd. Mat. 10:6)”. Jadi justru di Israel-lah Injil perlu dikabarkan terlebih dahulu. Demikian juga, Dimana ada kota yang disebut kota Kristen, orang-orang Kristen disana adalah sasaran Injil. Banyak orang-orang “Kristen” adalah domba-domba yang terhilang tapi mereka belum sadar. 

Lalu Mat. 9:37-38, Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-perkerja untuk tuaian itu”. Kalimat ini sepertinya tidak fair, karena kalau memang tuaian banyak mestinya Tuan yang empunya tuaian yang tau kapan panennya harus mempekerjakan banyak pekerja supaya tidak ada buahnya yang busuk. Apa maksudnya Yesus berkata demikian? Ini namanya keindahan melayani. Tuhan berikan kepada kita satu kehormatan sebagai pekerja sekaligus terlibat sebagai seorang “pemilik” yang ikut memperhatikan tuaian (rekan sekerja). Yesus pernah membedakan antara seorang Gembala yang baik dan seorang upahan. Yesus mau kita bukan sebagai pekerja upahan yang berhati sempit, melainkan gembala yang memiliki domba dan memiliki hati yang luas. Seorang upahan hanya mengerjakan bagian yang ditugaskan kepada dia, urusan orang lain dia tidak mau ikut campur. Jadi Tuhan ingin saudara-saudara yang bekerja / melayani bukan hanya bekerja / melayani di bagian yang sudah ditentukan, tetapi mari kita melihat bersama-sama dengan kacamata yang luas, pelayanan ini milik kita bersama, mari kita kerjakan bersama-sama. 

Bagi seorang Tuan yang empunya tuaian, kalau langsung kirim banyak pekerja itu terlalu gampang, tetapi  Tuan tidak langsung kirim. Yesus bilang minta kepada Tuan, minta berarti berdoa. Yesus ingin para murid kaitkan tuaian banyak dengan berdoa. Apakah para murid mengerti hal ini? TIDAK. Kalau kita lihat di Mat. 10:5-8, dari mulai 12 rasul diutus pergi mengabarkan Injil sampai mereka kembali tidak ada dicatat, mereka akhirnya bentuk Persekutuan Doa untuk minta Tuan kirim pekerja. Demikian juga halnya waktu Yesus utus 70 murid dalam kitab Lukas, setelah mereka semua dari misi penginjilan, mereka hanya laporkan hasil yang mereka sudah capai, tetapi tidak ada dicatat mereka membentuk Persekutuan Doa untuk minta Tuan kirim pekerja. Mereka semua gagal, karena tidak melihat apa yang Yesus lihat dan tidak ada timbul hati yang berbelas kasihan. Jikalau ada orang yang ikut KKR regional ke kota-kota dan desa-desa, lalu setelah selesai ikut KKR, dari dalam hati orang tersebut muncul belas kasihan dan orang tersebut bilang memang Injil harus dikabarkan di sana karena tuaian banyak, mari kita atur lagi trip ke sana. Ini namanya sukses, karena orang yang ikut KKR mata mereka sendiri terbuka. 

Selain pekerja sedikit, lebih ironis lagi karena Yesus berkata, “Aku utus kamu seperti domba ke tengah serigala”. Ini tambah tidak fair. Pekerja yang sudah sedikit, lalu dicabik-cabik pula oleh serigala. Saya tidak habis pikir mengapa pekerja yang sudah sangat sedikit kok Tuhan tidak manjakan tapi malah dikasih job yang begitu berat? Rahasianya adalah karena tuaian-tuaian itu sedang dikuasai oleh serigala. Untuk menuai, serigala harus ditaklukkan. Siapakah serigala itu? Serigala itu yaitu orang percaya. Dalam Mat. 10:17, ”Tetapi waspadalah terhadap semua orang, karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.” Siapakah mereka ini? Mereka adalah orang-orang Yahudi / kelompok orang yang sudah percaya. Mereka inilah Serigala buas. Di KKR Regional Siswa kita  sering jumpai orang-orang yang paling menghambat orang-orang dengarkan Injil adalah Kepala Sekolah Kristen, Guru Agama Kristen dan para pendeta-pendeta yang menangani sekolah. Yang non-Kristen malah mendukung, ironis bukan?

Untuk dapat melihat tuaian banyak atau tidak, memang butuh waktu yang sangat panjang. Ke 12 rasul belum mengerti dan 70 murid tetap tidak mengerti. Hingga di Injil Yoh. 4:35 dikatakan, ”Empat bulan lagi tiba musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”. Yesus bicarakan ini kepada 12 rasul di tanah Samaria, tapi yang mereka lihat adalah kurang makanan. Setelah mereka pergi dan pulang membeli makanan, mereka memberikannya kepada Yesus, namun Yesus berkata, “MakananKu adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya” (Yoh 4:34). Mata mereka tidak melihat apa yang Yesus lihat.

Di Mat. 10:5-6 waktu Yesus mengutus 12 rasul, Yesus berpesan hanya pergilah ke domba-domba yang terhilang dari Israel jangan ke kota Samaria. Waktu para rasul pergi mengabarkan Injil di Israel, mereka tidak lihat bahwa disitu tuaian banyak. Lalu waktu Yesus sudah membawa 12 rasul ke tanah Samaria, mereka pun tidak melihat di tanah Samaria juga tuaian sangat banyak. Tuaian di Samaria sangat banyak. Buktinya, setelah perempuan Samaria ini bertobat, dia membawa banyak orang-orang Samaria datang kepada Yesus. Murid-murid tidak melihat bahwa di tanah Samaria juga perlu banyak pekerja. Namun mereka pasti tidak pernah memikirkan bahwa kelak merekalah pekerjanya. Yesus berkata, “... kamua akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8). 

Selama 3 ½ tahun para murid mengikuti Yesus dan dididik oleh Yesus, Yesus ingin membukakan pikiran mereka untuk melihat apa yang Yesus lihat, namun para murid tetap “buta” dan tidak melihat. Sampai kapan pikiran mereka terbuka? Sampai Roh Kudus turun di hari Pentakosta. Waktu Roh Kudus turun itulah hari perubahan besar-besaran di dalam diri setiap murid. Jaman sekarang, orang sangat salah mengerti doktrin Roh Kudus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus selalu diidentikkan dengan bisa berbahasa lidah. Karena menurut mereka, kalau berbahasa Roh, hanya Tuhan yang tahu, setan tidak tahu. Betulkah demikian? Mengapa waktu seorang murid bertanya kepada Yesus, supaya Yesus mengajarkan mereka berdoa, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dalam bahasa manusia dan bukan dalam bahasa Roh? (Luk. 11). Mengapakah Yesus sendiri berdoa sangat panjang dalam bahasa manusia seperti yang juga dicatat dalam Yoh. 17? Mengapa Tuhan mewahyukan Kitab Suci kepada nabi dan rasul, Tuhan tidak memakai bahasa Roh. Mengapa Tuhan berbicara kepada Nuh, Abraham, dan lain-lain tidak pernah menggunakan bahasa Roh. Mengapakah doa-doa manusia kepada Tuhan yang dicatat dari PL sampai PB tidak memakai bahasa Roh? Saya pernah KKR di desa Kalimantan Barat dengan tema “Allah Sejati dan Ilah Palsu” . Saya katakan, salah satu ciri Allah yang sejati adalah Allah harus mengerti banyak bahasa dan mendengar doa dari banyak bahasa. Tuhan yang hanya mengerti 1 bahasa tertentu adalah bukan Tuhan sejati. Manusia saja bisa mengerti banyak bahasa, mengapa Tuhan hanya 1 bahasa? 

Kunci kebangunan adalah pada saat turunnya Roh Kudus di hari Pentakosta. DI hari Pentakosta itulah para murid baru mulai melihat, “Betul, ladang sudah menguning dari Yerusalem sampai ke ujung bum dan siap untuk dituaii”. Setiap kita yang mengaku sudah Kristen, apakah kita memiliki hati dan mata seperti itu? Ladang sudah menguning, jangan tunggu lagi karena hasil tuaian kalau dibiarkan lama bisa “busuk”. 

Tuhan berkata kepada Yesaya dalam Yes.  6:8, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” dan Yesaya berkata, “Ini aku, utuslah aku!” Siapakah yang mau pergi untuk Aku? Kata Tuhan.”Siapakah yang mau Kuutus?”. Yesaya mengatakan, “Ini aku utuslah aku”. Amin? Jikalau Tuhan mau memanggil saudara melayani jangan tunjuk orang. Waktu Musa dipanggil Tuhan, Musa tunjuk Harun, lalu Tuhan pakai Harun yang ditunjuk Musa dan Tuhan tetap pakai Musa yang menunjuk (Tuhan pake mereka berdua). Jadi tidak ada alasan melarikan diri dari panggilan Tuhan untuk melayani. 
Di Jakarta Barat bukankah sudah banyak gereja? Ingat tuaian banyak. Di kota mana saja saudara ada, tuaian memang banyak. Saudara pergi ke daerah non Kristen, ingat disana juga tuaian banyak tapi pekerja sedikit. Mari kita berdoa.

(ringkasan ini sudah diperiksa oleh pengkhotbah-Sonny) 


#28 - 7/02/2010
"Tujuan Kedatangan Yesus ke dalam Dunia"
Pdt. Michael Densmoor


Lukas 19:1-10, Lukas 5:31-32
Bahasan kali ini diambil dari Injil Lukas yang sama-sama membicarakan tentang pemungut cukai dan tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia. Di dalam Lukas 19 diceritakan tentang pemungut cukai yang sangat terkenal adalah Zakheus dan dalam Lukas pasal 5 pemungut cukainya adalah Matius atau Lewi. Ada 3 cerita yang disinggung oleh Lukas, yaitu Zakheus, Lewi / Matius dan seorang pemungut cukai yang pergi ke bait suci untuk berdoa. Dalam cerita tentang Zakheus di Lukas 19, Yesus berkata bahwa, “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Dalam Lukas 5, dikatakan bahwa, ”Aku datang untuk memanggil orang berdosa bukan orang benar”. Disini muncul 3 kategori orang dalam misi Yesus yaitu orang hilang, benar dan berdosa. Misi Yesus yang dapat membuat kita mengerti, “ Mengapa sampai Yesus datang ke dunia? Apa menjadi tugas dan tanggung jawab kita di dalam misi Yesus?”. Tema ini begitu penting karena melihat bahwa kita sedang tinggal di satu jaman yang bicara terus-menerus tentang penginjilan, tetapi begitu sedikit melakukan penginjilan. Banyak dari kita berbicara tentang Kristus, hidup bagi Kristus tapi sedikit yang mengerti alasan inkarnasi Kristus. 

Di dalam cerita Zakheus diceritakan bahwa Zakheus adalah kepala pemungut cukai kelas kakap yang kaya. Tetapi dia punya satu masalah, dia adalah orang yang pendek sehingga saat melihat Yesus ia harus memanjat pohon. Ini cukup unik, karena jarang ada orang yang punya kedudukan tinggi mau lari-lari keringatan ke depan seluruh kota untuk melihat seperti apa wajah orang yang ingin dilihatnya. Itu terjadi karena ada satu daya tarik di dalam Yesus yang membuat orang penasaran, “Kenapa Yesus sampai datang”. Kehausan untuk mengetahui alasan Yesus datang inilah yang seharusnya juga ada pada diri kita.

Tiga macam orang yang dicari oleh Yesus adalah orang berdosa, benar dan hilang. Siapakah orang berdosa? Orang berdosa adalah orang yang dinilai seluruh masyarakat sebagai orang yang melanggar etika yang sudah lazim (asusila). Dalam konteks jaman Yesus, pemungut cukai dikategorikan sebagai orang berdosa. Pemungut cukai adalah orang yang mengkhianati bangsa mereka. Pada jaman itu, Roma sedang menduduki bangsa Israel. Dalam masa penjajahannya, dibutuhkan pajak daerah  untuk keperluan tentara, membangun jalan, perairan, dana pensiun gubernur setempat. Orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan pajak adalah dari bangsa terjajah sendiri, yang mengajukan diri bersedia menjadi pemungut cukai. Pemungut cukai memiliki wewenang dan kuasa seperti pemerintah Roma. Jika orang tidak mau bayar maka ia menyuruh tentara kafir untuk memeras, memukul bahkan membunuh. Selain itu pemungut cukai juga terkenal akan korupsinya, ia hanya menyetorkan uang sebatas pemerintah Roma inginkan dan selebihnya adalah untuk keperluannya sendiri. Oleh karena itulah pemungut cukai dikategorikan sebagai orang berdosa di jaman itu. Untuk itulah Yesus datang Yesus berkata, “Aku (Yesus)  datang untuk memanggil orang berdosa, Aku datang untuk yang paling jahat diantara seluruh masyarakat”. Lukas ingin menyampaikan bahwa orang yang paling jahat pun, profesi yang paling jahat pun bisa diselamatkan oleh Yesus. (Yang dengan profesi paling jahatpun, bisa diselamatkan oleh Yesus)

Golongan kedua yang disebut oleh Yesus adalah orang benar. Ini adalah orang yang merasa dirinya superior  dalam hal rohani dan hidupnya saleh. Pada jaman Yesus, yang dimaksud orang benar ini adalah kaum Farisi. Mereka datang ke kota memakai jubah agama yang sangat bagus, berdiri di sudut jalan, berdoa dengan suara keras, memberi perpuluhan. Cara memberi perpuluhan mereka dalam hal benih adalah menghitung benih satu per satu karena (melainkan) mereka tidak mau mengira-ngira pas (dengan menghitung kiloan) untuk Tuhan tapi harus benar-benar persis agar tidak melanggar hukum Allah dengan tidak sengaja. Musa memberi 10 hukum, tapi orang Farisi karena alasan takut melanggar hukum-hukum yang Tuhan berikan, maka menciptakan seratus hukum lain sebagai pagar. Mereka pikir jika tidak melanggar pagar maka dalam nya tidak akan terlanggar. Orang farisi melihat bahwa hukum dan dosa sebagai sesuatu yang sangat penting. Semangat inilah yang membuat saya sangat salut dan memberi nilai 10 dibanding dengan semangat kita untuk hidup suci saat ini. Mereka mau hidup suci bagi Tuhan dan takut sekali kalau melanggar hukum Musa dibanding kita di jaman sekarang yang cuek-cuek, menganggap dosa tidak terlalu berarti, misalnya saja dalam hal berbohong. Hal inilah yang membuat orang Farisi dianggap sebagai “orang benar” karena mereka memiliki semangat besar sekali bagi Tuhan dan hidup seolah-olah suci sekali yang sesungguhnya tidak penuh dengan kasih.

Golongan orang ketiga selanjutnya adalah: Orang yang hilang. Yesus memberi perumpamaan dalam Lukas 15 tentang 3 perumpamaan tentang yang hilang, yaitu “uang yang hilang”, “domba yang hilang”, serta “anak yang hilang. Perumpamaan ini menjelaskan tentang artinya “hilang”. Hilang bisa dilihat dari perspektif progresif. Hilang bisa berarti tidak ada di tempatnya dan sedang berada di tempat yang salah. Awalnya manusia dicipta untuk bersekutu dengan Tuhan, tapi akhirnya manusia memilih untuk memberontak dan jatuh dalam dosa. Mereka menjadi terpisah oleh Allah, yang seharusnya dicipta untuk bersama-sama dengan Tuhan, sekarang tidak lagi ada di tempatnya. Dalam kitab wahyu, ada kata Yerusalem baru dimana manusia kembali kepada Tuhan dan tinggal di taman. Dari taman ke taman. Manusia diciptakan untuk bersekutu dengan Tuhan di taman akhirnya itu digenapi kembali di kitab wahyu. Jadi sekarang ini, manusia sedang di dalam proses “tidak pada tempatnya”. Sesuatu yang tidak pada tempatnya otomatis masuk dalam tahap selanutnya yaitu binasa. Misal: saya memiliki sepotong daging untuk dimakan pesta minggu depan. Seharusnya, saya masukkan dalam freezer, tetapi karena saya pelit tidak punya kulkas, maka saya taruh di atas meja sampai minggu depan. Bentuk, ukuran masih sama dari hari ke hari tidak ada perubahan secara nyata, tetapi sebenarnya di dalam daging itu ada satu proses pembusukkan. Ilustrasi ini sama dengan kita yang telah disorientasi dan sekarang sedang masuk dalam satu proses pembusukkan yang menuju kepada satu status akhir, yaitu binasa. Puji Tuhan ada satu pengharapan, Yohanes 3:16 mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah ,mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”

Tiga golongan manusia tadi:Pertama, orang yang jelas-jelas berdosa. Kedua, orang yang mengangap diri benar, sok saleh dan terlihat rajin beribadah tetapi hatinya busuk. Ketiga, orang yang baik, normal dan tidak ada sesuatu yang aneh namun tiap hari hidup mereka semakin rusak. Termasuk golongan manakah kita? Celakalah orang yang merasa dirinya tidak masuk salah satu golongan. Orang benar merasa tidak perlu Yesus, akhirnya Yesus dibunuh oleh mereka. Kabar baiknya, Yesus datang untuk mencari, untuk (dan) memanggil orang berdosa kembali kepada Dia. Di dalam Nats kita, Yesus berkata, “ Sebab anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan manusia.” Salah satu identitas atau cara Yesus untuk menjelaskan misi-Nya tersebut kepada 3 golongan adalah dengan memakai julukan Anak Manusia.

Dalam kitab (erase) Daniel 7:13-14 :”Aku terus melihat dalam penglihatan itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia,….” Disini muncul istilah Anak Manusia yang nanti akan turun dari awan-awan untuk menegakkan pemerintahan-Nya dan menguasai segala bangsa. Anak Manusia digambarkan sebagai prajurit yang besar dan berkuasa sebagai Raja yang akan menaklukkan alam semesta.  Di mazmur 8, dikatakan, “Siapakah anak manusia? Sehingga Engkau mengingat dia.” Jadi dua ayat ini mengontraskan bahwa ada penguasa bintang dan alam semesta yang hebat tapi juga ada anak manusia yang begitu kecil dan begitu hina. Secara status, Dia adalah anak manusia (Daniel 7) yang datang dari awan-awan yang akan memerintah, namun secara tingkah laku seperti yang tercatat dalam mazmur 8:5. Anak Manusia rela datang bersalutkan daging lemah walaupun statusnya sebagai Mesias yang akan datang untuk kedua kalinya. Ia datang dengan lemah lembut, penuh dengan hina, kerendahan hati untuk mendekatkan diri kepada kita orang berdosa. Pendekatan semacam inilah yang harus dimiliki sebagai semangat pelayanan. Pada saat kita ingin menginjili orang, membawa mereka kembali kepada Tuhan, kita perlu semangat Yesus itu. Kita perlu rela merendahkan diri untuk datang kepada mereka. Seringkali kita ingin penginjilan dari jauh dengan tidak berani bicara langsung karena tidak mau terlibat dalam hidup mereka, misalnya PI hanya dengan traktat atau  SMS.

Cara Yesus mendekati tiga golongan ini. Pertama, kepada orang berdosa. Yesus makan dan mengundang diri makan di rumah mereka. Bayangkan saja, awalnya zakheus yang ingin tahu siapakah Yesus akhirnya Yesus yang balikkan semua. Yesus, Guru yang besar yang lakukan mujizat banyak dan diikuti oleh banyak orang, sekarang masuk satu kota dan makan bersama penjahat yang paling besar. Mungkin kita di gereja tidak bisa terima tingkah laku seperti itu, tetapi itu yang Yesus justru lakukan. Mengapa? Itulah cara Yesus. Kepada orang benar, Nikodemus, diam-diam malam hari bertemu dan bicara. Kepada orang jahat, mengundang diri makan di rumahnya. Yesus mengerti bahwa Injil harus dibawa kepada semua orang. Nama baik, status, dan penilaian orang lain tidaklah penting. Yang penting hanya satu, Injil dinyatakan disana. Terhadap golongan orang berdosa, Yesus mengundang diri, dan mereka menerima Dia dengan sukacita karena merasa ada pertobatan yang besar.

Kedua, kepada orang benar. Yesus mengutip dari PL, “Yang dicari oleh Tuhan bukanlah korban sembelihan, tetapi kasih setia”. Orang benar menipu diri, mereka berpikir pasti dengan tingkah laku yang baik Tuhan akan senang kepada mereka. Yesus justru membalikkan ini semua dan mengutip dari Hosea 6:6, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan” Kasih setia disini merupakan istilah yang paling penting dalam PL, yaitu Hesset, artinya kasih setia Tuhan. Tuhan telah mengikat diri dengan umatNya dalam satu perjanjian yang tidak mungkin diputus. Yesus berkata bahwa perintah yang paling besar: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia”. Namun, orang Farisi sudah melupakannya yang terlihat dari respon dan cermin hidup mereka. Terhadap orang “benar”, Yesus tidak berdebat, tidak membujuk. Inipun berlaku dengan kita, seharusnya saat dihadapkan dengan kelompok ini, kita sadar dan  tidak usah berdebat dan berargumentasi karena tidak ada gunanya. Cukup suruh mereka pulang , “Baca apa yang tertulis” dan biar Roh Kudus bekerja melalui firman-Nya kepada mereka. Orang yang benar, yang mengeraskan hati tidak mau terima Firman Tuhan akhirnya mereka membuat massa lalu berseru, “Salibkan Dia!. Ada yang diam-diam seperti Nikodemus mau merenungkan Firman Tuhan , ada yang merasa tidak perlu.

Kepada golongan ketiga, kelompok orang terhilang, Yesus mencarinya. Orang yang hilang adalah orang yang perlu dicari. Dalam perumpamaan gembala yang mencari satu domba yang hilang dan bapak yang mencari anaknya yang hilang terkandung makna bahwa Allah senantiasa mencari. Mari teladani semangat Yesus. Ia datang untuk mencari dan telah memberi misi yang sama kepada kita, yaitu “Pergi ke seluruh dunia, cari dan selamatkan yang hilang”. Yesus sudah menggenapi rencana keselamatan, tinggal orang mendengar untuk meresponi. Namun sedikit yang bersedia pergi dan mencari yang hilang padahal banyak yang terhilang: saudara, teman, tetangga, bangsa kita. Kita tinggal di Jakarta Barat, kalau naik mobil selama 30 menit kita sudah bisa masuk ke propinsi Banten. Sudah masuk diantara suku terbesar di seluruh dunia yang belum terima Injil. Ini bukan satu suku pedalaman di Papua atau di India yang jauh dari sini. Perlu ada orang yang mencari, untuk membawa mereka kepada Yesus. Yesus datang dari sorga untuk mencari yang hilang, karena hanya Yesus solusi masyarakat ini. Mungkin kita lihat satu wilayah sudah makmur, sudah maju sudah tidak perlu Injil. Yesus justru melihat dengan mata lain, mereka dalam proses pembusukkan ini dan sedang menuju pada kebinasaan.

Introspeksilah, mungkin dosa kita sudah banyak dan merasa tidak mungkin ada orang yang dapat menolong, Yesus datang mencarimu. Orang paling jahat, Yesus mengundang diri makan dirumahnya, membuka keselamatan bagi mereka. Mungkin saudara seumur hidup ikut ke gereja, bahkan jadi majelis, tetapi hatinya masih busuk dan jauh dari Tuhan. Yesus datang untuk memanggil kita kembali juga. Mungkin kita semua hidup terus berusaha menyelamatkan diri melalui perbuatan baik kita tetapi akhirnya yang didapat hanyalah putus asa dan tidak ada harapan. Kembalilah pada Dia, percayalah bahwa Ia akan terus pimpin hidup kita sampai ke surga. Bagi kita yang sudah terima Yesus, bangkitlah dengan semangat baru karena Injil bisa menolong setiap orang. Tidak ada orang yang hopeless, tidak ada orang yang diluar jangkauan Kristus, karena begitu besar kasih Allah kepada mereka. Marilah kita berdoa.


(Ringkasan ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)


#29 – 14/02/2010
Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#5)
"Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#1)"

Pdt. Aiter, M.Div.


Mat. 6:5-8, Luk. 18:1; 11:1, Kis 6:4, Kej. 18:23-31, Yak. 4:1-3
Bahasan mengenai kalimat paradoks kali ini akan dikotbahkan dalam beberapa kali kebaktian Minggu. Apa artinya doa yang tidak jemu-jemu & doa yang tidak bertele-tele? Di satu sisi kita disuruh jangan jemu-jemu berdoa, di sisi yang lain jangan berdoa bertele-tele, “Lagipula dalam doamu itu janganlah engkau bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Mat. 6:7); dan Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.(Luk. 18:1). Dalam dua bagian ayat di atas kita menemukan seolah-olah ada kontradiksi yang begitu besar tapi sebenarnya tidak. Kita akan memakai beberapa Minggu untuk melihat detail kalimat tersebut dan hari ini kita akan fokus tentang APA ITU DOA

Dalam Alkitab, doa ditempatkan dalam posisi atau porsi yang sangat tinggi dan sejajar dengan pemberitaan firman Tuhan, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman.(Kis. 6:4). Kata “dan” dipakai untuk menyatakan posisi doa dan pelayanan firman setara adanya. Ini menarik sekali. Banyak orang mempersiapkan pemberitaan firman Tuhan (khotbah) dengan porsi yang sangat banyak dan persiapannya sangat baik, tetapi waktu orang tersebut disuruh memimpin doa dalam Persekutuan Doa, orang tersebut tidak mempersiapkan doa baik-baik.  Dalam kuliah Teologia, mahasiswa Teologia diajarkan Teologia, bagaimana cara berkhotbah (homiletik), tetapi jarang sekali ada mata kuliah bagaimana caranya berdoa. Ada beberapa gereja buka “Sekolah berdoa”. Mengapa berdoa itu demikian penting? Karena jikalau manusia tidak belajar bagaimana berdoa maka selama hidupnya, ia akan selalu berdoa salah, termasuk salah kepada Tuhan yang dia panjatkan doanya, dan dengan kalimat “iman” yang salah pula. 

Doa merupakan sesuatu yang sangat penting yang perlu dipelajari. Banyak orang mengira bahwa doa tidak perlu dipelajari karena doa merupakan cetusan dari dalam hati saja, spontan, dan asal berbicara saja sudah cukup. Alkitab mengatakan tidak. Mengapa? Karena doa bukan hanya komunikasi atau percakapan, tapi doa mengungkapkan pernyataan iman yang sedalam-dalamnya dari mulut orang yang berdoa. Dalam Luk. 11:1 muncul kalimat dari seorang murid Yesus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa”. Pertama kali saya baca ayat ini saya sangat bingung. Mengapa doa perlu diajarkan? Mengapa harus minta Yesus yang ajarkan? Lalu Yesus ajarkan Doa Bapa Kami. Secara logika, mungkin Doa Bapa Kami ini tidak akan keluar dari mulut Yesus jika murid ini tidak bertanya. Namun di dalam ketetapan Tuhan dan kedaulatan Tuhan, Doa Bapa Kami pasti harus ada. Doa ini muncul sekaligus mengajarkan doa yang benar dan merombak konsep-konsep doa yang salah di kalangan Yahudi. Saya mau tanya, “Saat murid tersebut tanya Yesus bagaimana caranya berdoa, murid tersebut sebelumnya sudah bisa berdoa atau belum?” SUDAH. Mengapa demikian? Karena orang yang minta ini adalah orang Yahudi dan semua orang Yahudi dari kecil sudah bisa berdoa. Jadi adalah mustahil kalau orang tersebut tidak bisa berdoa. Saya salut orang ini, sudah bisa berdoa, namun tetap masih mau bertanya dan belajar lebih dalam lagi tentang bagaimana seharusnya berdoa, dan murid ini dengan rendah hati datang kepada Yesus.

Yesus berkata, “... Bapa kami yang di Sorga ...” (Mat. 6:9). Kalimat pertama dalam Doa Bapa Kami ini cukup mengejutkan. Seharusnya Yesus menggunakan kata “Yehova / Yahweh” agar lebih kontekstual dengan orang Yahudi, karena pemakaian Yahweh ini dianggap orang Yahudi adalah milik mereka. Mestinya “Yahweh kami yang di Sorga”. Yesus bukan tidak tahu hal itu karena Yesus sendiri hidup di lingkungan Yahudi, tetapi Yesus menggunakan kata “Bapa”. Mengapa? Yesus mau mengajarkan bahwa Allah itu bukan milik bangsa Yahudi saja (Yahweh) tapi milik seluruh umat manusia yang percaya kepadaNya (Bapa). Lalu karena Yesus sendiri adalah Anak Allah, maka Dia berhak menyebut Allah itu BapaNya. Dan semua orang percaya adalah anak-anak Allah, jadi kita semua berhak memanggil Allah kita sebagai “Bapa kami yang ada di dalam Surga”. Yesus membuka dimensi yang lebih luas mengenai doa, doa ditujukan kepada Allah dari semua umat manusia. yang percaya kepadaNya. Kalimat pertama saja sudah mengoreksi seluruh konsep doa orang Yahudi yang sudah salah beribu-ribu tahun. Bagaimana dengan kita? Siap tidak jika kita dikoreksi isi doanya? Banyak orang berkata seperti ini, “Oh tidak apa-apa, yang penting Tuhan tahu, kalaupun kalimatnya banyak yang salah, Tuhan sendiri yang akan menyempurnakan semua doa kita”. Dengan kata lain, Doktrin salah kaga apa-apa, Tuhan yang akan bereskan. Apakah itu benar? TIDAK. Doa adalah cetusan iman kita dan pengenalan diri serta pengenalan akan Tuhan secara personal. Di dalam doa tersembunyi seluruh konsep firman Tuhan yang kita mengerti dan seberapa besarnya iman kita.  Itulah sebabnya doa begitu penting, sehingga dalam Kis 6:4, doa disejajarkan dengan pelayanan firman atau berkotbah.

 Semua orang Yahudi mempunyai konsep tentang Allah yang hanya “dikotakkan” atau “dikhususkan” untuk orang Yahudi saja. Allah kita melebihi kotak yang kita kotakkan. Amin? Sebagian orang Kristen dari aliran yang lain, cenderung berdoa kepada Yesus atau kepada Roh Kudus yang sudah dikotakkan oleh mereka di dalam kotak, pengertian atau ikatan tertentu. Mereka berdoa kepada Allah (objek) dan mereka menempatkan diri sebagai subjek. Karena mereka sebagai subjek, maka mereka sering memerintahkan Allah untuk melakukan ini dan itu. Ini keliru! Konsep doa yang benar tidak seperti itu, kita berdoa kepada Tuhan, Tuhan tetap menjadi subjek dan kita yang menjadi objek yang akan dibenahi di dalam doa kita.

Di awal cerita Alkitab, terdapat dialog doa yang cukup panjang yaitu doa Abraham saat negosiasi dengan Tuhan untuk kasus kota Sodom dan Gomora yang akan dihancurkan oleh Tuhan. Waktu berdoa, Abraham berbicara dengan Tuhan tetapi bukan mau menyetir Tuhan melainkan masuk dalam jalur apa yang Tuhan sedang pikirkan. Ini namanya doa mencari kehendak Tuhan. Abraham terlebih dahulu sudah mendengar kalimat dari Tuhan mengenai penghancuran kota Sodom dan Gomora yang sangat berdosa itu, lalu ia mau mendeteksi seluruh pikiran dan ketetapan Tuhan. Kej. 18:23, ... Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”. Dia tahu bahwa Tuhan akan menghancurkan kota Sodom dan Gomora. Dia tahu bahwa yang akan dihancurkan Allah adalah orang-orang berdosanya, tetapi di sana masih ada beberapa orang benar. Lalu Abraham mencari tahu apa yang Tuhan pikirkan dan menanyakan bagaimana jika ada 50 orang benar di sana, apakah Tuhan akan tetap hancurkan? (Kej. 18:24). Abraham tau bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil yang tidak akan sembarangan menjatuhkan hukuman, … Masakan hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?(Kej. 18:25). Abraham tahu bahwa penghukuman akan tetap terjadi tapi ia mau tahu bagaimana keadilan Tuhan tersebut dijalankan. Lalu Tuhan jawab, “... Jika Kudapati 50 orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (Kej. 18:26). Abraham berpikir ini kontradiksikah? Tadi diawal Tuhan mau hancurkan Sodom, tetapi setelah ditanya kalau ada 50 orang benar  maka Tuhan tidak jadi hancurkan. Intinya Tuhan pastikan akan hancurkan Sodom, lalu kalau begitu berarti angka yang disodorkan itu yang pasti kurang tepat. Oleh sebab itu Abraham koreksi angka tadi dan langsung turunkan angka itu menjadi 45 orang. Perhatikan di sini! Dalam doa, Tuhan tidak pernah berubah tetapi manusia yang berdoalah yang berubah untuk semakin mendekati apa yang Tuhan inginkan / kehendak Tuhan. Abraham tahu, Tuhan yang dia sembah adalah Tuhan yang tidak bisa dipermainkan, oleh sebab itu dia takut sekali kalau Tuhan murka kepadanya karena mengganti angka 50 tadi. Maka sebelum dia ganti ke angka 45, dia berkata, “... Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.” (Kej. 18:27). Abraham menyadari berapa besarnya Tuhan di dalam doa dia, dan berapa kecilnya dia di mata Tuhan. Inilah sikap doa yang benar. Tau siapa subjek dan tau siapa objek. Dalam doa Abraham tersebut tersirat pernyataan iman Abraham, kerendahan hatinya, serta berapa besarnya Tuhan yang dimengerti oleh dia. Jika orang tidak mengerti konsep seperti ini, maka semakin berdoa, orang itu akan semakin berbuat dosa di dalam doanya. Orang-orang sering merasa mereka sendiri yang hebat, sehingga dengan doa mereka yang ngotot, mereka dapat merubah Tuhan. Mereka merasa diri merekalah yang hebat, dan Tuhan yang harus tunduk kepada apa yang mereka perintahkan. Sering orang berdoa seperti ini, “Hari ini juga engkau pasti sembuh!”. Tahu darimana bahwa kesembuhan seseorang itu harus terjadi hari itu? Seringkali kita sudah salah berdoa, namun tidak mau dikoreksi. Abraham menurunkan angka 50 menjadi 45, karena dia sadar bahwa dirinya yang salah. Dalam Kej. 18:26-30  kita melihat Abraham terus menurunkan angka yang dia sebutkan, dari 50 >> 45 >> 40 >> 30 >>  20 >> 10. Dalam hati Abraham ada muncul semacam ketakutan berbicara dengan Tuhan, sehingga beberapa muncul kalimat, “Janganlah kiranya Tuhan murka ...” (Kej. 18:30, 32). Namun dia tetap memberanikan diri berdoa kepada Tuhan, “... Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan ...” (Kej. 18:27, 31).

Apakah Abraham sedang mau mengubah Tuhan? Apakah Abraham memaksakan kehendak dia? TIDAK. Doa bukan untuk mengubah Tuhan. Angka 50 >> 45 >> 40 >> 30 >>  20 >> 10 yang Abraham berikan bukan untuk merubah Tuhan. Dia merasa terlalu optimis bahwa kota Sodom itu banyak orang benar. Lalu dia turunin dengan memakai rumus -5 (minus 5) dan -10 (minus 10). Coba perhatikan pengurangan angka tersebut: 50 – 5 = 45 dan 45 – 5 = 40; serta 40 – 10 = 30 dan 30 – 10 = 20 dan 20 – 10 = 10. Abraham berhenti di angka 10. Lalu pernah ada yang mengatakan, “Kehancuran kota Sodom adalah karena kesalahan Abraham dalam memberikan angka?” Menurut mereka, kalau Abraham berikan angkat angka yang tepat maka Tuhan pasti tidak hancurkan kota Sodom.  Jawabannya bukan karena kesalahan Abraham. Abraham turunkan angka sampai berapapun, Tuhan tetap akan hancurkan kota Sodom dan Gomora. Coba perhatikan, Abraham memakai perhitungan minus 5 dan minus 10. Seandainya Abraham melanjutkan pembicaraannya dengan Tuhan setelah angka 10, maka akan di dapat 2 kemungkinan angka jumlah orang benar, yaitu angka 10 – 5 = 5 orang atau 10 – 10 = 0 orang (tidak ada orang). Jadi kalau begitu satu-satunya angka yang akan diterima adalah 5 orang benar di kota Sodom. Kalau ada 5 orang benar di kota Sodom,  apakah Tuhan tetap akan hancurkan? Tuhan pasti akan menjawab “Jika Kudapati 5 orang benar di kota Sodom, Aku tidak akan menghancurkan kota tersebut”. Mengapa demikian? Karena di kota Sodom hanya ada 1 orang benar yaitu Lot. Meskipun yang awalnya diselamatkan adalah 4 orang (Lot, Istri Lot, dan 2 anak perempuan Lot), namun istri Lot akhirnya menoleh ke belakan dan jadi tiang garam, sedangkan kedua anaknya yang gadis itu bukan orang benar, karena keduanya “memperkosa” Lot di dalam goa (Kej. 19:30-38). Dalam 2 Pet. 2:7 dikatakan, tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar ...”. Mengapa Abraham berhenti di angka 10? Saya percaya, Abraham tahu kalau di jaman Nuh terdapat 8 orang yang selamat, masakan di kota Sodom tidak ada 10 orang benar? Bukankah Lot punya istri, 2 perempuan, serta begitu banyak gembala yang dulu ikut Lot masuk ke Sodom, masakan tidak ada 10 orang yang benar? Abraham pikir pasti ada 10 orang benar di Sodom. Akhirnya dia baru tahu ternyata tidak ada 10 orang benar di Sodom, karena Allah tetap hancurkan Sodom. Jadi apakah Tuhan tidak menjawab doa Abraham atas kasus Sodom? TUHAN JAWAB. Tuhan jawab melalui tindakan Tuhan menghancurkan Sodom. Karena Tuhan sudah bilang kalau ada 10 orang benar, maka Dia tidak akan menghancurkan Sodom, tetapi karena tidak ada 10 orang benar, Tuhan tetap hancurkan Sodom. Berarti Tuhan menjawab doa Abraham. Tetapi jawabnya dengan dihancurkannya Sodom. Kej. 19:27-28 mencatat bahwa keesokan harinya Abraham melihat asap membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan () waktu Tuhan menunggangbalikkan kota Sodom dan Gomora. Waktu Abraham lihat banyak asap, dia tidak complain kepada Tuhan, karena sekarang dia baru mengerti bahwa keadilan Tuhan dinyatakan. Dan dia sekarang setuju tindakan Tuhan atas Sodom dan Gomora. 

Apa perasaan saudara jika saudara berdoa minta A, tetapi yang Tuhan jawab itu B? Saudara siap menerima jawaban dari Tuhan meskipun buruk di mata saudara? Abraham sudah tahu Sodom akan dihancurkan Tuhan, tetapi ia tetap berdoa, “Kalau boleh Sodom tidak hancur”, tetapi kota Sodom akhirnya tetap hancur, namun Abraham tidak marah dan tidak kecewa kepada Tuhan. Inilah Iman. Doa membuat level iman seseorang naik. Waktu seseorang berdoa, makin sering berdoa, dia akan lebih beriman dan akan lebih mengetahui siapakah Tuhan yang sedang diajak bicara. Sekarang ini orang berdoa, makin doa makin tidak tahu siapa Tuhan yang diajak bicara. Banyak orang yang berdoa dengan sikap tidak sadar bahwa dirinya adalah debu dan abu, lalu berani menghadap Tuhan dengan menantang Tuhan. Waktu manusia berontak kepada Tuhan, Tuhan diam saja. Kalau Tuhan langsung berkata-kata menjawab setiap manusia yang tidak beres itu, saya percaya Alkitab tidak pernah akan ditulis habis, karena terlalu banyaknya perkataan Tuhan kepada manusia. Doa seharusnya membuat manusia semakin dekat dengan Tuhan, semakin memahami siapakah Tuhan, dan semakin mengoreksi kesalahan diri sendiri. Amin? Jikalau konsep ini tidak beres dulu maka kita akan jatuh dalam doa bertele-tele. Sebagian orang pikir doa merupakan hal yang sulit, sehingga mereka titip pokok doa didoakan di Persekutuan Doa gereja mereka (sendiri tidak mau berdoa), sebagian lagi menganggap kalau Pendeta yang doakan, maka doanya lebih berkuasa dari para penginjil-penginjil. Waktu saudara menjadi orang Kristen, saudara perlu belajar berdoa. Belajar berdoa bukan les. Belajar berdoa di dalam pergumulan iman saudara karena Roh Kudus akan membantu kita berdoa. Saudara belajar langsung dari Roh Kudus. Seringkali waktu kita sedang berdoa, langsung ada semacam suara yang mengoreksi kita. Suara ini seringkali adalah suara dari Roh Kudus. Saudara juga harus pintar-pintar membedakan mana suara Roh Kudus, dan mana suara Setan. Waktu Roh Kudus sedang membantu kita berdoa, kita pun harus peka apa keinginan Roh Kudus tersebut. Seringkali orang sudah berdoa, dia sendiri lupa bahwa dia sudah doa. Misal: saat doa syafaat ada 18 point, saat sudah selesai berdoa, kita sendiri lupa apa yang kita tadi sudah doakan. Demikian juga dengan halnya doa makan, seringkali orang Kristen kalau sudah lihat piring makanan on-off doanya langsung nyala: langsung tutup mata berdoa. Piring membuat mata orang yang akan makan langsung ditutup. Bahkan kadang-kadang sudah selesai berdoa makan, lalu ada hal yang mesti dikerjakan terlebih dahulu dan begitu kembali ke meja makan lalu doa lagi. Dia lupa tadi sudah berdoa makan. Ada orang juga yang terlalu rohani, sampai doa makan dijadikan doa syafaat yang panjang sekali. Maka marilah kita belajar berdoa. Amin? Berdoa tidak harus dengan bahasa yang formal dan rapi. Kita berdoa kepada Tuhan dari hati yang paling dalam. Begitu kita sudah masuk di hati Tuhan yang paling dalam, maka bahasa kita otomatis jadi baik, rapih dan ada keintiman dengan Tuhan. Waktu kita berdoa, kita masuk ke dalam hakikat doa itu dan menyelami apa yang Tuhan mau dan di situlah kita masuk dalam Sabat itu (menikmati kelegaan di dalam Tuhan). Saat kita masuk ke rencana Tuhan yang kekal itu, kita sedang menikmati kesukacitaan dan rest di dalamnya. 

Yak. 4:1-3 memberikan prinsip yang luar biasa alasan orang tidak dijawab doanya, yaitu karena dia tidak berdoa, “Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa”. Lalu mengapa ada orang yang sudah berdoa tetap tidak dijawab? Karena salah berdoa, “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu”. Jika seseorang sudah tepat doanya, sudah masuk seperti Abraham, seolah-olah Tuhan tidak menjawab, padahal Tuhan sudah jawab doanya melalui kehancuran kota Sodom. Maksudya, karena Tuhan tidak temukan 10 orang benar maka dihancurkan. Tuhan tetap jawab doa, tapi dengan cara lain. Di sini terdapat dua kemungkinan yaitu tidak berdoa dan berdoa tapi doanya salah. Kalau saudara tidak doa, pasti tidak dapat apa-apa tapi jika berdoa ada kemungkinan tidak dapat dan ada kemungkinan dapat. Masalahnya kenapa tidak dapat? Karena salah berdoa, semua isi doanya hanya untuk diri sendiri. Jika doanya dijawab, maka pastilah isi doa untuk orang lain dan doanya masuk di dalam kehendak Tuhan. Alkitab mengatakan, “Mintalah, maka kamu akan diberikan” inipun di dalam konteks permintaan yang  masuk ke dalam kehendak Tuhan. Semua orang yang sudah masuk di dalam kehendak Tuhan yang paling dalam, dia dapat jawaban Tuhan yang sesuai dengan yang Tuhan mau. Minggu depan kita akan melanjutkan pembahasan kita dan melihat orang yang doa sebetulnya banyak doa yang tidak ada gunanya karena sudah dijawab Tuhan, tetapi masih terus didoakan. Mari kita berdoa. 


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


 #30 – 21/02/2010
Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#6)
"Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#2)"

Pdt. Aiter, M.Div.

 
Mat. 6:5-8, Mrk. 12:38-40, Luk. 18:1-8
Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan kita mengenai kalimat paradoks ke-5 tema “Doa Bertele-tele vs Doa Tidak Jemu-jemu” pertemuan ke-2. Kita akan mengfokuskan kepada tema “DOA BERTELE-TELE”. Minggu lalu kita sudah membicarakan bagaimana Abraham mendoakan kota Sodom dan Gomora. Pada waktu Abraham berdoa kepada Tuhan, dia bukan ingin merubah Tuhan, melainkan Tuhanlah yang mengubah dia. Dalam doa Abraham, dia terus merubah jumlah angka orang benar yang dia kira ada di kota Sodom, yaitu mulai dari angka 50 à 45 à 40 à 30 à 20 à 10. Jadi, doa mengubah manusia supaya seturut kehendak Tuhan. Namun sampai sekarang banyak orang Kristen tetap mempunyai konsep doa bisa merubah Tuhan. Salah satu bagian yang paling sering digunakan adalah kisah mengenai Hizkia yang sakit dan akan mati namun Tuhan memperpanjang hidupnya 15 tahun lagi, “Beginilah firman TUHAN: Sampaikanlah pesan terakhir kepada keluargamu, sebab engkau akan mati, tidak akan sembuh lagi ... Baliklah dan katakanlah kepada Hizkia, raja umat-Ku: Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu; sesungguhnya Aku akan menyembuhkan engkau; pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN ... Aku akan memperpanjang hidupmu, 15 tahun lagi. Aku akan melepaskan engkau dan kota ini dari tangan raja Asyur. Aku akan memagari kota ini oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hambaKu. Aku akan memperpanjang hidupmu 15 tahun lagi.” (2 Raj. 20:1-5).

Dari ayat ini, Tuhan sepertinya adalah Tuhan yang tidak konsisten. Akhirnya orang menafsirkan bagian ini dengan sembarangan dan muncullah teologi doa yang salah. Mereka sangat percaya bahwa doa yang ngotot dan tidak jemu-jemu pasti akan merubah keputusan Tuhan. Jadi masih ada kesempatan untuk negosiasi sama Tuhan sebelum waktu penghukuman-Nya tiba. Sekarang saya tanya, “Mungkinkah Tuhan berubah seperti itu?”. Banyak orang salah membaca ayat itu. Ayat tersebut bukan karena Tuhan yang salah bicara, lalu Tuhan sendiri yang koreksi. Tuhan bicara benar. Coba perhatikan 2 Raj. 20:1, Sampaikan pesan terakhir kepada keluargamu sebab engkau akan mati. Tidak akan sembuh lagi. Tuhan mengatakan Hizkia akan mati, tapi tidak diberitahu kapan waktunya mati. Dari dulu Yesus berkata Aku akan datang kembali kali ke-2, tapi sampai sekarang Yesus belum datang juga. Jadi satu kata akan” ini dapat terjadi dalam waktu yang pendek, panjang, atau waktu yang “tidak terbatas”. Waktu Hizkia mendengar kabar dia akan mati, lalu dia kaget sekali, lalu dia berdoa kepada Tuhan, lalu Tuhan memaparkan apa kata satu kata “akan” itu, yaitu 15 tahun lagi. Jadi Tuhan membongkar rahasia  kematian Hizkia yaitu 15 tahun lagi. Ayat tersebut, tidak boleh diartikan, mestinya Hizkia sudah harus mati, tetapi karena doanya yang ngotot, maka Tuhan merubah keputusannya yang menmbah umurnya 15 tahun lagi. 

 Hizkia memang tidak boleh hari itu mati, karena kalau hari itu dia mati, maka Manasye (anaknya) tidak lahir. Manasye mesti lahir dulu, karena kerajaan Hizkia akan turun ke anaknya dan anaknya inilah yang akan menjadi nenek moyang dalam silsilah kelahiran Yesus, “Kemudian Hizkia mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya. Maka Manasye, anaknya, menjadi raja menggantikan dia.” (2 Raj. 20:21) dan   “Manasye berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Hefzibah.” (2 Raj. 21:1). Jadi Hizkia tidak boleh mati pada waktu itu, karena:

1.       Manasye belum lahir. Jadi belum ada pengganti yang meneruskan kerajaan yang dipimpin oleh Hizkia. Dan kalau Manasye tidak lahir, garis keturunan yang akan melahirkan Mesias/Yesus akhirnya terputus di Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia ... Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.” (Mat 1:10-16).

2.      Jika Hizkia mati beberapa tahun kemudian (asumsi Manasye sudah lahir), maka pengganti Hizkia sebagai raja tidak mungkin seorang anak berusia 4 tahun. Jadi Hizkia mati harus tunggu Manasye agak besar dulu. Dan Alkitab catat “tunggu” Manasye umur 12 tahun.

Sekarang kita kembali ke pembahasan mengenai doa bertele-tele. Doa yang bertele-tele muncul di dalam konteks yang sangat penting, yaitu Khotbah Di Bukit, "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:5). Di sini kita melihat ciri-ciri orang yang disebut oleh Tuhan Yesus adalah orang-orang rohaniawan atau kelompok orang-orang Yahudi yang saleh yang rajin berdoa. Kalau kita bandingkan dengan Mrk. 12:38-40 kita menemukan bahwa mereka adalah kelompok ahli-ahli Taurat, “... Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” Bukankah ini sesuatu yang ironis? Biasanya orang-orang yang doanya bertele-tele justru adalah orang yang kurang  memahami isi Alkitab (orang Kristen biasa) karena dia tidak tahu mesti doa apa sehingga doanya putar-putar tanpa arah dan tidak sistematis. Kalau orang yang sudah tahu Alkitab (orang rohaniawan), biasanya doanya lebih teratur, terarah dan sistematis. Namun Alkitab memberikan gambaran yang berbeda dengan kenyataan hidup sehari-hari. Justru orang rohaniawanlah yang doanya bertele-tele. 

 Sikap berdoa tidak menentukan orang itu rohani atau tidak. Tetapi bukan berarti kita boleh berdoa dengan sikap asal-asalan. Ahli-ahli Taurat yang mengerti ayat-ayat Alkitab, justru memanipulasi semua hal-hal rohani untuk menipu orang-orang di sekitarnya. Mereka selalu mencari hormat dari manusia, mereka menelan rumah janda-janda untuk mengeruk keuntungan bagi diri, dan mereka mengelabui orang dengan bahasa-bahasa yang indah-indah di dalam doa mereka. Mestinya seseorang yang makin rohani, maka doanya akan makin sesuai kehendak Allah dan hidupnya makin dekat kepada Allah. Namun Yesus sekali lagi memberikan gambaran yang berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Justru makin rohani seseorang, doanya makin seperti orang yang tidak mengenal Allah. Ini sindiran yang besar kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang katanya sangat rohani, tetapi sebetulnya doanya seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Mat. 6:7). Banyak orang yang katanya semakin tinggi rohaninya, tetapi sebetulnya mereka semakin seperti orang duniawi. Jadi, “Apakah doa itu sulit?” Jawabannya: SULIT.

Minggu lalu saya sudah bahas ada seorang murid yang mendatangi Tuhan Yesus dan minta diajari berdoa (Luk. 11:1). Saya kagum orang ini, bukankah dia adalah orang Yahudi yang sudah mengerti bagaimana seharusnya berdoa sejak kecil? Bukankah dia sudah mengetahui doa-doa dari murid-murid Yohanes Pembaptis? Bukankah dia juga sudah sering mendengar doa dari Rabi-rabi Yahudi? Namun ia tetap rendah hati datang dan meminta kepada Yesus, “Tuhan, ajarlah kami berdoa ...”. Jadi doa perlu dipelajari dengan baik, amin? Doa waktu dipelajari bukan mempelajari susunan kata atau rapinya kosa kata. Doa merupakan ungkapan iman kita dihadapan Tuhan melalui kata-kata. Dalam “Doa Bapa Kami”, Yesus memberikan urutan porsi yang paling benar di dalam doa. Waktu seorang pemungut cukai berdoa dengan kalimat yang seolah-olah tidak sempurna dan kurang panjang, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk. 18:11), namun doanyalah yang dibenarkan oleh Yesus. Kalimat ini mirip seperti apa yang Abraham katakan, “... Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.” (Kej. 18:27). Orang-orang rohani adalah orang-orang yang tahu posisi dirinya di hadapan Allah yang kudus. Jadi doa bukan kita terus minta-minta kepada Tuhan, namun doa merupakan refleksi diri orang berdosa yang berdiri di hadapan Allah yang kudus dan memohon belas kasihannya. 

Para rohaniawan seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi jatuh ke dalam ekstrim doa bertele-tele, demikian jugalah halnya para pendeta-pendeta yang kalau tidak hati-hati juga akan jatuh di dalam doa yang bertele-tele, dan makin seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. 

Kadang-kadang orang menggunakan doa sebagai alat menyerang orang lain. Misalnya seorang pemimpin doa syafaat mengajak seluruh jemaat berdoa, dan dia berkata, “Mari kita buka suara kita berdoa, kita berdoa untuk bapak A yang kemarin baru ketahuan berselingkuh sama istri simpanannya.” (karena musuhan sama bapak A). Waktu seluruh jemaat buka suara berdoa, secara kalimat dalam doa bisa diucapkan dengan baik, tetapi pikiran dari seluruh jemaat langsung berpikir dan manafsirkan hal yang macam-macam. Lalu kadang-kadang Persekutuan Doa juga menjadi pusat informasi. Lalu laporan perpuluhan yang tiap minggu dibacakan di gereja bisa dijadikan sebagai tempat orang-orang saling beradu kasih perpuluhan yang melampaui jemaat yang dimusuhinya. Dalam berdoa orang bisa melakukan dosa; dalam membeirkan persembahan orang bisa melakukan dosa, tetapi tidak berdoa dan tidak memberikan persembahan juga dosa. Saudara jangan kira tiap minggu saudara datang ke gereja, dosa saudara semakin berkurang. Misalkan saudara waktu datang ke gereja sudah membawa dosa selama senin s/d sabtu 50 dosa, setelah pulang dari gereja dosa saudara bisa jadi 200. Mengapa? Karena waktu menyanyi memuji Tuhan dengan teks-teks lagu yang penuh janji/komitmen, makin nyanyi makin tambah dosa kita karena kita nyanyi berkali-kali tapi tidak pernah melakukannya. Jangan kira setiap hari Minggu orang ke Gereja, Tuhan pasti senang? TIDAK. Seringkali setiap hari Minggu-lah orang-orang Kristen paling menyakiti hati Tuhan: janji muluk-muluk tapi tidak pernah ditepati. Jadi kalau begitu, apakah lebih baik tidak usah ke gereja? TIDAK. Tidak ke gereja pun kita sudah bersalah kepada Tuhan.

Alkitab mengatakan mereka yang berdoa bertele-tele tadi mereka jugalah yang menelan rumah janda-janda dan mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Bagaimana caranya mengelabui mata orang? Mereka mengelabui orang dengan bahasa-bahasa rohani, dan sikap rohani, dan seolah-olah mereka adalah orang yang jujur / suci. Namun hanya Yesus yang dapat membongkar kepalsuan pemimpin-pemimpin agama tersebut. Mereka selalu ingin menonjolkan diri dan kehebatan mereka sendiri. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan kesaksian pribadi, karena kesaksian pribadi bisa menjadi kesaktian pribadi.

Sebaliknya, muncul ekstrim yang lain. Orang yang sudah mengerti banyak dan sudah melihat semua kesulitan tadi, akhirnya berpikir untuk tidak perlu berdoa panjang-panjang dan tidak usah bersaksi saja. Mereka berpikir daripada salah berdoa lebih baik tidak berdoa; daripada berdosa dalam kesaksian lebih baik tidak bersaksi. Ini pikiran yang salah. Kita perlu memperbaiki kesalahan kita dalam berdoa dan dalam bersaksi, bukan akhirnya melarikan diri dari berdoa dan bersaksi. Jika saudara berpikir kalau menyanyi bisa membuat dosa tambah banyak, lalu saudara tidak menyanyi. Maka selama-lamanya saudara tidak akan bisa bernyanyi yang benar. Kita semua patut menguji diri kita sendiri. Waktu kita berdoa, apa isi doa kita? 

Perhatikan anak-anak kecil, doa mereka tidak ada yang bertele-tele, tidak rumit dan tidak berliku-liku. Pendek, singkat, tepat. Namun orang dewasa, semakin berdoa justru semakin menjemukan, kering, bahkan semakin jauh dari Tuhan. Orang Farisi sudah berdoa di dalam Bait Allah, semakin berbicara dengan Tuhan justru semakin jauh terpisah dari Tuhan. Sedangkan, seorang pemungut cukai yang berdiri jauh-jauh. Seolah-olah jauh dari Tuhan, jauh dari bait Allah, jauh dari kehadiran Tuhan, tapi justru dialah yang paling dekat dengan Tuhan. Jadi alangkah indahnya jikalau kita ke gereja, semakin dekat Tuhan lalu dosa dibersihkan oleh Tuhan, amin? 

Doa harus disadari kapan harus berhenti dan tidak doakan tema itu lagi. Ini satu prinsip yang penting. Banyak orang berdoa berulang-ulang dan terus doa, padahal Tuhan sudah menyatakan jawabannya. Contoh: Saat Paulus berdoa untuk duri di dalam dagingnya hilang (2 Kor. 12:7-8). Kali-1 doa, tidak hilang; kali-2 doa, tidak hilang; kali-3 doa, tidak hilang, dia langsung stop, karena dalam tiga kali berdoa itulah masa dia mendeteksi kehendak Tuhan bagi dirinya. Tiga kali doa, Paulus langsung mengerti bahwa Tuhan mengijinkan hal tersebut agar kuasa Tuhan menjadi sempurna, “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” (2 Kor. 12:9) Akhirnya dia tidak pernah berdoa untuk hal tersebut lagi. Banyak orang telah berdoa sampai ratusan kali, tetapi tetap tidak mengerti apa kehendak Tuhan di hidupnya. Namun ia tetap terus berdoa, akhirnya antara doa tidak jemu-jemu dengan doa ambisi pribadi menjadi rancu.

Saya punya saudara di Sumatera Utara dan sebelum bertobat sangat suka main judi. Lalu setelah bertobat, dia ikut koor di gereja. Suatu saat dia terpeleset di kamar mandi, tangannya menahan tubuhnya dan terkilir. Akhirnya setelah sembuh, tangannya ngilu sampai hari ini. Namun ia justru bersyukur Tuhan memberi kejadian ini. Karena kejadian ini mengingatkan bahwa dulu tangannya dipakai untuk judi, sekarang merasa ngilu dan sakit, berarti tidak boleh judi lagi. Jadi Saudara waktu berdoa, harus mengetahui kapan harus berhenti berdoa dan hal apa tidak perlu didoakan. Saudara tidak perlu mendoakan orang-orang yang sudah mati supaya percaya Tuhan Yesus, saudara tidak perlu berdoa supaya Tuhan mengampuni Lucifer, tidak perlu berdoa untuk/kepada arwah-arwah, yang sudah meninggal supaya Tuhan mengampuni mereka. Mengapa? Karena orang-orang yang sudah mati, tidak bisa menerima anugrah keselamatan lagi. Dalam Yoh. 3:14, Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia akan ditinggikan.” Ini menyatakan bahwa keselamatan diberikan kepada orang yang masih hidup. Waktu jaman Musa, orang-orang  Yahudi yang sudah dipatuk ular dan terkena racun perlahan-lahan akan meninggal. Dan di antara mereka sudah banyak yang meninggal karena racun ular tersebut. Namun barangsiapa yang masih hidup yang melihat  Ular Tembaga yang ditinggikan Musa, mereka akan sembuh dan hidup. Ular Tembaga yang ditinggikan melambangkan Kristus yang kelak akan ditinggikan di atas kayu salib sebagai obat dari racun dosa. Untuk melihat Ular Tembaga, syaratnya haruslah orang yang dapat melihat (masih hidup). Orang yang sudah mati tidak mungkin bisa melihat dan tidak mungkin bisa diselamatkan. Demikian juga, barangsiapa yang melihat kepada Kristus, ia akan diselamatkan. Jikalau tidak racun dosa terus akan mengerogoti hidupnya dan upah dosa adalah maut. 

Setelah kita mengerti konsep doa yang benar, kita akan berdoa dengan cara yang benar, amin? Selama beberapa minggu ke depan, kita akan terus memperhatikan mengenai dua tema ini. Doa bertele-tele dan doa tidak jemu-jemu. Saat membahas doa tidak jemu-jemu, kita akan membahas mengenai doa penginjilan. Doa penginjilan adalah doa yang sesuai kehendak Tuhan. Barangsiapa yang terus berdoa untuk tema kehendak Tuhan tersebut (penginjilan), saudara pasti diberkati Tuhan. Banyak orang yang masih tidak berani mengungkapkan sesuatu di dalam doa. Jangan takut berdoa, meskipun salah mengucapkan, biarlah hati saudara betul-betul jujur dan mau dikoreksi. Hari ini sekilas bahasan mengenai doa bertele-tele, dan nanti akan digabungkan dengan doa tidak jemu-jemu sehingga kita dapat melihat seluruh prinsip doa yang benar. Jadi, setelah selesai mempelajari tema ini, waktu kita berdoa kita sudah memiliki kerangka doa yang benar. Amin?


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


 #31 – 28/02/2010
Seri Khotbah Kalimat Paradoks Dalam Alkitab (#7)
"Doa Bertele-Tele vs Doa Tidak Jemu-Jemu (#3)"

Pdt. Aiter, M.Div.


Mat. 6:5-8; 17:14-21, Luk. 18:35-43; 18:1-7
Ini adalah Minggu ketiga kita membahas tema Doa bertele-tele vs Doa tidak jemu-jemu. Minggu lalu kita telah membahas semakin tinggi tingkat kerohanian seseorang maka seharusnya semakin dekat pula orang tersebut dengan Tuhan. Mestinya orang yang rohaninya tinggi waktu berdoa akan terlihat betapa akrabnya dia dengan Tuhan. Namun Alkitab mencatat fakta yang lain, orang yang imannya tinggi, yang beragama dan yang lebih mengerti Kitab Suci justru doanya semakin mirip dengan orang yang tidak mengenal Allah, ”Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan”  (Mat. 6:7). Doa bertele-tele ini dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang merupakan kelompok rohaniawan yang sudah mengerti bahkan menghafal Kitab Suci. Ini ironis yang terjadi juga dalam kehidupan saat ini. Jika penyakit rohani ini tidak diobati dan terus dibiarkan maka akan menjadi bahaya luar biasa. Satu sisi dikatakan orang yang beragama, sisi yang lain menjadi orang yang sepertinya tidak mengenal Allah. Mereka juga menggunakan kata-kata yang panjang-panjang untuk mengelabui orang. Tuhan Yesus tidak dapat dikelabui orang seperti itu, karena Yesus melihat sampai hati manusia yang paling dalam, jadi dalam doa kita haruslah jujur dan jangan munafik. Amin?

Di pembahasan pertama mengenai tema ini, telah disampaikan bahwa doa adalah sesuatu yang sangat penting, bahkan disamakan dengan pemberitaan firman Tuhan. Kis 6:4, “dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan firman”. Seringkali kita orang cendrung mempersiapkan firman Tuhan dengan konsentrasi full, tetapi kalau pimpin doa tidak persiapan panjang. Alkitab mengatakan bahwa doa dan pelayanan firman perlu memusatkan pikiran, berarti perlu dipersiapkan dengan baik. Alkitab memakai kata “dan” bukan “atau”. Jadi kalau saudara mempersiapkan khotbah perlu waktu lama, mestinya dalam mempersiapkan doa juga perlu waktu yang lama. Seringkali saya jumpai orang yang untuk berkhotbah setengah jam, persiapannya perlu berhari-hari bahkan berbulan-bulan, dan perlu perlu beli buku commentary dan buku pendukung lainnya. Tetapi heran, orang tersebut kalau berdoa tidak terlalu pusing mempersiapkan doanya. Perhatikan Alkitab menaruh posisi doa di depan pelayanan firman (“doa dan pelayanan firman”). Mengapa? Karena sebelum seseorang menemukan ayat apa yang akan dikhotbahkan sampai harus menyampaikan firman Tuhan apa, doa memegang peranan yang penting di dalam mencari tahu kehendak Tuhan dalam menyampaikan khotbah apa, nats apa, dan lain-lain. Jadi sebelum seseorang menemukan ayat kotbah, ia harus memusatkan pikiran dalam doa untuk mencari kehendak-Nya. Dalam pengalaman saya pimpin khotbah KKR yang sangat banyak (satu hari bisa 5-6 sesi), kadang-kadang di tengah-tengah pergumulan mau khotbahkan apa, kadang-kadang 5 menit sebelum kotbah, ide kotbah apa baru ada. Kadang-kadang sudah naik ke atas mimbar belum ada ide kotbah apa yang cocok sesuai konteks kota/desa/sekolah tersebut, dan dari dalam hati saya, saya terus berdoa memimpin pimpinan Tuhan mau khotbah apa. Dan akhirnya Tuhan buka pikiran saya dan menaruh firmanNya untuk saya khotbahkan. Maka doa merupakan sesuatu yang sangat penting. 

Beberapa hari yang lalu saya khotbah di kebaktian perkabungan di Rumah Duka Siloam - Karawaci. Ruangan tersebut hanya dipisahkan oleh kain pembatas, jadi suara dari ruangan sebelah dapat tembus ke ruangan yang lain. Waktu itu di sebelah ada perkabungan orang agama Buddha, dan saya mendengar kata-kata penghiburan dari pengkhotbahnya yang konsepya mirip sekali dengan agama Kristen, “Kita harus relakan orang yang kita cintai itu pergi, karena manusia diciptakan dari debu tanah dan tubuhnya tidak mungkin bertahan selamanya. Yang dari debu tanah akan kembali ke debu tanah”. Suara itu saya dengar jelas sekali. Lalu dari kalimat itulah saya ambil jadi tema khotbah saya di perkabungan dan seolah-olah saya menjawab khotbah mereka. Saya mengutip dari 1 Kor. 15:47, “Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.” Dengan suara keras saya berkotbah, “Manusia pertama Adam berasal dari debu dan tanah dan pasti akan kembali ke debu tanah, tetapi ada Adam yang lain yang bukan dari bumi (debu tanah), melainkan dari Sorga. Yang dari debu tanah akan kembali ke debu tanah, yang dari Sorga akan kembali ke Sorga. Dan yang bisa membawa kita  ke Sorga harus pernah datang dari Sorga, yang datang dari bumi kalau ingin membawa kita ke Sorga pasti nyasar! Hanya Dialah yang pernah datang dari Sorga, yaitu Tuhan Yesus Kristus.” 

Hari ini kita akan melanjutkan tema kita tentang Doa. Dalam Mat. 17:14-21 ditulis Yesus berkata kepada murid-muridnya, “... Karena kamu kurang percaya. Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa”. (Mat. 17:20). Kalimat “karena kamu kurang percaya” tidak berani dikutip oleh Pendeta KKR Kesembuhan Ilahi. Seringkali Pendeta Kesembuhan Ilahi berkata kepada yang tidak disembuhkan, “Karena kamu kurang percaya kepada Yesus, dan mungkin masih ada dosamu yang belum kamu minta ampun sama Tuhan”. Tetapi Alkitab memberikan jawaban lain: karena si pendeta yang kurang percaya maka yang sakit tidak disembuhkan. Lalu Yesus berkata, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.” Orang banyak salah tafsir kalimat ini dengan berpikir untuk mengusir setan harus doa dan puasa. Puasa orang Kristen jaman sekarang itu beda dengan puasa jaman Alkitab. Orang Kristen sekarang berpuasa identik dengan memindahkan jam makan saja. Mereka bisa jalan-jalan ke mall, rekreasi, dll. Tetapi berpuasa di dalam jaman Alkitab itu identik dengan berkabung. Mereka mengenakan baju kabung lalu menaruh debu dan abu di kepala mereka dan terus berdoa bersandar kepada Tuhan dan mencari kehendak Tuhan. Jadi doa dan puasa di sini mengandung arti bahwa para murid sudah tidak bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dalam segala sesuatu maka mereka diingatkan kembali harus bersandar penuh kepada Tuhan. Makin rohani seseorang, maka orang tersebut akan makin rendah hati dan bersandar kepada Tuhan dalam doanya. Seperti Abraham berkata kepada Tuhan, “Aku memberanikan diri berkata kepada Tuhan, meskipun aku ini debu dan abu.” Padahal Abraham sudah sangat kaya waktu itu, memiliki 318 prajurit yang siap berperang, punya banyak ternak dan gembala. Namun dia tetap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dan seperti perkataan seorang pemungut cukai, “Tuhan, kasihanilah aku irang yang berdosa ini”. Demikian juga dengan Paulus, rasul yang hebat itu yang menulis Kitab Suci terbanyak (13 Kitab), berkata, “Di antara orang berdosa, akulah yang paling berdosa”. Doa merupakan kerendahan hati bersandar kepada Tuhan.

Dalam Lukas 18:35-43 diceritakan mengenai orang buta yang mendatangi Yesus. Orang buta ini memiliki kedalaman iman yang luar biasa. Seringkali orang yang hendak disembuhkan oleh Tuhan Yesus diberi semacam katekisasi singkat untuk menguji iman mereka. Misalnya orang lumpuh yang harus digotong oleh 4 orang untuk dibawa bertemu Tuhan Yesus. Biasanya Yesus yang datang mengunjungi, tetapi dalam kasus ini Yesus tidak  mendatangi orang lumpuh itu. Mengapa? Karena Yesus ingin melihat iman mereka. Saat orang lumpuh ingin mendatangi Yesus melihat bahwa rumah penuh, pintu masuk terhalang dengan banyaknya orang sehingga mereka tidak dapat masuk, dia harus berpikir ulang harus datang kepada Yesus atau minta diantar pulang saja. Jika saudara hendak ke Gereja, lalu parkiran penuh, tempat duduk pun penuh, apakah saudara masih berniat masuk dalam Gereja dan bersedia duduk/berdiri di bagian paling belakang yang kurang nyaman? Ini namanya ujian iman. Doa merupakan ujian iman. Lalu, perhatikan Lukas 18:35-38, di dalam cerita tentang orang buta yang bertemu Yesus ini terdapat hal yang sangat ganjal. Orang buta ini mengetahui bahwa Yesus adalah orang Nazaret, namun setelah bertemu Yesus ia berkata, “Yesus Anak Daud, kasihanilah aku”. Daud kotanya di Betelehem bukan di Nazaret. Orang yang tinggal di Betlehem dengan Nazaret tidak ada hubungan. Lalu mengapa orang buta ini bisa menggabungkan antara Yesus sebagai orang Nazaret dengan Anak Daud? Karena orang buta ini sudah mengerti Kristus jauh melampaui banyak orang di sekelilingnya.  Dalam PL terdapat nubuat dari tunggul Isai akan keluar tunas (Yes. 11:1) dan  dari Isai akan lahir Daud. Istilah “tunas” ini adalah istilah yang ada kaitan dengan Nazaret. Saat orang buta mendengar orang Nazaret lewat, maka ia langsung kaitkan dengan tunggul Isai yang keluarkan Tunas, dan langsung mengakui bahwa Yesus adalah Anak Daud. Imannya menerobos menuju pengertian yang sangat dalam, dan iman seperti ini belum dimiliki oleh orang yang lain di kalangan orang-orang Yahudi. Saat Yesus dicatat sebagai “Orang Nazaret“, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) kesulitan mencari footnote perkataan tersebut di dalam PL, Setibanya di sana Ia pun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi agar genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret. (Mat. 2:23). Seharusnya ayat ini mesti ada footnote nya di dalam PL. Namun di dalam PL tidak ada kalimat langsung yang menyatakan bahwa Yesus orang Nazaret. Saat orang buta tersebut memanggil demikian, para murid Yesus tidak mengerti maksudnya, tetapi saat Yesus dengar kalimat itu pastilah Yesus sangat senang. Lalu herannya lagi, Yesus menanyakan maksud kedatangan orang buta itu untuk minta apa? Hal ini bukan berarti bahwa Yesus tidak tahu maksud kedatangannya, tetapi ingin melihat seberapa yakin orang buta ini bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Orang buta ini menjawab ia ingin melihat. Lalu Yesus menyembuhkannya. Dari pelajaran orang buta tadi kita melihat, iman seseorang itu harus betul-betul beres di hadapan Tuhan, barulah permintaannya bisa sesuai kehendak Tuhan dan dijawab oleh Tuhan. Orang buta ini sudah mempermalukan begitu banyak orang Kristen yang katanya matanya bisa melihat dengan jelas, namun tidak pernah punya iman sebesar orang buta ini. Bagaimana dengan kita yang mata dapat normal melihat, telinga normal mendengar? Seharusnya lebih banyak mengerti dan lebih beriman. Untuk meminta sesuatu kepada Tuhan, kita perlu iman yang beres dan pengertian yang benar akan siapakah Tuhan kita, sehingga kita doanya tidak ngawur.

Dalam Luk. 18:1-7 ada satu perumpamaan yang tidak muncul di Kitab Injil yang lain yaitu perumpamaan seorang hakim dan seorang janda. Hakim ini adalah hakim yang berani, ia tidak takut kepada Tuhan dan tidak menghormati sesamanya (Luk. 18:2). Lalu datanglah seorang janda yang ingin dibela haknya. Sikap janda ini sudah tepat. Semua permasalahan dia ini, dia bawa kepada hakim dan bukan jadi hakim sendiri. Masalah hakim itu orang baik atau tidak itu urusan hakim itu di hadapan Tuhan, karena hakim mestinya membela hak orang-orang tertindas. Akhirnya karena janda ini terus memohon kepada hakim tersebut, akhirnya hakim tersebut mengabulkan permintaannya. Jikalau saudara berpikir bahwa Tuhan sepertinya tidak menjawab doa saudara dan Tuhan sepertinya mengulur-ulur waktu saudara, ingatlah pasti ada sebabnya. Mungkin saja kita yang belum siap untuk menerima jawaban doa tersebut, atau apa yang kita minta mendahului waktu Tuhan memberikannya kepada kita. Misalnya: ada seorang anak umur 4 tahun terus minta dibelikan sepeda motor kepada ayahnya. Ayahnya sudah merencanakan dalam hati akan memberikannya jika anaknya sudah berumur 19 tahun. Jadi anak tersebut minta dibelikan motor mendahului waktunya si ayah. Ini yang dinamakan doa yang tidak ada gunanya. Doa perlu melihat timing kapan mesti minta kapan tidak. Jika anak tersebut memakai kata-kata yang panjang dan indah-indah, si ayah tetap tidak akan memberikannya karena belum waktunya. Jadi doa yang dijawab Tuhan tidak tergantung panjang pendeknya perkataan dalam doa. Ada yang doanya panjang dan bertele-tele Tuhan tidak jawab, ada yang perkataannya pendek, Tuhan jawab. Doa perlu lihat timing Tuhan. Jikalau orang buta ini terus minta disembuhkan oleh Yesus jauh-jauh hari sebelum Yesus lewat, maka doanya pasti tidak dijawab oleh Tuhan. Tetapi begitu saatnya tiba, dia minta disembuhkan langsung disembuhkan oleh Tuhan Yesus.

Dalam perumpamaan hakim dan seorang janda dapat dilihat bahwa jikalau hakim yang tidak beres saja masih memiliki hati nurani untuk menjawab keluhan janda tersebut, masakan Tuhan yang baik dan benar tidak menjawab doa umat-Nya? Jadi jikalau doa kita masuk ke dalam isi hati Tuhan yang paling dalam dan tepat timingnya Tuhan maka doa kita pasti dijawab. Salah satu doa yang pasti dijawab oleh Tuhan adalah doa penginjilan. Doa untuk penginjilan sangat sesuai dengan isi hati Tuhan, dan saudara tidak perlu bergumul harus berdoa atau tidak untuk penginjilan. Doakan saja, saudara pasti tidak salah. Doa penginjilan jangan ditunda-tunda, tetapi doa minta jodoh boleh ditunda. Jika untuk minta jodoh perlu tunggu waktu yang tepat baru doa minta jodoh sama Tuhan. Anak SD kalau sudah mulai berdoa minta jodoh kepada Tuhan, Tuhan pasti tidak jawab karena belum saatnya anak tersebut memiliki jodoh. Tetapi kalau doa penginjilan, anak SD pun bisa langsung berdoa untuk penginjilan dan Tuhan akan menjawab, contoh “Tuhan kuatkanlah hamba-hamba Tuhan yang pergi mengabarkan Injil”, Doa seperti ini masuk ke dalam hati Tuhan yang paling dalam dan Tuhan pasti akan mendengarkan doa ini dan menguatkan orang-orang yang pergi mengabarkan Injil. Ini merupakan satu prinsip yang penting untuk diketahui kalau tidak kita akan jatuh dalam pemborosan waktu di dalam doa yang tidak perlu. Jadi saudara saat berdoa harus memperhatikan timing, jangan sampai sudah kadaluarsa dan lewat baru berdoa. Jangan berdoa sebelum timingnya Tuhan dan jangan berdoa setelah lewat timingnya Tuhan. Misal: dalam persekutuan doa, kita berdoa untuk seorang yang sedang sakit di rumah sakit, kita tidak tahu sebetulnya orang tersebut sudah 1 minggu yang lalu dipanggil Tuhan pulang ke Sorga. Kita berdoa Tuhan menyembuhkan dia, padahal dia sudah mati. Mestinya doa seperti ini cocok didoakan waktu orang ini belum meninggal. 

Setiap manusia perlu diuji. Orang buta tadi sudah diuji oleh Tuhan Yesus dan dia tetap beriman bahwa Yesus bisa menyembuhkan dia. Sejak Tuhan menciptakan Adam, Adam pun diuji oleh Tuhan. Waktu Tuhan berkata, “Tidak baik manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong yang sepadan dengan dia”, seharusnya setelah Tuhan berkata demikian di Kej. 2 langsung Tuhan menciptakan Hawa. Namun yang Tuhan munculkan malah binatang-binatang, dan Tuhan minta Adam memberi nama binatang-binatang tersebut. Lalu muncul kalimat “Adam tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia”. Berarti sambil memberi nama kepada binatang, Adam membandingkannya dengan dirinya yang sedang mencari penolong yang sepadan dengan dia, namun dia tidak menemukannya. Ini yang namanya Adam lulus ujian tidak salah memilih jodoh. Lalu waktu Tuhan menciptakan Hawa, Adam langsung memutuskan inilah orangnya. Berarti Adam lulus ujian. Kepekaan melihat dan meresponi jawaban Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam doa. Minggu depan kita akan mengaitkan tema doa ini dengan doa penginjilan. Mari kita berdoa.  


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#32 - 7/03/2010
"Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu"
Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.


Filipi 2:12-13, Efesus 2:8-10
Di dalam Filipi 2:12-13 dikatakan, Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan hati yang takut dan gentar”. Terdapat tiga tafsiran para teolog mengenai ayat ini.


Pandangan pertama menafsirkan  bahwa agama Kristen tidak berbeda dengan agama lain. Maksudnya keselamatan didasarkan pada perbuatan baik sehingga dikatakan keselamatan harus dikerjakan dengan hati yang takut dan gentar. Pandangan ini sekaligus menolak pernyataan bahwa agama Kristen adalah agama Anugerah. Salah satu teriakan yang paling penting pada awal Reformasi di abad 16 yaitu: Sola Gracia. Hanya oleh Anugerah, manusia diselamatkan Tuhan. Jika dikatakan bahwa keselamatan tergantung atas perbuatan dan jasa manusia, maka Saudara dan saya telah menolak Yesus. Mengapa? Karena jika memang demikian, maka Yesus tidak perlu ada. Manusia dapat  selamat dengan usaha sendiri tanpa Juru Selamat. Salah satu prinsip dalam penafsiran Alkitab dari gerakan Reformasi yaitu, Scripture interprets Scripture. Alkitab mengintepretasikan dirinya sendiri. Artinya, di dalam kalimat “tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan hati yang takut dan gentar”, dilanjutkan dengan kalimat, “karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.” Paulus adalah penulis yang sama yang menulis  Kitab Filipi dan Efesus sehingga jika dikaitkan maka begitu jelas pesannya bahwa keselamatan adalah anugerah Tuhan melalui iman, jangan ada orang yang bermegah karena semua itu adalah pemberian Tuhan. Seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu menuju kepada satu benang merah yang sangat jelas yaitu menubuatkan dan menyaksikan Kristus Yesus yang adalah Juru selamat manusia. Jadi penafsiran pertama ini tidak dapat diterima dan tidak alkitabiah.

Pandangan kedua berasal dari William Barclay, seorang teolog liberal. Dia mengatakan, “Memang benar Tuhan bekerja di dalam keselamatan mulai dari awal dan Tuhan juga yang genapkan. Namun anugerah keselamatan dari Tuhan  tidak 100% karena harus ada respon manusianya sehingga dapat genap. Jadi, Keselamatan itu mengandung jasa Tuhan dan juga jasa manusia”. Ilustrasinya: dalam satu kota semua penduduk sakit kronis kanker dan tidak ada yang bisa mengobati kecuali satu orang dokter. Dokter tersebut mengabarkan di berbagai media agar semua orang yang mau sembuh boleh datang kepadanya. Bukankah jika pasien tidak mau datang, maka pasien itu tetap sakit? Sebaliknya, jika pasien datang maka pasien akan sembuh. Begitu pula dengan keselamatan yang tidak mungkin semata-mata diperoleh dari anugerah Tuhan. Bagaimana Reformed menanggapi hal seperti ini? Alkitab mengatakan semua manusia telah mati spiritual, tidak ada yang sadar bahwa dirinya berdosa. Namun bukankah banyak orang yang sadar bahwa dirinya mencuri atau membunuh dan ia telah melakukan pekerjaan yang jahat. Memang benar, tetapi ini bukan di dalam konteks itu, tetapi dalam konteks ilustrasi William Barclay ini. Alkitab mengilustrasikan semua manusia sudah “sakit kanker kronis” yang membawa kepada maut, tetapi tidak seorangpun yang sadar bahwa dia mengidap kanker. Manusia sadar ketika sakit secara fisik (dalam common grace) seperti sakit tenggorokan, flu, demam, dsb.  Jikalau tidak melalui “CT-Scan canggih” maka sakit kanker ini tidak dapat dideteksi. Maksudnya Tuhan masuk ke dalam hati manusia yang sakit ini dan Roh Kudus pun menyadarkan bahwa ia adalah manusia berdosa. Orang ini pun sadar dan merasa butuh pertolongan. Lalu di situ respon dia, dia pergi ke Gereja atau ikut KKR lalu bertobat dan menerima Tuhan Yesus. Perhatikan di sini bahwa Anugrah Tuhan telah mendahului menyadarkan dia. Seperti manusia di dalam lumpur dosa yang pelan-pelan akan tenggelam tapi manusia tidak sadar bahwa dia sedang dalam ancaman lumpur dosa. Hanya anugerah Tuhan yang membuatnya sadar bahwa ia sedang menuju kepada kematian dosa. Oleh karena itu, pandangan William Barclay ini tidak dapat diterima.

Pandangan ketiga, yaitu orang yang setelah membaca ayat Firman, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” mengatakan, “Amin! Puji Tuhan! Sola Gracia, memang semua karena Anugerah-Nya. Tetapi kita masih hidup dalam dunia berdosa, masih bisa melakukan dosa. Saya tidak bernasib seperti penjahat di sebelah kanan salib Yesus yang setelah percaya langsung meninggal.  Jadi keselamatan itu bisa hilang saat saya berdosa”. Saya mengkategorikan orang Kristen ini adalah orang Kristen deism. Deisme percaya setelah Allah mencipta alam semesta, Allah pergi membiarkannya sampai dunia ini musnah. Dunia ini berjalan seperti jam weker yang berjalan sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa Allah bukan hanya Allah yang mencipta tetapi juga Allah yang memelihara, amin? Itulah arti sebutan Yesus sebagai Imanuel (Allah beserta dengan kita). Setelah percaya Yesus, maka Roh Kudus masuk dalam hati dan termeterai sampai kita bertemu Tuhan muka dengan muka. Dalam 2 Tim. 3:16 dijelaskan fungsi Alkitab yaitu untuk mengajar, menunjukkan kesalahan, memperbaiki kelakuan, serta mendidik orang dalam kebenaran. Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa teologi Reformed adalah teologi yang organis (teologi yang hidup). Yesus mengatakan bahwa Ia kepala dan umatNya adalah tubuh. Terdapat aliran hidup di dalamnya seperti pokok anggur dengan ranting. Yesus berkata, “Inilah Tubuh-Ku, makanlah untuk menjadi peringatan akan Aku, dan inilah darahKu, minumlah” Artinya terdapat hubungan organis Yesus dengan umat Nya karena Tuhan telah memberikan meterai Roh Kudus untuk menjaga umatNya tetap selamat sampai bertemu langsung dengan Tuhan. Roma 8:39 menyatakan bahwa tidak ada satu kuasa pun yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah. Kelaparan, ketelanjangan atau pedang atau kuasa di dalam dunia ini, maupun dunia yang akan datang, tidak ada yang dapat memisahkan kita daripada kasih Kristus. seperti magnet dengan paku yang dapat menempel, itu bukan karena pakunya  melainkan karena kekuatan magnet itu. Bukan kita yang pegang tangan Tuhan, tetapi Tuhan yang pegang tangan kita. Ketika ada yang mencoba mencabut paku dari magnet, mencabut kita dari kuasa Tuhan maka dia akan berhadapan dengan kekuatan magnet, kekuatan Tuhan. Orang karismatik berpandangan bahwa keselamatan dapat hilang. Jika ditanya sekarang apakah mereka yakin selamat jika saat itu meninggal, mereka dapat mengatakan bahwa ia yakin selamat, tetapi di satu jam ke depan mereka sudah tidak yakin selamat. Mereka menyadari mungkin saja berdosa di waktu ke depan dan meninggal. Jika benar demikian maka sebenarnya Kristen tidak ada bedanya dengan agama lain yang tidak ada jaminan hidup. Sebelum Paulus menulis kalimat “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”, didahului oleh satu kalimat, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat ...”. Kalimat dalam bahasa inggrisnya: You have always obeyed, artinya Paulus ingin menekankan bahwa keselamatan dalam orang Kristen itu selama-lamanya. Orang yang sudah percaya mungkin setelah percaya melakukan dosa tetapi Roh Kudus yang ada di dalam hatinya akan mengingatkan dia meminta ampun sebelum orang tersebut meninggal. Efesus 2:8 menyatakan bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik manusia, tetapi semata-mata adalah anugerah Tuhan. “For it is by grace you have been saved through faith”. You have been saved. Paulus memakai kata pasif yang artinya kamu telah diselamatkan. Kalimat pasif ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa keselamatan yang kita terima adalah pasif juga, bukan karena manusia aktif (dengan perbuatan, jasa dan usaha manusia). Digunakan Simple Perfect Tense dan tidak memakai tenses lain karena ingin mengartikan bahwa kita sudah diselamatkan mulai sekarang atau sebelumnya sampai besok, lusa dan sampai selamanya di dalam keselamatan Tuhan. Jika memakai Past Tense, “You were saved” maka artinya menjadi kamu dulu diselamatkan, sekarang tidak tahu. Tidak dipakai Present TenseYou are saved”, kamu sudah diselamatkan tetapi besok atau satu jam lagi tidak tahu lagi. Dengan sangat teliti Rasul Paulus menggambarkan keselamatan kita yang sudah diberikan satu jaminan. Lalu setelah itu dilanjutkan dengan “Tetaplah kerjakan keselamtanmu dengan takut dan gentar”. Keselamatan orang Kristen tidak hanya berhenti pada keselamatan jiwa saja tetapi selanjutnya masuk dalam rencana Tuhan. Ada pekerjaan kekasl yang Tuhan percayakan dalam hidup kita. John Calvin ketika ditanya untuk apa pergi menginjili ia menjawab, “Alasan utama saudara dan saya menginjili adalah supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam orang yang kita injili”. Maksudnya kita bukan hanya telah diterangi oleh Tuhan tetapi menjadi terang yang kecil menerangi sekeliling. Yesus mengatakan kepada perempuan Samaria dalam Yohanes 4:14, “Air yang akan Kuberikan kepadamu bukan hanya membuat kamu puas dan tidak haus lagi, tetapi kamu akan menjadi mata air”. Kita telah dipercayakan pekerjaan kekal Tuhan untuk membawa keselamatan dari Tuhan kepada sesama. Inilah arti dari ”kerjakanlah keselamatanmu”. Efesus 2:10 mengatakan “Kamu buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik yang disiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kamu hidup di dalamnya.”. Ini kalimat yang sangat penting dan terdapat tiga macam anugerah / grace. “Kamu adalah buatan Allah”  ini adalah anugerah umum (Common Grace), maksudnya setiap orang baik Kristen maupun non-Kristen mendapatkan anugerah yang sama seperti: oksigen, kesehatan,dsb. Anugerah ini dikerjakan oleh oknum pertama yaitu Allah Bapa. Dilanjutkan dengan, “Diciptakan dalam Kristus Yesus “ ini adalah grace kedua yaitu Saving Grace dan berasal dari oknum kedua, Allah Anak. Dilanjutkan “ untuk melakukan pekerjaan baik yang disiapkan Allah sebelumnya”. Ini grace ketiga yang saya namakan sebagai Ministrial Grace, anugerah untuk melayani. Yesus mengatakan dalam Mat 16:19, “Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga. Apa yang dilepaskan dalam dunia ini akan terlepas di surga”. Orang Kristen jangan berhenti sampai tahap sudah diselamatkan, tetapi harus  dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat kekal bagi sesama. Orang Kristen dapat diumpamakan seperti teroris yang telah membom bali dan dihukum mati. Teroris ini tidak meminta grasi/ keringanan hukuman ke Presiden karena merasa apa yang telah dibuatnya bukan kesalahan. Lalu Presiden mengunjunginya dalam tahanan, membebaskannya dari penjara serta mengangkatnya sebagai staffnya yaitu menjadi menteri pariwisata di Bali. Saudara tahu? Inilah yang Saudara dan saya alami dalam Tuhan. Keluar dari hukuman mati bukanlah hal besar, tetapi ada hal yang lebih besar yaitu menjadi rekan sekerja Tuhan. Itulah tujuan dalam kalimat “kerjakanlah keselamatanmu”. Saat ini kita sudah mengetahui bahwa kita adalah manusia yang lemah dan berdosa. Namun lihatlah akan pekerjaan kekal dalam KKR Regional yang ada sekarang ini. Inilah satu kesempatan untuk mendukung dan terlibat. Baik itu dukung dengan doa, persembahan maupun ikut terlibat sebagai penatalayanan.

Apa artinya kalimat Paulus, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu waktu aku ada maupun aku tidak ada”. Yang pertama, Paulus telah menjadi teladan bahwa ketika ia ada maka mereka mengerjakan pelayanan yang sangat giat. Tapi Paulus melanjutkan, “Ikutlah teladanku, seperti aku mengikuti teladan Kristus”. Jadi Paulus tidak berhenti untuk mengikuti teladanNya saja, tetapi kepada Yesus. Seringkali orang Kristen mengatakan, “Jangan pandang saya nanti kecewa, pandang Yesus saja”. Ini sama seperti kolonialis Belanda yang datang menginjili berkata, “ Jangan lihat kami yang sedang menjajah, lihat Yesusnya”. Ini jugalah yang membuat Gandhi gagal menjadi orang Kristen karena melihat batu sandungan yang besar dari Bristish Colonialism. Paulus mengatakan, “Baik waktu aku ada maupun aku tidak ada”. Saat ini orang yang benar-benar menjadi teladan di tengah Reformed dengan rendah hati saya katakan adalah  Pdt. Dr. Stephen Tong. Beliau sering mengajarkan untuk tetap melayani Tuhan  baik  beliau ada maupun tidak ada.

Di Amerika ada seorang pendeta yang gerejanya cukup besar. Suatu hari keponakan senator yang menjadi kandidat Presiden saat itu mengatakan bahwa kandidat Presiden akan datang ke Gerejanya. Setelah ia mendengar hal itu ia mulai persiapan dan akhirnya berita pun tersebar karena ia mengungkapkannya dalam persekutuan doa. Paduan suara berlatih dua kali sampai tiga kali lipat dari waktu biasanya. Di hari H nya saat pendeta ini menyambut jemaat yang sudah datang, ia mendapat kabar dari keponakan ini bahwa kandidat Presiden tidak jadi datang. Pendeta ini kecewa dan  berkotbah dengan lemas. Di tengah khotbahnya Roh Kudus mengingatkan, “Apakah kau tahu bahwa yang hadir sekarang ini adalah Allah pencipta dan Penebus jiwamu?”. Setelah diingatkan Tuhan seperti itu, ia pun menjadi yakin kembali dan berkotbah dengan luar biasa dan berapi-api. Paulus melanjutkan dengan kalimat, “Allah yang mengerjakan kemauan di dalam diri kita, sekaligus pekerjaan Dia menurut kerelaanNya”. Apa artinya? Jika seseorang diberikan tugas pelayanan oleh Hamba Tuhan, lalu dia menerima dengan takut dan gentar, ini tandanya positif. Ia tidak mengandalkan kekuatan dia, tetapi kekuatan Tuhan. Jikalau orang itu menerima pekerjaan dengan menganggap remeh, inilah yang tidak beres. Takut dan gentar berarti tantangan dalam pelayanan dan hidup harus sedikit melebihi daripada kemampuan kita. Karena dengan tantangan yang besar maka engkau dan saya menjadi takut dan gentar serta bersandar kepada Tuhan. Seringkali saat menginjili orang bukan karena kemampuan dan kefasihan kita tetapi karena kuasa Tuhan. Saya pernah diberi seorang anak yang membuat ayahnya kesal sekali. Saya pun dipertemukan dengan anak ini. Ia dengan percaya diri mengatakan bahwa ia tidak hanya percaya Tuhan Yesus, tetapi Muhammad, Kong Hu Cu, Budha Gautama pun juga dipercayanya. Ia merasa memiliki jaminan yang lebih banyak. Karena kalau Tuhan Yesus ternyata tidak memberinya jaminan hidup kekal maka yang lain mungkin lebih menjamin masuk surga. Ada satu kalimat di jaman gereja mula-mula yang saat itu diminta untuk menyembah kaisar menjadi Tuhan yaitu, “If Jesus is not the lord at all, he is not the lord at all”. Jika Yesus bukan Tuhan dari semua, maka Ia bukan Tuhan sama sekali. Saya tidak melihat harapan dalam diri anak ini, humanly speaking. Istrinya main guna-guna untuk menyerang ibu anak ini. Ibu anak ini rajin berdoa dan membaca Firman. Dan ibu ini sering melihat ada keganjilan seperti batu yang rapih di dalam mobil, dan halaman rumah. Namun anak ini berpikir bahwa ibunya juga main guna-guna yang lebih kuat dari guna-guna istrinya. Saya bilang, “kamu sudah dibutakan itu bukan guna-guna tetapi kuasa Tuhan”. Setelah tiga sampai empat bulan menjelang saya akan konferensi di Belanda, ia telepon dengan memelas meminta waktu bertemu saya, saya akhirnya menyanggupi. Saya pun bertemu dan ia mengatakan, “Pak ben, saya sudah kalang kabut, saya betul-betul tidak punya kemampuan lagi, dan butuh satu kekuatan yang dapat menolong saya”.  Saya berkata, “Hanya ada Satu Orang yang bisa tolong kamu, yaitu Tuhan Yesus”. Ia bertanya, “ Pak ben, kalau saya terima Tuhan Yesus, apakah otomatis semua masalah saya akan selesai?”. Saya jawab, “tidak! Mungkin bisa bertambah banyak, tapi ada satu hal. Kamu akan diberikan kekuatan dan memiliki pengharapan.” Lalu saya suruh ia untuk ikut doa saya kata demi kata. Saudara, kalau melihat anak ini terima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat pastilah bukan karena saya namun karena Tuhan yang luar biasa. Amin?

Satu lagi kesaksian, ada roommate saya orang Makassar waktu masih study di Surabaya; Saya menginjili dia dan orangnya sangat keras kepala. Saya merasa tidak ada harapan ia bertobat, jalan sudah tertutup. Lalu saat itu ada KKR Pdt. Stephen Tong dan saya ditempatkan di bagian pengisian data bagi orang yang sudah menerima Tuhan. Saya sungguh kaget saat melihat nama teman saya itu dan alamatnya sama dengan tempat saya tinggal. Dengan bercucuran air mata saya mengaminkan bahwa Firman Tuhan yang ditabur tidak akan kembali dengan sia-sia. Saat itu mungkin saya tidak melihat hasil langsung tetapi ada waktu dimana ia dituai oleh Tuhan. Takut dan gentar berarti mengandalkan Tuhan karena Tuhan yang memulai serta jangan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Saya tidak melarang kita mempelajari teknik dan metode penginjilan, tetapi satu hal yang penting dan jangan dilupakan untuk doa dihadapanNya. Urapan dan kuasa Tuhan akan memberikan kuasa untuk menaklukan jiwa bagi Tuhan. Arti yang kedua, “Tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”. Jika Tuhan yang mulai, maka Tuhan yang meneruskan pekerjaan. Mengapa kita menjadi takut dan gentar? Bukan seperti pandangan, ”Kita mengerjakan karena Tuhan yang mulai karena takut dihukum dan dibuang oleh Tuhan”. Alkitab memberikan alasan mengapa kita harus mengerjakan pelayanan dengan takut dan gentar yaitu karena kita takut menyakiti hati Tuhan. Jadi bukan karena kita takut Tuhan akan  melakukan sesuatu kepada kita, tetapi justru karena kita takut melakukan sesuatu yang salah kepada Tuhan. Orang Kristen itu bukan bermental budak tetapi mental anak, mental keluarga. Maksudnya kalau pembantu mengerjakan sesuatu ia takut berbuat salah karena gajinya tidak naik, bahkan bisa dipecat majikannya. Namun kalau istri atau anak yang melakukan sesuatu untuk ayahnya, ia melakukan dengan takut dan segan sebagai anak dan sebagai istri. Ia takut untuk melukai orang yang kita cintai. Jadi motivasinya berbeda. Dengan takut dan gentar artinya Saudara dan saya jangan sampai melukai hati Tuhan. Amin? Kiranya Firman Tuhan ini boleh memimpin hidup kita sekali lagi, mari masuk dalam doa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#34 - 21/03/2010
"Coram Deo"
Pdt. Liem Kok Han, S.Th.


 Matius 6:1-6, Matius 15:7-9, Lukas 18:9-14
Orang Kristen kadang-kadang memiliki konsep bahwa hari Minggu adalah hari “mencharge batere”. Karena hari Sabtu batere sudah mulai kedip-kedip dan mau mati, maka hari Minggunya di“charge” di gereja. Betulkah konsep ini? SALAH! Mengapa? Karena seharusnya setiap hari kita mengisi batere kita sendiri dengan pembacaan firman Tuhan dan doa. Lalu hari Minggu datang beribadah dengan antusias ingin memberi segala syukur dan kemuliaan untuk Tuhan. Bukan sudah lowbat, lalu pergi ke gereja dan disiram firman lalu segar kembali. Akhirnya kita menjadi orang yang sekarat secara rohani di tiap akhir pekan. Seharusnya setiap hari kita memiliki persekutuan yang indah dan yang hidup dengan Tuhan, serta ada antusias rohani sehingga sepanjang Minggu dapat mengalami hadirat Tuhan. Inilah konsep ibadah yang benar. Namun sering orang yang ke Gereja datang dengan keletihan pikiran, ingin mencari istirahat dan hanya ingin menikmati Khotbah yang enak. Akhirnya Gereja hanya dijadikan tempat entertain belaka. Seharusnya kita sadar bahwa saat kita beribadah, kita sedang menghadap Tuhan dan ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk Tuhan agar Tuhan yang menikmati ibadah kita dan bukan kita yang menikmati Tuhan. Konsep ini jangan sampai terbalik. Seorang Hamba Tuhan, Richard Pratt berkata jangan sampai kita terjebak dengan ibadah yang sifatnya up-side-down worship. Maksudnya ibadah yang arahnya terbalik dimana Tuhan tidak lagi menjadi pusat ibadah.

Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengatakan kata-kata yang cukup membuat saya shock. Ia berkata, “Terkutuklah manusia yang tidak mencintai Tuhan!”. Kata-kata tersebut kedengarannya sadis, sekaligus membuat saya menyelami alasannya.  Akhirnya saya menyimpulkan kata-kata itu adalah wajar. Mengapa? Jika ada seorang anak yang tidak mencintai orang tuanya dan tidak mau berbakti kepada orang tua, maka anak itu dapat disebut sebagai anak durhaka. Demikian juga antara manusia dengan Tuhan. Jika manusia tidak mencintai Tuhan yang telah menciptakannya dan tidak mau untuk menyenangkan Tuhan maka orang itu tidak layak disebut manusia. Maka manusia yang sudah mengenal Tuhan dan mengalami penebusan Kristus seharusnya mencintai Tuhan sampai akhir hidupnya. Amin? Semakin mengenal Tuhan maka hati  akan semakin digerakkan untuk mencintaiNya.

Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Flp. 1:21). Seorang hamba Tuhan pernah berkata, “Di dalam dunia ini engkau boleh tidak memiliki apapun, tetapi jika engkau memiliki Kristus, cukup!” Pengertian ini sangatlah dalam. Paulus berkata, “Aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” (Flp. 3:8). Paulus yang telah mengalami kebesaran Tuhan rela meninggalkan seluruh yang ia miliki, bahkan nyawanya untuk Kristus. Mengapa? Karena cinta Tuhan yang membuatnya demikian tertarik untuk hidup menyukakan hati Tuhan. Biarlah kita yang sudah ditebus semakin hari dapat semakin mengenal dan mencintai Tuhan. Dalam Reformed terdapat istilah Coram Deo yang akan kita bahas dalam Khotbah kali ini, yaitu hidup mengalami suatu hidup ibadah yang benar dan kesalehan yang benar untuk menyenangkan hati Tuhan.

Ayat bacaan diambil dari Mat. 6:1-6. Ini merupakan bagian pengajaran Tuhan saat Yesus di bukit. Di Mat. 5, Tuhan Yesus memberi pengajaran yang mengoreksi hidup kaum Farisi dan ahli Taurat. Yesus mengatakan, “Jika kehidupan agamamu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga”. Istilah kehidupan agamamu dalam bahasa Inggrisnya, your righteousness. Maksudnya di dalam mengaplikasikan firman Tuhan harus melampaui kesalehan orang Farisi dan Ahli Taurat. Orang Farisi dan Ahli taurat melakukan puasa 2x seminggu, berdoa 3x sehari, memberikan perpuluhan dan sedekah. Adakah dari kita yang memenuhi setiap hal itu? Mereka melakukan kewajiban-kewajiban agama yang demikian kompleks dengan sangat teliti bahkan dapat dibilang sempurna. Mereka tidak mau sampai lalai dan bertele-tele. Setiap hari mereka memikirkan hanya hal-hal agamawi, memikirkan cara agar firman Tuhan dapat tetap berjalan dengan konsisten. Yesus menuntut agar kita dapat hidup melebihi mereka. Tuhan Yesus tidak mengukur dengan hal yang bersifat kuantitas (banyaknya) dan frekuensi (seringnya), tapi Tuhan Yesus menekankan kualitas iman kita. Di bagian lain Tuhan Yesus berkata, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu dihadapan orang supaya dilihat mereka” (Mat. 6:1) Artinya di dalam kita menerapkan firman Tuhan, jangan ditujukan untuk dilihat orang lain melainkan ditujukan kepada Bapamu yang di sorga.  Kehidupan agamawi orang Farisi ditujukan agar dilihat oleh manusia sehingga orang yang melihat menjadi terkesan dengan hidup mereka. Kesalehan mereka bukan keluar dari hati yang mencintai Tuhan. Mereka sedang mengadopsi tingkah laku agamawi. Istilah yang lebih tepat adalah Hypocrite. Maksudnya seperti seorang bintang film dalam memerankan peran yang begitu baik sampai orang terkagum-kagum kepadanya yang sebenarnya tidak memiliki realitas di dalamnya. Mereka melakukan keagamaan yang semu (pseudoreligiosity) yang ditujukan untuk dilihat manusia belaka. Yesus mengecam, “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh daripada-Ku” (Mat. 15:8). Tuhan Yesus mengatakan bahwa yang mereka lakukan hanyalah perintah manusia dan bukan sedang meresponi firman Tuhan. Secara fisik atau fenomena memang mereka seperti sedang menaati firman Tuhan, namun kenyataannya firman Tuhan sudah turun derajatnya dan dianggap sebagai tradisi dan perintah manusia saja.

Yesus menggambarkan kehidupan agama pada waktu itu seperti dua orang  yang pergi ke Bait Allah, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi datang dan berdoa, “Tuhan aku bersyukur kepadaMu karena aku tidak seperti orang berdosa yang lain. Aku tidak lalim, bukan pezinah, dan bukan pula pemungut cukai.” Sedang si pemungut cukai menepuk dada dan berdoa, “Tuhan kasihanilah aku orang berdosa ini”. Yang satu mengatakan ia cukup setia pada firman Tuhan namun sebenarnya hidupnya jauh daripada Tuhan. Saudara, pandangan Tuhan sungguh berbeda, banyak hal yang mengejutkan dalam penilaian Tuhan. Orang yang kita kira sangat rohani, di hadapan Tuhan adalah nothing. Namun orang yang dianggap sampah oleh masyarakat, tidak berguna dan begitu rendah justru adalah orang yang berkenan di hati Tuhan.

Coram Deo, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan. Semakin mengenal Tuhan maka semakin tidak menegakkan diri atau menonjolkan diri. Pengenalan kita akan Tuhan sangat mempengaruhi hidup ibadah, hidup kesalehan dan hidup aktivitas rohani kita. Coram Deo adalah istilah besar, kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan, Allah yang Mahahadir dan yang Mahatahu. Saat hidup dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita sedang dilihat Tuhan. Apapun yang sedang kita kerjakan kita harus sungguh menyadari bahwa kita sedang melakukannya di hadirat Tuhan, Pemilik alam semesta ini.

Salah seorang teman saya yang adalah Rektor Sekolah Teologi suatu hari diundang oleh Alm. Mantan Presiden Soeharto ke Istana Negara. Ia sangat senang akan bertemu Presiden dan sharing ke dosen lain serta mahasiswanya. Sebenarnya ia hanya satu dari seribu orang yang diundang tetapi senangnya bukan main. Ia pun tiba di Istana Negara dan antri untuk menyalami Presiden. Saat giliran ia mendekati Presiden dan menjabat tangan, ia menyalami Beliau dengan membungkuk. Ia membungkuk karena menyadari kebesaran Soeharto saat itu. Itu baru kepada Soeharto saja gentarnya bukan main dan merasa kagum, apalagi kepada Tuhan empunya semesta alam. Seharusnya sikap hati ini dimiliki orang Kristen saat datang menyembah Tuhan. Sikap hati demikian akan membuat kita tidak berani datang terlambat beribadah, tidak berani bermain-main saat ibadah. Seperti penulis kitab Pengkhotbah yang menyadari bahwa dirinya ada di bumi dan Tuhan di surga, ada perbedaan kualitas yang terlampau besar. Namun, seringkali kita mengganggap Tuhan equal dengan diri kita dan bisa memperlakukan Tuhan dengan semau kita.

Dalam kehidupan ibadah, kita dapat terjebak dalam dua hal. Pertama, terjebak dengan rutinitas. Rutinitas menjadikan kita lama-lama terbiasa dan lama-lama bosan. Pikiran sudah men-setting bahwa hari Minggu harus ke gereja, lama-lama merasa bosan dan akhirnya terpaksa ke gereja karena ada rasa guilty feeling. Sehingga pergi ke gereja hanya untuk menutupi rasa guilty feeling saja. Tidak mempedulikan khotbah apa yang didapat. Sehingga bertahun-tahun ke gereja sama saja hidupnya, karena tidak ada firman yang mengubah. Inilah gambaran rutinitas yang mematikan. Jika dihitung, persiapan seseorang sampai dengan pulang Gereja memakan waktu 4-5 jam. Betul? Lalu memberikan persembahan pula. Saudara telah mengeluarkan tenaga, waktu, uang untuk pergi beribadah sehingga kadang terlintas pikiran egois yang positif, yaitu ingin mendapatkan keuntungan rohani dari ibadahnya. Rata-rata orang Kristen ada tuntutan, kerinduan atau passion agar ibadah dihadiri oleh Tuhan. Namun terkadang Tuhan melihat hal itu dan menjawab, “Aku muak dan jenuh dengan persembahanmu.” Saudara bayangkan, saudara sudah rasa berkorban tetapi Tuhan datang lihat dan bilang jijik. Parahnya, kita tidak menyadari hal itu maka kita sebenarnya idiot secara rohani. Inilah kecelakaan paling besar jika kita menganggap ibadah sebagai rutinitas ritual. Berada dalam gereja dengan sikap yang tidak panas dan tidak dingin, Allah pun muak melihatnya. Kita pun sudah terjebak dengan rutinitas agama yang palsu. Gereja-gereja di seluruh dunia pun banyak yang tanpa sadar sudah terjebak dengan rutinitas ini dengan tidak menyadari bahwa seharusnya ibadah diarahkan untuk Tuhan. Istilah ibadah dalam bahasa Inggris sungguh baik, yaitu Sunday Service (Minggu Melayani). Kita sedang melayani Raja di atas segala Raja dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk menyenangkanNya? Sudah seharusnya anak-anak tebusan Tuhan yang telah menikmati berkat Tuhan datang dengan penuh rasa syukur.  Ada satu cerita tentang sepasang suami istri yang belasan tahun hidupnya harmonis. Suaminya sangat romantis. Setiap istrinya ulang tahun maka ia selalu memberi seikat bunga mawar merah.  Istrinya sangat senang dan bertanya, “Kok kamu selalu romantis sih memberikan bunga mawar ini setiap aku ulang tahun?”. Sang suami menjawab, “Ah nggak repot koq mam, aku cuman suruh atur sekretaris dan pembantu untuk melakukan semua itu”. Mendengar itu istrinya lemas dan sedih karena merasa sudah tidak ada desire dan love dalam setiap pemberian suaminya karena sudah dianggap hal yang rutin. Janganlah kita sampai terjebak dengan rutinitas karena hal itu menyedihkan hati Tuhan. Tuhan sangat mencintai kita, Ia telah memberikan yang terbaik bagi kita. Ia rela datang dalam dunia dan mati untuk kita, maka sudah sepantasnya jika Tuhan dilayani dengan cinta kasih. Amin saudara? Saat kita merasa jenuh dan bosan maka lambat laun akibatnya kita akan menjadi bersungut-sungut. Kalau sudah bersungut-sungut maka keluar sungut/tanduknya dan berani melawan Tuhan. Seperti Bangsa Israel yang tegar tengkuk. Sudah dikeluarkan dari rumah perbudakan di Mesir untuk menjadi Tuan tanah di tanah Kanaan yang makmur, namun masih saja bersungut-sungut. Padahal Tuhan sudah memiliki master plan yang bagus sekali. Tuhan memanggil Israel keluar supaya bangsa itu beribadah dan melayani-Nya, itu saja. Mereka beribadah, maka sisanya adalah bonus. Bonusnya adalah Tanah Kanaan  yang sangat makmur. Tuhan tidak kurang baik tapi memang Israel yang kurang ajar. Sewaktu perjalanan di padang gurun Tuhan menyiapkan tiang awan di siang hari agar mereka tidak kepanasan, dan tiang api di malam hari agar tidak kedinginan, Tuhan menyiapkan mata air yang keluar dari batu yang sangat jernih dan bebas polusi, Tuhan juga menyiapkan manna. Mereka minta daging, Tuhan kirim burung puyuh. Namun  bangsa Israel justru mengatakan, “Apakah di Mesir tidak ada kuburan, sehingga kami harus mati di padang gurun ini?” Saudara coba bayangkan perasaan Tuhan yang sudah memberikan perhatian terbaik justru malah dituduh ingin mencelakakan.

Kedua, terjebak menjadi orang munafik. Jika yang pertama adalah rutinitas sehingga tidak ada semangat, namun orang munafik justru bersemangat sekali. Banyak aktifitas rohani yang dilakukan dan sangat rajin. Namun Tuhan berkata, “Kerajinannya bukan untuk menyenangkan Aku, tapi hanya untuk dilihat dan dipuji oleh manusia.” Motivasi kegiatan rohaninya adalah untuk mendapatkan respek dan apresiasi dari manusia. Saat dipuji ia menjadi bangga. Sehingga jika dibiarkan tanpa disadari kita sedang melakukan tindakan-tindakan yang sedang mencuri kemuliaan Tuhan. Sering saya temui orang Kristen yang dualisme. Di dalam Gereja ia menjadi orang yang nampak saleh, dermawan, suka membantu orang, suka menyumbang tetapi di dalam keluarga atau lingkungan sehari-harinya sangat berbeda. Saya pernah diminta istri saya mengantarnya belanja ke pasar. Dengan sikap bos saya memberikan waktu 1 jam kepadanya untuk membeli semua keperluan. Istri saya pun stress diberi waktu yang sempit. Saat saya menunggu istri saya dalam mobil, saya menyadari bahwa saya kurang sabar terhadap istri tapi saya dapat sabar dengan jemaat. Saya menyesal dan minta ampun kepada Tuhan. Demikian pula dalam membagi waktu dengan anak saya. Padatnya jadwal KKR membuat saya letih dan ingin sekali  beristirahat namun ketika anak saya mengajak bermain, saya belajar melupakan rasa capek saya dan akhirnya memberi waktu kepada anak-anak. Selain capek fisik terkadang masih capek pikiran karena ada orang yang salah mengerti maksud saya dan menyalahkan saya. Kadang saya benar-benar merasa letih dan mengaduh minta Tuhan untuk berhenti saja. Namun suara hati langsung mengingatkan “Tidak boleh berpikir seperti itu. Orang lain bicara apa, tidak usah dipedulikan. Kamu harus tetap setia melayani Tuhan”. Saat melayani Tuhan dan melakukan kehendakNya kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Yang penting adalah Tuhan senang, terserah orang lain menjadi tersanjung atau tersinggung. Saudara, kadang kita terjebak dalam hidup yang hypocrite seperti lagunya Ahmad Albar, “Dunia ini panggung sandiwara. Semua mudah berubah, dst” Jadi hidup ini ibarat sandiwara. Orang yang hidup benar dan tidak bersandiwara tidaklah gampang. Menjadi orang yang baik dan orang yang benar lebih susah mana saudara? Orang benar. Mengapa? Karena kita harus selalu menyampaikan kebenaran meskipun orang tidak menyukai tetap harus kita jalankan demi kemuliaan Tuhan. Amin?

Saudara hendaklah jangan menjadi orang munafik karena kita hanya  menipu diri, menipu orang lain dan sedang melecehkan Tuhan. Allah adalah pribadi yang Mahahadir dan Mahatahu, ia tahu segala kepura-puraan kita. Jika masih berpura-pura itu artinya kita sedang melecehkan Tuhan. Sekarang di Jakarta ini ada trend baru. Orang yang suka mejeng tidak perlu repot membeli tas atau sepatu impor karena sudah ada penyewaan tersendiri. Bisa ganti-ganti penampilan tanpa bayar mahal untuk memberi kesan bahwa dirinya orang mampu. Itu bukanlah cerminan hidup yang original karena hanya untuk menimbulkan kesan orang saja. Orang yang hypocrite seperti ini sibuk buka lubang tutup lubang untuk menutupi kekurangannya, pura-pura punya uang padahal tidak punya uang. Demikian pula yang terjadi dalam pekerjaan Tuhan, kita hanya mencari kesan dari orang lain dan bermain play safe menyukakan hati semua orang di lingkungan Gereja.

Untuk menjembatani kedua ekstrim di atas maka kita harus hidup sesuai dengan semangat Reformed, Coram Deo. Terus hidup dalam hadirat Tuhan, terus hidup meminta belas kasihanNya. Coram Deo berarti kita mau hidup saleh. Hidup saleh yang bagaimanakah yang diperkenan Tuhan? Saleh, bahasa Inggrisnya: Pity, pietis. Istilah your righteousness, artinya melihat kebenaranmu. Orang saleh adalah orang yang hidup dalam hadirat Tuhan yang menyadari bahwa seluruh tindakannya adalah respons kepada Tuhan. Tuhan yang berdaulat atas hidupnya dan apa yang dilakukannya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan. Amin? Coram Deo artinya menyadari bahwa Tuhan Mahahadir dan Mahatahu sehingga kita jujur dengan Tuhan, jujur dengan diri dan menjadi orang yang berintegritas di lingkungan sekitar. Tidak bermuka dua namun bermuka satu. Kehidupan saleh adalah hidup yang terus bergaul dengan Tuhan. Maksudnya mengikuti Tuhan kemana Tuhan pimpin, dan mengikuti setiap pembentukan Tuhan dengan setia.  Seperti seorang budak yang terus mengikuti tuannya dan ia peka dengan kemauan tuannya, merespon apa yang menjadi kesukaan tuannya dengan tidak tunggu diperintah. Alkitab katakan, “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal…” (1 Tim. 4:8). Jadi kita perlu melatih ibadah. Dulu saya pernah menjadi atlet. Bagi seorang atlet olahraga bukan lagi menjadi sekedar hobi atau untuk kesehatan saja melainkan demi sebuah prestasi. Melatih diri melakukan yang terbaik untuk menjadi juara utama. Saya melakukan olahraga untuk memelihara stamina supaya dapat menjadi seorang juara. Demikian juga dengan hidup saleh. Kita bukan hidup rutin saja dengan tidak ada visi dan antusias. Kita seharusnya melatih ibadah untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Dalam Alkitab, Daniel adalah seorang yang melatih ibadah dengan tekun dan disiplin, sehari berdoa tiga kali. Doa sudah menjadi lifestyle-nya dan komitmennya mengakui Tuhannya lebih berdaulat dari pemerintahan rajanya. Baginya, ibadah sudah menjadi prime time yang tidak dapat diganggu gugat. Apakah kita sudah menempatkan Tuhan seperti itu? Atau masih menomor-duakan Tuhan? Sudahkah kita mendisiplin hidup untuk mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Saya tidak habis pikir Martin Luther sehari berdoa 3-4 jam. Kira-kira apa yang didoakan? Saudara kalau berdoa sehari berapa jam? Saudara kalau sempat pelajarilah Doa Bapa Kami. Saya meneliti Doa Bapa Kami dan pembahasannya sangat lama, bisa berjam-jam.  Waktu menyebut kata Bapa, ini adalah satu hak yang sangat special. Hanya orang yang sudah ditebus dan dibenarkan menjadi anak Allah memiliki hak untuk menyebut Tuhan adalah Bapa. Ini anugerah yang spesial dan harusnya Saudara bangga dan terharu. Bapa kami, berarti yang menyebut Bapa bukan hanya saudara tetapi anak Tuhan yang lain juga dapat memanggil. Kita sudah masuk dalam family of God, memiliki banyak saudara seiman dalam satu keluarga besar Allah.  Kalimat “Bapa Kami di dalam Sorga” artinya saudara sedang mewakili orang lain berdoa, saudara sedang mewakili kami-kami yang lain. Maka sewaktu berdoa jangan hanya memikirkan diri sendiri tapi harus mewakili orang lain berdoa syafaat kepada Bapa di Sorga. Indah bukan? Ini sudah dieksposisi berjam-jam dan jika saya ingat dan merenungkan kalimat Bapa Kami di Surga saja, sudah memiliki satu kesukaan dan kebangunan tersendiri dalam doa. 

Kita sebagai anak-anak Tuhan saat menjalankan hidup ibadah janganlah jatuh menjadi orang hypocrite yang hanya untuk dilihat dan menyenangkan manusia, namun dilihat oleh Tuhan. Mari belajar mendisiplinkan diri seperti Daniel yang 3x berdoa, menikmati interpersonal fellowship with God. Jangan berdoa cepat-cepat ingin langsung amin. Saudara bayangkan jika orang berbicara kepada Saudara tapi tidak memperhatikan Saudara, perhatiannya kemana-mana, bagaimana reaksi Saudara. Sambil bicara seharusnya kita menikmati persekutuan dengan Tuhan, berlama-lama denganNya. Ada seorang ayah yang memiliki anak di Singapore. Ayahnya berkata, “Liburan kali ini papa tidak datang ke Singapore, ayah kirim uang saja. Kamu mau pergi tour kemana silahkan tinggal bilang, nanti uangnya papa transfer.” Anak ini menjawab, “Aku tidak mau uang papa, aku mau liburan dengan papa. Aku tidak mau tour tapi inginnya kumpul dengan papa.” Kadangkala kita lebih suka dengan berkat Tuhan daripada menikmati Tuhannya sendiri. Allah adalah Allah yang berpribadi, jangan hanya mencari berkatNya. Tuhan berkata, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu“. Jadi, saat saudara berdoa dalam tempat yang tersembunyi, Allah yang invisible akan memberi yang saudara perlukan untuk kemuliaan Tuhan. Jika saudara sudah aktif melayani tetapi orang tidak mengingatnya, jangan merasa kecewa atau sedih karena memang pelayanan saudara ditujukan untuk Tuhan. Jika orang tidak respect atau bahkan disalah-mengerti lalu saudara mundur, berarti saudara Hypocrite karena hanya ingin mencari perkenan manusia. Tuhan ingin kita menjadi orang yang jujur dan selalu sadar bahwa dirinya sedang beribadah kepada Tuhan. Mari siapkan waktu untuk membaca firman dan berdoa setiap hari. Jika perlu berikan waktu untuk break dari segala aktifitas untuk diam dalam hadirat Tuhan, minta dibangunkan lagi hidup spiritualitas saudara sehingga dapat memberi persembahan yang terbaik untuk kemuliaanNya. Amin? Biar Tuhan yang menolong dan memberkati firmanNya. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#35 - 28/03/2010
Kebaktian Perdana di Gedung Baru
"Kesedihan Yesus"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yohanes 1:9-11, Yohanes 15:18, Ibrani 5:7
Dalam Ibr. 5:7 ditulis, Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan”. Di dalam Alkitab, satu-satunya orang yang paling banyak mengalami kesedihan, kesakitan serta kesengsaraan adalah Tuhan Yesus. Yes. 53:3 mengatakan, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan”.  Atau dengan terjemahan bebas, “menderita kesakitan sudah menjadi makananNya setiap hari”. Yes. 52:14, “... begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi.” Inilah nubuatan mengenai penderitaan Mesias. Wajah Yesus disebutkan “buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi ...”  Jika saudara melihat orang berkelahi, mereka akan saling memukul dan saling melukai anggota badan lawannya. Kalau kebenciannya kepada musuhnya sudah sangat memuncak selalu saudara akan melihat, pukulan akan ditujukan kepada wajah lawannya dan kadang sampai merusak wajah lawannya. Ada orang yang kesel sama pacar perempuannya, lalu wajah pacarnya disiramin air keras. Kebencian yang sudah memuncak dilampiaskan dengan merusak wajah lalu diikuti dengan membunuh lawannya. Hal ini juga dialami oleh Tuhan Yesus, orang-orang yang membenciNya merusak wajahNya lalu membunuhNya. Untuk merusak wajah seseorang supaya tidak seperti manusia lagi, tentu perlu proses yaitu penyiksaan sedikit demi sedikit. Alkitab catat Yesus ditampar, ditinju, diludahi, dipukul, disiksa, dicambuk, dianiaya, dan lain-lain, “Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia.” (Mat. 26:67). Dalam pertandingan tinju, saudara melihat dua pemain tinju saling memukul wajah lawannya, namun lambat sekali terlihat memar di wajah. Mengapa? Karena mereka sudah kelas berat dan sudah sering dipukul seperti itu dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya dan waktu mereka sedang latihan. Namun kalau seorang yang bukan petinju, lalu wajahnya ditinju pasti langsung akan bengkak dan memar. Yesus bukanlah pemain tinju dan tidak pernah berlatih untuk menahan pukulan, maka waktu orang meninju wajahNya, pasti Yesus akan mengalami sakit sekali dan bisa langsung bengkak, karena orang yang sudah sangat membenci Dia tidak mungkin meninjuNya tanpa tenaga yang keras. Pasti akan meninju dengan tenaga yang cukup keras. Belum lagi ditambah dengan tamparan dan siksaan-siksaan fisik yang Yesus alami, lalu ditambah dipasang mahkota duri di kepala-Nya. Jadi Yesus pasti mengalami penganiayaan yang cukup besar sehingga menyebabkan wajahNya tidak seperti manusia lagi.

Apakah penderitaan Yesus baru terjadi dimasa-masa akhir menjelang penyalibanNya? TIDAK. Penderitaan Yesus sudah dimulai dari saat Dia Inkarnasi ke dalam dunia ini. Alkitab mengatakan dalam Yoh 1:9-11 bahwa Terang yang sesungguhnya sudah datang ke dalam dunia ini. Dunia dijadikan oleh Dia, tetapi dunia menolak Dia. Inilah penderitaan yang dialami Yesus, kedatanganNya ditolak oleh dunia ciptaanNya dan bahkan umatNya menolak kehadiran Dia. Bukan hanya itu, keluargaNya sendiri “menolak” dan tidak percaya kepadaNya. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat miskin dan keluarga yang miskin inipun menolak Dia, “Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi”. (Mrk. 3:21). Berapa sedihNya hati Yesus mendengar hal ini.


Yesus di hadapan keluargaNya sendiri disebut “tidak waras lagi” (Mrk. 3:21), di hadapan Ahli Taurat disebut ”kerasukan Beelzebul” (Mrk. 3:22). Dan di Yoh. 7:5 mengatakan, “Sebab saudara-saudaraNya sendiripun tidak percaya kepadaNya”. Dunia menolak Yesus, UmatNya menolak Dia, keluargaNya pun menolak Dia. Jika dunia tidak menerima Kristus, tetapi keluarga sendiri menerimaNya, ini masih ada sedikit  penghiburan bagi Yesus, minimal masih ada yang menerima dan  mendoakan Dia. Coba banyangkan, jika dunia menolak kita dan keluargapun menolak kita, kita mau pergi kemana? Inilah kesedihan yang Yesus alami, saat Ia memutuskan untuk Inkarnasi, Ia harus siap untuk ditolak semua orang. Selain dunia menolak Dia, UmatNya menolak Dia, keluargaNya menolak Dia, kampung halamanNya pun (Nazaret) menolak kehadiran Dia. Di kampung halamanNya, Yesus hendak dibunuh, “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-nya pada hari Sabat, Ia masuk ke rumah ibadat lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.” (Luk. 4:16); “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab IA telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin dan Ia telah mengutus Aku” (Luk. 4:18). Setelah Yesus berkhotbah dan mengajar dengan keras di Nazaret, maka orang-orang Yahudi yang mendengarkan khotbahNya menjadi sangat marah dan ingin membunuhNya, “Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi”. (Luk. 4:28-30). Orang-orang Nazaret ingin membunuh Yesus dengan cara yang sangat kejam, yaitu melemparkanNya dari atas gunung yang tinggi. Persis seperti tawaran Iblis yang menyuruh Yesus lompat dari bubungan Bait Allah (Mat. 4:5), Namun saat itu Iblis tidak berhasil membunuh Yesus dengan cara demikian karena Yesus tidak mau loncat ke bawah. Lalu sekarang, Iblis memakai cara lain dengan memakai orang-orang Yahudi yang ada di Nazaret untuk membawa Yesus ke tempat tinggi lalu mencampakkanNya, namun Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka karena Yesus tidak boleh mati akibat dicampakkan dari tebing tinggi. Yesus harus mati di atas kayu salib. Alkitab mencatat sejak hari itu Yesus tidak pulang ke kampung halamanNya lagi berkhotbah panjang seperti di Luk. 4 tadi. Orang-orang Nazaret senang sekali Yesus pergi dari hadapan mereka, namun sesungguhnya Nazaret telah kehilangan satu tokoh hebat di dalam sejarah. Di satu sisi mereka senang karena pengacau sudah pergi, tetapi dibalik itu Nazaret rugi besar karena Yesus akan melayani di kota-kota lain dan kota-kota lain mendapat berkat besar dari pelayanan Tuhan Yesus. Waktu kami KKR Regional ke kota-kota kecil, dan waktu kami berbicara dengan Kepala-kepala Sekolah atau Guru-guru Agama, kami selalu mengatakan bahwa sekarang saatnya kami datang melayani siswa-siswa di sekolah bapak/ibu, dan setelah ini kami akan segera ke sekolah yang lain. Jadi ini adalah kesempatan yang berharga, dan dia harus memutuskan apakah terima kami atau tolak kami. Kami memperlihatkan seluruh daftar sekolah yang sudah kami layani dan yang akan kami layani, lalu saat itulah banyak di antara sekolah-sekolah yang kami kunjungi, mereka mengatakan Ya. Akhirnya sekolah mereka mendapat berkat yang besar, dan mereka minta tiap Minggu bisa dilakukan acara seperti itu di sekolah mereka. Kami yang jadi pusing. Coba saudara bayangkan berapa sedihNya Yesus waktu berjalan meninggalkan Nazaret kota dimana dia dibesarkan. Yesus tidak bersedih karena khotbahNya terlalu keras waktu itu, namun Dia bersedih karena dosa dan kebodohan orang-orang Nazaret yang tidak mengenal diriNya secara mendalam. Orang-orang yang dulu jadi kawan sekarang jadi lawan dan ingin mematikan Yesus.

Waktu Yesus mau dilahirkan, rumah penginapan menolak kehadiran Dia, namun palungan menerima kelahiranNya. Ada seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus, “Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” (Mat. 8:19). Lalu Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya.” (Mat. 8:20). Apa artinya? Artinya adalah dari sejak inkarnasi, Yesus tidak ada tempat untuk taruh kepalaNya (harus pinjam palungan orang lain), dan waktu mati tidak ada tempat untuk letakkan kepalaNya (pinjam kuburan orang lain). Waktu orang ingin mencalonkan diri ikut team saya KKR Regional ke kota-kota kecil, saya sering mengatakan seperti mengutip cara Yesus, “Ikut kami harus bisa tidur di segala kasur dan kondisi. Mandi harus bisa di segala kamar mandi dan warna air yang berbeda-beda. Dan Lain-lain.” Mendengar itu sebagian langsung mengundurkan diri, sebagian tetap mau ikut. Kalau Anak Manusia tidak ada tempat untuk meletakkan kepalaNya, siapakah yang mau mengikutiNya? Barangsiapa yang tetap mengikutiNya pasti diberkati oleh Dia. Dari ayat tadi kita melihat, sejak waktu Yesus dilahirkan sampai waktu dia menghembuskan nafas terakhir, Dia begitu menderita dan miskin. Orang Kristen sekarang banyak yang ikut Yesus motivasinya adalah untuk kekayaan semata-mata, ingin berkat, ingin hidup lancar, ingin sehat terus, namun tidak mau ikut menderita bersama dengan Kristus. Jika memang benar ikut Yesus pasti akan menjadi kaya, siapakah dalam Alkitab yang seharusnya menjadi orang yang paling kaya karena dialah yang paling setia melayani Yesus? Jawabannya adalah Maria. Sebelum saudara ikut Yesus, Maria telah melayani Yesus lebih dulu dari saudara, dialah yang melahirkan Yesus, menyusui Yesus, menggendong Yesus, dan membesarkan Yesus. Tidak ada orang zaman itu yang melayani Yesus seperti Maria. Sejak Yesus dalam kandungan, Maria menanggung beban berat harus menanggung resiko di cap pasangan yang haram, yang belum nikah secara resmi dengan Yusuf namun sudah hamil duluan. Kalau orang yang ikut dan melayani Yesus pasti kaya, maka Maria adalah konglomerat terkaya di dalam dunia ini, namun Alkitab tidak mencatat demikian. Maria tetap hidup dalam keluarga yang miskin. Lalu orang kedua yang seharusnya kaya raya adalah Rasul Petrus, pemimpin kedua belas rasul. Namun Petrus mengatakan, “Emas dan perak tidak ada padaku ...(Kis. 3:6). Ini berarti Petrus bukan orang kaya. Waktu Yesus mati, Dia tidak menurunkan warisan atau berkat kekayaan materi kepada ibuNya maupun rasul-rasulNya.

Setelah Yesus lahir, Dia terus mengalami hinaan dan ejekkan sebagai anak haram; seorang anak yang ibu-bapak-nya tidak jelas siapa. Dan Maria-Yusuf pun mengalami hinaan dan penolakan yang begitu berat dari masyarakat Yahudi. Mereka yang mengikuti Yesus dan mau melayani Yesus, malah sendiri dihina oleh orang banyak. Status Maria dan Yusuf waktu itu masih bertunangan. Memang di di dalam hukum Yahudi orang yang sudah bertunangan sudah disebut sebagai suami-istri, namun mereka belum boleh tinggal serumah dan belum boleh berhubungan intim. Kelak mereka akan dinikahkan dan sejak waktu itu nanti mereka akan tinggal serumah dan boleh berhubungan intim. Namun setelah pernikahan, Yusuf tidak berhubungan intim dengan Maria sampai Yesus dilahirkan (Mat. 1:24-25). Dalam Alkitab muncul satu ayat yang sebetulnya menyindir Yesus, yaitu waktu orang-orang Farisi mengatakan, “... Bapa kami ialah Abraham.” (Yoh. 8:39), dan “... Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” (Yoh 8:41). Di balik kalimat tersebut terdapat sindiran bahwa silsilah kami itu jelas, namun bagaimana dengan silsilahMu?

Waktu Yesus berumur 30 tahun dan mulai melayani. Ia terus diserang bertubi-tubi dan Iblis terus mencari waktu yang tepat untuk menjatuhkan Tuhan Yesus. Iblis memakai banyak cara untuk menjatuhkan Tuhan Yesus. Iblis bisa memakai orang-orang non-Kristen, orang Kristen serta pelayan-pelayan Tuhan. Setan menyusup ke kelompok 12 rasul untuk menggagalkan misi Yesus datang ke dalam dunia. Kalau digambarkan ke dalam bentuk lingkaran, maka Lingkaran-6: orang-orang non-Yahudi termasuk di dalamnya seperti orang-orang Romawi (orang-orang non-Kristen); Lingkaran-5: orang-orang Yahudi, ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, dan lain-lain yang katanya sudah memiliki Kitab Suci; Lingkaran-4: kelompok 70 murid; Lingkaran-3: kelompok 12 rasul; Lingkaran-2: kelompok 3 rasul inti (Petrus, Yakobus, Yohanes); Lingkaran-1: satu murid yang dikasihi Yesus (Yohanes). Ini adalah gambaran lingkaran dari sisi yang paling luar sampai sisi yang paling dalam. Dari semua lingkaran di atas, lingkaran mana yang paling menyedihkan Tuhan Yesus? Mari kita tinjau satu persatu. Yesus merasa sedih dimulai dari kelompok paling luar yaitu orang Romawi yang menyembah kaisar dan tidak menyembah Tuhan yang sejati. Lalu dari kelompok murid atau orang-orang Yahudi yang mengikuti Yesus karena melihat dan mengalami mujizatNya. Kelompok ini datang hanya ingin mujizat, lalu waktu Yesus khotbah yang keras di Yoh. 6,  “Makanlah dagingKu dan minum darahKu,” mereka semua pergi meninggalkan Yesus. Mereka hanya mau mujizat, dan tidak mau firman Tuhan. Lalu masuk lebih dalam ke kelompok 70 murid. Dua orang murid yang kecewa dengan Tuhan Yesus yang pulang ke Emaus, adalah masuk di dalam kelompok 70 murid itu. Mengapa saya katakan demikian? Karena mereka punya akses langsung ketemu para rasul setelah mata mereka berdua dimelekkan oleh Tuhan. Padahal waktu itu semua rasul sedang kunci pintu karena ketakutan, namun mereka diijinkan masuk bertemu para rasul. Lalu kelompok 12 rasul pun mengecewakan Yesus, karena semua rasul  kabur meninggalkan Tuhan Yesus pada saat Yesus ditangkap dan hanya rasul Yohanes yang terus ada di bawah salib Tuhan Yesus. Lalu kelompok 3 rasul inti  (Petrus, Yakobus, Yohanes) yang juga mengecewakan Yesus. Mereka bertiga dicatat  tidur pada saat Yesus membawa mereka ke atas gunung pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung, dan mereka bertiga juga tertidur pada saat Yesus berdoa di taman Getsemani. Padahal waktu itu Yesus ingin mereka bertiga mengetahui misi Yesus datang ke dalam dunia ini untuk menderita, dianiaya dan mati di Yerusalem. Namun 3 rasul ini mengecewakan Yesus. Dan Petrus juga sangat mengecewakan Yesus. Dia pernah menarik Tuhan Yesus dan menegor Yesus (dalam bahasa aslinya: menghardik Yesus seperti kata yang dipakai Yesus menghardik setan) (Mat. 16:22). Petrus juga adalah satu-satunya rasul yang pernah menyangkal Yesus sampai 3 kali dan  dia berkata bahwa sumpah dia tidak kenal siapakah Yesus. Padahal Petrus sudah menyaksikan banyak mujizat, pernah berjalan di atas air sebentar, banyak mendengar khotbah, namun tetap menyangkal Tuhan Yesus. Jadi jangan saudara kira, orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus karena melalui mujizat akan beroleh iman yang kuat dan sejati? Tidak tentu. Semua rasul melihat mujizat, namun mereka lari meninggalkan Tuhan Yesus. Kekristenan di Indonesia seolah-olah berkembang pesat dan KKR-KKR kesembuhan ilahi penuh sesat, tapi jangan kira itu bisa membawa manusia beriman sungguh-sungguh? Saat penganiayaan muncul, kita akan melihat banyak orang akan menyangkal Tuhan Yesus. Lalu rasul Yohanes bersama rasul Yakobus juga pernah meminta posisi duduk di sebelah kanan dan disebelah kiri Allah. Dan ini menyebabkan 10 rasul lainnya marah kepada mereka.

Kalau demikian, siapakah orang yang paling menghibur Yesus? PENJAHAT DI SAMPING YESUS YANG BERTOBAT. Saat Yesus disalib, orang-orang banyak terus memaki-makiNya. Rasul Yohanes yang ada di bawah salib tidak membela Yesus dan tidak tidak bersuara apa-apa, dan Maria juga tidak berkata apa-apa yang menghibur Yesus. Pada saat itulah Yesus ingin mendengar kalimat penghiburan dari orang-orang yang pernah dilayaniNya, namun yang ada adalah kalimat maki-makian dari musuh-musuh yang memusuhi Tuhan Yesus. Termasuk dua penjahat yang mendadak juga memaki-maki Tuhan Yesus. Namun, salah satu dari penjahat tersebut akhirnya bertobat dan dialah yang paling menghibur Tuhan Yesus, “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah. Lalu ia berkata: Yesus ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk 23:41-42). Padahal saat itu rupa / wajah Yesus tidak seperti manusia lagi. Saat itu tidak ada sesuatu dari diri Yesus yang cukup bisa menarik orang percaya kepadaNya. Namun salah seorang penjahat itu justru berbalik arah dan percaya kepada Yesus. Yesus saat itu tidak sedang melakukan mujizat dan kelihatanNya tidak berdaya apa-apa, namun penjahat yang percaya kepada Yesus inilahyang paling menghibur Tuhan Yesus. Jika semua orang hanya mau percaya kepada Yesus kaena melihat mujizat, mendapat berkat, namun penjahat ini tidak mengharapkan apa-apa kecuali kalau Yesus mengingat dia. PUJI TUHAN. Orang di bawah salib mengatakan, “Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya ...” (Mrk. 15:32). Teriakan orang di bawah salib ini mirip teriakan orang Kristen jaman sekarang ini, “Kalau saya alami mujizat dan lihat langsung maka saya akan percaya. Kalau tidak, saya akan pindah ke agama lain”. Penjahat ini tidak ikut mengatakan demikian, ia tetap percaya meski Yesus tidak turun dari Salib dan meski tidak lihat mujizat apa-apa. Inilah satu-satunya perkataan di atas kayu salib yang dijawab oleh Yesus. Yesus menjawabnya, “Hari ini engkau akan bersama-sama dengan Aku di Firdaus”. Seperti apakah iman saudara? Iman berdasarkan melihat dan mengalami mujizat kah? Atau iman tanpa melihat mujizat pun saudara tetap beriman kepadaNya?

Biarlah hari ini, firman Tuhan yang kita dengar mengingatkan kita sekali lagi  sebelum kita memasuki Jumat Agung, mari kita introspeksi dan renungkan kita percaya Yesus yang model apa? Kristus yang  hanya sebagai Tabib Agungkah? Memang tidak salah jika saudara minta disembuhkan, tetapi jangan menjadikan kesembuhan sebagai fondasi iman. Setiap manusia pasti akan mengalami sakit penyakit, namun sakit penyakit jangan membawa kita semakin jauh dari Tuhan. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#36 - 4/04/2010
Kebaktian Paskah & Perjamuan Kudus
"Dukacita Menjadi Sukacita"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yohanes 16:16-21, Yohanes 8:21-24, Yohanes 14:1-7
Hari ini kita ada Perjamuan Kudus & Paskah yang di MRII Kebon Jeruk. Kita bersyukur Tuhan sudah memberkati MRII sampai hari ini. Hari ini saya akan membahas satu tema dari Alkitab yang keluar dari mulut Tuhan Yesus (Yoh. 16:16-21). Dalam khotbah Yesus, Yesus kadang-kadang mengeluarkan kalimat-kalimat yang sederhana dan kalimat-kalimat yang sulit sekali. Lalu para murid sering menangkap kalimat Yesus yang gampang menjadi kalimat yang sulit; sebaliknya, kalimat yang sulit justru dianggap kalimat biasa. Di dalam konteks Yoh. 16 ini murid-murid memiliki pikiran dan telinga yang tajam sekali dalam mendengarkan semua kalimat Tuhan Yesus. Mengapa? Buku Tafsiran mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi pada saat Perjamuan Terakhir, yang merupakan saat-saat terakhir sebelum penangkapan Yesus. Jadi di saat-saat terakhir itulah Yesus membocorkan banyak rahasia yang temanya sangat sulit untuk dipahami para murid. Apa yang Yesus beritakan di saat-saat terakhir tersebut? Salah satunya adalah tema kematian dan kebangkitanNya. Pada saat kematian Yesus, murid-muridNya akan meratap dan menangis tetapi dunia akan bergembira. Yesus mulai dengan berkata, “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku (Yoh. 16:16). Semua murid yang mendengar kalimat tersebut menjadi bingung. Padahal Yesus hanya menyimpulkan seluruh tema Anak Manusia yang pernah Ia katakan sebelumnya, yaitu bahwa Anak Manusia akan mati dan bangkit pada hari ke-3. Apa artinya “Tinggal sesaat saja”? Murid-murid tidak mengerti hal ini. Yesus ingin mengatakan sudah tidak lama lagi (sudah segera) Yesus akan ditangkap dan dimatikan. Waktu pemberitahuan kali-1 Penderitaan yang Yesus akan alami (Mat. 16), tetapi waktunya masih panjang. Lalu diikuti pemberitahuan kali-2, kali-3 dan Matius mencatat sampai kali ke-4. Di Yoh. 16 inilah Yesus mengulangi kembali pengajaran yang sudah pernah Dia ajarkan sebelumnya dan sekarang sudah “Tinggal sesaat saja”.


Mengapa para murid sekarang tidak mengerti perkataan “Tinggal sesaat saja”? Berarti selama mengikuti Yesus, mereka yang sudah mendengar khotbah berkali-kali tentang tema “Anak Manusia akan dimatikan dan bangkit pada hari ke-3”, mereka tidak pernah masukkan ke dalam hati mereka. Sama dengan kondisi kita hari ini. Sudah berapa kali Saudara mendengar Firman Tuhan semenjak saudara menjadi orang Kristen? Dari Sekolah Minggu sampai sekarang, sudah berapa kali Saudara mendengarkan Khotbah? Mungkin ada yang sudah > 500x atau >1000x, bukan? Coba kita hitung. Kebaktian Minggu satu tahun sudah 52x dengan khotbah; lalu belum lagi ada yang ikut beberapa kali Kebaktian tiap Minggu karena sebagai pelayanan di kebaktian-kebaktian tersebut; lalu ikut Program Intensif, STRIJ, Kelas Pembinaan, Renungan Singkat, dengar khotbah di Persekutuan Doa, Kebaktian Perkabungan, dll; lalu ditambah Saudara mendengar kaset khotbah, dengar firman Tuhan di TV, radio, dll. Jadi kalau seseorang itu sudah Kristen lama, pasti sudah mendengar > 1.000x khotbah, bahkan mungkin 2.000x sampai 3.000x. Sekarang saya tanya Saudara, silahkan jawab dengan jujur, ribuan kali khotbah yang Saudara pernah dengar itu, berapakah banyak kalimat firman yang benar-benar Saudara ingat sampai hari ini? Coba Saudara ulangi kalimat tersebut lalu saudara rekam semua, Saudara akan kaget, karena mungkin kalau diputar ulang semua kalimat rekaman tersebut, hanyalah beberapa menit saja. Jadi ribuan kali pernah dengar khotbah, kesimpulannya hanya beberapa menit? Lalu di antara beberapa menit tersebut, berapa menit yang Saudara jalankan? Ironis bukan? Namun inilah fakta orang Kristen yang mendengarkan firman Tuhan. Yesus sudah berulang-ulang kali memberitahukan saat kematian dan kebangkitanNya, namun para murid tetap tidak mengerti hal itu. Maka inilah kali terakhir Yesus mengingatkan kepada mereka akan waktu yang dikatakanNya itu pada saat Perjamuan Terakhir ini.

Yesus pernah mengatakan sebelumnya, ”Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” (Yoh. 8:21), lalu orang-orang Yahudi yang mendengar kalimat itu berkata, “Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakanNya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?” (Yoh. 8:22). Ironis bukan? Waktu Yesus melakukan mujizat yang membuktikan diriNya datang ke dalam dunia adalah diutus oleh Bapa, orang-orang langsung berespons “Ibu-bapakmu kami kenal, kamu ini orang Nazaret”. Waktu Yesus menyatakan bahwa Dia datang dari “Atas (Sorga)”, orang-orang tetap menganggapNya datang dari “Bawah (lahir di Betlehem dibesarkan di Nazaet)”. Mengapa tadi Yesus dianggap mau bunuh diri oleh orang-orang Yahudi? Bagi orang Yahudi, mereka tidak akan bunuh diri, karena hidup mereka berkenan kepada Tuhan, dan kalau mati pasti diberkati Tuhan. Sedangkan bagi mereka, Yesus adalah penyesat, dan tidak disertai Allah, oleh sebab itu Orang seperti itu pasti matinya akan tidak wajar. Jikalau tema kepergian / kematian Yesus tidak bisa dimengerti oleh para rasul, apalagi orang-orang Yahudi yang lain.

Lalu dalam Yoh. 14:1-7 yang masih dalam konteks menjelang detik-detik terakhir hidup Yesus, Yesus berkata kepada para muridNya, “Dan kemana Aku pergi, kamu tahu jalan kesitu” (Yoh. 14:4). Tomas langsung berkata, “Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yoh. 14:5). Tomas masih seperti para murid Yesus lainnya, yang selalu menangkap kalimat Tuhan Yesus secara hurufiah. Yang dia tangkap adalah pengertian “jalan” tempat orang menginjakkan kakinya. Dengan kata lain Tomas ingin mengatakan, “Bagaimana kami bisa menyusul ke situ kalau Engkau tidak pernah memberitahu alamatnya?” Lalu Yesus memberitahu bahwa untuk datang kepada Bapa, jalannya harus melalui Yesus, “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup(Yoh. 14:6). Yesus memberitahu bahwa diriNya adalah jalan satu-satunya menuju kepada kekekalan itu. Untuk dapat masuk ke rumah di Surga, hanya dapat melalui satu Pintu, yaitu Kristus itu sendiri. Lalu Filipus pun melontarkan suatu pertanyaan yang sudah lama dia pendam-pendam, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami” (Yoh. 14:8). Sudah kira-kira 3 ½ tahun Yesus mendidik para rasul, namun mereka tetap tidak mengerti apa yang Yesus sudah pernah ajarkan. Saudara bayangkan berapa sabarNya Yesus menuntun para rasul hingga mereka kelak bisa mengerti. Jika Saudara sudah menjelaskan sesuatu kepada anak saudara dari semenjak dia kecil, remaja, dewasa, lulus kuliah, namun ketika Saudara tua, saudara menanyakan kembali semua yang Saudara pernah katakan kepada anak Saudara sejak dulu itu, namun anak Saudara tetap tidak mengerti apa yang Saudara pernah katakan, coba bayangkan betapa sedih hati Saudara? Bayangkan, Yesus sudah mau meninggalkan dunia ini, kepada siapa lagi Ia harus share semua misi-Nya? Tentu kepada para rasulNya. Namun semua mereka tetap tidak mengerti.

Yesus berkata, “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita“ (Yoh. 16:20). Lalu Yesus memberi ilustrasi mengenai seorang ibu yang sakit bersalin dan gembira setelah anaknya lahir (Yoh. 16:21). Ibu ini mengalami dukacita dan kesakitan sebelum dan menjelang sang bayi lahir. Namun setelah sang ibu melahirkan, ia bersukacita karena anaknya telah lahir. Murid-murid bertambah bingung lagi karena menganggap kedua hal tersebut tidak ada hubungannya. Jika Saudara perhatikan cara Yesus mengajar, maka pada saat Yesus mengajar mengenai Kerajaan Sorga, Yesus mengambil contoh hal yang ada di bumi sebagai ilustrasi, contoh: Kerajaan Sorga seperti biji sesawi, pukat, dll. Jadi saat berbicara hal rohani (Kerajaan Sorga), Yesus memakai hal-hal di dalam dunia ini. Mengapa? Agar ilutrasi tersebut dapat membawa mereka dapat mengerti hal yang rohani. Namun seringkali ilustrasi yang sangat sederhana pun orang tetap tidak dapat mengerti. Maka jangan Saudara mengira bahwa khotbah yang sangat sederhana, aplikatif, orang pasti mengerti. Belum tentu. Alkitab banyak sekali ayat-ayat sederhana tetapi sejarah membuktikan orang-orang banyak salah menafsirkan ayat-ayat tersebut. Ilustrasi untuk membawa orang mengerti kalimat pertama yang sulit, bukan membuat munculnya tema baru. Murid-murid terjebak dengan  dua tema yang berbeda yang bagi mereka tidak ada hubungannya, padahal berhubungan. Jadi, dalam mendengar khotbah sangat perlu konsentrasi dan rasio harus berfungsi. Reformed adalah satu-satunya gereja yang menurut saya untuk mendengar khotbah perlu konsentrasi penuh. Tidak bisa hanya dengar-dengar sambilan, Betul? Yesus sering bicara kalimat yang saling berhubungan satu sama lain maka jika murid tidak konsentrasi maka mereka akan sulit mengerti. Yesus tadi di awal berkata, “Tinggal sesaat saja Aku akan pergi” murid-murid tidak mengerti kemudian diberi contoh sederhana mereka tetap tidak mengerti. Terbukti saat Yesus ditangkap, semua murid melarikan diri. Padahal Yesus berharap semua murid mengerti misi yang telah Ia sampaikan sebelumnya itu. Pengajaran akan misi Yesus sebelum Dia meninggalkan dunia ini, hanya dicatat panjang lebar oleh Injil Yohanes.
Tinggal sesaat lagi” ini adalah tema yang sederhana bagi kita tetapi tidak sederhana bagi para murid. Perhatikan di Yoh. 16:20, Yesus membicarakan suatu fakta bahwa dunia akan bersukacita. Yesus sedang membicarakan mengenai suatu hal yang akan terjadi pada saat Yesus pergi / mati dan berjumpa kembali / bangkit. Saat murid-murid melihat kematian Yesus dan Yesus melihat para murid mati duluan, mana yang lebih sedih? PASTI YESUS JAUH LEBIH SEDIH. Memang para murid akan bersedih. Namun kesedihan mereka adalah kesedian yang egois. Mereka sedih bukan karena mengingat Yesus yang pernah baik kepada mereka dan melayani mereka semasa hidup, bukan pula sedih seperti seorang anak mengingat semua kebaikan ayahnya, melainkan sedih karena pada akhirnya Yesus yang mereka harapankan tidak sesuai harapan mereka. Mereka memiliki motivasi yang tersembunyi saat mengikut Tuhan Yesus. Mereka terus menunggu sampai kapan cita-cita dan harapan mereka tergenapi melalui mengikuti Yesus. Petrus pernah berkata, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat. 19:27). Rasul Yakobus dan Yohanes pernah menginginkan posisi kanan dan kiri Yesus, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaanMu kelak, yang seorang lagi di sebelah kananMu dan yang seorang di sebelah kiriMu” (Mrk. 10:37). Lalu para murid juga bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?” (Mat. 18:1). Jadi semua murid memiliki motivasi tersembunyi dalam mengikut Yesus. Namun pupus sudah harapan mereka saat Yesus mati, mereka sedih sekaligus kecewa. Jika ayah kita meninggal, seharusnya yang ada hanyalah rasa sedih dan bukan rasa kecewa. Alkitab mencatat kekecewaan dua murid dari Emaus , “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” (Luk. 14:21). Dua orang murid ini saya tafsirkan masuk di dalam kelompok 70 murid. Setelah Yesus mati, Alkitab mencatat semua murid sedih dan meninggalkan Yesus. Yesus mencintai para murid sampai dihati-Nya yang terdalam. Meskipun murid agak lambat berpikir dan menyangkal, Yesus tetap mencintai mereka. Tidak ada motivasi tersembunyi dibalik kasih Yesus kepada murid-muridNya. Yesus terus berusaha membela keselamatan jiwa para muridNya, “Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” (Yoh. 18:8). Murid-muridpun dilepas dan pergi melarikan diri.


Yesus berkata, “kamu akan menangis dan meratap”. Seolah-olah para murid sangat mencintai Tuhan, namun tangisan mereka adalah tangisan yang tidak ada imannya. Saat mereka bersedih dan berkabung, mereka menutup pintu karena takut dengan orang Romawi. Bukankah hal yang wajar jika takut lalu mengunci pintu?  Perlu diingat bahwa saat mereka bersembunyi itu adalah saat kebangkitan Yesus. Yesus yang bangkit, datang menembus pintu dan mereka menyebutNya hantu (Luk. 24:37). Hal ini membuat Yesus sedih karena ketakutan dan kesedihan para murid justru membuktikan bahwa mereka tidak ada iman. Padahal Yesus sudah pernah mengatakan sebelumnya, Pada hari yang ketiga Ia akan bangkit (Luk. 18:33) dan “Tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.” (Yoh. 16:16).  Kesedihan murid diikuti dengan ratap tangis yang tidak ada iman di dalamnya. Oleh karena itu seseorang yang menangis tidak identik dengan betapa rohaninya orang tersebut. Saudara jangan tertipu dengan gereja yang heboh dengan menangis-nangis karena itu hanya fenomena, serta tangisan mudah menular dari satu orang kepada orang lain. Tangisan tidak membuktikan orang itu memiliki iman yang sejati. Yesus berkata, “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.” (Yoh. 16:20). Kesedihan yang terlalu memuncak akan membuat mata rohani tertutup melihat kemenangan Tuhan dan kesempatan untuk mengabarkan Injil. Hari Paskah / Kebangkitan Yesus adalah Hari Penginjilan, tetapi para rasul masih bersedih dan berkabung.

Sebelas rasul tidak lagi dapat menghibur orang lain bahkan mereka perlu dihibur karena mereka sedihnya sudah keterlaluan dan tidak berpengharapan. Yesus akan merubah dukacita mereka menjadi sukacita. Seperti ibaratnya seorang ibu hamil yang bersedih / berdukacita dengan sakit bersalinnya, namun begitu anaknya lahir, ibu tersebut akan senang sekali. Dan kesenangan ibu ini menghilangkan dukacita 9 bulan dia mengandung anaknya. Perjumpaan kembali dengan Yesus di saat kebangkitan Yesus inilah “Dukacita berubah menjadi Sukacita”. Namun, ironisnya, mengapa di Alkitab catat pada hari Kebangkitan pada pagi-pagi hari tersebut, tidak ada murid yang bersukacita? Para murid masih dalam suasana berkabung. Bukankah berarti di hari kebangkitan Yesus, murid tetap berdukacita? YA, karena mereka belum berjumpa dengan Yesus. Yesus berkata, “Tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.” Dan di situlah nanti “dukacita akan dirubah menjadi sukacita.” Waktu Yesus bangkit, Yesus menampakkan diriNya kepada para muridNya dan membuktikan bahwa Dia hidup. Mereka semua bersukacita setelah mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup. Lalu bagaimana dengan Saudara? Pernahkah Saudara merasakan bahwa Tuhan Yesus itu hidup?

Saat saya dahulu membaca tentang tiang awan dan tiang api yang memimpin orang Israel, saya tidak percaya hal itu bisa terjadi jaman sekarang ini, dan saya pikir konteks itu hanya untuk orang jaman dahulu. Setelah saya dan tim pergi KKR ke daerah-daerah terpencil yang tidak kami kenal, di sanalah saya merasakan penyertaan “tiang awan” dan “tiang api” yang tidak kelihatan yang telah menuntun kami kepada orang yang tepat dan sekolah-sekolah yang kami hendak tuju untuk kkr. Saat saya pelayanan jadi gembala di GRII Batam, saya dapat informasi di Selat Panjang banyak orang Chinese yang belum dengar Injil. Saya tidak tahu di mana letaknya Selat Panjang, lalu memutuskan untuk berangkat ke sana naik fery sekitar 4 jam dari Batam menuju Selat Panjang dengan ajak 1 orang jemaat mendampingi saya. Hanya berbekal satu nama gereja di sana dan nama seorang Pendeta di sana, maka kami berdua menuju ke sana. Selama di fery tersebut, sungguh sangat menderita dan membosankan, karena kursi tidak bisa dimundurin, sepanjang perjalanan lagu dangdut terus, dan kiri-kanan pemandangannya laut warna coklat. Di Selat Panjang saya tidak tahu mau kemana karena tidak pernah kesana. Sepanjang perjalanan berdoa, “Tuhan tuntunlah saya ke tempat yang tepat”. Begitu sampai di pelabuhan Selat Panjang, kami naik becak minta dibawa ke gereja tersebut. Lalu kami ketemu pendeta di sana dan majelis di sana untuk bicarakan kemungkinan saya akan KKR di sana. Lalu akhirnya kami bisa berkali-kali KKR ke Selat Panjang dan pulau-pulau sekitarnya melayani beribu-ribu siswa dan orang-orang dewasa di sana yang hampir seluruh yang hadir adalah non-Kristen. Setiap kali mengingat Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk takut-takut melayani Tuhan dan mengabarkan Injil. Amin? Kami KKR tidak ada yang sponsor, dan khotbah tidak dibayar. Jika ada gereja / sekolah yang memberikan amplop kepada pembicara, maka amplop itu kami berikan lagi kepada tim KKR untuk keperluan dana KKR. Sebagai pembicara, kami tidak menerima apa-apa dan sangat capek sekali tetapi pulangnya semua team sungguh bersukacita. Mengapa? Karena kami mengingat perjalanan kami disertai oleh Tuhan yang hidup. Kadang saya bertanya mengapa di khotbah KKR yang sederhana mengapa ada orang yang mau terima Tuhan Yesus bahkan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan? Jikalau Tuhan kita bukan Tuhan yang hidup, tidak mungkin akan menghidupkan rohani seseorang yang sudah lama mati. Ini yang benar-benar memberikan kami sukacita meskipun badan pegal-pegal serasa mau rontok, namun hati terus berkobar-kobar. Biarlah di hari Paskah ini kita menyaksikan Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, maka semua dukacita sekarang berubah menjadi sukacita. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#38 - 18/04/2010
"Panggilan Simson"
Ev. Alwi Sjaaf


 Hakim-hakim 13-17
Hari ini saya akan membagikan satu bagian firman Tuhan dari Kitab PL tentang seseorang yang bernama Simson. Menurut saya, cerita ini memiliki banyak sekali inti tentang kehidupan dan tentang pergumulan seseorang serta memiliki relevansi yang juga mirip dengan kehidupan kita sendiri. Saya akan membahas dari Kitab Hakim-Hakim pasal 13-17. Hakim-Hakim 13 menceritakan Simson yang memiliki ayah bernama Manoah dan seorang ibu yang mandul. Suatu hari, Malaikat Tuhan mendatangi istri Manoah dan mengatakan bahwa suatu saat ia akan melahirkan seorang anak. Cerita ini mirip dengan cerita Sara (ibu dari Ishak) dan Hana (ibu dari Samuel). Di sini dapat dilihat betapa besarnya Tuhan bekerja dalam hidup wanita seperti mereka. Saudara mungkin sering mengeluh karena tidak dapat berbagian dalam pelayanan Tuhan karena tidak memiliki kemampuan yang hebat. Namun di sini kita melihat Tuhan bekerja dan memakai orang tertentu yang tidak memiliki kemampuan apapun. Istri Manoah sudah lanjut umur dan tidak dapat melahirkan anak karena mandul. Orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang menyangka bahwa ia dapat mengandung. Seperti kita  yang mungkin jika bertemu dengan kondisi seperti itu akan menutup segala kemungkinan karena kita merasa lebih tahu dan lebih ahli dari Tuhan.


Dalam bagian ini kita melihat bagaimana Tuhan bekerja di rahim wanita yang sudah mandul untuk menghasilkan anak. Seorang anak yang nantinya akan mengubah sejarah kehidupan bangsa Israel di kemudian hari. Saya percaya bahwa tidak ada seorang anak yang dari lahir sudah dapat mengetahui apa tujuan hidupnya. Ini adalah persoalan klasik dalam dunia ini. Banyak orang yang dari anak-anak sampai dewasa tetap belum menemukan jalan hidupnya untuk melayani Tuhan dan bagaimana seharusnya ia berperan dalam hidupnya. Saya mengamati banyak anak kecil yang mau menjadi dokter jika besar nanti. Namun apakah benar bahwa menjadi dokter adalah panggilannya? Dalam bahasa Jerman, kata pekerjaan adalah Beruf. Dalam bahasa Indonesia artinya mirip dengan profesi. Mengapa saya menekankan kata Beruf ini? Karena Beruf ini diambil dari sebuah  kata rufen yang artinya panggilan. Kata panggilan sangat akrab terdengar dalam Theologi Reformed. Orang Reformed harus menyadari bahwa seluruh hidupnya adalah panggilan dari Tuhan. Menjadi tukang sapu pun termasuk panggilan Tuhan. Martin Luther mengatakan bahwa orang yang bekerja mencuci piring atau menyapu adalah sebuah ibadah. Di dalam hidup seseorang sesungguhnya tidak ada satu saat dimana ia tidak berhadapan dengan kehadiran Tuhan. Jangan pernah melihat seorang ibu rumah tangga seperti seorang ibu yang tidak ada gunanya.  Ketahuilah, tidak semua orang dipanggil untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Ada orang yang tidak dipanggil untuk menikah, ada orang yang dipanggil untuk menikah tetapi tidak memiliki anak, tetapi ada orang yang menikah dan memiliki anak. Jika Saudara mengerti panggilan hidup maka Saudara akan bersukacita dalam menjalankannya karena hidup Saudara bukan sekedar hidup yang lewat begitu saja tetapi dapat dipakai  untuk memuliakan nama Tuhan. Oleh karena itu, kita harus menjalankan panggilan hidup kita sesuai dengan apa yang Tuhan ingin kita kerjakan.

Saat saya bergumul tentang panggilan saya untuk menjadi hamba Tuhan. Saya pernah mengalami kondisi yang bingung karena ragu apakah saya harus menjalankan panggilan tersebut. Terus terang tantangannya berat dan sulit untuk menjadi hamba Tuhan apalagi di gereja Reformed yang memiliki tuntutan yang sangat besar.  Selain itu saya juga memikirkan segi ekonomi dan pola hidup yang berubah untuk menjadi hamba Tuhan.  Saat saya sedang bergumul, sahabat saya yang muslim mengatakan, “Alwi, banyak orang di dalam hidupnya sampai mati tidak pernah menemukan panggilan hidupnya menjadi apa. Namun jika kamu sudah menemukan panggilan hidup di usia sekian, hal itu adalah sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa.” Saya cukup malu mendengar perkataan itu, karena saya yang mengerti Teologia seharusnya lebih mengerti makna panggilan. Seharusnya justru saya yang memberitahukan dan mengingatkan bahwa orang yang sudah mengetahui panggilan dapat lebih bersyukur. Namun dia pribadi sadar bahwa dirinya belum terlalu jelas mengetahui panggilan hidupnya. Anak saya yang paling besar akan kuliah dan akan mengambil bidang Aristektur sama dengan saya.  Saat ia bergumul mencari bidangnya, saya mengingatkan jangan memilih arsitek atas dasar ikut-ikutan bidang ayahnya. Saat penjurusan di SMA, ia masuknya IPS sedangkan umumnya untuk kuliah arsitek harus lulusan IPA. Akhirnya ada kuliah yang mau menerima lulusan IPS dan saya melihat sendiri perjuangannya untuk menjadi arsitek. Saya bersyukur ia bisa menggumuli panggilan dirinya dan meresponinya.

Simson adalah orang yang dipanggil oleh Tuhan sejak sebelum dia lahir dan setelah besar ibunya sudah memberitahukan bahwa ia akan melakukan hal yang luar biasa kelak. Saat itu, umat Israel sedang berada dalam tekanan orang Filistin dan Simson dikatakan akan menjadi seorang nazir Allah untuk membebaskan Israel dari tangan orang Filistin (Hak. 13:5). Simson bukan orang yang dipanggil untuk menjadi orang yang bekerja dalam satu bidang pekerjaan untuk kepentingan pribadi tetapi  untuk kepentingan bangsanya. Simson diberikan tugas yang tanggung jawabnya sangat besar, yaitu membebaskan bangsa Israel umat pilihan Tuhan dari orang Filistin. Simson akan menjadi seorang Nazir. Nazir adalah seorang yang diberikan suatu tanggung jawab dan tugas untuk melayani Tuhan. Ada yang dipakai Tuhan hanya untuk kurun waktu tertentu dan ada yang seumur hidup dipakai Tuhan. Seorang Nazir tidak boleh minum anggur, tidak boleh makan makanan yang haram dan tidak boleh menyentuh mayat, serta tidak boleh menggunting rambutnya. Rambutnya harus dibiarkan tumbuh panjang, Nazir yang dicatat dalam Alkitab selain Simson adalah Samuel dan Yohanes Pembaptis. Kita sering berasumsi jika seseorang sudah diberitahu dengan jelas apa panggilan hidupnya maka hidup pasti akan tidak susah karena sudah tahu akan melangkah kemana. Apakah pendapat ini benar? Simson sudah mengetahui dengan jelas apa panggilan hidupnya, bahkan lingkungan keluarganya pun mendukung. Orangtua Simson mendidik Simson sesuai dengan apa yang Tuhan panggil. Manoah pernah bertanya kepada Tuhan bagaimana nanti hidup anak ini dan tingkah lakunya (Hak. 13:12) dan Malaikat Tuhanpun menjawabnya, “Perempuan itu harus memelihara diri terhadap semua yang Kukatakan kepadanya.” (Hak. 13:13). Di dalam ayat itu terdapat satu pesan yang sangat sederhana untuk mendidik seorang anak di semua jaman. Di jaman sekarang ini, segala informasi sangatlah mudah didapat dengan bantuan Internet dan HP. Hal ini tidak memungkinkan orangtua untuk mengontrol segala informasi yang diterima anak. Informasi dari hal paling baik dan hal paling buruk tersedia di internet. Hal ini sangat rentan si anak menjadi rusak secara pikiran dan moral.

Tuhan memberikan Manoah dan istrinya satu pesan yang sangat sederhana yaitu agar mereka hidup mengikut kehendak Tuhan.  Satu tips yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam. Bukan kehendak kita, bukan bagaimana cara membelikan barang kepada anak, mencarikan suster atau pembantu, tetapi satu hal yang harus kita kerjakan yaitu menjadi orangtua yang tunduk kepada kehendak Tuhan. Jikalau kita melakukan kehendak Tuhan maka anak kita seharusnya juga melakukan hal yang Tuhan kehendaki. Karena anak-anak akan melihat dan bercermin daripada orangtua. Di akhir pasal 13 dikatakan bahwa Simson mulai bertumbuh besar dan Roh Tuhan menyertai dia. Tuhan tidak pernah memanggil orang lalu kemudian menelantarkannya. Roh Tuhan akan menyertai orang yang telah dipanggilNya. Jikalau Saudara dipanggil untuk suatu pekerjaan dengan tanggung jawab yang sulit, maka Saudara harus percaya bahwa Tuhan mengiringi dan menyertai kita dalam melakukan pelayanan tersebut.
Simson telah mendapatkan berkat yang besar dari Tuhan, maka sudah seharusnya ia melangkah dan memulai untuk segera melakukan hal yang besar untuk Tuhan. Namun, dalam pasal 14 dicatat bahwa Simson justru  memilih untuk pergi ke sebuah kota yang bernama Timna dan jatuh cinta kepada seorang gadis Filistin. Bukankah seharusnya ia justru berperang melawan orang Filsitin? Bukankah saat bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, mereka pernah diingatkan Tuhan  untuk tidak kawin dengan bangsa lain? Tuhan menghendaki bangsa Israel menjadi sebuah umat yang suci dan pure bangsa sendiri. Meski orangtua Simson melarang hubungan mereka, namun Alkitab mencatat bahwa itu adalah dari Tuhan adanya. Tuhan mengijinkan Simson berlaku seperti itu untuk rencana-Nya. Dalam hidup ini, kita sering menghadapi persoalan yang kita pikir bahwa kita sudah benar untuk menjalankannya tetapi Tuhan terkadang tidak menyetujuinya. Dalam hal ini Tuhan menyetujui sikap Simson. Namun, saudara jangan memakai bagian cerita ini untuk membenarkan diri di saat melakukan hal yang kita tahu itu salah. Jangan melakukan pembenaran seperti ini untuk mengelabui dan membohongi Tuhan. Mengapa? Karena belum tentu panggilan hidup kita sama dengan Simson. Selain itu hidup Simson tidak selamanya berkenan di mata Tuhan. Di perjalanan selanjutnya, dicatat Simson yang lupa bahwa kekuatan yang diberikan oleh Tuhan ada batasnya dan Tuhan menarik semua anugerahNya.

Di perjalanan ke Timna bersama ibu dan ayahnya,  Simson bertemu dengan Singa dan mencabiknya dengan mudah, tetapi ia tidak memberitahu orangtuanya. Ini adalah unjuk kekuatan  Simson yang pertama. Lalu Simson mengadakan pesta dan mengundang 30 temannya, ia melakukan taruhan.  Jika dapat menebak teka-tekinya maka akan diberikan 30 kain lenan. Demi membela bangsanya, istrinya merengek minta diberitahukan rahasia teka-teki tersebut dan Simson memberitahukannya. Lalu istrinya memberitahu teman-temannya dan akhirnya teman-temannya memenangkan teka-teki. Simson menepati janji dengan membunuh 30 orang dan mendapati 30 pakaian lenan yang adalah pakaian kebesaran saat itu. Lalu karena kesal, Simson meninggalkan istrinya kepada teman-temannya dan membuat keributan lagi sehingga istri dan ayah istrinya dibakar mereka. Seharusnya dari kejadian ini membuat Simson aware dan menyadari kelemahannya terletak pada rengekan wanita. Ada pelajaran besar di hidupnya yang sudah ia alami tetapi ia tidak mengambil hal itu sebagai bahan pelajaran. Kita pun sering seperti Simson yang sudah mengetahui letak kelemahan diri, tetapi masih tetap tidak menyadari dan tidak berubah. Sampai saat tertentu Simson masih disertai oleh Roh Tuhan sampai satu waktu Simson bertemu dengan Delila. Iapun jatuh cinta lagi dan menyerahkan hatinya. Saat Delila merengek ingin diberitahu letak kelemahannya Simson pun memberitahu. Ia membocorkan apa yang menjadi rahasia hidupnya dengan Tuhan. Lalu Simson digunting rambutnya saat tidur dan orang Filistin menangkapnya. Simsonpun bangun dan berkata, "Seperti yang sudah-sudah, aku akan bebas dan akan meronta lepas. Tetapi tidaklah diketahuinya, bahwa TUHAN telah meninggalkan dia.” (Hak. 16:20).  Lalu Simson ditangkap orang Filistin.

Kita menyadari bahwa diri kita memiliki kelemahan dan  Tuhan masih terus menyertai. Mungkin satu kali, dua kali dan ketiga kali masih lewat tapi jangan kita terus mencobai Tuhan. Simson merasa mampu keluar dari persoalannya seperti yang sudah terjadi. Sama seperti kita yang sering mengandalkan kekuatan dan kemampuan diri baik itu berupa uang, kekuasaan, relasi dengan orang penting, dst. Kita pikir dengan semua itu mampu membawa kita keluar dari persoalan. Kita harus menyadari bahwa penyertaan Tuhan sajalah yang menjadi segala-galanya. Jika Tuhan pergi meninggalkan kita, apakah yang akan terjadi dalam hidup kita? Hal yang menjadi masalah dalam cerita Simson bukan sekedar hal rambut atau kekuatannya, melainkan hal dimana Tuhan meninggalkannya. Tuhan tidak lagi bertahta dalam hatinya. Ini adalah kondisi yang menyedihkan daripada kehilangan harta atau kekuasaan atau hal apapun dalam dunia. 
Siapakah manusia  sehingga ia dapat menyombongkan dirinya. Airport di Eropa yaitu Hitro dan Frankfurt terkenal dengan kesibukannya. Hampir setiap dua menit ada pesawat yang landing dan take-off. Namun apa yang dapat menghalangi semua itu sehingga membuat ribuan manusia tersangkut di sana? Seharusnya orang-orang dapat menyadari bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas setiap hal, tetapi memang wahyu umum tidak cukup untuk menyadarkan mereka untuk bertobat. Coba tanya berapakah orang yang tersangkut di airport akhirnya bertobat mengakui kebesaran Tuhan? Hampir tidak ada. Orang di dalam kondisi terburukpun belum tentu dapat tumbuh kesadaran dan iman untuk percaya Tuhan. Oleh karena itu, kita patut bersyukur  telah diberikan anugerah yang luar biasa yaitu dapat percaya kepada Tuhan.

Dalam cerita Simson, ia tahu bahwa dirinya diberikan kekuatan yang sangat besar. Namun hidupnya berakhir dengan mata yang buta, menjadi seorang penggiling di kuil, bahkan menjadi tontonan dan hiburan bagi raja-raja Filsitin. Saat itu Simson diberi sebutan pelawak. Sungguh ironis, dari seorang Nazir lalu berakhir menjadi seorang penggiling dan pelawak. Demikian pula dengan keadaan kita yang dari sekarang perlu mengintrospeksi diri dan bergumul mengenai panggilan kita. Apakah kita akan berakhir menjadi sama seperti Simson atau seperti Yohanes Pembaptis? Yohanes Pembaptis juga adalah Nazir. Ia taat dan setia memakai seluruh jiwa dan kekuatannya untuk melayani Tuhan. Yohanes Pembaptis konsisten menyelesaikan seluruh pekerjaan hidupnya dengan setia sampai kepalanya dipenggal. Sekali lagi kita melihat bahwa bukan orang yang diberikan anugerah yang luar biasa baru kita akan melayani Tuhan dengan baik. Itu hanyalah ilusi. Mengapa? Karena harapan itu mungkin saja dapat terjadi dan mungkin saja tidak terjadi. Mungkin saja Saudara akan melayani Tuhan dengan anugerah yang Tuhan berikan dan mungkin saja tidak. Mungkin saja dengan anugerah dari Tuhan kita tidak berespon seharusnya bahkan menjadi jauh dari Tuhan. Mari kita yang pernah berpikir demikian sebaiknya berhenti menuntut dan mempersalahkan Tuhan. Pak Tong selalu mengatakan semakin besar apa yang Tuhan berikan maka semakin besar pula tuntutannya. Itulah alasan mengapa Pak Tong bekerja sangat keras sampai hari ini. Ia tahu banyak yang Tuhan sudah berikan maka banyak juga yang dituntut dari dirinya. Ini pula yang menjadi satu tantangan kepada kita bagaimana kita bertanggung jawab terhadap beruf yang Tuhan berikan. Kita berdoa agar Tuhan tidak pernah meninggalkan kita seperti Tuhan meninggalkan Simson.

Pasca Pak Tong mempunyai satu pertanyaan besar. Akan kemanakah kita? Akan menjadi seperti apa kita? Akan terjadi seperti apa di gereja pusat di Kemayoran? Tidak ada yang tahu, Tetapi saat saya membaca kutipan Spurgeon yang saat ditanya, “Bagaimana kamu mempersiapkan pelayanan kamu pasca dirimu?” Ia menjawab, “Sebelum saya lahir, Tuhan sudah berkarya. Sesudah saya pergi, Tuhan tetap akan berkarya.” Amin? Itu yang harusnya kita miliki, satu komitmen di dalam hidup yaitu percaya jika Tuhan memberikan anugerah maka kita harus meresponinya dengan baik. Anugerah Tuhan tidak pernah terlepas dari diri kita. Kalau kita menjalankannya dengan kesungguhan hati, maka apapun yang Tuhan ijinkan, harus kita hadapi. Kita tahu perjalanan ke depan tidaklah mudah, tetapi Tuhan ijinkan semua itu ada dan Tuhan memanggil orang-orang untuk melayani. Tuhan memanggil saudara di MRII Kebon jeruk ini untuk aktif melayani. Tuhan mempunyai tujuan di dalam hidup kita masing-masing, tinggal bagaimana kita meresponinya. Saat orang iri hati dan mencoba menggagalkan misi Saudara? Bagaimana respon Saudara? Apakah seperti Simson yang dengan mudah jatuh kepada Delila?

Pada akhirnya, apakah Delila dan orang-orang Filistin benar-benar berhasil menang? Alkitab mencatat Simson merobohkan kuil itu dan orang yang mati lebih banyak jumlahnya dibanding saat Simson hidup sebelumnya. Di sini nyata bahwa pekerjaan Tuhan tidak pernah terhambat atau berhenti atau gagal karena kita tidak mau melayani Tuhan. Pekerjaan Tuhan tidak terbengkalai karena kita tidak mau berbagian di dalam pekerjaanNya. Pekerjaan Tuhan tidak pernah rusak karena ada orang yang mau merusaknya. Memang secara fenomenal terlihat Simson yang jatuh , tetapi bangsa Filistin dihancurkan oleh Tuhan. Meski Simson tidak kuat, Tuhan tetap memakai dan Tuhan tetap bekerja di dalamnya. Oleh karena itu, janganlah Saudara meragukan pekerjaan Tuhan dan mempertanyakan penyertaan Tuhan. Tuhan tidak buta, Ia hidup serta senantiasa menopang  hidup kita detik lepas detik. Saudara, tanggung jawab kita ke depan akan sangat besar tapi kita percaya dari apa yang telah dibahas bagaimana Tuhan menyertai dan bekerja. Sekali lagi, jangan kita berpikir kalau saja saya diberi ini maka saya akan hebat dipakai Tuhan. Delila adalah wanita yang diberi anugerah kecantikan sehingga Simson jatuh cinta kepadanya. Namun apakah ia berguna di hadapan Tuhan? Mari membuang semua ilusi kita dan hidup dengan apa yang Tuhan sudah berikan. Bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan, apapun bentuknya, bagaimanapun keadaannya dan responilah dengan baik dan benar di hadapan Tuhan. Terkadang dengan apa yang kita miliki justru membawa kepada kecelakaan. Seperti Delila yang menggunakan kecantikannya dengan salah.

Tuhan Yesus melakukan pekerjaan yang Allah berikan dari awal sampai akhir hidupnya dengan taat. “Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa yang mengutus AKu.” (Yoh. 5:36). Tuhan Yesus mengerjakan pekerjaan yang Allah berikan dengan segenap hatiNya dengan penuh ketaatan dan setia, karena Ia tahu itu akan menjadi kesaksian BapaNya. Simson dan Yesus memberikan kepada kita satu pelajaran bagaimana seharusnya kita meresponi pekerjaan yang Tuhan berikan kepada kita. Kita sepatutnya melaksanakan dan menjalankannya karena Ia adalah Tuhan kita. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#37 - 11/04/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #1"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1:1-7, Yesaya 6:8-10
Selama beberapa bulan ini saya secara khusus akan mengeksposisi kitab Yunus sampai selesai. Hari ini adalah permulaan kita mengeksposisi kitab Yunus dan kali ini saya akan mengkhususkan di ayat 1-3. Sebelumnya, bandingkan dengan Yes. 6:8-10. Saya sangat tersentuh sekali saat pertama kali membaca kalimat, “Siapakah yang akan Kuutus? (Yes. 6:8a). Mengapa Tuhan sampai bertanya demikian? Bukankah Tuhan dapat langsung memakai seluruh ciptaanNya untuk melakukan yang Ia inginkan? Tuhan seharusnya tidak perlu meminta ijin dari ciptaanNya. Jika Tuhan ingin memakai satu tanah agar gerejaNya berdiri, maka pasti dapat langsung terjadi. Tidak perlu meminta ijin dengan manusia yang hanya menumpang, manusia tinggal diusir jika Tuhan mau pakai. Tuhan sudah ciptakan dunia ini, Tuhan ciptakan tanah, lalu manusia tinggal diatas tanah tersebut dan memiliki tanah. Suatu saat orang Kristen ingin membangun gereja Tuhan, gereja harus minta ijin dengan tetangga sebelahnya. Bukankah tanah adalah ciptaan Tuhan dan seharusnya Tuhan bisa langsung mendirikan gerejaNya? Namun Tuhan tidak memakai cara kekerasan seperti itu. Tuhan memang sudah menciptakan manusia dan Tuhan memang berhak langsung memakai seluruh manusia untuk aktif melayani Tuhan. Tapi Tuhan tidak memakai cara paksa seperti itu. Yang Tuhan pakai adalah cara menawarkan. Oleh karena itu saya sangat tersentuh dengan kalimat, “Siapakah yang akan Kuutus?”. Mengapakah Tuhan share isi hatiNya kepada sebagian orang dan tidak ke semua orang? Orang yang Tuhan share saat itu adalah Yesaya. Tuhan share bukan karena Yesaya baik atau hidupnya suci. Yesaya adalah orang yang suka memaki-maki, namun Tuhan masih bersedia share kepadanya. Setelah Yesaya mendengar isi hati Tuhan, Yesaya pun takluk di hadapan Tuhan dan menjawab, “Ini aku, utuslah aku.”. Inilah yang membuat saya sangat kagum dengan Yesaya. Banyak orang yang tahu Tuhan membutuhkan pelayan, tapi  sengaja tidak mau dipakai melayani Tuhan. Keberanian Yesaya ini luar biasa sekali, karena dapat langsung mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Yesaya tidak mengkhawatirkan bagaimana keluarga, ternak dan hartanya kelak jika dia ikut dalam misi Tuhan yang sangat besar itu.

Saat saya kecil, saya senang sekali nonton serial TV “The A-Team”, jaman sekarang seperti film Charlie’s Angels. Salah satu  bagian yang saya senang yaitu waktu pertama kali mengumpulkan tim. Awalnya mereka sebagai orang biasa, lalu ada satu orang yang datang mencari orang yang sesuai masuk dalam tim nya. Orang itu ditawarkan dan akhirnya memutuskan tinggalkan semua pekerjaan dan bergabung dalam tim itu untuk melakukan misi besar. Sama seperti kondisi sekarang, Tuhan mempunyai misi yang besar dalam dunia, Tuhan juga yang merekrut manusia untuk diterjunkan di dalam ladang misi itu. Namun seringkali saat Tuhan merekrut, manusia banyak yang menolak bahkan melarikan diri. Tuhan tidak memakai cara paksa, Tuhan menawarkan. Hanya orang-orang tertentu dapat berkata, “Ya Tuhan, di sini saya”. Salah satunya adalah nabi Yesaya. Tuhan tidak langsung senang dengan jawaban Yesaya "Ini aku, utuslah aku!". Tuhan membukakan satu ladang misi yang kelak akan Yesaya layani, yaitu ladang misi yang sulit luar biasa, “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh." (Yes. 6:9-10). Setelah dibukakan ladang yang sangat sulit itu, Yesaya dihadapkan dengan keputusan untuk tetap  maju atau mundur. Saya sungguh bersyukur Yesaya memilih untuk tetap maju meski ia tahu ladang di depan sungguh tidak enak. Banyak orang yang mau melayani Tuhan dengan sikap rohani menanyakan job-desc yang dapat dilakukannya. Namun setelah dijabarkan  job-desc nya, dia langsung menimbang-nimbang untung rugi. Sehingga tidak jarang dijumpai orang-orang memakai alasan, biar dia melayani di belakang layar saja. Orang yang melayani di belakang layar itu kayak cicak yang bersembunyi. Menjadi cicak membuat orang tersebut merasa aman, tidak butuh pengorbanan dan komitmen yang sulit namun dapat disebut melayani. Rapat tidak merasa perlu datang, tidak ikut ambil pusing dengan masalah, tunggu saat dirinya diperlukan baru maju dengan alasan tidak mau menonjolkan diri, Tuhan yang semakin besar, dan dirinya semakin kecil. Bagi saya, ini hanya alasan supaya bisa kabur. Pelayanan sepeti ini siapapun bisa. Pergumulan dan keterlibatan dalam  menyusun acara sampai acara jadi lah yang harus diikuti karena di dalamnya ada pimpinan Tuhan yang dapat kita saksikan. Maka saat Tuhan bertanya “Siapakah yang akan Kuutus?” kita dapat berespon dengan benar dan menjawab, “Ini aku, utuslah aku”.

Tuhan share kepada Yesaya, Yesaya menangkap dan merespon dengan baik. Respon kedua dari orang yang telah mendengar isi hati Tuhan adalah dari sikap Yunus yang menolak panggilan Tuhan. “Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:1-2).  Tuhan telah membukakan bahwa ada satu ladang misi yang begitu besar di Niniwe.  Di dalam pelayanan, terkadang Tuhan tidak pernah memberitahukan ke arah pelayanan yang di tuju, tetapi terkadang Tuhan memberitahu arah pelayanannya. Saat Abraham keluar dari Ur-Kasdim, Tuhan tidak kasih tahu secara detail ke mana dia harus pergi. Abraham tidak tahu bahwa ia akan menuju ke tanah Kanaan, Abraham hanya tahu akan menuju ke negeri perjanjian, tapi negeri yang mana ia tidak tahu. Jadi Abraham waktu berangkat belum tahu lokasi tujuannya secara tepat,  tetapi dia taat. Berbeda dengan Yunus yang diberi kejelasan tempat tujuan misi Tuhan. "Bangunlah,  pergilah ke Niniwe” (Yun. 1:2). Kalimat ini sangat menyentak saya karena kalimat ini mengandung desakan dari Tuhan untuk tidak boleh lambat-lambat, harus segera bangun, dan segera pergi. Di awal, Alkitab mencatat “Yunus bin Amitai” yang sebenarnya dapat dipakai untuk Yunus beralasan, “Tuhan, saya anak Amitai, saya memiliki keluarga dan orang tua. Nanti kalau saya pergi, mereka bagaimana?” Saya melihat banyak orang yang mau menyerahkan diri menjadi full-time akhirnya gagal karena ikatan keluarga. Ikatan keluarga ini adalah ikatan yang sudah sangat mengikat manusia, dan ikatan ini harus “diputuskan”. Diputuskan bukan berarti putus hubungan dengan keluarga, tetapi mencintai Tuhan melebihi seluruh keluarga. Porsi cinta lebih besar diserahkan kepada Tuhan yang sejati, sehingga lebih taat kepada Tuhan daripada taat kepada manusia. Kalau tidak “diputuskan”, maka tidak mungkin taat kepada Tuhan. Kecenderungan semua orang yang sulit melangkah melayani Tuhan sampai ke depan, yaitu ikatan keluarga. Kadang-kadang orangtua tidak setuju, orangtua sudah tua atau sedang sakit. Kadang-kadang istri sedang hamil, anak masih kecil, bahkan pembantu belum balik dari liburan lebaran-pun dapat menjadi alasan.

Kita cenderung memakai yang namanya “keluarga” untuk mengikat kita, sehingga akan sulit untuk menjalankan perintah Tuhan. Namun Saudara lihat saat Tuhan memanggil Yunus. Yunus tidak memakai alasan keluarga. Berarti di satu sisi Yunus lulus dengan gemilang karena dia tidak terikat dengan urusan keluarga.

Lalu apa alasan  Yunus menolak diutus ke Niniwe? Jawabannya karena Yunus diikat oleh sentimen pribadi. Inilah yang paling sulit. Menyelesaikan ikatan keluarga tidak sesulit menyelesaikan sentimen pribadi. Saya pernah bertemu dengan seorang Bapak di Rumah Sakit. Waktu saya bicara dan mau doakan dia, dalam hatinya seperti ada satu kekesalan yang disimpan. Saya ajak bicara dan ia berkata, “Saya sampai hari ini tetap benci satu orang. Dia tidak tahu diri, waktu susah saya tolong. Giliran dia sudah enak, dia menghina keluarga saya dan lupa jasa-jasa dan budi waktu saya tolong dia. Saya penasaran dan bertanya dimana orang itu sekarang. Ia jawab, “Sudah mati 3 tahun lalu”. Saya kaget, orangnya sudah mati 3 tahun tapi bencinya masih hidup. Sentimen pribadi membuat seseorang sulit untuk dipakai oleh Tuhan. Di dalam pelayanan pastilah akan terjadi clash antara satu orang dengan yang lain dan respon orangpun macam-macam. Ada  yang semakin dipertajam dan bersyukur telah mengalami  clash. Seperti Alkitab telah catat, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Ams. 27:17). Sebagian lagi berespon akan pindah Gereja karena tidak suka dengan clash itu. Orang itu ingin pindah ke gereja mana pasti clash, karena mungkin ia penyebab clash itu. Setiap gereja memiliki kelemahan yang sangat besar. Jika Saudara perhatikan gereja-gereja di Indonesia atau di dunia ini, memiliki banyak kelemahan. Jadi jangan Saudara mengira jika melihat gereja ada yang tidak beres di dalamnya, berarti gereja yang tidak beres. Justru mungkin karena kehadiran kita yang membuat gereja menjadi tidak beres. Pdt. Stephen Tong pernah memberi contoh: Saat A masuk ke satu toilet yang sangat bau. A complain, “Bau sekali sih!” lalu dia tetap buang air di situ. Setelah dia keluar baunya double, karena dia telah menambah kotoran di sana. Lalu orang berikutnya datang komplain lagi, buang air juga, dst. Jadi jangan Saudara mengira bahwa kehadiran Saudara dapat membuat gereja bertambah baik.

 Sentimen pribadi mengikat seseorang untuk sulit sekali dalam  melayani Tuhan. Yunus mempunyai satu sentimen yang belum dibereskan di hadapan Tuhan. Tuhan mengetahui Yunus sentimen dengan Niniwe dan Tuhan justru sengaja memberi Yunus panggilan ke sana. Saat diutus, Yunus harus memutuskan untuk taat dan membereskan sentimennya atau tidak. Tuhan tidak sedang bertujuan untuk memprovokator tetapi Tuhan memiliki maksud untuk menegur dan mengoreksi Yunus. Maka Saudara bersyukurlah  jika Tuhan masih menegur dan mengoreksi hidup Saudara. Jika Yunus tidak diutus ke sana maka seumur hidup Yunus tidak bersumbangsih apa-apa sebagai nabi Tuhan. Mengapa Yunus terkesan ngotot tidak mau pergi ke Niniwe? Saat Israel hidup nyaman di tanah perjanjian, muncul raja-raja lalu terjadi perbudakan penaklukkan oleh bangsa yang lain. Kerajaan Utara (Samaria) ditaklukkan oleh Asyur, lalu seluruh orang Samaria dibawa ke Asyur untuk dijual dan dijadikan budak dan terjadi kawin campur. Maka tidak heran jika penduduk Samaria sangat dibenci oleh orang Yahudi karena dianggap sudah tidak lagi murni Yahudi dan sudah tercemar oleh bangsa kafir. Sebagian yang sudah ditawan dijadikan budak dan istri di tanah Asyur dan sisanya dibiarkan di Samaria untuk kawin campur. Hal ini membuat Yahudi sangat membenci bangsa Asyur. Mereka berpikir bangsa-bangsa penjajah sudah pernah menjajah nenek-nenek moyang kita, maka jangan biarkan mereka diselamatkan oleh Tuhan. “Kemudian majulah raja Asyur menjelajah seluruh negeri itu, ia menyerang Samaria dan mengepungnya tiga tahun lamanya. Dalam sembilan zaman Hosea maka raja Asyur merebut Samaria. Ia mengangkut orang-orang Israel ke Asyur ke dalam pembuangan dan menyuruh mereka tinggal di Halah, di tepi sungai Habor, yakni sungai negeri Gozan, dan di kota-kota orang Madai” (2 Raj. 17:5-6). Saat itu Raja Hosea adalah raja terkahir kerajaan Utara. “Raja Asyur mengangkut orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim, lalu menyuruh mereka diam di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel; maka orang-orang itupun menduduki Samaria dan diam di kota-kotanya.” (2 Raj. 17:24). Jadi Israel ditawan di daerah Asyur dan terjadi perkawinan campur di tanah Samaria dan mereka beribadah kepada ilah-ilah palsu. Sejarah mencatat bahwa bangsa Asyur memiliki cara pembunuhan yang sangat kejam, misal: Membunuh orang dengan diikat lalu ditarik oleh 4 kuda dari 4 arah, membunuh dengan menguliti, memotong dan kekejaman lainnya dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu, Yunus memiliki dendam pribadi kepada bangsa itu. “Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis” (Yun. 1:3). Setelah Tuhan mengutus, Alkitab mencatat  Yunus langsung pergi meski bukan ke Niniwe. Yunus bukan mempunyai satu kelemahan fisik, Yunus bukan orang malas, tapi dia orang yang rajin. Ia  siap pergi dan siap diutus asal tidak pergi ke tempat yang Yunus sentimenkan itu. Tuhan sudah bukakan misi, tapi justru Yunus melarikan diri dari misi. Namun perhatikan disini, Tuhan terkadang memberikan damai sejahtera kepada orang yang melarikan diri dari panggilan Tuhan. Satu sisi Tuhan memberikan kegelisahan untuk orang yang lari dari panggilanNya. Di sisi lain terkadang Tuhan tidak berikan kegelisahan melainkan kelancaran untuk orang yang melarikan diri.

Tuhan memberi banyak kelancaran kepada Yunus.

Pertama, Tuhan memberikan Yunus stamina untuk menuju ke tempat yang sangat jauh. Tarsis adalah  ujung bumi pada jaman itu. Yunus yakin bahwa dia dapat lari ke tempat yang jauh dan untuk itu, ia butuh stamina yang kuat. Tuhan ijinkan Yunus mempunyai stamina yang kuat. Terkadang Tuhan memberi kita kekuatan sebagai ujian apakah kita memilih taat untuk melayani atau tidak.

Kedua, sampai di kota pelabuhan Yafo, Yunus mendapati kapal yang juga akan ke Tarsis. Jaman sekarang untuk naik kapal di pulau atau daerah harus lihat jadwal dahulu, itupun masih perlu lihat faktor lain seperti badai, air pasang, dsb. Bandingkan, kondisi demikian di jaman sekarang dengan kondisi jaman Yunus jaman dulu. Jaman itu untuk menunggu satu kapal perlu waktu yang sangat lama butuh waktu berbulan-bulan. Yunus saat itu tidak  mengetahui jadwal keberangkatan kapal di pelabuhan Yafo. Yunus merasa dengan segala kelancaran yang dialaminya, Tuhan masih berkenan. Demikian juga dengan kita, jangan saudara mengira hidup yang sudah lancar dan usaha yang diberkati menandakan bahwa Tuhan menyertai. Justru sebenarnya itulah ujian dari Tuhan.

Ketiga, Yunus diberi kelancaran dalam hal biaya perjalanan. “Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.” (Yun. 1:3). Jaman dulu untuk mendapatkan uang sangatlah sulit, mengambil uang yang dibutuhkan harus pulang dulu karena tidak ada mesin ATM, namun Yunus saat itu memiliki uang untuk pergi ke Tarsis (ujung bumi). Di Dalam PB, Tarsis adalah Spanyol dan jika dilihat dari peta jaraknya sangatlah jauh. Perjalanan yang sangat jauh pastilah membutuhkan harga tiket yang sangat mahal, belum lagi biaya lainnya dan Yunus memiliki uang untuk membayar seluruh biaya itu. Yunus membutuhkan stamina, kapal, uang dan Tuhan memberikan itu semua.

Dalam pelayaran Yunus tidak sendiri, ia bersama-sama dengan orang banyak sehingga Yunus merasa cukup nyaman.  Saat Yunus mulai berlayar melarikan diri, sesungguhnya  itu adalah hari dimana ia paling kasihan. Barangsiapa yang makin hidup, makin menjauh dari Tuhan, orang itu akan mengalami kesusahan yang makin besar. Mungkin Yunus berpikir dengan meninggalkan daratan maka masalah akan selesai. Justru mulai hari itulah dia akan mengalami kesulitan yang baru, yaitu nanti Tuhan akan datangkan badai. Saudara jangan mengira kalau keadaan sudah lancar, sudah enak maka kelak tidak akan ada kesulitan, justru Tuhan akan memunculkan kesulitan baru yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Tuhan memakai cara yang ajaib luar biasa dalam menghajar orang-orang yang Dia mau pakai, untuk membenahi konsep mereka. Meskipun manusia keras kepala, Tuhan tetap sabar menunggu orang itu berubah pelan-pelan. Dengan satu sinyal, 2 sinyal, dst, sampai akhirnya Yunus mau tidak mau harus taat. Di dalam khotbah-khotbah berikutnya kita akan mempelajari sinyal-sinyal yang Tuhan berikan. Ini menarik sekali. Harap Saudara juga mempersiapkan dengan mempelajari kitab Yunus.  Nanti saudara akan menyadari betapa sukacitanya orang yang dipanggil oleh Tuhan dan taat. Yang tidak taat dia akan seperti Yunus ini.

Sebelum saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan, saya bukan orang yang taat, untuk menjadi hamba Tuhan perlu pikir panjang. Tahun  1992, ada retreat Camp Nasional di Binus yang diadakan oleh Perkantas dan setiap kali ada retreat nasional saya pasti ikut. Saat sesi malam, seorang hamba Tuhan  khotbah mengenai Abraham dengan menunjukkan satu peta. “Lihat! Abraham sudah sampai ke tanah perjanjian, lalu karena ketidaktaatan dia, dia turun ke tanah Negeb. Muncul kelaparan dan ia mengungsi ke Mesir. Lalu akhirnya Abraham dipermalukan dan diusir keluar Mesir. Lalu dia balik lagi ke tanah Kanaan. Mengapa Abraham sampai diusir dari Mesir padahal sudah sampai di tanah Kanaan? Karena ketidaktaatannya.” Khotbah itu saya sangat ingat dan berpikir untuk taat, kalau tidak taat akan mengalami masalah yang baru. KKR sudah dilangsungkan, lalu calling dan saya angkat tangan untuk panggilan menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Ini benar-benar pikul salib dan pengen nangis. Waktu saya tinggalkan semua kerjaan saya, saya sedang jadi Manager dengan gaji berjuta-juta. Sayapun tinggalkan semua, bekerja menjadi staff di Institute Reformed dengan gaji yang sangat minim. Setiap bulan saya lewati dengan setengah mati, dan Tuhan pimpin semuanya bisa saya lalui. Saya yang mengatur rekaman setiap sesi kuliah, pasang kabel dan lepas kabel, menerima pendaftaran mahasiswa, laporan keuangan, dan mempersiapkan makanan mahasiswa yang kuliah malam, dll. Saya kerjakan itu 2 tahun dan saya staff pertama di Institute Reformed. Itu betul-betul mau teteskan air mata setiap malam. Pagi mesti ngantor, lalu transcript seluruh khotbah-khotbah / kuliah-kuliah, lalu menyampul buku perpustakaan hingga 2000 buku. Sampai akhirnya baru ada staff tambahan yang direkrut masuk. Mengapa Gereja sulit cari staf? Karena banyak orang lebih siap kerja di dunia sekuler daripada di Gereja, karena di Gereja gajinya kecil. Untuk itu, mesti ada yang bayar harga dan berkorban tidak mementingkan untung rugi diri sendiri. Intinya harus taat. Amin? Saya pikir-pikir, kalau dulu saya tidak taat dan tetap bekerja di kantor lama saya yang lokasinya dekat dengan Business Park (di belakang Intercon), sekarang saya ada dimana ya? Kantor saya yang dulu sudah tidak ada lagi. Karena saya taat menjalankan panggilan Tuhan, saya sekarang baru bisa ada di Business Park menjadi Gembala Sidang MRII Kebon Jeruk. Tuhan pimpin, yang penting taat. Amin? Dulu saya berpikir, “Tuhan, kapan saya bisa nikah dengan kondisi gaji pas-pas-an? Kalau sudah nikah, gimana besarkan anak? Kalau anak sudah besar, gimana sekolahnya?” Sangat pusing memikirkan semua itu, tapi tetap jalanin saja, akhirnya saya menikah juga. Waktu ingin punya anak, lihat harga susu bayi mahal minta ampun dan berpikir “kalau begitu tidak mungkin punya anak dulu.” Akhirnya Tuhan pimpin setahap demi setahap sampai sekarang sudah 4 anaknya. Setelah itu saya tidak pernah pusing lagi, anak sekolah dimana, kelak kuliah di mana. Sekarang ada kesusahan di depan, tidak pernah akan takut lagi, karena Tuhan sudah latih dengan kesusahan di hari-hari belakang saya dulu dan semua sudah dilewati. Intinya taat, kalau tidak maka hidup akan susah. Di dalam ketaatan itulah kita akan melihat penyertaan Tuhan yang hidup dan kita terus bersyukur. Kalau Saudara taat, Tuhan akan menuntun ke dalam jalan yang Tuhan tetapkan. Yunus tidak taat, apakah kapal akan membawa dia ke Tarsis? Nanti minggu depan akan kita lanjutkan bahwa Tuhan kirim sinyal untuk mengingatkan Yunus. Tuhan cinta Yunus. Tuhan kirim sinyal. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#39 - 25/04/2010
"Providence & Suffering"
Pdt. Liem Kok Han, S.Th.


 Kejadian 12:7-20
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, hari ini kita akan merenungkan sebagian perjalanan Abraham sebagai orang yang percaya kepada Tuhan. Di dalam Alkitab, Abraham merupakan seorang tokoh iman yang sangat penting. Sekilas kita tahu bahwa Abraham adalah orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Di sisi lain, kita melihat bagaimana Tuhan memproses dia sehingga akhirnya Abraham disebut sebagai Bapa orang beriman. Untuk membentuk seorang yang berkarakter serta beriman seperti Abraham diperlukan proses yang panjang.

Di dalam mendidik anak, pasti ada harapan kelak nanti si anak dapat menjadi anak yang berpendidikan dan berpengetahuan. Oleh karena itu sejak kecil orang tua berusaha untuk mentransfer pengetahuan. Secara umum, sekolah-sekolah mengajarkan knowledge / pendidikan secara akademik, dengan harapan kelak si anak menjadi berbijaksana dan berhikmat. Maka tidak heran, jika orangtua berani investasi besar agar anak mendapatkan sekolah yang baik. Orangtua berpikir bahwa memiliki knowledge saja tidaklah cukup tapi butuh sesuatu yang dapat langsung diaplikasikan. Oleh karena itu mereka mendidik juga dalam hal skill dan keterampilan tertentu. Jadi bukan hanya dituntut dalam hal IQ tetapi juga dalam hal kemampuan. Di samping semua itu, orangtua harus mendidik dan mentransfer dalam hal karakter dan iman kepercayaan. Salah satu rektor universitas mengatakan bahwa tugas seorang guru yang pertama adalah mentransfer knowledge, kedua mentransfer skill, ketiga transfer karakter. Yang paling sulit adalah transfer karakter. Transfer knowledge hanya tinggal mengajar, anak menangkap secara kognitif dan menjadi mengerti dengan apa yang diajarkan. Untuk melatih skill, kecakapan lebih sulit lagi dan lebih sulit lagi dalam mentransfer karakter. Untuk anak memiliki moral dan karakter hidup yang baik tidaklah mudah dan diperlukan proses yang tidak instant. Jika kita mengenal Abraham sebagai Bapa orang beriman, itu semua terjadi karena Tuhan memprosesnya.  Abraham diproses Tuhan sehingga dapat menjadi seorang yang berkarakter dan beriman serta menjadi teladan iman hingga hari ini.



Hari ini saya akan berbicara mengenai, Providence of God and Suffering. Mengapa penderitaan? Karena penderitaan adalah alat Tuhan untuk pembentukan anak-anakNya. Abraham adalah seorang yang satu keluarganya dipanggil oleh Tuhan. Saat itu Abraham tinggal di Ur-Kasdim, Mesopotamia. Ia dari keluarga yang percaya kepada ilah-ilah, bukan kepada Allah. Abraham dipanggil dari Ur-Kasdim, lalu ke Haran, kemudian ke tanah Kanaan. Saat memanggil Abraham, Tuhan memberikan visi yang sangat jelas, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat (Kej. 12:2). Tuhan memanggil, memberi visi yang sangat jelas. Abraham melangkahkan imannya serta taat kepada panggilan Tuhan menuju ke visi tersebut. Abraham meninggalkan Ur-kasdim, membawa istrinya dan juga beserta Lot keponakannya. Di setiap tempat perjalanannya, Abraham belajar untuk taat dengan membangun mezbah menyerukan nama Tuhan. Pada waktu Abraham dipanggil, dia adalah orang yang beriman tetapi imannya belum matang dan belum dewasa. Maka Tuhan mendidik ia untuk menjadi orang beriman yang taat kepada Tuhan melalui penderitaan (suffering). 

Dalam Kej. 12:7-20 diceritakan saat itu di Negeb sedang terjadi bencana kelaparan yang sangat besar. Arti Negeb sendiri adalah kering. Inilah awal suffering Abraham. Saat itu kelaparannya bukanlah kelaparan biasa tetapi bencana kelaparan yang hebat. Bencana yang sama yang pernah dialami sebelumnya di jaman Yusuf (kekeringan 7 tahun). Ini adalah bencana yang rutin dan dapat diprediksi kejadiaannya. Saat itu tampaknya Tuhan silent dan tidak berkata apa-apa. Saat itu Tuhan sedang tidak berbicara bagaimana mengatasi pergumulan yang terjadi. Padahal sebelumnya Tuhan berkata, “Aku akan memberkati engkau dan akan membuat namamu masyur” (Kej. 12:2). Belum lama Tuhan berkata demikian tetapi bencana terjadi. Abraham dan seluruh keluarga serta budaknya otomatis mengalami bencana tersebut. Janji yang begitu besar, tetapi tidak sesuai dengan realita saat itu. Abraham mengalami bencana dan Tuhan sepertinya berdiam diri. Mungkin kitapun demikian, mengalami masalah dan pergumulan yang berat dan sudah membawanya ke dalam doa. Namun Tuhan seperti tidak peduli dan tidak menjawab doa. Orang-orang di sekeliling tidak dapat membantu, membuat hidup seperti berjalan sendiri dalam pergumulan. Abraham mengalami situasi seperti demikian. Dia merasa alone, sendiri dan sulit untuk menghadapi hidup. Tuhan sepertinya silent dan tidak memberi petunjuk untuk melangkah di tengah bencana itu. Abraham harus memikirkan bukan saja kepentingan dirinya tetapi juga kepentingan seluruh anggota keluarga, budaknya bahkan nasib keluarga budaknya serta ternaknya. Ia sadar bahwa sebagai seorang pemimpin, ia harus bertanggung jawab atas nasib mereka. Abraham adalah seorang ayah yang baik yang memikirkan nasib istri anak dan orang di sekitarnya. Abraham memikirkan suatu kelompok yang besar dan ia merasa bertanggung jawab karenanya. Ia pun mencoba berusaha dengan kemampuannya untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan.

Abraham menggunakan common sense-nya (akal sehat) untuk mengatasi krisis dalam hidup. Setiap manusia sudah diberikan potensi dasar oleh Tuhan untuk survive (bertahan hidup) dalam hidup ini dan terkadang Tuhan membiarkan kita bergumul sendiri. Saat Tuhan mengijinkan situasi  yang berat menimpa kita, sesungguhnya Tuhan sudah memberikan potensi dan Tuhan ingin kita menggunakan talenta dan kapasitas yang sudah dikaruniakan untuk mengatasi krisis dalam hidup kita. Alkitab berkata, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.” (1 Kor. 10:13). Amin? Abraham menggunakan common sense-nya saat mengalami krisis itu dan mengambil kesimpulan bahwa Ia harus pergi ke Mesir. Tuhan pernah menegur Ishak agar jangan pergi ke Mesir (Kej. 26), tetapi kali ini Tuhan tidak berbicara kepada Abraham dan seolah-olah Tuhan diam (God is silent). Orang percaya saat mengalami pergumulan, biasanya  membuka Alkitab untuk mencari petunjuk Tuhan, lalu langsung dapat petunjuk Tuhan. Seolah-olah ia rasa sudah benar tetapi jika mendapatkan ayat, “Lalu Yudas menggantung diri” maka apakah akan tetap Saudara lakukan?  Bukan seperti itu caranya Saudara.

Abraham bergumul tetapi tidak ada Firman dan akhirnya ia mengambil keputusan sendiri. Kadangkala saat kita mengambil keputusan sendiri, kita mengambil keputusan yang pada umumnya orang menyelesaikan krisis dalam hidup ini. Secara manusia tidaklah salah Abraham mengambil keputusan ke Mesir. Mengapa Abraham memilih ke Mesir? Karena Mesir secara umum saat itu ibarat “negara Superpower” yang terkenal memiliki sikap ramah tamah dan suka menolong negara-negara yang mengalami kesulitan. Sehingga tidaklah heran saat bencana kelaparan hebat melanda di jaman Yusuf, maka Yakub beserta keluarganya pergi ke Mesir mencari perlindungan. Sehingga secara logika manusia, Abraham tampak sah-sah saja dalam memutuskan untuk pergi ke Mesir. Lagipula Tuhan tidak melarang atau memberikan petunjuk apapun. Tidak sejelas Ishak yang diberi petunjuk, “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kej. 26:2).

Saat pergi ke Mesir, yang menjadi pergumulan Abraham adalah karena istrinya cantik. Memiliki istri yang cantik adalah keuntungan sekaligus bahaya. Abraham sudah survey dan sudah mengetahui bahwa Firaun senang dengan wanita cantik. Oleh karena itu ia bersama dengan istrinya Sara menyusun strategi agar Sara mengaku Abraham sebagai saudara. Secara garis keturunan memang mereka bersaudara tetapi saat itu sudah berubah menjadi istri Abraham, Abraham berpikir jika dirinya mengaku sebagai suami Sara maka Firaun akan membunuhnya dan mengambil Sara sebagai istrinya. Jika ia mengaku sebagai saudara Sara, maka Abraham dapat selamat dan akan diberi hadiah seperti kebiasaan saat itu. Rencana tersebut bukan berarti Abraham benar-benar menyerahkan Sara kepada Firaun. Abraham memiliki strategi mengulur-ulur waktu untuk mencari kesempatan lari meninggalkan Mesir. Pada akhirnya memang kecantikan Sara sampai ke telinga Firaun dan Firaun tertarik kepadanya. Sara langsung dikarantina dan ini merupakan hal diluar rencana Abraham. Ia telah mengambil keputusan yang ceroboh dan beresiko menghancurkan rencana Tuhan. Tuhan pernah berfirman menjadikan Abraham untuk menjadi bangsa yang besar. Seharusnya Abraham beriman dengan janji Tuhan, “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.” (Kej 12:3). Abraham telah meragukan kesetiaan pemeliharaan Tuhan. Bayangkan jika Sara benar menjadi istri Firaun dan melahirkan anak Firaun. Akan menjadi bangsa seperti apakah nantinya?

Demikian juga dengan kita. Di dalam mengambil keputusan sehari-hari, tanpa sadar keputusan kita dapat merusak rencana Tuhan. Kelihatannya keputusannya sepele tetapi mungkin merupakan keputusan yang penting dan signifikan dengan rencana Tuhan yang akan digenapi dalam hidup Saudara. Jadi, saat Saudara mengambil keputusan yang serius, janganlah keputusan itu dianggap hanya mengenai diri sendiri atau berkaitan dengan masa depan keluarga saja. Keputusanmu sangat mungkin berkaitan dengan rencana Tuhan yang harus digenapi dalam hidupmu. Keputusan Abraham yang demikian hampir saja mengacaubalaukan rencana Tuhan untuk menjadikan Abraham sebagai bangsa yang besar. Abraham mencoba untuk menyelesaikan situasi kekeringan yang melanda keluarganya dan keluarga budaknya tetapi menimbulkan persoalan lainnya. Tutup lubang, gali lubang.

 Saudara, terkadang kita memberikan satu sikap yang pragmatis terhadap persoalan, menghalalkan segala cara. Hendaklah kita melihat dan memikirkan setiap efek sampingnya dan mengaitkannya dengan rencana Tuhan. Jangan hanya melihat untuk kepentingan diri kita pribadi, tetapi pikirkan bagaimana pandangan Tuhan dalam situasi itu. Kita perlu memikirkan aspek Teologis dibanding aspek praktisnya. Abraham memakai common sense bukanlah hal yang salah tetapi yang menjadi masalah adalah hal itu membuatnya perlahan semakin jauh dari Tuhan. Keputusan yang salah pada awalnya maka akan membuat keputusan berikutnya menjadi lebih salah lagi. Semakin melangkah maka semakin salah. Misal: Daud yang bezinah dengan Batsyeba, lalu menutupi dosanya dengan membunuh Uria, dan akhirnya ia menutup diri. Dosa beranak dosa. Abraham telah salah melangkah di langkah pertama, akhirnya langkah kedua salah. Namun Puji Tuhan, Tuhan tidak membiarkan Abraham terus jatuh dalam kesalahan. Tuhan tidak membiarkan orang benar jatuh tergeletak, dia akan menopang dengan tanganNya. Saat Abraham sudah mengambil keputusan yang sangat fatal, kita melihat kesetiaan Tuhan yang ajaib dinyatakan dalam hidup Abraham. Saat Firaun akan mengambil Sara sebagai istri sahnya, Allah menyatakan kedaulatan-Nya dan mencegah Firaun. Tuhan memberi peringatan kepada Firaun,  “Tuhan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, istri Abraham itu.” (Kej. 12:17). Ini suatu pemeliharaan Tuhan yang terjadi dalam masa-masa krisis. Saat itu kondisi Abraham seperti telur di ujung tanduk. Menghadapi krisis yang berat seperti itu bagai makan buah simalakama, Maju kena mundur kena. Saudara bayangkan, Abraham pasti tidur tidak nyenyak karena istrinya bersama Firaun. Setiap hari Abraham memang bertambah kaya karena pemberian Firaun, tetapi sejujurnya hati Abraham gelisah. Ia sudah salah arah dan salah ambil keputusan dan sedang dalam kegelisahan. Tetapi Puji Tuhan Allah tetap menyatakan  kesetiaan-Nya meskipun Abraham tidak setia. Di saat yang begitu genting, Allah mencegah Firaun bertindak lebih jauh. Firaun pun berkata kepada Abraham, “Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi istriku? Sekarang, inilah istrimu, ambillah dan pergilah!” (Kej. 12:20). Ini adalah suatu didikan Tuhan kepada Abraham. Tuhan mendidik Abraham melalui kesulitan, melalui penderitaan, melalui krisis hidup untuk ia belajar beriman kepada Tuhan. Setelah Abraham pergi dari Mesir, Firaun memberikan banyak pemberian. Di sini kita melihat pemeliharaan Tuhan dinyatakan. Kadangkala Tuhan mengijinkan kita mengalami suatu kegagalan dengan tujuan agar hidup rohani kita bertumbuh. Kadangkala kita terlalu percaya diri mengambil keputusan dan ini dapat menyebabkan jatuh dalam ekses yang lain, yaitu dosa kesombongan.  Saya memiliki kawan dan ia punya teman orang Jepang. Ia memiliki anak yang sangat cerdas. Ujiannya hampir dapat dikatakan selalu mendapat A. Nilainya selalu bagus tetapi ia terlalu sombong. Mereka berdoa agar anaknya dibentuk karakternya oleh Tuhan menjadi orang yang rendah hati. Suatu hari si anak mengalami failed dalam ujiannya dan ayahnya yang mendengar langsung berkata, “Puji Tuhan!”. Orang lain bertanya, “:Loh koq Puji Tuhan anakmu failed?”. Ia menjawab, “Karena saya takut anak saya jadi sombong lalu dipukul oleh Tuhan.”

Tuhan mengijinkan kita mengalami kegagalan dan mengalami keadaan krisis agar kita belajar menjadi rendah hati. Abraham diberikan visi yang begitu besar, Allah mempunyai rencana yang sangat besar dalam kehidupan Abraham. Abraham dididik oleh Tuhan menjadi orang yang rendah hati dengan cara merendahkan Abraham. Firaun merendahkan Abraham dengan menegurnya di depan banyak orang, Orang yang sangat penting harus dimaki-maki dan dimarahin oleh Firaun di depan banyak orang. Saat itu mau taruh dimana muka Abraham? Sungguh memalukan. Itulah pelajaran agar orang menjadi rendah hati.

Yusuf juga mengalami didikan Tuhan. Ia anak kesayangan Yakub, memakai pakaian yang bagus, merasa lebih superior, lebih disayang, bahkan berani menegur kakaknya. Ia anak papa yang dari kecilnya sudah berani menegur kakaknya. Dari kecil sudah berani menegur kakaknya, bagaimana jika ia besar? Tuhan tahu bahwa Yusuf ada bibit kesombongan. Tuhan melatihnya dengan menjadikannya ia sebagai pembantu dan budak di Mesir agar menjadi orang yang rendah hati. Yusuf dimasukkan ke dalam penjara, dilupakan oleh orang lain, merasa dibuang, dikhianati dan ditinggalkan. Tuhan sengaja mengijinkan semua itu agar Yusuf diproses dan dapat dipakai sebagai alat Tuhan. Tuhan mendidik Yusuf dan Abraham agar menjadi orang yang rendah hati sebelum dipakai oleh Tuhan. Tuhan ingin membentuk karakter kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Maka saat dididik oleh Tuhan, kita harus belajar taat dan jangan memberontak, jangan mengeluh apalagi mencari kambing hitam. Saat mengalami penderitaan kita belajar untuk mengintrospeksi diri dan jangan membela diri. Tuhan mengijinkan kita mengalami pergumulan-pergumulan supaya kita belajar untuk rendah hati dan menyadari bahwa kita adalah orang yang lemah yang memiliki banyak kekurangan. Jika menyadari hal itu maka kita tidak mudah untuk menuntut dan mengeluh. Amin? Abraham diijinkan Tuhan mengalami suffering dan kegagalan yang terjadi bukan hanya dalam cerita ini. Dalam perjalanan berikutnya dapat dilihat perubahan Abraham yang menjadi setia kepada Tuhan. Tuhan telah berjanji bahwa Abraham akan menjadi bangsa yang besar, tetapi dalam perjalanannya Abraham tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Ia menerima nasihat Sara untuk mengawini Hagar karena Sarai mandul saat itu. Lalu lahirlah Ismael dan keturunannya yang sampai hari ini. Ini semua karena bentuk ketidakpercayaan Abraham terhadap kesetiaan Tuhan. Kegagalan Abraham akhirnya harus dibayar mahal. Ia sudah mencintai anaknya Ismael dan sudah terikat dengan Hagar, ia terpaksa harus mengikuti nasihat Sara yang direstui Tuhan. Ia harus pisah meninggalkan Hagar dan Ismael dan itu bukan hal yang mudah. Tuhan mengijinkan kegagalan itu terjadi. Setelah Ishak menginjak remaja, Tuhan menguji Abraham lagi. Tuhan mau Abraham mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal untuk menjadi korban.

 Tuhan terus mendidik Abraham untuk taat dan rendah hati. Tuhan ingin Abraham menjadi orang beriman dan bertumbuh dalam iman. Jika kita sudah melewati suatu ujian, bukan berarti ujian sudah selesai, masih ada ujian selanjutnya yang harus kita lewati selama kita hidup. Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan diri saat menghadapi setiap ujian  sampai kita mati. Selesai kita mengalami ujian di sekolah, kita harus mengalami ujian dalam keluarga. Selama iman masih bertumbuh maka pasti ada ujian, ada didikan Tuhan yang terus berlanjut dalam kehidupan kita. Tuhan ingin agar kita selalu bertumbuh dan akhirnya memberi kesaksian sebagai anak Tuhan dan dapat menjadi berkat bagi orang lain. Saat kesulitan melanda memang rasanya tidak enak, tetapi setelah ujian tersebut selesai maka kepuasan rohani yang tidak terhingga akan dirasakan.

Jika saya melihat ke belakang bagaimana Tuhan mendidik dan menguji sangatlah berat tetapi kalau sudah melewatinya sungguh bersyukur. Semakin hari hati semakin rela dibentuk, semakin hari semakin rela dididik oleh Tuhan. Mengapa? Karena saya mengimani Tuhan memiliki maksud yang  baik. Sebaliknya, bila kita memberontak dan tidak mau dididik Tuhan, ada waktunya Tuhan membuang kita. Ada waktunya Tuhan bersikap keras kepada kita dan akhirnya kita tidak dipakai oleh Tuhan. Di dalam Alkitab terdapat cerita orang berdosa yang tidak mau bertobat. Lalu Paulus berkata, “Orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” (1 Kor. 5:5). Di dalam Alkitab terdapat tokoh yang tidak mau dibentuk oleh Tuhan dan berjalan semaunya sendiri, yaitu Lot. Lot adalah keponakan Abraham. Saat Lot menghadapi krisis, dia menyelesaikan krisis bukan dengan caranya Tuhan. Saat terjadi pertengkaran dengan gembala Lot dengan gembala Abraham, Lot mengambil sikap dengan cara pragmatis (Ingin melepas persoalan tetapi tidak melibatkan Tuhan). Ia pergi ke lembah Yordan yang dekat dengan Sodom dan Gomora. Waktu Lot ditegur Tuhan, ia tidak peduli. Lot pergi ke lembah Yordan dan menikah dengan orang Sodom dan melahirkan anak-anak Sodom yang akhirnya dibuang oleh Tuhan. Lot pun mengalami krisis terbesar yaitu dimusnahkannya kota Sodom dan istrinya menjadi tiang garam. Ia tidak berbalik dan bertobat tetapi semakin parah. Ia mabuk dengan anaknya, anaknya memperkosanya dan terjadilah incest (orang tua bersetubuh dengan anak). Ini skandal yang terjadi dalam keluarga Lot. Anak-anak Lot ini melahirkan suku Amon dan Moab yang merupakan cikal bakal orang Arab, orang kafir yang tidak percaya dengan Tuhan.

Tuhan membiarkan semua hal itu terjadi. Abraham yang sudah diuji oleh banyak persoalan saat Tuhan mengingatkan, ia tidak menunda untuk kembali dan taat kepada Tuhan. Sedangkan Lot tidak, Lot berjalan sendiri tanpa pimpinan Tuhan dan akhirnya hidupnya bertambah parah. Terkadang kita sudah salah dan ingin kembali kepada Tuhan  terhalang oleh rasa malu atau gengsi. Maka andaikata kita terjatuh, kita harus mau bertobat dan kembali kepada Tuhan agar tidak bertambah parah. Bagaimanapun sulitnya dan kompleksnya hidup saudara tetapi jika belajar dan mau kembali kepada Tuhan, masih ada pengharapan. Tuhan mampu mengampuni dan memulihkan keadaanmu, Tuhan berkuasa. Jangan menjadi seperti Lot yang jauh dan dibuang oleh Tuhan, hidupnya tidak mempermuliakan Tuhan. Abraham menjadi contoh dalam hidup kita, dia bukan manusia yang sempurna, memiliki kekurangan, tetapi ia dibentuk oleh Tuhan melalui krisis, penderitaan. Tuhan melatih Abraham menjadi orang yang rendah hati dan orang yang belajar kepada Tuhan. Biarlah kitapun juga mau belajar seperti Abraham. Amin? Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#40 - 2/05/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #2: Signal Pertama"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1:1-4, Markus 4:35-41
Di dalam Kitab Suci Saudara akan menemukan banyak orang yang setia melayani Tuhan dan juga banyak orang yang melanggar atau melawan perintah Tuhan. Salah satu orang yang paling berani dengan terang-terangan melawan Tuhan adalah Yunus. Namanya memang Yunus, tetapi karakternya tidak mencerminkan namanya. Nama Yunus artinya merpati. Merpati itu jinak, maka ada pribahasa Indonesia: “Jinak-jinak merpati”. Merpati dikenal sebagai binatang yang tulus, polos, lugu dan tidak kelihatan pemberontak. Dan bahkan dalam Kitab Suci, burung merpati pernah dikaitkan dengan Roh Kudus. Sampai hari inipun banyak orang yang nama dengan karakter hidupnya tidaklah selaras. Di penjara ada orang yang namanya Paulus, Timotius. Sekarang di Indonesia sedang heboh seorang yang kena kasus pajak yang namanya Gayus. Di Alkitab, Gayus disebutkan sebagai orang yang melayani Tuhan dan yang pernah memberi tumpangan kepada Paulus, “Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat.” (Rom. 16:23a). Yunus artinya merpati tetapi kelakuan seperti kambing yang susah taat. Tuhan menyuruh Yunus pergi ke Niniwe tetapi ia tidak mau pergi dan memilih pergi ke Tarsis. Tuhan menyuruh ke daerah A, dia pergi ke daerah B. Di Khotbah saya yang pertama mengenai Yunus beberapa minggu yang lalu saya sudah menjelaskan bagian tersebut. Hari ini kita akan melihat sinyal yang pertama yang Tuhan kirim kepada nabi Yunus. Saya pernah mengatakan  bahwa terkadang Tuhan mengijinkan kelancaran terjadi pada saat seseorang sedang melawan Tuhan. Mungkin orang tersebut sangat senang karena kelancaran yang didapatnya, tetapi itu adalah hal yang sangat berbahaya dalam diri orang itu. Mengapa? Karena dia sedang melawan Tuhan tetapi Tuhan tidak langsung berintervensi mencegah dia, bahkan Tuhan memberi kelancaran. Seperti halnya dengan Yunus, Pertama, Yunus memiliki waktu yang pas  untuk mendapat kapal yang akan berangkat ke Tarsis. Di jaman Yunus, untuk mendapatkan kapal biasanya perlu menunggu waktu beberapa minggu. Kapal tidak berangkat setiap hari. Kedua, Yunus memiliki uang disaku yang untuk dapat membiayai perjalanan yang begitu jauh. Tuhan memberikan kelancaran yang luar biasa, tetapi Yunus belum sadar dan tetap naik kapal itu.  Ketiga, Yunus bisa tidur nyenyak di dalam kapal. Lalu di tengah-tengah perjalanan itulah Tuhan memberikan sinyal yang besar. Hari ini kita akan membahas mengenai sinyal yang pertama.

Orang yang melarikan diri harus peka akan sinyal yang Tuhan berikan. Saat seseorang sudah jauh dari hadapan Tuhan dan tidak menjalankan perintah Tuhan, Tuhan sering memberikan sinyal demi sinyal. Ada orang yang peka dan ada orang yang tidak peka. Ada orang yang menganggap sinyal itu sebagai fenomena alam belaka, dan ada orang tertentu yang peka dan bertanya, “Mengapa kejadian ini terjadi tidak di waktu yang lain? Kenapa harus terjadi di waktu ini?
Dalam setiap saya akan melayani KKR, selalu ada saja gangguan yang dilakukan oleh setan dengan berbagai cara. Setiap kali mau KKR pasti gangguan muncul, terkadang anak saya suka sakit yang aneh-aneh. Terkadang setan menghantam anak-anak saya karena mau menghantam saya tidak dapat tembus. Di mana pekerjaan Tuhan akan dinyatakan maka kuasa kegelapan tidak tinggal diam. Saat Yunus melarikan diri dari panggilan Tuhan, apakah ombak yang besar adalah sinyal yang datangnya daripada setan? Jawabnya bukan dari setan, tetapi Tuhan yang memberikan signal kepada Yunus. “Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur” (Yun. 1:4). Mengapakah Tuhan memberikan sinyal kepada Yunus dengan memilih mendatangkan  angin dan ombak yang besar? Tuhan memberi sinyal pertama ini dengan memakai kuasa alam. Tuhan tidak memakai cara membuat setir kapal membelok ke kiri atau ke kanan. Mengapa?

Seluruh orang di dalam PL memiliki konsep bahwa laut memiliki kuasa kegelapan yang sangat besar. Mereka percaya tidak ada satu orangpun yang dapat menaklukkan kuasa laut yang identik dengan kuasa kegelapan tersebut. Lalu saat itu seolah-olah Tuhan mengijinkan kuasa kegelapan yang mengamuk melalui ombak besar. Perhatikanlah respons orang-orang yang berada di kapal saat ombak terjadi. Mereka memanggil allah mereka untuk menghentikan kuasa laut tersebut namun tidak dapat. Di bagian ini selain Tuahn mendidik Yunus, Tuhan juga akan merubah konsep iman orang-orang yang ada di kapal tersebut.

Mengapakah Tuhan yang akhirnya turun tangan sendiri mengubah mereka? Bukankah Yunus adalah seorang nabi yang ada di kapal tersebut? Mestinya dia yang mempengaruhi mereka bukan? Beberapa Minggu lalu saya mengatakan Yunus tidak mau pergi ke Niniwe karena sentimen pribadinya kepada orang Niniwe / bangsa Asyur karena orang Asyur pernah menindas nenek moyang Yunus (orang-orang Yahudi). Jadi tidak heran, Yunus tidak mau pergi ke Niniwe mempertobatkan mereka. Kalau Yunus tidak mau menginjili ke Niniwe, lalu mengapa Yunus juga tidak menginjili orang-orang di kapal yang bukan orang-orang Niniwe? Selain dia sentimen kepada orang Niniwe, ternyata Yunus juga orang yang tidak ada inisiatif mengabarkan Injil kepada orang-orang di kapal. Saat mengabarkan Injil malah dia tertidur pulas, maka saat itulah Tuhan pun campur tangan. Alkitab mencatat bahwa Yunus tertidur pulas saat kapal sedang digoncang-goncang oleh ombak. Mari kita bandingkan dengan PB. Dalam PB, Yesus pernah tertidur nyenyak saat perahu sedang tergoncang hebat. Jadi Yesus dan Yunus sama-sama tertidur saat perahu digoncang. Perbedaannya, Yesus tertidur dalam rangka menjalankan misi Tuhan menuju ke daerah seberang untuk melayani, sedangkan Yunus tertidur dalam rangka melarikan diri dari misi Tuhan. Sama-sama tidur, tetapi yang satu sedang taat (Yesus) dan yang satu lagi sedang tidak taat (Yunus).

Saat ombak besar dan semua orang di kapal / perahu sudah habis akal: mereka membangunkan Yunus (PL), dan para rasul membangunkan Yesus (PB). Namun respons orang-orang dalam kapal / perahu tidak sama. Dalam cerita Yunus, orang-orang membangunkan Yunus agar Yunus memanggil nama Tuhannya. Saat para rasul membangunkan Yesus, mereka memarahi Yesus karena tertidur pulas dan tidak mempedulikan keselamatan para rasul di dalam perahu yang sedang diombang-ambingkan angin dan ombak yang besar. Para rasul seharusnya menyadari bahwa Yesus memiliki kuasa yang sangat besar untuk menaklukkan ombak sekalipun. Dan merekapun harusnya menyadari bahwa Yesus tidak boleh mati tenggelam di danau, tetapi Yesus harus mati dengan disalibkan seperti nubuat kematian atas diriNya. Jadi dari sini kita bisa melihat para rasul belum memiliki iman yang besar dan sangat mudah goncang iman pada saat diperhadapkan dengan kesulitan-kesulitan seperti halnya fenomena alam.

Di dalam PB, pernah ada 2 kasus menarik, yaitu: Yesus pernah ada di dalam perahu yang diombang-ambingkan, dan Yesus pernah tidak ada di dalam perahu yang diombang-ambingkan. Dua peristiwa di PB ini luar biasa menarik. Nanti saya akan kaitkan dengan peristiwa di PL. Peristiwa Pertama, Yesus ada di dalam perahu yang diombang-ambingkan. Dalam Mrk. 4:35-36 Yesus lah yang berinisiatif minta bertolak ke seberang lalu akhirnya taufan membuat perahu hampir tenggelam. Yesus pasti mengetahui bahwa ombak akan datang sedangkan murid-murid tidak tahu. Berarti ada kesengajaan dan pendidikan dalam kasus ini. Waktu Yesus bertolak. Yesus sedang sangat letih dan Yesus pun tertidur di perahu. Saat itu Yesus tidak sedang pura-pura tidur tetapi tertidur sungguhan. Dalam pelayanannya, Yesus sangatlah letih, kadang-kadang mencari waktu untuk makan atau tidur saja tidak sempat. Tempat yang paling cocok untuk Ia tidur adalah di dalam perahu karena saat di perahu Ia tidak berteriak-teriak lagi karena di perahu tersebut suara akan diganggu oleh angin yang lewat. Maka saat itulah, Yesus memakai waktu untuk tidur dalam perahu. Saat Yesus dibangunkan murid-muridnya, Yesus menghardik ombak dan ombak pun menjadi tenang. Peristiwa kedua, Dalam Matius 14:22-25. Di ayat 22 Yesus menyuruh para murid untuk pergi lebih dahulu ke seberang dengan perahu. Lalu di tengah mereka menyebrang, perahu mereka diombang-ambingakn oleh angin sakal. Tuhan yang menyuruh mereka untuk bertolak, Tuhan pula yang mengijinkan angin sakal terjadi. Maka Saudara jangan mengira bahwa Tuhan akan mengutus Saudara ke jalan tol yang lancar, tapi Tuhan justru mengutus ke jalan yang sulit. Lalu “Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.” (Mat. 14:25). Berarti Yesus membiarkan mereka terombang-ambing di perahu selama berjam-jam terlebih dahulu barulah nanti Yesus datang. Saudara jangan mengira bahwa setiap kali kita menemui masalah maka akan langsung ditolong oleh Tuhan lalu masalah selesai. Terkadang Tuhan membiarkan hingga waktu Tuhan tiba. Seperti Lazarus yang kematiannya dibiarkan empat hari dan akhirnya Yesus membangkitkannya. Yesus tidak datang di menit pertama atau jam pertama saat murid diombang-ambing, tetapi setelah berjam-jam. Perhatikan saat Yesus datang, Yesus tidak memakai cara naik perahu atau berenang, tetapi berjalan di atas air. Mengapa Yesus memakai cara demikian? Ini adalah cara satu kali lagi untuk menyatakan bahwa Yesus menaklukkan kuasa kegelapan setelah Yesus menghardik ombak dalam Peristiwa Pertama tadi. Konsep jaman dulu adalah air (laut) dipercaya memiliki kuasa kegelapan. Saat itu ombak yang sangat besar pun tidak dapat menenggelamkan Yesus, bahkan Ia menginjakkan kaki-Nya di atas air. Ini adalah tindakan Tuhan di dalam menaklukkan musuh. Dalam Yos. 10:22-24 saat musuh-musuh telah ditaklukkan oleh Yosua, Yosua memerintahkan untuk menginjakkan kaki ke tengkuk raja-raja yang ditaklukkan, “... Marilah dekat, taruhlah kakimu ke atas tengkuk raja-raja ini ...” Jadi wajah musuh yang ditaklukkan itu seperti diinjak sampai menyentuh tanah. Ini menandakan raja tersebut sudah ditaklukkan. Dalam Roma 16:20 dikatakan, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu ...”. Maka tindakan Yesus yang berjalan di atas air adalah tindakan menginjak air yang dipercaya ada kuasa kegelapan. Namun ironis sekali, pada saat rasul-rasul melihat Yesus berjalan di atas air, mereka bilang, “Itu hantu!” (Mrk 4:36). Tindakan Tuhan Yesus menginjakkan kakiNya di atas air menggemparkan orang pada waktu itu. Lalu setelah semua selesai mereka akhirnya mengerti bahwa Yesus adalah Anak Allah. Jadi, tujuan dari mujizat itu adalah untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mengalahkan kuasa kegelapan.

Dalam Kej. 1:2 Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”. Semua orang sudah punya bayangan bahwa Roh pastilah melayang-layang di atas. Namun dalam bagian ini diperjelas dengan kata “di atas permukaan air”. Saat penciptaan, seluruh dunia sedang ada di dalam kuasa air, samudera raya dan gelap gulita memenuhi bumi. Roh Allah ada di atas air seolah-olah menunjukkan bahwa Roh Allah sedang menginjak-injakkan kaki di atas air itu. Lalu pada saat Air Bah yang sangat besar di jaman Nuh, Air Bah menutupi seluruh daratan (bumi) namun bahtera Nuh ada di atas permukaan air dan delapan orang ada di dalam bahtera tidak tenggelam. Pertanyaan saya, saat itu Tuhan ada dimana? Jawabannya, Tuhan sedang bersemayam di atas air bah (Mzm. 29:10). Jadi kuasa air yang sangat hebat yang ditakuti oleh orang jaman dulu, tidaklah mungkin dapat menenggelamkan Allah Tritunggal. Di PL dicatat Roh Allah di atas permukaan air dan YHWH di atas Air Bah. Lalu di PB dicatat Yesus yang berjalan di atas air. Jadi PL dan PB menyatakan bahwa Allah Tritunggal ada di atas air.

Dalam peristiwa Laut Teberau yang dibelah oleh Musa, muncul kalimat yang diulang-ulang dalam PL, “Orang Israel menginjakkan kaki / berjalan di tempat yang kering.” (Kel. 14:16, 21-22). Tuhan bukan hanya membelah laut, tetapi juga mengeringkannya dan membiarkan orang Israel yang berjumlah berjuta-juta itu menginjakkan kaki mereka ke tanah kering yang sebelumnya ditutupi oleh Laut. Inilah mujizat.

Dulu saat saya pertama kali ke kota Batam dan berjalan ke pinggir pantainya, saya mengamati permukaan tanah setelah surut air laut. Untuk mengeringkan tanah setelah surutnya air laut, diperlukan waktu yang lama bahkan berjam-jam. Tanah harus sangat kering barulah dapat dilewati oleh orang-orang atau sepeda motor. Apalagi untuk menyeberangkan dua juta manusia, diperlukan tanah yang benar-benar kering. Jika tanahnya lembek maka orang yang di belakang akan sulit berjalan karena sudah menjadi kubangan lumpur besar, bahkan mungkin kerbau dan ternak akan berkubang dan anak-anak jadi bermain-main di sana. Tanah di dasar Laut Teberau belum pernah jadi kering, karena setiap hari ditutupi oleh air Laut tersebut, jadi kalau bukan tindakan Tuhan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Tindakan Tuhan ini menyatakan kepada seluruh bangsa sekitar bahwa TUHAN mengalahkan kuasa kegelapan.

Kita kembali kepada Yunus, pada saat Tuhan mendatangkan ombak dan angin yang besar, seolah-olah kuasa kegelapan sedang mengamuk, padahal Tuhan yang memerintahkan. Dalam bagian ini kita melihat bahwa Tuhan dapat memakai setan / kuasa kegelapan yang dipercaya waktu itu sebagai alat-Nya secara negatif. Alat Tuhan tidak selalu positif, ada yang negatif. Misal: di dalam Alkitab, Tuhan pernah mengatakan, “Nebukadnezar hambaKu”, padahal Nebukadnezar tidak pernah menerima TUHAN  sebagai Tuhannya. Kalau Tuhan mengatakan, “Daud hambaku”, memang Daud adalah hamba TUHAN. Tuhan tetap mengkonfirmasi bahwa Nebukadnezar adalah hamba-Nya. Hamba untuk apa? Hamba untuk menjalankan misi Tuhan. Tuhan dapat memakai orang jahat untuk menjalankan misi Tuhan. Contoh yang lain: Dalam kitab Ayub, saat pembicaraan TUHAN dengan setan, TUHAN memakai setan untuk Tuhan menguji iman Ayub. TUHAN memakai apa yang setan kerjakan untuk menguji iman Ayub. Jadi di situ kita melihat pada waktu setan mencobai Ayub, di situ Tuhan sekaligus menguji Ayub. Jadi Tuhan bisa “memperalat” setan. Demikian juga dengan bagian kitab Yunus ini, kadang TUHAN memakai fenomena alam untuk menyatakan maksud-Nya.

Mengapa tsunami terjadi di Aceh? Mengapa gempat terjadi di sekitar Padang? Dua wilayah tersebut adalah daerah yang sulit bagi orang-orang Kristen untuk mengabarkan Injil. KKR sulit dikerjakan di sana, gereja sulit dapat ijin, dan lain-lain. Setelah terjadi tsunami dan gempa bumi, kita melihat Injil jadi gampang diberitakan di sana. Waktu Tuhan mengijinkan bencana alam terjadi, kita harus peka dan berpikir, “Mengapa bencana alamnya terjadi di sana? Mengapa tidak di tempat lain? Apa maksud Tuhan dibalik bencana tersebut?”. Maka mulai hari ini, Saudara harus peka jikalau terjadi sesuatu. Amin? Mungkin itulah saatnya Tuhan menghendaki kita untuk mengabarkan Injil.

Yunus mengalami hal seperti itu tetapi ia tidak peka dan tidak mengabarkan Injil. Sebetulnya saktu ombak besar, itulah saat yang paling enak untuk mengabarkan Injil. Mengapa? Karena saat itu adalah kondisi yang rentan orang-orang akan menghadapi kematian, lalu Injil (berita jaminan keselamatan) bisa masuk. Jika Yunus tidak tidur, maka Yunus bisa mengabarkan Injil kepada orang-orang di kapal. Yunus mestinya bisa memakai ilustrasi kejadian waktu itu dengan mengatakan, “Teman-teman beginilah hidup kita, diombang-ambing terus menerus. Setiap dari kita mungkin sebentar lagi akan mati. Akan kemanakah kita setelah mati?”. Kadang-kadang harus kita akui, mengabarkan Injil kepada orang sehat, biasanya lebih sulit dibanding mengabarkan Injil kepada orang-orang yang sedang menuju kepada kematian. Saat itu Yunus dapat mengabarkan Injil dengan mudah tetapi Yunus tidak memakai kesempatan itu. Yunus tidak hanya sentimen tidak mau pergi ke Niniwe, tetapi dasar hatinya memang tidak mau mengabarkan Injil. Kesempatan diberikan tetapi mata tetap tertutup. Terkadang Saudara pergi naik bus ke satu kota, lalu di sebelah Saudara duduk orang non-Kristen. Saudara mengharapkan untuk duduk di samping dia lagi, mungkin sampai matipun kesempatan itu tidak datang lagi. Berarti saat itu, kepada orang itulah Saudara harus segera share Injil. Namun banyak orang tidak peka, akhirnya Injil tidak dikabarkan, atau pada saat Injil mau dikabarkan orang tersebut sudah mesti turun dari bus, karena kita terlalu basa-basi lama waktu perkenalan. Jikalau semua orang peka akan hal seperti ini, saya yakin kekristenan akan terus maju. Saudara yang mempunyai pembantu atau supir, mungkin sampai Saudara mati, pembantu atau supir Saudara sudah tidak kembali bekerja kepada Saudara lagi. Jadi saat mereka bekerja, seharusnya Saudara menyadari bahwa itulah kesempatan untuk Saudara menginjili mereka. Pernahkah Saudara terpikir, mengapa dari berjuta-juta orang di dunia, akhirnya dia atau si A atau si B yang bekerja di tempat Saudara? Pasti ada maksud Tuhan di balik semuanya ini. Jika satu orang datang ke rumah Saudara, itulah kesempatan Saudara menginjilinya. Jika setiap kali kita berpikir hidup kita ini adalah kesempatan untuk mengabarkan Injil, maka hidup kita akan berbahagia di hadapan Tuhan. Kesempatan mengabarkan Injil terlalu besar sehingga tidak boleh ada alasan bahwa orang yang diinjili sudah habis. Saudara naik bus, kereta api atau pesawat, itu kesempatan untuk kabarkan Injil. Saya pernah naik pesawat dan di sebelah saya duduk seorang ibu dari Gereja aliran lain yang doktrinnya kurang beres. Setelah bicara, ia merasa dicelikkan. Mungkin ada kalimat-kalimat tertentu dari mulut saya yang masuk ke dalam hati dia. Setelah itu sampai sekarang saya tidak pernah bertemu dia lagi. Kalaupun bertemu, wajahnya  sudah lupa. Namun yang penting kesempatan sudah diberi Tuhan, tinggal bagaimana kita meresponinya. Saudara nanti pulang ingat baik-baik, setiap bertemu orang sadarilah bahwa hal itu kesempatan. Sedang ada gangguan di atas pesawat atau sedang terombang-ambing, justru itulah kesempatan paling enak untuk share Injil. Saya lebih senang jika berkhotbah di acara perkabungan karena orang yang datang lebih siap. Hati yang sedang bersedih dan seperti tidak ada pengharapan itulah, saatnya Injil Tuhan tiba. Maka setiap kali khotbah perkabungan, saya pakai untuk mengabarkan Injil.

Satu kali saat saya diminta khotbah di acara perkabungan, di sebelah ruang saya ada perkabungan agama Budha.  Saya menunggu upacara mereka selesai dahulu agar suara tidak beradu. Saya mendengar kata-kata penghiburan mereka seperti orang Kristen, “Manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah”. Saat saya khotbah, saya mengambil kalimat mereka yang di sebelah ruangan tadi dan berkotbah dengan suara keras, “Manusia datang dari bawah, hanya Yesus yang datang dari atas. Yang datang dari bawah akan  kembali ke tanah, Kristus datang dari atas maka dia akan kembali ke atas. Karena Ia datang dari atas, maka hanya Dia satu-satunya yang dapat membawa kita ke atas”. Waktu khotbah tersebut, sasaran saya bukan hanya yang datang hadir di ruangan perkabungan yang saya pimpin, tetapi juga yang di ruangan sebelah. Tadi mereka sudah diingatkan oleh pengkhotbah mereka, bahwa manusia akan kembali ke debu tanah, tetapi dia tidak tahu ada satu yang bukan dari bawah (bumi), melainkan dari atas (Sorga), yaitu Tuhan Yesus. Di dalam kebaktian perkabungan, Tuhan bekerja luar biasa. Terkadang kita tidak tahu mau khotbah apa, lalu mendadak Tuhan beri perkataan firman untuk kita khotbahkan.

Saat kondisi mencekam, seharusnya Yunus peka untuk mengabarkan Injil. Namun Yunus tidak memakai kesempatan itu. Yunus telah mengabaikan sinyal yang pertama. Lalu berikutnya kita akan bicarakan sinyal yang kedua. Ada hal menarik, Tuhan memakai orang kafir untuk mengingatkan yang katanya orang percaya. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#41 - 9/05/2010
"Kasih Tidak Berkesudahan"
Pdt. Tumpal H.


1 Korintus 13:8, Matius 14:13-33, Yohanes 21:15-19
Salah satu keunikan orang Kristen adalah memiliki kasih yang tidak berkesudahan. Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa saat kita mengerti Tuhan, kasih itulah yang menjadi alat pengukur sudah sejauh manakah kita sungguh-sungguh telah mengasihi Tuhan dan itu akan terpancar melalui seluruh ekspresi hidup kita. Kasih kita kepada Tuhan tidak bersifat antroposentris (berpusat pada manusia). Kasih kita kepada Tuhan bukan karena ada motivasi untuk mendapatkan harta, kedudukan atau kekuasaan. Namun, kasih kita kepada Tuhan disebabkan karena Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Amin? Namun, apakah setiap orang Kristen, para majelis, aktifis dapat dipastikan kasihnya bertumbuh? Apakah orang Kristen yang sudah 10 atau 15 bahkan 50 tahun dapat dipastikan memiliki pertumbuhan kasih yang baik? Jawabannya: belum tentu. Mengapa? Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kasih harus dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, penuh perjuangan, penuh dedikasi, penuh kejujuran dan penuh pengorbanan hanya kepada Dia. Alkitab sudah menyatakan bagaimana Tuhan Yesus berbicara tentang kasih. Rasul Yohanes adalah rasul yang paling banyak menggunakan istilah “agape” dalam Injil Yohanes. Ketika murid-murid mengikut Tuhan, apakah kasihnya pasti sudah bertumbuh? Jawabannya belum. Terbukti saat ketika Tuhan Yesus melakukan mujizat kepada 5.000 s/d 10.000 orang diberi makan. Saat itu, mereka sangat kagum melihat Yesus yang memiliki kuasa yang sangat besar. Mereka menganggap Yesus adalah seorang yang sangat hebat, maka mereka begitu mencintai Yesus. Mungkin kalau konteks di jaman ini, Yesus seperti komisaris sebuah restoran yang penuh belas kasih dan kuasa besar. Tidak perlu banyak dana, hanya beberapa roti dan ketul ikan dapat menjadi makanan yang melimpah-limpah. Sedikit modal tetapi menghasilkan banyak keuntungan.

Murid-murid sangat kagum akan kekuasaan Yesus tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan apakah kekaguman mereka tersebut menandakan iman atau kasih yang bertumbuh? Jawabannya tidak. Tuhan menguji iman mereka terus menerus. Tuhan menguji sudah sejauh mana kasih pengenalan mereka akan Tuhan dan ternyata mereka tidak lolos. Terbukti saat angin sakal dan gelombang laut mengombang-ambingkan kapal mereka, Alkitab mencatat bahwa mereka ketakutan luar biasa. Ketakutan mereka menandakan tidak ada iman dan sekaligus menandakan tidak ada kasih. Saat mereka ketakutan, mereka putus asa dan bimbang. Mereka tidak bergandeng tangan, bernyanyi bagi Tuhan serta tidak berdoa kepada Tuhan.

Iman seseorang akan terlihat ketika diuji di saat-saat sulit. Alkitab mencatat saat Yesus menampakkan diriNya, Ia justru dipanggil “Hantu”. Kata-kata itu dapat keluar karena murid tidak memiliki penguasaan diri. Saat hidup seseorang tidak memiliki iman di masa-masa sulit dan tidak memiliki penguasaan diri terhadap situasi, saat itulah semua penglihatan kita sudah tidak benar. Tuhan dikatakan hantu. Ironis bukan? Padahal sebelumnya mereka sangat memuliakan dan mengagungkan Tuhan Yesus saat Yesus memberi makan kepada 5.000 s/d 10.000 orang tersebut. Pertanyaannya, dimanakah iman mereka pada saat-saat krisis itu? Seperti hilang. Maka, iman bukan dibangun atas dasar penglihatan. Kasih bertumbuh  bukan karena persoalan mendapatkan berkat materi atau hidup berkelimpahan, melainkan karena kita sungguh-sungguh ingin menghadirkan Tuhan di dalam segala pergumulan hidup kita.

Petrus adalah murid Tuhan yang berani dan aktif. Saat Ia melihat Yesus berjalan di atas air, ia mengatakan, ”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air (Mat. 14:28). Ini kurang ajar yang kedua. Yang pertama adalah saat Tuhan Yesus dibilang hantu dan yang kedua ini menunjukkan keragu-raguannya. Permintaannya agar ia bisa turut berjalan di atas air sekaligus menyatakan bahwa ia meragukan eksistensi / keberadaan Tuhan. Seperti pernyataan, “Jikalau Engkau Tuhan, ijinkan anakku sembuh / ijinkan perusahaanku maju / biarlah anakku lulus UN dengan nilai sekian” Jika Tuhan menjawab lain dari yang diminta, berarti Tuhan bukan Tuhan yang hidup. Benarkah demikian? Bertobatlah saudara jika berdoa seperti itu. Begitu banyak kita telah mempermainkan Tuhan berdasarkan keinginan pribadi kita seperti Petrus. Lalu Yesus menjawab, Datanglah(Mat. 14:29) dan Petrus pun berjalan di atas air. Di tengah jalan, Petrus merasakan angin dan mulai tenggelam lalu Yesus mengangkat dia. Pada akhirnya, Petrus menyangkal Tuhan tiga kali. Mungkin kita melihat bahwa Petrus seperti seorang hamba Tuhan yang hebat karena berani menjadi volunteer. Namun, ternyata perjalanan imannya banyak mengalami jatuh bangun. Dalam Yoh. 21, Yesus memberi tiga kali konfirmasi. Saat Simon ditanya, Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Petrus menjawab, Benar Tuhan, aku mengasihi Engkau”. Tuhan berkata, “Gembalakanlah domba-dombaKu”. Lalu Tuhan bertanya lagi untuk kedua kali dan ketiga kalinya. Alkitab mencatat, Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya”. Petrus sedih karena ditegur 3x. Saat Simon menyangkal Tuhan sampai tiga kali, Tuhan pun bersedih.


Roma   1:16, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani”. Paulus tidak pernah malu bersaksi demi Injil Kristus, karena dia telah merasakan kasih Allah yang besar kepadanya. Paulus ingin setiap orang yang memberitakan Injil memiliki kasih, yaitu kasih yang mau menyalurkan kasih Kristus kepada orang lain. Maka dapat dilihat 2 pribadi yang berbeda dari rasul Paulus dan rasul Petrus. Rasul Paulus berani mengatakan tentang hidupnya yang selalu konsisten di hadapan Tuhan. Sebaliknya, Petrus perlu mengalami jatuh bangun untuk mempertumbuhkan iman dan kasihnya kepada Tuhan.

Mengapa Paulus mengatakan kasih tidak berkesudahan dan Tuhan harus mengkonfirmasi kepada Petrus 3x. Simon, anak Yohanes, apakah Engkau mengasihi Aku? Jawabannya adalah karena di dalam pandangan Tuhan, kasih adalah hal yang sangat serius, bukan main-main. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berakhir, pengetahuan akan berakhir, tapi kasih kita kepada Tuhan tidak pernah berakhir”. Kasih adalah dasar dan pusat dari hubungan kita dengan Tuhan. Jangan sampai kita terlalu sibuk seperti Jemaat Efesus yang akhirnya  dikecam oleh Tuhan. Mereka terlalu sibuk menghantam serangan aliran sesat dan orang yang hidupnya tidak beres, tetapi sebetulnya persekutuan mereka dengan Tuhan juga tidak beres. Akhirnya  jemaat Efesus kehilangan kasih. Saat kemarin pergi bersama hamba Tuhan lainnya, saya banyak sedih sampai mau menangis saat melihat keadaan di sana. Tempat dimana Paulus pernah berkotbah sekarang semua tinggal puing-puing. Laodikia, merupakan 1 dari 10 keajaiban dunia. Jemaat Laodikia terkenal kaya akan emas dan tenunan kainnya. Namun karena usaha itulah, jemaat laodikia melupakan Tuhan. Mereka bangga dengan harta dan lupa kasih Tuhan. Di sana juga terdapat air yang sangat tinggi akan zat besinya, sehingga kalau diminum bisa muntah. Tuhanpun menegur Laodikia, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” (Why 3:16). Lalu saya membaca buku 431 Konsili gereja sedunia kedua yang diadakan di Efesus dan meninjau keadaan di sana. Saya sangat sedih melihat bangunan dimana bapa-bapa gereja pernah hadir merumuskan konsep Kristus adalah Tuhan dan Kristus diperanakkan oleh Roh Kudus. Di belakang gereja St.Mary lah mereka rapat berbulan-bulan. Sekarang semua itu hanya tinggal puing-puing saja.

Dari cerita tersebut, kita seharusnya menangisi diri kita jikalau sudah kehilangan kasih. Kalau kehilangan uang, harta atau harga diri maka biasanya kita menangis. Tetapi apakah saat kehilangan kasih kepada Tuhan membuat kita menangis? Jika tidak, maka celakalah kita.  Saat kita telah kehilangan kasih kepada Tuhan, di situ kita kehilangan inti hubungan kita dengan Tuhan dalam keindahan. Oleh karena itulah Paulus mengatakan, “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap” (1 Kor. 13:8). Imanpun dapat berakhir, tetapi ada satu yang tidak hilang yaitu kasih. Maka jika kita sudah kehilangan kasih dengan Tuhan dan sudah tidak bertumbuh, kita harus sedih dan menangis serta introspeksi, “Apakah saya telah dibuang Tuhan? Apakah saya sedang dibiarkan Tuhan?

Alkitab mengatakan bahwa kasih memiliki stages dan kasih kita harus ada peningkatan. Kasih kita bukan saja hanya bangga karena telah mendapat penebusan, bukan hanya bangga telah menjadi anak Tuhan. Itu hanya level dasar. Level 2, adalah kita dipenuhi oleh kasih Tuhan sehingga lahir suatu perubahan cara pikir, cara pandang, perasaan, serta sikap hidup. Semua harus mengalami perubahan. Level kedua ini sudah ada semacam tuntutan dimana kasih Kristus memenuhi dan mengubah seluruh kehidupan kita. Level 3, kita harus memiliki ketaatan yang total, baik itu taat berdoa, taat memberitakan Injil, taat mendalami Alkitab, memberi persembahan / perpuluhan, taat mempersembahkan diri kepada Tuhan. Level 4, adalah dipenuhi oleh kasih Tuhan sehingga akhirnya kita rela berkorban bagi Dia (waktu, tenaga, uang) tetapi tidak merasa telah berkorban. Mengapa tidak merasa telah berkorban? Karena kasih Kristus telah meliputi dia sehingga dia tidak memperhitungkan untung rugi yang dideritanya.
Saat Bapa Gereja, Polycarpus ditantang, “Kalau engkau menghujat Yesus, engkau tidak akan dihukum mati!”. Ia menjawab, “86 tahun aku mengikut Dia, Dia tidak pernah mengecewakan aku. Masakan gara-gara aku seperti ini, aku menghujat Yesus? Tidak mungkin!”. Lalu ia rela dibakar mati hidup-hidup di Smirna. Smirna adalah jemaat yang miskin dan mengalami tekanan dari orang-orang Yahudi. Namun Tuhan berkata, “Aku memuji engkau karena engkau miskin, tapi engkau kaya rohani. Engkau setia sampai mati.

Jika orang sedang jatuh cinta dan berkorban untuk sang kekasih, ia tidak merasa berkorban. Menunggu setengah jam dirasa seperti menunggu tiga menit, hujan badai dianggap angin biasa. Mengapa semua pengorbanan tersebut tidak seperti sedang berkorban? Jawabannya adalah karena kasih. Kedekatan yang sangat dekat dan terus mengingat sang pacar setiap hari membuatnya mau berkorban tetapi tidak berasa dia sedang berkorban. Demikian juga saat kita berkorban bagi Tuhan, jikalau masih hitung-hitungan dengan Tuhan maka artinya kasihmu tidak bertumbuh. Maka, jika Saudara berkorban uang, tenaga dan pikiran bagi Tuhan, jangan dirasa itu sebagai suatu pengorbanan. Amin? Berkorban sampai ke level yang paling tinggi sampai akhirnya kita rela mati bagi Tuhan. Maka saat orang ingin menutup gereja-gereja Tuhan, ini adalah kesempatan bagi kita untuk mendoakan mereka semua. Kita bisa menjadi pendoa syafaat bagi mereka agar Tuhan mempertobatkan mereka. Jika ada kasih Tuhan maka tidak perlu takut karena kekuatan pemerintah, partai politik atau apapun juga tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Tuhan.

Kasih Petrus berubah setelah dikonfirmasi oleh Tuhan. Konfirmasi, “Apakah engkau mengasihi Aku?” tersebut ternyata membuat dia sangat hebat dalam pelayanan.  Dalam surat 1 & 2 Petrus sudah terlihat perbedaan, Petrus menyadari bahwa ikut Tuhan berarti bukan hanya mendapat berkat keselamatan tetapi juga menderita bagi Dia, bahkan setia dalam penggembalaan. Saat menderita bagi Dia, itulah kenikmatan dan keindahan. Maka Saudara sejak dini mulailah introspeksi diri. Sudah berapa lamakah aku menjadi orang Kristen? Apakah lama waktu itu sudah signifikan dengan pertumbuhan kasihku? Cinta dengan kasih yang tidak berkesudahan diibaratkan seperti sebuah cincin, yang artinya cinta tidak ada titik awal dan titik akhirnya. Dalam cincin, pernikahan itu ditandai bahwa ada janji sehidup semati sampai maut memisahkan. Jika kasih suami atau istri tidak bertumbuh kepada Tuhan, maka sudah terjadi ketidakseimbangan atau ketimpangan dan akhirnya keluarga menjadi kacau. Jika dalam satu keluarga, suami dan istri memiliki kasih yang sama-sama bertumbuh ke arah Tuhan, maka saat ada perbedaan / permusuhan / konflik pasti hal itu dapat diselesaikan. Di mana ada ketegangan pasti bisa diselesaikan, karena kasih itu sifatnya damai. Saat seolah-olah satu sama lain tidak ada pengertian, pasti akhirnya diberikan pengertian. Mengapa? karena kasih kita sedang bertumbuh kepada Tuhan, sang pengertian sejati. Oleh karena itu sangat penting jika dalam satu keluarga itu bersaat teduh bersama agar memiliki pertumbuhan iman yang sama.

Terkadang saya membangunkan anak-anak untuk bersaat teduh. Saat mereka marah, saya tegur mereka. Karena mereka akan beribadah kepada Tuhan maka harus bersikap hormat dan agar Tuhan saja yang menjadi pusat hidup mereka. Bukan papa dan mama, bukan juga peraturan tetapi hanya Tuhan. Biasanya dalam keluarga yang menghadirkan Tuhan, terdapat satu chapel / tempat khusus keluarga untuk menghadirkan Tuhan. Di sanalah kasih Tuhan hadir, anak akan mengerti orang tua dan orangtua akan mengerti anak. Terkadang saya dan istri sadar bahwa sudah saatnya anak ditinggal sebentar karena pelayanan saya tidak memungkinkan anak saya dibawa-bawa. Pergi dan pulang dari les mereka cari ojek, makanan urus sendiri. Saya percaya kasih Tuhan pasti memelihara mereka. Maka pada waktu kami mengasihi Tuhan, kami juga harus dapat mengatur waktu untuk tetap membuktikan kasih kita kepada mereka dan kita serahkan agar Tuhan yang bekerja untuk mereka.

Maka Saudara introspeksilah, jangan sampai kasih saudara didapati ternyata sudah bercabang. Kalau kasih sudah bercabang maka kita sudah berdosa dan ini hal yang serius. Mungkin ada lagu dangdut, “Aha, cintaku terbagi dua”, serta dinyanyikan dengan sukacita. Bagi kita ini adalah nyanyian rintihan karena mengandung dukacita rohani. Hidup ini harus memiliki suatu komitmen. Di mana kasih bertumbuh, di situlah kita akan sungguh-sungguh hidup total bagi Tuhan.

Tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula Yesus mengkonfirmasi. Satu kali Paulus memberikan konfirmasi bagi jemaat di Korintus, “Kasih itu tidak berkesudahan”. Mari kita bandingkan dengan cerita anak yang hilang dalam Lukas 15. Di dalam cerita ini, siapakah yang hilang? Bungsu atau sulung? Jawabannya adalah dua-duanya terhilang. Anak yang bungsu secara jelas-jelas hilang karena ingin meraih kenikmatan dunia, hilang karena tidak mengerti kasih Bapa. Ketika bungsu pulang, si Sulung ngambek karena hewan dikorbankan bagi si Bungsu. Padahal bagi sang Ayah yang mengasihi, seekor lembu tidaklah berarti. Sulung hitung-hitungan untung dan ruginya dan dia marah kepada Bapa. Si Bungsu diibaratkan seperti kita, orang yang terhilang. Si Kakak adalah Orang Yahudi yang sudah kenal dekat dengan Tuhan, tetapi nyatanya tidak kenal Tuhan. Merasa dekat dengan Bapa tetapi tidak mengenal Bapa. Di sinilah kita lihat kasih Bapa yang tidak pernah berkesudahan untuk terus memulihkan kasih kita. Kasih Bapa tidak pernah habis untuk terus berbelaskasihan kepada kita dan memampukan kita untuk memiliki iman yang berkemenangan. 

Ada satu buah pujian yang lirik dan nadanya sangat indah. Lagu “Nyamanlah Jiwaku” dari Horatio G. Spafford. Ia adalah seorang usahawan yang sangat terkenal sekali. Istri dan kedua anaknya meninggal saat berlibur dengan kapal pesiar. Diapun stress dan kecewa kepada Tuhan, bahkan dia mengalami kegelisahan rohani sampai usahanya bangkrut. Hingga akhirnya ia disadarkan oleh D.L. Moody dan imannya bangkit. Ketika penginjil Philip P. Bliss mendengar kesaksian tentang kemenangan imannya, maka dijadikanlah lagu “Nyamanlah Jiwaku”. Philip melihat bagaimana diri Horatio setelah menang dalam menghadapi kesulitan itu serta mengatakan bahwa kenyamanan jiwa hanya di dalam Tuhan. Akhirnya dibuatlah lagu itu hingga sekarang menjadi kenangan bagi kita dan menjadi persembahan kepada Tuhan. Dalam hidup keluarga, selalu ada pengujian. Maka di mana ada kasih, di situ pasti ada jalan keluar. Maka kasih itulah yang membuat kita unik menjadi orang Kristen.

Yesus mengajarkan“Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk. 6:28). Maksudnya, kita jangan hanya berdoa kepada orang yang berbuat baik ke kita saja karena orang lain pun juga bisa melakukan demikian. Namun, berdoalah untuk orang yang berbuat jahat kepada engkau. Jadi saat berdoa, yang pertama harus ada kasih, bukan ada kebencian. Karena itulah saya tidak mengerti ada orang Kristen yang marah kepada orangtua sampai seumur hidup, atau ada orangtua yang marah kepada anak juga seumur hidup. Kalau kita ada kasih kepada Tuhan, maka semua kebencian seharusnya tidak ada. Amin? Oleh karena itu, kita harus terus belajar bagaimana mempertumbuhkan kasih kepada Tuhan. Kasih kepada Tuhan tidak akan habis, kekal sampai selama-lamanya.

Ada kisah nyata yang terjadi saat Perang Dunia II. Ada sepasang pemuda pemudi anak Tuhan yang tinggal di Amerika. Sebelum sang pemuda ikut wajib militer ke Eropa Timur, mereka bertunangan dahulu. Sang pria berjanji akan memberi kabar lewat surat paling lambat setiap bulannya. Seminggu pertama hingga dua bulan, surat masih diterima sang wanita. Di bulan yang ketiga surat masih diterima, tetapi ia merasa tulisannya berbeda dan sang pria menjelaskan bahwa tangan kanannya terkena mortir. Bulan selanjutnya, pemudi itu tidak menerima surat lagi. Setelah lebih dari delapan bulan tidak ada kabar, sang wanita lelah menanti dan akan pergi ke Eropa mencari kabar kekasihnya. Sesampainya di sana, didapati bahwa sang pemuda sudah tidak memiliki kedua tangan dan merasa minder. Ternyata mortir telah menghancurkan tangan kanan lalu menyusul tangan kirinya diamputasi. Namun sang wanita tidak peduli dengan keadaan demikian dan tetap menerima pria itu apa adanya. Ia berkata, “Walaupun engkau tidak memiliki kedua tanganmu, tapi engkau masih memiliki hati kepadaku dan aku memiliki hati kepadamu. Aku tetap mencintaimu”. Itulah kasih. Seorang wanita yang mencintai kekasihnya dengan setia, jujur dan tulus seperti kasih dalam Tuhan. Tuhan mengasihi kita tidak lihat siapa kita yang penuh dengan kecacatan. Itulah cinta yang murni. Cinta suami istri tidak dipatokkan dengan fisik, tapi dari keindahan hati dan dari seluruh nilai kepribadian. Jika kita memiliki cinta yang bertumbuh dalam Tuhan, maka akan nyata terekspresi ke orang-orang di sekitar kita. Anak serusak apapun, tetap dipeluk oleh Bapa nya. Kasih Bapa sempurna, kasih kita kepada Tuhan sedang menuju kesempurnaan. Oleh sebab itu, belajarlah mengerti kasih dalam konsep Paulus dan konsep Petrus.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#42 - 16/05/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #3: Signal Kedua"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1:5, Markus 4:35-41, Kis. 27:14-44
Beberapa Minggu lalu kita telah membahas perbandingan antara kisah Yunus di kapal dengan kisah Yesus di perahu dalam Signal Pertama. Hari ini kita akan membahas Signal Kedua dan mengaitkan antara Yunus dengan Yesus serta Yunus dengan Paulus. Saat Yesus di perahu (Mrk. 4:35-41), seluruh orang di dalam perahu mendapatkan berkat pertolongan dari kehadiran Yesus, sedangkan dalam cerita Yunus, orang-orang dalam kapal tidak mendapatkan berkat dari kehadiran Yunus, yang ada malah malapetaka dan Yunus tidak menolong mereka sama sekali. Orang di dalam perahu Yesus adalah orang yang tidak percaya meskipun mereka adalah murid-murid Yesus. Angin sakal membuat para murid goncang imannya dan bahkan mereka memarahi Tuhan Yesus karena Yesus tidur. Jaman sekarang kita melihat banyak yang kelihatannya seperti orang Kristen yang sungguh-sungguh, tetapi dalam kenyataan hidupnya mereka tidak memiliki iman yang kokoh. Lalu, waktu Yesus dibangunkan, Dia langsung melakukan mujizat besar yaitu meneduhkan angin dan ombak besar, sedangkan waktu Yunus bangun, dia tidak melakukan mujizat apa-apa, padahal dia seorang nabi. Sebagai seorang nabi, Yunus seharusnya memiliki kuasa Tuhan yang besar untuk meneduhkan air laut, namun kenyataannya dia tidak melakukan apa-apa. Dalam cerita Yunus dan Yesus ini, terdapat satu paralel yang sangatlah indah. Yesus di dalam ketaatannya dan Yunus di dalam ketidaktaatannya sama-sama mengalami kesulitan yang sama, yaitu angin dan ombak yang besar yang telah mengombang-ambingkan kapal/perahu mereka. Kejadian alam ini sengaja diijinkan Tuhan dengan maksud ada pelajaran dibaliknya. Yesus memperlihatkan kuasanya atas laut dan bukankah Yunus seharusnya juga melakukan hal yang sama karena ia seorang nabi yang diberi kuasa Tuhan. Mengapa Yunus tidak memakai kuasanya seperti yang Yesus lakukan? Permasalahannya adalah Yunus sudah tidak memiliki kuasa apa-apa lagi karena saat itu dia sedang lari dari hadapan Tuhan. Orang-orang yang taat melayani serta menjalankan panggilan Tuhan pasti memiliki kuasa dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Namun orang yang tidak taat tidaklah memiliki kuasa dalam setiap perkataannya. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya tidak ada kuasa karena dalam dirinya sedang ada konflik pribadi dengan Tuhan. Akhirnya orang tersebut pasti cenderung akan berdiam diri seperti Yunus. Seorang nabi Tuhan seharusnya menyuarakan suara Tuhan, tetapi Yunus justru menutup mulut dan matanya dengan tertidur pulas di dalam kapal. Ia tidak melihat kebutuhan orang sekitar dan tidak membuka mulut memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. Maka dari dua cerita tersebut, dapat disimpulkan bahwa kehadiran Yunus justru merugikan orang kapal dan kehadiran Yesus menguntungkan orang-orang di dalam perahu.

Kejadian alam yang dialami Yunus adalah peristiwa yang sangat mencekam dan mengerikan pada saat itu. Terbukti dari datangnya seorang nakhoda kapal mendapatkan dan membangunkan Yunus. Biasanya nahkodalah yang menenangkan para penumpangnya, namun kali ini malah nahkoda yang mengkagetkan penumpangnya (Yunus). Berarti suasana waktu itu betul-betul mencekam. Alkitab mencatat mereka sampai harus membuang barang yang ada di dalam kapal, “Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.” (Yun. 1:5). Saudara coba perhatikan antara iman kepada ilah mereka dengan perbuatan mereka. Satu sisi mereka beriman kepada ilah-ilah mereka masing-masing dengan memanggil nama allahnya. Namun allah mereka tidaklah menjawab. Mengapa? Karena allah mereka adalah allah yang mati. Mereka bergiliran memanggil allah masing-masing dan tetap tidak dijawab. Akhirnya mereka membuang semua barang yang ada di kapal untuk meringankan kapal supaya tidak tenggelam waktu diterjang ombak. Setelah seluruh orang sudah memanggil allah mereka secara bergiliran, mereka sadar bahwa Yunus belum memanggil Allahnya dan akhirnya Yunus dibangunkan. Konsep orang pada waktu dulu adalah semua ilah memiliki jangkauan teritorial masing-masing. Dewa yang disembah di kota A tidak dapat tembus ke wilayah kota B, maka perlu adopsi dewa B. Oleh karena itu jika orang pergi dari satu kota ke kota lain, biasanya pulangnya orang tersebut membawa dewa dari kota-kota lain. Jadi, saat orang di kapal mendapat kesulitan, mereka akan coba panggil dewa mereka masing-masing. Jika dewa A tidak menjawab, mereka panggil  dewa B dan seterusnya. Mereka berasumsi karena dewa A sudah tidak berkuasa lagi di satu area (di luar service area) maka mereka memanggil dewa B, lalu dewa C dan seterusnya hingga tiba giliran Yunus disuruh memanggil Allahnya, “... Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” (Yun. 1:6) atau dengan kata lain, “Jika Allahmu mendengar seruanmu, maka saya dan seisi kapal dapat ikut selamat”. Kehadiran Yunus bukan saja tidak menghasilkan berkat, tetapi justru mencelakakan orang-orang dalam kapal. Saya percaya, jika Yunus saat itu taat dan suatu waktu naik kapal maka musibah itu pasti tidak akan terjadi. Namun karena Yunus tidak taat, maka orang lain ikut terkena getahnya. Terkadang, kehadiran orang yang tidak taat di satu tempat dapat menyebabkan orang lain terlibat masalah besar. Sebaliknya, kehadiran orang yang taat kepada Tuhan akan menenangkan semua orang yang tidak taat di sekelilingnya. 

Sekarang mari kita lihat paralel antara Yunus dengan Paulus. Kis. 27 mencatat peristiwa yang unik. Saat itu Paulus sedang berada dalam kapal bersama dengan orang banyak. Alkitab mencatat ada 276 orang di kapal Paulus (Kis. 27:37), yaitu: para tahanan, perwira, jurumudi, nakhoda, dll. Dalam kapal tersebut mayoritas adalah orang yang tidak taat / yang tidak percaya Yesus seperti para tahanan, perwira Romawi, dll. Orang yang taat kepada Tuhan dalam kapal itu hanyalah Paulus (atau mungkin ada beberapa tahanan juga adalah orang yang percaya Injil dan ditangkap). Dicatat bahwa awal pelayaran mereka, mereka sudah diserang angin sakal (Kis. 27:4). Angin sakal ini muncul bukan karena Paulus sedang lari dari panggilan Tuhan melainkan fenomena alam yang Tuhan ijinkan terjadi saat itu. Kehadiran Paulus dalam kapal tersebut, menjadi berkat bagi banyak orang. Sebelumnya Paulus sudah mengingatkan untuk tidak berlayar lagi, “Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita.” (Kis. 27:10). Namun, orang kapal ngotot untuk tetap berlayar, “Tetapi perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nahkoda daripada perkataan Paulus” (Kis. 2:11a). Paulus dianggap orang yang tidak pengalaman tentang pelayaran (mungkin dianggap hanya tahu tentang kemah), jadi ide Paulus ditolak mereka, dan mereka lebih percaya kepada pengalaman jurumudi dan nakhoda daripada perkataan Paulus. Kadang-kadang orang yang hidupnya terus bergantung kepada pengalaman-pengalaman masa lalu, akan sulit sekali melihat pimpinan Tuhan yang baru. Saat itu semua orang lebih bersandar pada pengalaman daripada pimpinan Tuhan yang baru. Namun semuanya itu Tuhan ijinkan terjadi.

Mereka lebih berkuasa dan  Paulus hanya seorang tahanan, otomatis Paulus ikut dalam keputusan mereka. Di luar perkiraan mereka, turunlah angin badai (angin Timur Laut) tidak lama setelah kapal berlayar (Kis. 27:14) lalu untuk mencegah kapal tenggelam, barang muatan pun dibuang. Tindakan ini sama seperti yang dilakukan orang-orang dalam cerita Yunus. Kapal Yunus tidaklah besar dan tidak terisi banyak orang,  sedangkan kapal yang ditumpangi Paulus adalah kapal yang besar dan memuat banyak orang. Hal ini tampak dari banyaknya muatan yang dibuang (Kis. 27:18-19). Dalam kondisi sulit seperti itu, Paulus mengeluarkan kata-kata penghiburan, “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, akau menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun diantara kamu yang akan binasa kecuali kapal ini” (Kis, 27:22). Inilah semangat dari jiwa seorang nabi. Dalam kondisi kesukaran, ia menjadi berkat bagi orang yang sedang mengalami kesukaran. Paulus menubuatkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mengapa? “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milikNya, berdiri di sisiku” (Kis. 27:23).  Pada saat itu, orang-orang yang mendengar berita itu banyak yang menyembah ilah lain dan itu merupakan kesempatan Paulus untuk bersaksi, “Ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau.” (Kis. 27:24). Berarti semua orang dalam kapal akan selamat karena kehadiran seorang yang bernama Paulus. Jika Paulus tidak ikut naik dalam kapal, saya percaya saat angin badai melanda kapal, maka semua orang dalam kapal pasti akan mati. Kehadiran Paulus membuat orang di kapal tidak ada satupun yang mati dan kehadiran Yunus membuat semua orang di kapal ketakutan karena akan mengalami kematian.

Setelah dibangunkan Nahkoda, Yunus berespon minta agar dirinya dicampakkan ke laut. Yunus tidak menjadi penasehat dan ia juga tidak berlaku seperti seorang nabi yang menubuatkan sesuatu dari Tuhan akan terjadi, tetapi justru bernubuat yang palsu, “Kalau engkau lempar aku ke laut, maka laut ini akan tenang” (Yun. 1:12). Ini adalah nubuat palsu, karena setelah dilempar, laut bukan menjadi tenang tetapi Tuhan justru mengirim ikan besar. Perkataan Yunus dengan faktanya berbeda sekali sedangkan perkataan Paulus menjadi kenyataan.

Paulus berespon dan berkata, “Sebab itu tabahkanlah hatimu, saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah. Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau” (Kis. 27:25-26). Setelah Paulus bernubuat seperti itu, sampai di hari ke 14 kapal tetap diombang-ambing. Bukankah jika nubuatan Paulus benar maka ombak akan semakin turun dan semua selamat dengan segera? Ternyata Tuhan tidak memakai cara instant seperti itu. Mereka sudah membuang muatan kapal dan alat-alat kapal hingga tersisa sekoci. Paulus dengan kuasa Tuhan menganjurkan prajurit agar melepas sekocinya. Tujuannya agar tidak ada tahanan yang melarikan diri menggunakan sekoci meninggalkan kapal. Masukan itu didengar dan dituruti oleh prajurit sehingga tidak boleh ada orang yang dapat melarikan diri. Semua harus sehidup semati dan mau tidak mau beriman kepada apa yang telah Paulus katakan sebelumnya, “Kalian tidak akan mati, kecuali kapal ini yang akan hancur”.

Lalu Paulus mengajak semua orang untuk makan, “Sudah empat belas hari lamanya kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk keselamatanmu. Tidak seorangpun di antara kamu akan kehilangan sehelaipun dari rambut kepalanya.” (Kis. 27:33-34). Di sini kita lihat Paulus berfungsi sebagai penasehat lalu menjadi saksi bagi banyak orang di kapal tersebut, “Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan” (Kej. 27:35). Tindakan ini mirip seperti sakramen yang Yesus pernah lakukan dalam perjamuan malam. Dan kebiasaan memecah-mecahkan roti tersebut adalah kebiasaan orang-orang percaya pada saat gereja mula-mula. Di sini kita lihat Paulus mengambil kesempatan untuk menyatakan imannya di antara semua orang yang menyembah ilah lain. Dengan tindakan itu, Alkitab katakan bahwa mereka semua dikuatkan, “Maka kuatlah hati semua orang itu dan merekapun makan juga” (Kis. 27:36). Bukankah orang yang sedang akan menghadapi maut pasti tidak memiliki nafsu untuk makan?  Tetapi kali ini tidak.  Setelah dihiburkan oleh Paulus, barulah mereka semua mau makan. Setelah mereka makan, mereka membuang muatan gandum ke laut untuk meringankan kapal itu dan menurunkan sauh-sauh ke dasar laut, memasang layar dan siap untuk menuju ke pantai. Pendek cerita, semua orang dalam kapal akhirnya selamat sampai ke darat.

Mari kita bandingkan Yunus dan Paulus. Dua orang yang berespon berbeda saat menghadapi masalah yang sama. Yunus ada di kapal dalam PL dan Paulus ada di kapal dalam PB. Yunus seorang nabi yang tidak taat dan Paulus seorang rasul yang taat. Jika dilihat dari beratnya beban yang harus ditanggung, maka Pauluslah yang memiliki beban yang jauh lebih berat. Status Paulus saat itu adalah tahanan yang dikumpulkan bersama tahanan lainnya. Sedangkan status Yunus saat itu adalah orang bebas dengan orang-orang bebas lainnya. Sebagai orang bebas, seharusnya Yunus lebih leluasa menyatakan imannya. Sebagai tahanan, Paulus dihadapkan dengan kondisi yang serba salah jika menyatakan iman. Mengapa? Semua prajurit pasti sudah memiliki iman kepada kaisar. Saat itu, seorang prajurit tidak boleh memiliki Allah yang lain  selain kepada kaisar. Lalu semua tahanan saat itu juga sudah memiliki ilahnya masing-masing. Paulus tidak memiliki alasan yang cukup mendukung untuk menyatakan imannya. Paulus ditangkap dan menjadi tahanan karena justru karena telah mengabarkan Injil. Jika ia mengabarkan Injil lagi kepada perwira saat di kapal, maka perkataannya bukan hanya tidak didengar tetapi justru beresiko kepalanya akan dipenggal dan mati. Jika ia mengabarkan Injil ke para tahanan maka akan ditertawakan. Mereka berpikir, “Jika Allah Paulus benar  Allah yang  hidup, mengapa ia senasib dengan kami sebagai tahanan?” Dengan pertimbangan seperti itu, lebih baik Paulus memilih diam sambil mencari kesempatan yang tepat untuk bersaksi. Tetapi Paulus tidak lakukan hal itu, namun dia tetap bersaksi dengan berani. Saat Paulus menyampaikan berita Injil di saat-saat susah itu,  justru banyak orang lebih  mendapatkan berkat.

Lalu di tengah-tengah kondisi Yunus, seharusnya ia lebih berpeluang mengabarkan Injil Tuhan. Namun Yunus tidak peka dan akhirnya Tuhan memberi signal kedua yaitu nahkoda kapal untuk mengingatkan Yunus. Mengapa kamu tidur? Panggillah Tuhanmu?”. Saya heran, seorang nahkoda yang bukan orang percaya dapat mengingatkan seorang nabi Tuhan seperti itu. Dalam kehidupan inipun demikian. Banyak orang di sekitar kita yang non- Kristen, tetapi dapat mengingatkan kita untuk pergi ke gereja, membaca Alkitab atau agar berdoa. Saya pernah mengalaminya dan sering mendengar pengalaman dari orang yang konseling. Mereka share bahwa di tengah kesibukan aktivitas, terkadang ada orang lain yang mengingatkan mereka, misalnya: pembantunya mengingatkan untuk pergi ke gereja, temannya yang menegur saat ia tidak berdoa sebelum makan. Terkadang saat saya berdoa bersama dengan anak, anak saya melengkapi isi doa dan menjadi pengingat bagi saya. Saya membiasakan anak kembar saya berdoa sama-sama saya, lalu mereka ikut kata-kata saya yang memimpin doa. Kadang-kadang saya menguji mereka dengan sengaja lupa tidak berdoa. Akhirnya anak saya panggil, “Pa belum tau-kau (doa)”. Mereka mengingatkan saya bahwa kami belum doa bersama-sama. Dan waktu saya dan anak saya Luther berdoa, saya minta dia ikut saya berdoa, “Tuhan terima kasih Tuhan sudah memberkati papa, mama, Luther, Trifena, Trifena dan Felicia ...”, dia menyahut, “Dan mbak juga”. Saat ia sebut itu, saya baru ingat “Oh iya yah lupa si mbak”. Kadang Tuhan memakai anak kecil yang imannya masih polos untuk mengingatkan kita dan kita harus sadari itu.

Saudara harus jeli dan peka melihat sinyal yang Tuhan kirim dan menguji, “Benarkah ini sinyal yang dari Tuhan atau memang hal biasa saja?”. Karena jika tidak dapat membedakannya kita akan jatuh pada ekstrim lain yaitu over-sensitive. Jika saudara terlalu peka dengan sinyal kecil yang sebetulnya biasa-biasa saja, justru akan menjadi aneh. Saya sebenarnya salut dengan orang Karismatik. Mereka melihat hal di sekelilingnya lalu dikaitkan dengan penyertaan Tuhan dan berkat Tuhan, misalnya: bangun pagi mereka bersyukur dengan hati yang polos, “Puji Tuhan, Tuhan masih memberikan matahari untuk saya” ; “Puji Tuhan, Tuhan menolong saya menghindarkan saya dari tabrakan”, dll. Mereka sangatlah peka bahkan saat mau parkir di mall dan tidak dapat tempat parkir, mereka berkata, “Tuhan sedang melatih kami untuk bersabar” dan kalau pas dapat tempat parkir, mereka berkata, “Tuhan baik untuk anak-anakNya, Tuhanlah yang siapkan tempat parkir untuk anakNya”. Saat tidak dapat makan mereka berkata, “Puji Tuhan, masih banyak orang yang hidupnya belum makan” dan saat ada makan, “Puji Tuhan masih diberi makan”. Saya kagum karena semua hal dapat menjadi positif dan mengaitkan dengan pemeliharaan Tuhan. Mereka sangat sensitif terhadap hal-hal kecil dan iman merekapun bertumbuh menurut konsepnya mereka. Maka tidak heran kesaksian di gereja Karismatik sangat banyak orang yang ingin bersaksi. Berbeda dengan yang di gereja non-Karismatik yang cenderung sunyi senyap saat sesi kesaksian berlangsung karena tidak ada yang berani bersaksi. Namun banyak kesaksian di gereja Karismatik hanya berkisar Tuhan baik buat saya, dll, misalnya: “Puji Tuhan, saat di jalan ke gereja saya teringat akan rumah yang belum dikunci. Saya balik lagi dan kunci pintu rumah. Sekarang saya sudah di gereja dan bisa ikut kebaktian dengan tenang karena pintu rumah telah dikunci, terima kasih Tuhan” Semua yang mendengar dan tepuk tangan atas hal itu. Akhirnya mereka saat melihat satu peristiwa terjadi dalam hidup mereka, mereka langsung menafsirnya, Namun saya bukan mau memfokuskan pada sisi negatifnya mereka, tetapi nilai positifnya.

Paulus diperhadapkan dengan keadaan yang tidak kondusif untuk menyampaikan Injil. Tuhan memakai Paulus untuk menegur orang, tetapi orang menghina dia. Paulus tetap sabar dan tidak membalas dan tidak melukai orang yang menghinanya. Ia malah menolong mereka semua yang ada dalam kapal. Tindakan seperti inilah yang dapat merubah orang. Dalam Kitab Suci, Petrus adalah orang yang dapat dikatakan paling kurang ajar kepada Tuhan Yesus. Yesus dapat berkata, “Simon aku sudah kapok menunggu kamu bertobat, enyahlah engkau dari hadapanKu”. Namun Tuhan Yesus memanggil Petrus, “Simon, Simon. Jikalau engkau sudah insyaf. Kuatkanlah saudara-saudaramu.”. Kalimat Yesus tersebut mengandung pendidikan yang sangat dalam sehingga membuat Simon ingat akan kalimat itu. Di masa tuanya, Petrus mengingatkan dalam Kitab Petrus kepada seluruh penatua, “Gembalakanlah kawanan domba dengan rela hari”. Ia menguatkan orang yang sedang lemah karena dia ingat bahwa ia dulu pernah dikuatkan oleh Tuhan.

Yunus orang yang sangat kasihan. Menjadbat sebagai seorang nabi tetapi tidak berfungsi sebagai nabi. Nabi seharusnya bebas menyuarakan perkataan Tuhan, tetapi mulut Yunus justru tertutup karena tidur. Nabi adalah orang yang seharusnya lebih inisiatif menyerukan nama Tuhan tanpa disuruh oleh orang lain. Namun saat itu, Nahkoda yang mengingatkannya, “Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa” (Yun. 1:6). Di sini kita melihat, kehadiran Paulus menjadi berkat, kehadiran Yunus menjadi malapetaka. Minggu depan akan dilanjutkan dengan sinyal yang ketiga yaitu undian. Sinyal pertama adalah angin ribut, sinyal kedua adalah nahkoda dan yang ketiga nanti adalah undian. Apakah orang Kristen diperbolehkan menggunakan sistem undi? Mengapa jaman dulu memakai undian dan modelnya seperti apa? Semua ini akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#43 - 23/05/2010
"Hari Pentakosta: Mujizat Di Pentakosta"
Pdt. Aiter, M.Div.


Kis. 2:1-3; 3:1-2
Hari ini adalah Hari Pentakosta, khotbah hari ini adalah tentang Pentakosta. Lanjutan Eksposisi Yunus kita akan lanjutkan Minggu depan. Kita akan melihat dua bagian yaitu di Kis. 2:1-3, ”Dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing” dan Kis. 3:1-2, “Di situ ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya sehingga ia harus diusung”. Hari ini adalah hari Pentakosta dan gereja-gereja Tuhan sedang merayakan hari yang bersukacita ini. Pentakosta merupakan satu hari yang sangat penting di dalam seluruh sejarah pertumbuhan kekristenan. Karena saat Pentakosta itulah, gereja Tuhan bertumbuh luar biasa dan utusan Injil secara massal terjadi. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam PL, TUHAN memanggil satu per satu nabi lalu nabi-nabi tersebut diutus pergi, namun TUHAN tidak pernah memakai sekelompok besar orang pergi memberitakan Injil secara massal. Memang Yesus pernah mengutus 12 rasul berdua-dua dan 70 murid berdua-dua, namun dari laporan mereka setelah pulang dari misi, mereka melaporkan bahwa setan sudah ditaklukkan dan melalui mereka mujizat terjadi. Di sini kita melihat bukan Injil sejati yang ditonjolkan mereka. Lalu setelah peristiwa pengutusan itu, tidak ada lagi pengutusan misi Tuhan yang besar sampai ke jaman Pentakosta. Barulah pada saat Pentakosta, beribu-ribu orang diutus Tuhan memberitakan Injil keselamatan.

Dalam Kis. 2 muncul kalimat, “Lidah-lidah seperti nyala api. Saat saya pertama kali baca kalimat itu, saya bertanya-tanya, mengapa harus memakai istilah lidah api? Waktu saya melihat kobaran api, tidak cocok pakai istilah seperti lidah api, melainkan lebih cocok rambut-rambut api. Lalu, mengapa Alkitab memakai kata lidah-lidah api dan mencatat peristiwa orang lumpuh sejak lahir disembuhkan di Kis. 3? Mengapa bukan orang kusta atau orang-orang sakit lainnya? Mengapa harus orang lumpuh? Sebelum masuk ke dalam pembahasan Pentakosta ini, mari kita melihat 4 point sebelum Pentakosta, karena 4 point ini berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan di atas. Di dalam kehidupan Tuhan Yesus kita melihat ada 5 point yang dirayakan oleh orang Kristen, yaitu:

PERTAMA, Kelahiran Yesus. Jika saudara perhatikan, dari PL sampai PB ada gap waktu 400 tahun. Dalam seluruh PL, Tuhan bangkitkan nabi-nabi untuk menyuarakan Injil dan memakai orang-orang Yahudi untuk menyampaikan berita Injil Keselamatan. Tuhan bangkitkan satu nabi, lalu diteruskan dengan nabi lainnya, sampai akhirnya Tuhan kecewa melihat bahwa seluruh Israel tidak ada lagi pengharapan untuk bertobat. Nabi-nabi yang diutus ditolak dan bahkan dibunuh oleh mereka. Akhirnya Tuhan tidak lagi mengutus seorangpun nabi selama 400 tahun lamanya dari masa gap 400 tahun tersebut. Lalu di masa awal Kitab PB, yaitu sebelum Yesus lahir, Tuhan mengutus utusannya mengabarkan berita Injil / Keselamatan. Pertanyaannya: “Pada saat sebelum Yesus dilahirkan, siapakah yang diutus Tuhan?” Tuhan mengutus malaikat. Mengapa Tuhan memakai malaikat? Mengapa tidak memakai mulut orang  / nabi untuk menyampaikan berita Injil? Ini adalah sindiran besar kepada seluruh orang Yahudi, “Engkau kira engkau adalah orang yang Tuhan cintai? Memang benar engkau pernah Tuhan cintai, namun sekarang Tuhan membuang engkau. Tuhan tidak lagi memanggil nabi dari kalangan orang Israel seperti sebelumnya, namun sekarang Tuhan memakai seorang malaikat”. Tuhan mengutus malaikat Gabriel memberitakan berita sukacita (Injil) kepada Maria dan Yusuf. Malaikat Gabriel ini adalah utusan Injil pertama di dalam PB menyampaikan berita kedatangan Yesus yang tinggal sembilan bulan lagi. Ini adalah berita sukacita kepada Maria dan Yusuf bahwa Juruselamat umat manusia akan segera dilahirkan. Mengapa Tuhan memakai malaikat memberitakan Injil? Bukankah ini berlawanan dengan dalil penginjilan? Di dalam penginjilan, orang yang memberitakan Injil pasti  harus adalah orang yang telah mengalami anugerah keselamatan. Saat menjadi saksi Injil, pasti orang itu harus share bagaimana Kristus telah mengubah hidupnya. Kalau orang tersebut belum mengalami anugerah keselamatan, bagaimana orang tersebut bisa menyakinkan orang? Namun Tuhan memakai malaikat yang sendiri tidak pernah menerima anugerah keselamatan  menjadi seorang utusan Injil. Bukankah ini aneh? Coba kita bandingkan dengan  1 Pet. 1:12, “... Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat“. Dari ayat ini kita melihat, bahwa para malaikat (malaikat yang baik) memiliki satu keinginan untuk mengerti lebih dalam serta mengalami Injil keselamatan yang bukan hanya teori. Malaikat-malaikat mengetahui semua teori tentang Injil Keselamatan yang tercatat dalam Alkitab namun mereka tidak mengetahui betapa sukacitanya menerima dan mengalami percikkan darah Yesus yang mengampuni dosa-dosa manusia. Mengapa? Karena malaikat-malaikat tidak menerima tetesan darah Yesus yang membersihkan dosa mereka; malaikat juga tidak mengerti seperti apa sukacita manusia yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus, karena mereka adalah makhluk roh yang tidak pernah bertubuh dan berdaging dan tidak pernah bisa merasakan apa yang manusia rasakan. Tuhan memakai malaikat yang tidak pernah mengalami pengampunan dosa untuk diutus mengabarkan Injil. Sekali lagi ini merupakan hinaan / sindiran kepada seluruh orang Yahudi yang Tuhan tidak pakai. Lalu pertanyaan berikutnya, “Pada saat hari Yesus dilahirkan, siapakah yang diutus untuk mengabarkan berita Injil?” Jawab: Tuhan memakai malaikat lagi. Saat detik Yesus dilahirkan, hari itu Tuhan mengutus lagi malaikat-Nya untuk bicara kepada para gembala, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat...”. Mengapa Tuhan tidak memakai mulut manusia? Ini sindiran besar yang terjadi di alam semesta. Malaikat sendiri tidak pernah merasakan sukacita Injil, tetapi malaikat taat dipakai Tuhan. Waktu Tuhan memakai nabi-nabi, banyak nabi-nabi yang taat kepada Tuhan dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Sedangkan nabi yang tidak taat kepada Tuhan melarikan diri dari tugas pekabaran Injil (Yunus). Pertanyaan: “Setelah Yesus dilahirkan, siapakah yang menjadi pengabar Injil?” Jika dilihat secara kronologis, Tuhan sudah mempersiapakan kelahiran Yohanes pembaptis 6 bulan lebih dahulu daripada Yesus. Tuhan mempersiapkan  bayi yang berusia 6 bulan itu selama 30 tahun untuk menjadi seorang pekabar Injil atau pengkhotbah KKR.  Saya heran, mengapa satu orang dipersiapkan sampai 30 tahun? Mengapa Tuhan memakai waktu yang panjang untuk satu orang? Mengapa Tuhan tidak memakai dunia malaikat seluruhnya untuk turun ke bumi kabarkan Injil? Bukankah tidak perlu repot menunggu  kelahiran manusia satu per satu lalu diproses berpuluh-puluh tahun? Ternyata Tuhan tidak memakai cara demikian. Karena di dalam hati Tuhan, Tuhan ingin mempersiapkan manusia untuk mengabarkan Injil. Waktu manusia menolak panggilanNya, Dia tetap sabar menanti dan terus memanggil. Tuhan terus menantikannya sampai manusia itu sendiri tergerak. Jangan saudara mengabaikan panggilan Tuhan ini. Saat Yesus umur 30 tahun, Yesus pun mengabarkan Injil. Jadi waktu itu ada dua orang dipersiapkan untuk mengabarkan Injil: Yohanes Pembaptis yang dipersiapkan selama 30 tahun dan Yesus yang dipersiapkan dari kekekalan, “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan” (1 Pet. 1:20). Yesus merupakan penggenapan dari rencana keselamatan / Mesias yang dijanjikan dalam PL. Yohanes Pembaptis yang telah dipersiapkan selama 30 tahun harus mengalami kematian tragis, yaitu harus mati dipenggal kepalanya. Lalu Yesus sendiripun akhirnya mati disalibkan. Dua pekabar Injil yang besar pada waktu itu sendiri mengalami kematian.

KEDUA, Kematian Yesus. Sebelum Yesus disalib, Ia mengumpulkan 12 rasul untuk mengadakan perjamuan malam terakhir. Saat itu Yesus  sendiri mengabarkan Injil, “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk. 22:19). “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28). Ini adalah Injil keselamatan, berita kelepasan, berita sukacita di malam perjamuan terakhir. Jadi, dapat dilihat bahwa baik pada saat Yesus dilahirkan maupun Yesus mati, semua peristiwa itu berkenaan dengan Injil harus dikabarkan. Paulus berkata, “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan mengambil roti ... Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum dari cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (1 Kor. 11:23-26). Ini berarti penginjilan.

KETIGA,      Hari Kebangkitan Yesus. Pertanyaan: Pada saat Yesus bangkit, siapakah pekabar Injil pertama yang Tuhan pakai?” Tuhan memakai malaikat lagi, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya ...” (Mat. 28:6); dan “... Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang telah dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan dan akan bangkit pada hariyang ketiga.” (Luk 24:5-7). Malaikat berbicara kepada murid Yesus yang adalah perempuan yang datang ke kubur. Kalimat malaikat ini adalah kesimpulan dari seluruh Injil yang Yesus pernah khotbahkan bahwa Anak Manusia akan disiksa dan dibunuh, tetapi pada hari yang ketiga akan bangkit. Malaikat mengingatkan kembali karena seluruh murid melupakan kalimat Tuhan Yesus dan sekarang Yesus sudah bangkit. Malaikat seolah-olah menyindir mereka semua, “Mengapa engkau datang membawa rempah-rempah untuk merempah-rempahi mayat Yesus? Mengapa engkau masih berkabung? Ingat Yesus sudah bangkit dan Dia Hidup.” Saya sempat bertanya-tanya di manakah para rasul dan 70 murid saat Yesus bangkit? Di mana para murid yang sudah dididik oleh Tuhan Yesus, mengapa mereka tidak mengabarkan Injil di hari kebangkitan atau hari Kemenangan Yesus? Di sini kita lihat betapa sedihnya Yesus kepada para murid yang sudah dididik 3 ½ tahun namun tetap tidak mengerti tentang misi Yesus datang ke dalam dunia. Beberapa orang perempuan yang datang ke kubur waktu itu adalah orang-orang yang juga melayani Yesus melalui kekayaan mereka (Luk. 8:3), namun betapa kasihannya orang-orang yang sudah berkorban mendukung pelayanan Yesus, namun sendiri tidak begitu mengenal Yesus.

KEEMPAT, Hari Kenaikan Yesus ke Sorga. Dari sebelum Yesus lahir, pada hari Yesus lahir dan pada hari kebangkitan Yesus (Paskah orang Kristen), dan bahkan waktu Yesus terangkat ke sorga, Tuhan memakai malaikatNya untuk menyampaikan atau mengingatkan berita Injil. Pada waktu kebangkitan Yesus, selama 40 hari Yesus sendiri memberitakan Injil / membuktikan diriNya Hidup dan memberitakan Kerajaan Allah (tema Kerajaan Allah selalu berkaitan dengan Injil Keselamatan). Lalu setelah Yesus mencelikkan mata murid-muridNya, mereka kabarkan Injil (Yesus Hidup) kepada murid-murid yang lain (kalangan sendiri). Masa 40 hari tersebut merupakan kuliah theologi yang sangat penting. Mengapa? Karena itu adalah masa menyakinkan semua murid Yesus bahwa Yesus Hidup, lalu pada hari Pentakosta, semua murid akan pergi memberitakan bahwa Yesus yang dimatikan oleh orang-orang Yahudi sudah bangkit mengalahkan kuasa kematian (Dia Hidup). Lalu di hari terahir sebelum Yesus tinggalkan para murid dan naik ke sorga, Dia mengatakan, “Jikalau Roh Kudus itu turun, kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8) dan mengutus utusan Injil (Amanat Agung: Mat. 28). Dari Point Pertama sampai Keempat, kita melihat belum ada utusan Injil yang langsung pergi dalam jumlah yang besar. Nanti puncak pengabaran Injil yang dilakukan oleh banyak orang adalah pada saat Pentakosta.

KELIMA, Hari Pentakosta. Pada saat Roh Kudus turun perkataan Yesus yand di Kis. 1:8 digenapi. Sejak Pentakosta, utusan Injil bukan lagi malaikat tetapi Tuhan memakai orang-orang yang sudah menerima anugerah keselamatan dan diutus secara massal. Tuhan menantikan sampai Pentakosta baru ada utusan Injil yang rela pergi sendiri. Sebelumnya, kalau dipanggil alasannya sangat banyak. Saat Yeremia dan Musa dipanggil, mereka beralasan tidak petah lidah. Sampai kepada jaman Kisah Para Rasul, Hari Pentakosta, tidak pernah kita dengar ada alasan para murid yang mengatakan, “Aku tidak bisa, saya tidak pandai bicara”. Semua pergi mengabarkan Injil. Dari semula memang Tuhan ingin manusia yang kabarkan Injil. Tuhan begitu sabar menantikan manusia diproses oleh Tuhan dan sadar penginjilan itu perlu. Saya kagum dengan Tuhan yang begitu sabar menantikan seorang manusia sampai punya kesadaran sendiri. Namun ironisnya, Tuhan ijinkan satu demi satu yang terbaik dibunuh oleh orang-orang berdosa. Tuhan tidak memakai malaikat (makhluk roh) yang kepalanya tidak mungkin hilang, namun Tuhan memakai manusia yang kepalanya bisa hilang. Pentakosta merupakan puncak dari pekabaran Injil itu.

Sekarang kita kembali, dalam Kis. 2 muncul kata, “Lidah-lidah api” Mengapa memakai kata lidah? Dalam PL, lidah merupakan sesuatu yang sangat penting. Lidah yang diciptakan Tuhan, selalu orang pakai sebagai alasan untuk tidak melayani Tuhan. Tuhan ciptakan lidah, ini anugerah Tuhan. Manusia memakai anugerah yang dia terima ini (lidah) untuk menolak anugerah Tuhan yang lain (pelayanan). Ini yang saya sebut anugerah menolak anugerah. Saat Musa diutus, Musa berkata, “Aku tidak petah lidah”, lalu Tuhan berkata, “Siapakah yang menciptakan lidah?” Betulkah Musa tidak petah lidah? TIDAK. Terbukti di dalam pelayanannya, Musa fasih sama sekali, bahkan fasih dalam memarahi Tuhan. Seringkali kita lihat orang-orang gagap berbicara kalau sudah marah, gagapnya jadi hilang, apalagi orang yang tidak gagap. Semua orang yang bilang dirinya tidak fasih berbicara, saat dia marah sama Tuhan, juga kita lihat fasihnya luar biasa.

Sekarang kita akan gabungkan dua point yang penting lidah (Kis. 2) dan kaki (Kis. 3). Kita akan mengontraskan keduanya dan akan dibahas penggabungannya. Lidah berkaitan dengan mulut / bibir yang akan dikaitkan dengan berani bersaksi. Kaki berkenan dengan rela diutus pergi. Perhnatikan dalam kasus Yesaya, setelah Tuhan membereskan mulutnya, maka Tuhan  menggerakkan kaki untuk melangkah. Perhatikan Yes. 6:5-8, awalnya Yesaya adalah orang yang najis bibirnya, lalu ada bara yang menyentuh ke mulutnya. Kemudian kaki Yesaya akan digerakkan, “... Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku:”Ini aku, utuslah aku!”. (Yes. 6:8). Jadi disini ada kombinasi antara mulut dan kaki. Lidah/mulut/bibir digabungkan dengan kaki yang mau pergi. Ini sesuatu yang menarik. Kalau Saudara berkata, “Saya mau mengabarkan Injil.”, Saya tanya balik, “Apakah kaki rela pergi?” Dalam dunia ini banyak orang egois, dan juga banyak orang fasih. Namun fasihnya hanya di dalam mulut, kaki tidak mau bergerak. Antara kaki dan mulut haruslah seimbang. Banyak orang yang mau pakai mulut, tetapi kaki tidak mau jalan jauh. Orang semacam ini punya potensi besar tetapi hanya “jago kandang”, hanya di tempat sekeliling dia saja target pelayanannya. Mereka berdalih akan setia menjaga domba-domba Tuhan yang sudah ada jadi tidak pergi jauh-jauh. Jika memang benar demikian, seharusnya semua Rasul yang telah setia di Yerusalem tidak perlu lagi diutus ke tempat lain. Namun yang benar adalah jikalau mereka sudah setia di satu tempat, Tuhan juga menuntut kesetiaan mereka mengabarkan Injil di tempat lain. Jika saudara sudah setia melayani di satu tempat, apakah saudara dapat setia di tempat lain yang harus keluar energi, tenaga, serta uang yang besar? Saya pernah bertemu orang yang kakinya dipakai pergi terus ke kota-kota dan ke desa-desa, tetapi itu semua karena urusan bisnis. Kaki lincah tetapi mulut bukan dipakai untuk Injil. tidak dipakai kabarkan Injil. Mari kita contoh berikutnya, yaitu Yeremia. Yeremia waktu dipanggil Tuhan, dia juga pakai alasan tidak pandai bicara (Yer. 1:6), lalu Tuhan menjamah mulutNya (Yer. 1:9). Setelah mulut dibereskan, maka sekarang kaki harus digerakkan, “Kamu kutetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”. (Yer. 1:5). Kaki Yeremia mesti menuju ke bangsa-bangsa. Jadi kalau saudara sudah dibereskan lidahnya, saudara harus evaluasi diri: sudahkah kaki saudara rela dipakai pergi?

Sebelum hari Pentakosta, Yesus berkata, “Kamu akan jadi saksiKu di Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi” Jadi “saksi” berarti peranan mulut yang harus beritakan Injil, dan “di” berarti peranan kaki yang harus dipakai pergi terus. Kalau mulut bicara Injil, tetapi kaki tidak mau jalan maka tidak mungkin menuju ke ujung bumi. Injil bukanlah milik satu tempat dan Injil haruslah dikabarkan sampai ke tempat-tempat yang sangat jauh, ke tempat yang sulit ditempuh dan melelahkan. Setelah Roh Kudus turun, kita melihat lidah semua orang dibuka untuk berani bersaksi. Padahal sebelumnya para murid adalah orang yang kunci pintu dan tidak berani mengabarkan Injil karena takut ditangkap. Namun sekarang mereka buka pintu lebar-lebar dan berani pergi bersaksi Injil Kristus.

Maka menarik sekali, waktu Lukas mencatat Kitab Kisah Rasul, dia menuliskan setelah hari Pentakosta, mujizat fisik pertama yang terjadi adalah orang lumpuh sejak lahir disembuhkan. Mengapa mujizat ini yang dicatat? Setelah pekabaran Injil di hari Pentakosta, jumlah murid yang percaya semakin bertambah banyak. Di Yerusalem penginjilan jalan lancar, jumlah orang percaya terus bertambah, serta persekutuan semakin erat, semua kepemilikan menjadi milik bersama, dan sama-sama melayani Tuhan. Bukankah ini kabar bagus? KURANG BAGUS. Mengapa? Karena mereka hanya puas bergabung dengan sesama orang-orang Yahudi di Yerusalem. Alkitab mencatat mereka biasa berkumpul di Bait Allah, di Serambi salomo. Di satu sisi memang baik, tetapi di sisi lain mereka lupa dengan kata “ujung bumi”. Mereka puas dengan apa yang mereka capai di Yerusalem, namun Tuhan tidak membiarkan hal ini terus terjadi. Mereka harus pergi ke ujung bumi. Bagaimana caranya? Tuhan ijinkan penganiayaan terjadi supaya kaki mereka harus pergi sampai ke ujung bumi, jangan puas dan berhenti hanya di satu tempat tertentu. Meskipun mereka sudah diterima baik di satu tempat, tetapi tetap harus menjalankan misi Tuhan ke tempat yang baru dan jauh. Seperti Filipus yang telah diterima baik di Samaria, dia harus rela diutus Tuhan pergi ke tengah jalan yang sunyi untuk menginjili Sida-sida dari Ethiopia (Kis. 8). Penganiayaan adalah alat Tuhan supaya kaki para murid Tuhan pergi jauh. Sejarah catat, Matius pergi sampai ke Ethiopia, Tomas ke India. Mereka tidak pakai transportasi kuda, namun mereka berjalan kaki. Kaki adalah alat transportasi yang paling murah yang Tuhan ciptakan. 

Bagaimana dengan pelayanan rasul Paulus? Perhatikan perkataan Tuhan, “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma (Kis 23:11). Oleh karena itu, setia di satu tempat (Yerusalem) tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mau pergi ke tempat yang lain (Roma). Kalau kaki adalah alat transportasi yang paling murah, maka mulut adalah “sound system / speaker“ yang paling murah yang Tuhan ciptakan. Jadi kaki sebagai transportasi yang akan membawa “sound system / speaker” ke tempat-tempat yang jauh. Di hari Pentakosta, Tuhan ijinkan mujizat orang lumpuh disembuhkan, hal ini saya kaitkan Tuhan ingin mengatakan akan ada terjadi kesembuhan yang lebih penting dari pada kesembuhan fisik, yaitu sembuh dari lumpuh rohani. Kaki akan dipakai pergi terus mengabarkan Injil Keselamatan. Maukah Saudara? Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#44 - 30/05/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #4: Signal Ketiga"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1:7-16
Hari ini kita akan melihat sinyal ketiga yang Tuhan kirim kepada Yunus, yaitu melalui undian. Dalam Kitab Suci, Tuhan menyatakan isi hatiNya melalui berbagai macam cara. Cara yang paling umum yaitu Tuhan memakai Nabi untuk menyuarakan Firman Tuhan. Cara lain yang Tuhan pakai adalah Tuhan berfirman dari dalam awan atau badai, memakai mimpi atau penglihatan, memakai para malaikatNya, dan juga memakai fenomena alam lainnya, Lalu ada cara lain yang Tuhan gunakan dalam Kitab Suci, adalah melalui undian. Dalam Kitab Suci, undian diijinkan Tuhan karena dibalik undian itu, Tuhan menyatakan apa yang Tuhan mau.  Jaman dahulu Tuhan pernah memakai cara undian, tetapi di jaman sekarang undian tidak diperkenan lagi. Mengapa? Karena jaman dulu,  Alkitab PL dan PB belum selesai ditulis jadi Tuhan masih memakai cara-cara seperti yang saya katakan tadi, termasuk undian, tetapi setelah Kitab Suci sudah selesai ditulis, maka Tuhan tidak memakai cara tersebut lagi. Wahyu Tuhan sudah selesai dan tidak ada wahyu baru lagi.

Dalam Kitab Suci, undian memang Tuhan ijinkan untuk dipakai namun hasil keputusannya tetap berada di tangan Tuhan. Mengapa sistim undian dipakai? Karena undian membuat suatu keputusan menjadi netral dan tidak bisa diatur siapa yang kena undi. Tidak ada seorangpun yang akan tahu, siapa yang bakal kena undi, melainkan hanya Tuhan yang tahu, “Undi dibuang di pangkuan tetapi setiap keputusan berasal daripada Tuhan” (Ams. 16:33). Undian di jaman PL memiliki banyak tujuan:

Pertama, Untuk Menentukan Jenis Korban Persembahan. Dalam Im. 16:6-10 dikatakan, “... Ia (Harun) harus mengambil kedua ekor kambing jantan itu dan menempatkannya di hadapan  TUHAN di depan pintu Kemah Pertemuan, dan harus membuang undi atas kedua kambing jantan itu, sebuah undi bagi TUHAN dan sebuah bagi Azazel ...” Bukankah sebagai seorang Imam, Harus mestinya tahu apa yang Tuhan mau, tetapi dalam hal ini terlihat ada hal-hal tertentu yang mau tidak mau harus pakai undi untuk mengetahui keputusan Tuhan. Saat Yesus memilih 12 rasul, Yesus tidak menggunakan undi, “Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu ...” (Yoh. 15:16); “... Ia (Yesus) memanggil orang-orang yang dikehendakiNya dan merekapun datang kepadaNya.” (Mrk. 3:13);  “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah ... Ia memanggil murid-muridNya kepadaNya, lalu memilih dari antara mereka 12 orang, yang disebutNya rasul.” (Luk. 6:12-13).

Kedua, Untuk Membagi Kavling Satu Suku Dengan Suku Lain. Dalam Bil. 26:52-56 dikatakan, “... Tetapi tanah itu harus dibagikan dengan membuang undi; menurut nama suku nenek moyang mereka haruslah mendapat milik pusaka; ...” Di dalam bacaan tersebut kita menemukan, awalnya Tuhan sudah menetapkan prinsip, yaitu untuk suku yang berjumlah besar haruslah dibagi tanah yang juga besar dan suku yang berjumlah sedikit harus diberikan tempat yang sesuai dengan jumlah tersebut.  Kalau kalimat itu berhenti sampai di situ, maka semua suku akan berkata bahwa suku merekalah yang besar. Lalu jika ada  suku yang jumlahnya kecil, mereka akan berusaha memperbanyak anak-anak mereka agar menjadi suku besar untuk mendapat tanah warisan yang besar.  Jikalau hal ini tidak diselesaikan, maka kelak di tanah perjanjian pasti akan terjadi konflik. Untuk mengantisipasi konflik tersebut maka Tuhan perintahkan kelak mereka harus memakai sistem undi. Kenapa memakai undi? Karena sekali lagi saya katakan, undi itu sifatnya netral, tidak memihak ke kiri atau ke kanan. Namun Tuhanlah yang tetap menentukan keputusanNya jatuh kepada siapa.

Ketiga, Untuk Pembagian Tugas Pelayanan. Dalam 1 Taw. 25:8-31 mengatakan, “Tua dan muda, guru dan murid, membuang undi mengenai tugasnya ...” Undian dilakukan sampai undian ke-24.

Keempat, dan lain-lain.

Lalu, bagaimana dengan PB? Apakah PB juga memakai sistem undian? YA. Imam Zakharia terpilih berdasarkan undian untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ, “Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.” (Luk 1:9). Pada waktu itu, undian tidak boleh jatuh kena kepada orang lain, melainkan harus jatuh kepada imam Zakharia. Mengapa? Sebab waktu itu, seorang malaikat utusan Tuhan diutus untuk berbicara dengan Zakharia mengenai nubuatan kelahiran anaknya (Yohanes Pembaptis). Jika undian tidak jatuh pada imam Zakharia yang bertugas, maka malaikat tersebut harus tunggu sampai periode undian berikutnya untuk menentukan siapa yang bertugas. Jadi Tuhan sudah mengatur undian tersebut harus jatuh kepada siapa, supaya rencana Tuhan terjadi.

Contoh berikutnya, dalam Kis. 1:15-26 waktu para rasul ingin mencari siapakah yang cocok sebagai pengganti Yudas Iskariot yang sudah mati, maka mereka membuang undi. Petrus sebagai pemimpin dari para rasul mengusulkan syarat-syarat siapa yang bisa masuk nominasi pengganti Yudas, “Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitanNya.” (Kis. 1:21-22). Lalu terpilihlah dua orang nominasi yang cocok untuk menggantikan Yudas Iskariot, “Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan yang juga bernama Yustus, dan Matias.” (Kis. 1:23). Dari dua nama yang disebutkan tadi, saya menarik kesimpulan, sebetulnya para rasul sudah mempunyai semacam pilihan yang paling cocok yang akan dipilih itu adalah siapa. Mengapa saya katakan demikian? Di dalam satu komunitas Kristen, kalau ingin pilih salah satu orang untuk sesuatu pelayanan, tentu kita akan tahu siapa yang paling cocok dan siapa yang kurang; siapa yang lebih disukai dan siapa yang kurang. Dan di dalam memperkenalkan dua orang yang berpotensi, kita akan mengetahui orang yang memperkenalkan orang-orang tersebut punya hati berapa besar kepada siapa melalui cara dia memperkenalkan orang-orang tersebut. Demikian juga waktu Lukas mencatat peristiwa ini, dia memperkenalkan orang pertama dari kedua orang yang terpilih dari sekian banyak nominasi dengan menjelaskan panjang lebar nama lain dari orang pertama tersebut: Yusuf = Barsabas = Yustus. Sedangkan waktu memperkenalkan Matias, tidak dijelaskan apa-apa. Dari sini saya menarik kesimpulan, orang-orang yang berkumpul waktu itu tahu yang lebih cocok untuk menggantikan Yudas Iskariot adalah Yusuf tersebut, namun karena ada dua orang nominasi akhir, maka mereka harus fair memilih satu di antaranya tanpa harus ada unsur senang atau tidak senang. Maka di sini Tuhan tidak melarang para rasul dan murid-murid yang berkumpul waktu itu menggunakan sistem undian, “Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.” (Kis. 1:26). Tuhan mengetahui seluruh Rasul ingin siapa yang menggantikan Yudas, namun Tuhanlah yang menentukan undian jatuh ke siapa. Saya percaya para rasul tidak menduga bahwa pilihan jatuh kepada Matias. Matias terpilih bukan karena Matias lebih baik daripada Yustus Namun ini merupakan suatu teguran Tuhan kepada rasul-rasul yang hatinya sudah tidak netral.  Sebetulnya, baik Matias ataupun Yustus yang terpilih, keduanya sama-sama  tidak memiliki signifikansi yang begitu besar dalam sejarah kekristenan. Tidak ada khotbah atau pelayanan apapun yang dikerjakan mereka yang dicatat Kitab Suci. Matias dipilih hanya untuk menutup kekurangan satu angka yang hilang dari 12 angka (12 rasul). Siapakah sebenarnya yang Tuhan persiapkan untuk menggantikan Yudas Iskariot? Kalau kita membaca pasal-pasal setelah itu, kita akan melihat, Tuhan Yesus memanggil dan memilih Saulus sebagai rasul bagiNya. Banyak teolog mengakui bahwa pengganti Yudas Iskariot bukanlah Matias tetapi adalah Paulus. Mengapa? Karena 12 rasul dipilih langsung oleh Tuhan Yesus waktu Yesus masih hidup di di dalam dunia ini. Sedangkan Matias dipilih oleh para rasul dan murid-murid yang hadir pada waktu itu berdasarkan sistem undian. Sedangkan Paulus adalah rasul yang langsung dipilih oleh Tuhan Yesus. Jadi yang paling cocok sebagai pengganti Yudas Iskariot adalah rasul Paulus.

Lalu contoh di dalam PB, ada juga undian dipakai untuk mengundi jubah Tuhan Yesus. Hal tersebut dilakukan dari orang jahat yang ingin mengambil jubah Tuhan Yesus.

Kembali ke cerita Yunus, setelah semua orang memanggil Tuhannya. Yunus yang masih tertidur dibangunkan Nakhoda untuk gilirannya memanggil Tuhannya. Pada jaman dahulu, orang Ibrani maupun orang Kafir memiliki konsep bahwa kesusahan yang mereka alami adalah akibat ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan. Setelah mendapat malapetaka, mereka semua satu-per-satu mulai mengintrospeksi diri namun mereka tidak merasa ada dosa dengan ilah mereka, lalu supaya lebih objektif, maka mereka memakai sistem undi untuk mencari siapa penyebab bencana itu. Saat undian dipakai, maka tidak ada yang bisa berdalih lagi. Undi jatuh ke tangan siapa, maka dia lah yang harus bertanggung jawab. Peluang undian untuk jatuh ke tangan Yunus sebenarnya sangatlah kecil (asumsi ada beberapa puluh orang di kapal).

Benda yang digunakan untuk undian biasanya adalah batu yang tipis dan diberikan kode. Bagaimana sistem undian yang dilakukan, tidak diketahui detailnya. Coba saudara bayangkan, mengapa hari itu ada alat yang bisa dipakai untuk undian? Jika saat itu semua barang yang akan dipakai untuk undian tidak ada, bagaimana mereka akan mengundi?  Oleh karena itulah Tuhan ijinkan ada bahan tertentu masuk ke dalam kapal yang akhirnya bisa digunakan untuk mengundi. Dari semua barang yang dibuang ke laut saat diterjang ombak, bahan undian tetap Tuhan ijinkan berada di dalam kapal. Setelah diundi, Yunus kena undi dan menjadi terdakwa atas seluruh malapetaka. Lalu Yunus diinterogasi.  “Berkatalah mereka kepadanya: Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau? Sahutnya kepada mereka: Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.” (Yun. 1:8-9). Ini merupakan pengakuan Yunus yang luar biasa. Ia mengucapkan pengakuan iman dengan pengertian yang dalam dan sangat tajam pada saat bahaya di tengah ombak. Banyak orang yang sedang di tengah bahaya, lupa semua ayat Kitab Suci bahkan kadang-kadang malah kalimat-kalimat makian yang keluar dari mulut dia dan bahkan mengutuk Tuhan. Di tengah kesusahan itu, Yunus masih mengerti doktrin Allah yang dalam. Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: “Apa yang telah kauperbuat?—sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka.” (Yun. 1:10). Jadi ada selang waktu yang Alkitab tidak catat bahwa Yunus menceritakan bahwa ia sedang dalam perjalanan melarikan diri dan seluruh orang kapal pun akhirnya mengetahuinya. Saat Yunus menceritakan kasusnya, tidak ada rasa gentar atau takut, sedangkan orang yang mendengar yang merasa ketakutan. Mengapa mereka takut? Karena orang-orang sekitar sangat takut dengan Tuhannya orang Ibrani. Mereka mengetahui bahwa Allah orang Ibrani (YHWH / Adonai) mampu mengalahkan semua dewa-dewa di Mesir, mampu membelah lautan, mengalahkan dewa Kanaan yang terkenal mengerikan. Nama Yahweh yang sudah sangat ditakuti bangsa lain, namun orang di dalam sendiri tidak takut kepada Tuhan dan bahkan berani melarikan diri dari hadapan Tuhan. Sungguh ironis dan mirip dengan kondisi saat ini. Banyak orang non-Kristen saat mendengar nama Yesus, mereka menjadi terharu dan menyanjungNya. Sedangkan bagi orang Kristen yang katanya percaya kepada Yesus, justru sering menyakiti hati Yesus. Yunus harusnya bangga memiliki Tuhan yang hebat namun dia tidak sadar betapa kagumnya orang-orang akan Tuhannya. Pengetahuan tentang Allah yang Yunus tahu itu hanya secara kognitif, dan tidak mengerti secara praktika hidup. Pada saat ketiga wilayah (langit, laut dan darat) disebutkan, seharusnya Yunus sadar bahwa ia lari kemanapun, tetap tidak dapat lari dari Tuhan yang menciptakan tiga wilayah itu.

Setelah kena undi dan diinterogasi oleh orang-orang dalam kapal, Yunus mengaku bahwa dirinya adalah Nabi utusan Tuhan. Mereka tahu bahwa seorang Nabi sudah seharusnya menubuatkan sesuatu. Merekapun bertanya kepada Yunus, ”Akan kami apakan engkau supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora.”  (Yun. 1:11). Seharusnya sebagai seorang Nabi, Yunus memberikan usulan yang benar, namun apa kata Yunus? “Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu.” (Yun. 1:12). Ciri nabi sejati adalah nubuatannya terjadi. Apakah Yunus adalah seorang nabi sejati? Karena setelah dia mengatakan “Campakkanlah aku ke dalam laut maka laut akan menjadi reda”, maka gelombang laut-pun betul-betul menjadi reda. Apakah Yunus nabi sejati? Perhatikan kalimat berikutnya, “Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu”. Yunus tahu alasan muncul badai besar yaitu karena dirinya sedang lari dari perintah Tuhan ke Niniwe. Maka seharusnya Yunus mengaitkan dirinya yang salah arah dan perlu berbalik arah ke tujuan awal yang Tuhan tetapkan yaitu Niniwe. Seharusnya Yunus mengusulkan untuk kembali ke daratan agar ia pergi ke Niniwe. Namun Yunus  tidak mengungkit panggilan itu bahkan Yunus mengusulkan hal yang nekad yaitu melemparkan dirinya ke dalam laut. Seolah-olah usulan itu terdengar seperti seorang pahlawan yang hendak menyelamatkan orang dalam kapal, tetapi dibalik itu Yunus memiliki maksud yaitu Yunus ingin bunuh diri. Ia bersikeras tidak akan pergi ke Niniwe. Yunus menggunakan cara ekstrim untuk menghindar dari kejaran Tuhan. Ia berpikir kalau ia mati maka Tuhan akan berhenti menyuruhnya ke Niniwe dan Niniwe akan ditunggangbalikkan Tuhan. Inilah motivasi Yunus lari dari hadapan Tuhan.


Pada saat dia kembali ke Niniwe, Yunus berkata, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun. 3:4b). Mengapa ia tahu 40 hari lagi? Karena sebelumnya (pasal satu) saat Tuhan memanggil dia, Tuhan pasti SUDAH membocorkan satu rahasia mengenai waktu kapan Niniwe akan ditunggangbalikkan. Misalnya: jika waktu itu di pasal 1 Tuhan berkata 50 hari lagi, maka Yunus yang menolak perintah itu sudah memprediksikan rencana untuk tidak ke Niniwe dalam kurun waktu itu. Maka ia memilih lari ke Tarsis sebagai tempat yang paling jauh dan membutuhkan perjalanan panjang, apalgi Pulang Pergi lalu ke Niniwe. Yunus sudah memperhitungkan rentang waktu antara nubuat dari Tuhan dengan lama waktu pelariannya. Yunus boleh memperhitungkan waktu dan bahkan dapat lari dari hadapan Tuhan, namun Tuhan memakai cara lain yang di luar prediksi Yunus, yaitu: Tuhan mencegat pelarian Yunus dengan memberikan ombak yang besar di tengah laut. Yunus habis akal untuk mengulur waktu pelariannya. Maka ia  memakai satu-satunya cara yaitu dilemparkan ke laut. Yunus berpikir jika dirinya  mati, maka lautan akan tenang dan tuntutan Tuhan terhadap dirinya pun akan selesai. Yunus tidak mengerti bahwa jika dirinya mati, ia pasti tetap akan berhadapan dengan Tuhan. Ia pikir saat mati tidak akan bertemu Tuhan. Tuhan kirim signal berikutnya, yaitu utus ikan besar untuk menelan Yunus. Pada saat Yunus ada di perut ikan tersebut, dia ibarat ada di dalam dunia orang mati, “... dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.” (Yun. 2:2). Awalnya Yunus mengira bahwa TUHAN nya hanya ada di dunia orang hidup. Yunus berpikir bahwa ia dapat sembunyi dari TUHAN jika ia sudah masuk dalam dunia orang mati. Saat Yunus di dalam perut ikan, itu seperti kuburan di dalam perut ikan. Di dalam perut ikan gelap gulita. Ia berteriak serta menyadari bahwa ia tidak dapat lari lagi. Di mana dia berada di situ Tuhan ada.

Yunus adalah seorang nabi yang tidak menolong orang lain dan yang lebih suka seluruh Niniwe dibinasakan Tuhan. Nabi yang cuek dan tidak mengindahkan orang-orang di kapal sudah percaya Tuhan atau belum. Nabi yang memiliki kesempatan mengabarkan Injil kepada orang dalam kapal, tetapi ia tidak melakukannya. Beberapa minggu lalu, telah dijelaskan mengenai paralel Yunus di kapal – Yesus di perahu – Paulus di kapal. Peranan Paulus dalam kapal tahanan adalah menyaksikan kebesaran Tuhan dan menghibur orang-orang di dalam kapal. Namun Yunus yang kelihatan seperti seorang Pahlawan, tidak menjadi berkat bagi orang-orang sekitarnya. Seolah-olah dia telah menolong orang di kapal dengan mengusulkan dirinya dilempar ke dalam laut, namun sesungguhnya Yunus tidak berbuat apa-apa. Yunus adalah orang yang sangat keras. Orang yang keras dipersiapkan Tuhan ke tempat yang lebih keras. Jika Saudara adalah orang yang keras, Saudara harus bersyukur karena berarti ladang Saudara nanti juga akan keras. Seperti Paulus, ia adalah orang yang keras dan Tuhan mempersiapkannya pergi ke Roma, suatu daerah yang sangat keras. Orang-orang Romawi terkenal dengan kesadisannya dalam membunuh orang yang tidak tunduk pada Kaisar. Minggu depan kita akan melanjutkan pembahasan kita. Kita juga nanti akan melihat pasca Yunus dilemparkan ke laut dan Tuhan mengirim “kapal selam” pertama, yaitu ikan besar. Yunus tidak dapat lihat apa-apa di dalam perut ikan, seperti masuk sea world yang tidak ada jendela. Jika dia melayani Tuhan baik-baik, pasti ia akan mendapat mahkota / pahala, tetapi karena ia keras hati maka mahkota lumut yang didapatnya, “Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku.” (Yun. 2:5). Nanti sampai selesai kita eksposisi Kitab Yunus, kita akan melihat cerita Yunus dikaitkan dengan kematian Tuhan Yesus, “Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Mat. 12:40).


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Danny/Sonny)


#45 - 6/06/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #5: Signal Ketiga (#2)"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1:7-16
Dulu saya pernah membaca tafsiran kitab Yunus dari tafsiran yang doktrinnya kacau. Meski saya heran dan kaget dengan penafsiran mereka, saya tetap senang membacanya untuk mengetahui apa yang mereka tahu tentang nabi Yunus. Ada komentari yang mengatakan bahwa Yunus sedang tidak melarikan diri. Kalimat ini sudah menentang ayat Alkitab yang mengatakan bahwa Yunus melarikan diri. Mereka menyanggah justru Yunus sangat peka dengan tempat di mana ia harus menginjili. Karena terbukti, orang-orang di kapal akhirnya menjadi bertobat karena kehadiran Yunus. Jadi, Yunus bukan sedang melarikan diri dari TUHAN tetapi justru melakukan kehendak TUHAN dengan menginjili orang di kapal. Ini ajaran yang bahaya karena isinya bertentangan dengan seluruh Kitab Suci. Jika dicermati,  di manakah ayat yang menunjukkan bahwa Yunus mengabarkan Injil kepada orang-orang di kapal? Tidak ada. Pengakuan Yunus akan siapa Tuhannya baru keluar saat ditanya oleh orang kapal dan bukan lahir dari inisiatif sendiri. Jika Yunus tidak ditanya, maka pasti ia akan diam sampai tiba di daratan yang ia tuju.  Sejak awal, Yunus tidak berencana mengabarkan Injil kepada orang di kapal dan saat itu konteksnya Yunus sedang melarikan diri. Ketika Nahkoda membangunkan Yunus, ini merupakan sindiran besar bagi Yunus. Dalam terjemahan lain, Yunus disebut sleeper atau seorang pemalas atau tukang tidur. Ini menyatakan bahwa Yunus tidak ada inisatif mengabarkan Injil. Maka tafsiran yang menyebut bahwa Yunus tidak melarikan diri tetapi justru sedang melakukan kehendak Tuhan, itu adalah SALAH.

Pada Minggu lalu sudah dibahas mengenai undian. Di jaman PL dan PB, sistem undian tetap masih berlaku. Sampai kapan? Sampai semua Kitab Suci sudah selesai penulisannya. Sebelum selesai ditulis, Tuhan mengijinkan ada cara-cara yang Tuhan tidak pakai lagi di jaman sekarang, yaitu Tuhan dapat memakai mimpi, penglihatan, dsb untuk menyatakan WahyuNya Salah satu cara yang Tuhan pakai adalah undian. Minggu lalu sudah dibahas bahwa manusia melakukan undian tetapi keputusan tetap di tangan Tuhan (Ams. 16:33). Saat di kapal, orang-orang melakukan undian bukan berdasarkan perintah Tuhan tetapi karena inisiatif mereka yang ingin mengundi. Setelah mereka mengundi, ternyata hasil jatuh pada Yunus. Jika undian jatuh ke tangan orang lain, maka cerita kitab Yunus menjadi berbeda. Jadi, hasil undian tidak boleh jatuh kepada orang yang salah dan harus jatuh ke tangan orang yang tepat. Ini adalah pimpinan Tuhan sehingga akhirnya undian jatuh ke Yunus. Di dalam kehidupan ini, Saudara harus introspeksi dan bertanya “Mengapa ya pada hari itu kok  saya yang di telepon? Mengapa ya hari itu kok saya yang merasa kena tegur?” Mungkin dengan memakai cara-cara yang tidak diduga, Tuhan sedang ingin berkata-kata kepada kita melalui mulut orang yang Tuhan pakai.

Sekilas, Yunus seperti pengecut karena melarikan diri. Motivasi Yunus melarikan diri bukan karena Yunus takut, tetapi Yunus tidak ingin Niniwe ditobatkan Tuhan. Kalau dilihat secara keseluruhan cerita, Yunus merupakan seorang pemberani luar biasa. Yunus bukan tipe orang pengecut. Keberanian Yunus nyata saat ia berani pergi ke Tarsis yang saat itu dianggap ujung bumi. Untuk pergi ke tempat yang sangat jauh itu, dibutuhkan iman keberanian yang besar. Di sana tidak ada sanak saudara atau orang Yahudi yang dia kenal namun dia berani mengadu nasib ke negeri asing yang sama sekali tidak pernah ia kunjungi. Ia pasti tidak tahu jalan di sana (belum ada peta/GPS) dan bingung akan menetap di mana. Namun dia tidak takut. Saat kapal diombang-ambing ombak pun, Yunus tidak merasa takut sedikitpun. Dan bahkan, setelah Yunus kena undipun, rasa gentar tidak ada di dalam hatinya. Ia tidak memberontak atau menolak hasil undian. Ia sadar bahwa, ia tidak dapat mengelak lagi. Ia pasrah menerima konsekuensi bahwa undian telah jatuh kepada dirinya. Ia tahu bahwa orang-orang akan memvonis dan akan menghukumnya. Yunus menerima semua itu. Saat ditanya, Yunus tidak mengelak atau mengarang cerita yang membuat dirinya aman. Dengan berani ia menyatakan dan mengaku  bahwa ia sedang melarikan diri dari hadapan Tuhan, “Sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka(Yun. 1:10). Berarti ada waktu yang tidak dicatat dalam Alkitab kapan Yunus share tentang pelarian dirinya kepada orang-orang di kapal. Setelah mendengar hal itu, orang-orang di kapal menjadi takut. Yunus tidak takut, yang takut justru orang lain. Tak hanya itu, Yunus tidak takut diamuk orang-orang kapal karena menjadi pembawa masalah. Bahkan, Yunus mengusulkan agar dirinya dilemparkan ke laut. Yunus telah melihat ombak yang begitu besar tetapi tidak ada kengerian dalam hatinya. Ini merupakan bentuk keberanian yang luar biasa. Di satu sisi saya kagum dan bertanya, “Kok di dunia ada yah orang yang seperti ini.” Orang yang tidak ada hati atau keinginan untuk bertobat dan kembali ke hadapan Tuhan. Yang ada malah keinginan untuk melarikan diri.

Yunus adalah orang yang Tuhan persiapkan untuk mentobatkan Niniwe. Cerita Yunus Tuhan persiapkan di PL untuk nantinya Tuhan Yesus pakai dalam PB sebagai Tipologi. Di PB, Tuhan Yesus mengutip cerita Yunus ini (Mat. 12:41) dan mengaitkan diriNya dengan Yunus. Di PL, Yunus adalah seorang nabi yang tidak taat yang dipanggil Tuhan untuk mengabarkan Injil kepada Niniwe, kota yang sangat besar dan kejam. Nabi seharusnya taat, tetapi Yunus tidak taat. Ia adalah nabi yang tidak beres tetapi tetap dipakai Tuhan untuk mempertobatkan bangsa yang tidak beres. Jika PB tidak mengutip ayat dari PL, maka cerita Yunus ini hanyalah cerita historis saja. Namun, Yesus mengutip cerita Yunus untuk menyindir seluruh orang Yahudi. Dalam PL, Yunus tidak taat. Orang yang tidak taat akhirnya dapat membuat bangsa yang sangat jahat seperti Niniwe dapat bertobat, “Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus(Mat. 12:41b). Jadi, cerita Yunus adalah cerita yang pasti diketahui dan diakui oleh orang Yahudi. Orang Yahudi menerima cerita Yunus sebagai hal yang sangat menarik dalam PL sehingga memasukkannya sebagai kitab kanon PL orang Yahudi. Cerita Yunus diakui sebagai firman Allah oleh orang Yahudi (khususnya Sekte Farisi). Yesus ingin mengatakan, “Hai kamu yang sudah tau cerita Yunus. Kamu tahu bahwa Yunus tidak taat. Orang yang tidak taat saja dapat mentobatkan bangsa yang tidak taat. Ketahuilah bahwa yang ada disini adalah lebih besar daripada Yunus. Mengapa kalian yang katanya mengerti Firman tetapi sulit untuk mengerti dan tetap menolak Aku??” Yang ada di sini maksudnya adalah Yesus. Yesus taat menjalankan kehendak TUHAN sedangkan Yunus tidak taat dengan melarikan diri dari hadapan Tuhan. Tuhan Yesus ingin memberi sindiran bahwa bangsa Niniwe yang sangat rusak saja dapat bertobat. Bukankah seharusnya bangsa Yahudi yang adalah bangsa pilihan TUHAN lebih dapat bertobat? Tetapi mengapa justru bangsa Yahudilah yang menolak dan tidak mau percaya Yesus? Maka cerita Yunus adalah cerita yang unik yang tidak boleh dikaitkan dengan diri kita sendiri. Banyak orang yang sedang lari dari hadapan Tuhan lalu mengaitkan dirinya sama seperti Yunus yang sedang melarikan diri. Kondisi ini tidak boleh disamakan, karena konteksnya jauh berbeda. Yunus adalah seorang pemberani, sedangkan saudara mungkin lari karena takut. Sama seperti penderitaan Ayub yang tidak boleh disamakan dengan orang yang menghadapi masalah berat. Konteksnya jelas berbeda, kesulitan Ayub unik dan tidak dialami oleh orang lain.

Yunus 1:9 Sahutnya kepada mereka: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan”. Ini adalah pengakuan Yunus mengenai Allah yang ia mengerti. Yunus adalah orang yang awalnya takut akan Tuhan lalu dipanggil ke Niniwe dan Yunus melawan Tuhan. Kalau Tuhan panggil ke kota lain, saya yakin Yunus pasti akan taat dan pergi. Masalahnya, Yunus memiliki sentimen pribadi dengan kota Niniwe. Dalam hati masih mengaku bahwa dirinya takut kepada Tuhan, di sisi lain hati tidak bersedia diutus ke tempat yang Tuhan mau (tidak takut Tuhan). Satu sisi dekat dengan Tuhan, di sisi lain jauh. Ini kontradiksi yang juga dialami oleh orang Kristen. Banyak orang Kristen merasa: Meskipun  saya sudah lama tidak baca Alkitab, namun saya tetap dekat sama dengan Tuhan. Mungkinkah orang yang takut kepada Tuhan sekaligus melarikan diri dari hadapan Tuhan? Harusnya semakin orang takut dengan Tuhan, maka ia akan semakin dekat dengan Tuhan. Ini namanya paradoks. Semakin seseorang takut akan Tuhan, ia akan semakin dekat dengan Tuhan. Yunus memiliki konsep lain, ia memang takut kepada Tuhan tetapi ia tidak suka dengan perintah Tuhan sehingga melawan Tuhan. Berarti takutnya Yunus belum sepenuhnya takut. Ini celaka yang besar jika ada orang yang sifatnya demikian. Hati tidak sepenuhnya takut akan Tuhan. Semua boleh Tuhan suruh asal jangan Tuhan suruh saya ke sana. Alasannya adalah karena ia benci dan tidak dapat mengampuni. Ada “asal” yang berasal dari keinginan pribadi, ini berbahaya.

Yunus mengaku bahwa ia adalah orang yang takut akan Allah. Ia tahu Tuhannya berkuasa atas alam. Tetapi di sisi yang lain, ia lari dari Tuhan. Jika digambarkan secara lingkaran, maka Yunus adalah orang di dalam lingkaran dalam. Artinya dia adalah orang yang kenal Tuhan dan tahu Tuhannya siapa. Ironisnya, justru orang yang ada di dalam lingkaran sendiri (dalam) tidak mengetahui kekuatan dan kehebatan Tuhan yang mereka sembah. Orang-orang di luar lingkaran justru lebih mengetahui dan gentar akan kehebatan Tuhannya Yunus. Kasihan sekali !

Saya pernah mengadakan seminar Hamba Tuhan di Rantepau – Tana Toraja dengan tema “Kegagalan Hamba Tuhan” dan menyinggung sekilas tentang Rahab. Setelah khotbah, ada seorang pendeta yang bertanya, “Apakah saya menyetujui kelakuan Rahab yang katanya percaya kepada Tuhan tetapi hidupnya melacur?”. Lalu saya balik tanya, “Saat Rahab berkata kepada dua pengintai, apakah dia sudah bertobat atau belum?”.Perhatikan saudara, saat itu Rahab sudah bertobat. Terlihat dari perkataannya kepada dua pengintai, “Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya, bahwa kami akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut” (Yos. 2:12-13). Kalimat ini membuktikan bahwa Rahab sudah menjadi orang baik. Saat itu seluruh penduduk Yerikho sudah memiliki dewa masing-masing. Dewa yang disembah diyakini sangat hebat. Yerikho terkenal dengan temboknya yang kokoh dan pertahanan serta tentaranya yang sangat hebat. Sehingga orang Yerikho sangat bangga karenanya. Rahab adalah seorang yang tinggal di Yerikho dan ia tidak menganggap dewa-dewa Yerikho lebih besar dari YHWH. Ia memiliki iman bahwa  YHWH sanggup menaklukkan kotanya. Ini adalah iman yang besar. Ia berpesan kepada kedua pengintai untuk menyelamatkan mereka sekeluarga. Lalu setelah itu, Rahab pasti harus segera meyakinkan keluarganya bahwa Yerikho akan dihancurkan YHWH. Jika Rahab hidupnya tidak beres, orang yang mendengar pesannya tidak akan menggubrisnya dan bahkan mentertawakannya. Keluarganya akan mengganggap bahwa Rahab sinting atau sedang berhalusinasi. Jika hidup Rahab masih hidup dengan cara yang lama (belum bertobat), maka Rahab tidak mungkin dapat menyadarkan keluarganya. Rahab harus meyakinkan anggota keluarganya dengan mencerminkan iman dan perbuatannya sehingga keluarganya  dapat percaya. Ia memperingatkan keluarganya untuk berkumpul dirumahnya saat Yerikho dihancurkan. Jika hidup Rahab tidak beres, maka keluarganya pasti akan menghina dia. Namun Alkitab menceritakan keluarga Rahab diselamatkan.

Rahab memiliki ketakutan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan yang disembah oleh orang Israel. Namun orang Israel sendiri tidak takut kepada Tuhan yang disembah mereka. Terbukti pada saat Kanaan ditaklukkan, justru bangsa Israel menjadi bertambah jahat dan dosa bertambah setiap hari. Tidak ada hati yang gentar dan takut akan ALLAH.  Dari Yosua yang memimpin masuk Kanaan, sampai matinya Yosua dan seluruh tua-tua, orang-orang Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan (tercatat di dalam kitab Hakim-hakim). Ini berarti memang sejak awalnya, bangsa Israel adalah bangsa yang bebal. Mereka hanya tunduk saat ada pemimpin, saat pemimpinnya sudah tidak ada maka menjadi sangat liar.
Yunus yang percaya Tuhan (di lingkaran dalam) seharusnya lebih takut kepada Tuhan daripada orang tidak percaya (di lingkaran luar). Saat di kapal, orang-orang belum percaya (di lingkaran luar) justru memiliki rasa takut yang luar biasa. Saat Yunus mengaku siapa Tuhannya, orang lain yang mendengar langsung tidak berani bermacam-macam dengan Yunus. Ada kengerian kepada Tuhan yang disembah oleh orang Ibrani. Jika Yunus belum menceritakan siapa Tuhannya, maka orang-orang akan langsung melemparkan Yunus saat Yunus minta agar dirinya dilempar ke laut. Mereka akan lempar Yunus ke laut tanpa pikir panjang. Bagi mereka, Yunus hanya seorang pemalas, tidak bantu-bantu saat ombak menyerang, bahkan setelah kena undi, dia adalah yang justru menjadi sumber bencana. Bahkan mungkin saja sebelum dilempar ke laut, Yunus akan dipukulin ramai-ramai dahulu. Faktanya, emosi demikian tidak dilampiaskan kepada Yunus. Hal ini dikarenakan orang-orang mengetahui serta takut kepada TUHAN yang disembah oleh Yunus. Setelah mereka mendengar pengakuan iman Yunus, mereka tidak berani menyentuh Yunus. Namun, Yunus tidak menyadari betapa hebat TUHAN nya sampai membuat orang lain tidak berani menyentuh dirinya. Yunus tidak menghargai hal seperti itu. Demikian pula dengan kita yang sudah mengetahui bahwa kuasa setan tidak akan dapat menyentuh atau merasuki hidup orang percaya. Namun, kita masih sering takut kepada setan. Orang di luar Kristus dapat dirasuki setan dengan mudah, tetapi orang Kristen tidak dapat dirasuki. Namun demikian, banyak orang Kristen masih sering takut kepada setan, dan tidak menyadari betapa hebatnya Tuhan Yesus dalam hatinya.  Yunus seorang Nabi, tetapi ia tidak mengetahui betapa dihormatinya TUHAN yang  ia sembah, sampai orang di kapal menjadi segan dengan TUHAN nya. Seluruh orang menghormati Yunus karena dia adalah seorang yang menyembah Allah Yahwe, TUHAN yang sangat hebat. Mereka berpikir jika mereka menyentuh Yunus, maka mereka akan mendapat murka dari TUHAN nya Yunus. Ini terlihat ketika Yunus mengusulkan agar dirinya dilemparkan ke laut, orang-orang tetap berusaha sekuat tenaga agar kapal bisa menuju ke daratan dengan selamat. Mereka tetap bersikeras bahwa Yunus tidak boleh dicelakai, meskipun Yunus sudah mengusulkan, “Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka” (Yun. 1:13). Setelah mereka sudah mendayung lama dan merasa bahwa hasilnya percuma, akhirnya mereka mengikuti saran Yunus. Saat mau melempar Yunus, mereka berdoa, “Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kau kehendaki.” (Yun. 1:14). Hal ini seharusnya membuat Yunus malu. Mengapa? Karena seharusnya yang mendoakan semua orang di situ adalah Yunus. Namun saat itu justru orang di kapal yang berdoa. Yang awalnya tidak mengenal Yahwe menjadi berdoa kepada Yahwe, sedangkan Yunus yang mengenal Yahwe tidak berdoa. Mereka berdoa syafaat agak mirip seperti Abraham berdoa syafaat. “Jangan kiranya Engkau biarkan kami binasa (orang yang tidak bersalah)”. Atau dengan kata lain, mereka ingin berkata, “Masakan Tuhan menghukum Yunus yang bersalah sama seperti Tuhan menghukum mereka yang tidak bersalah?”. Jika Tuhan ingin menghukum Yunus, maka jangan melibatkan mereka dan jangan mereka binasa dengan cara seperti Yunus. Sebelum kota Sodom dan Gomora dihancurkan Tuhan, Abraham berdoa. Isi doa Abraham saudara bisa baca dalam Kej. 18:23-24. Intinya, kalau kota orang fasik akan dihancurkan tetapi ada orang benar di dalamnya, maka orang benar tidak boleh ikut dihancurkan. Tuhan harus berlaku adil sehingga yang boleh dihancurkan hanya orang fasik, “Karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah”. Dalam kasus Yunus, orang dalam kapal mengaku bahwa mereka tidak bersalah. Orang-orang di kapal  mengetahui penyebab bencana adalah Yunus yang sedang berdosa kepada Tuhan. Namun, mereka tidak berani menyentuh Yunus. Mereka berpikir jika Yunus tetap dipertahankan, maka mereka juga akan kena musibah. Mau tidak mau mereka harus melempar Yunus ke laut. Jadi, mereka melempar Yunus dengan kondisi terpaksa. Mereka lalu mengangkat dan mencampakkan Yunus ke laut.

Sebelum Yunus dilempar, orang dalam kapal ijin dulu dengan TUHAN Yunus. Mereka melakukan itu karena takut dengan Tuhan Yunus, tetapi Yunus tidak menyadari itu.  Dalam PL, ada ayat yang berkata, “Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat kepada nabi-nabiKu! (1 Taw. 16:22). Ayat ini sering dikutip oleh orang Karismatik untuk membela hamba Tuhannya saat ajarannya dikritik. Dalam Alkitab dikatakan “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia.” (1 Kor. 3:17). Maka, orang yang menyentuh orang Kristen, resikonya orang itu akan berhadapan dengan Tuhan orang Kristen. Namun terkadang orang yang tahu hal itupun tidak peduli dan tetap menyiksa orang Kristen. Terkadang saya teringat akan cerita tentang Lazarus dan orang kaya dalam Lukas 16. Orang kaya sudah terlalu enak di dalam dunia, maka nanti setelah mati ia akan berada di tempat yang tidak enak. Lazarus yang di dunia selalu tidak enak maka setelah mati akan diberi tempat yang enak. Kadang Tuhan mengijinkan hal-hal yang tidak enak terjadi kepada orang Kristen. Saat orang menghina orang Kristen, ia sedang mengina Tuhan orang Kristen. Sebaliknya, saat orang mengagumi orang Kristen maka ia sedang mengagumi Tuhannya orang Kristen. Maka saudara jangan hanya membuat orang kagum dengan diri saudara tapi juga buatlah mereka kagum kepada Tuhan kita.

 Yunus adalah orang yang sangat kasihan. Ia dikagumi oleh banyak orang karena Tuhannya hebat, tetapi ia tidak menyadari hal itu. Akhirnya orang seperti itu harus “bergabung” dengan ikan di laut. Pertemuan selanjutnya, kita akan melihat Tuhan memberikan sinyal yang lain yaitu Tuhan kirim ikan besar. Ini merupakan sindiran lagi kepada Yunus dari Tuhan. Tuhan ingin memperlihatkan bahwa angin dan gelombang laut dapat takluk kepada perintah Tuhan, tetapi Yunus tidak. Maka Tuhan kirim ikan besar untuk memakannya. Ikan itu “dijinakkan” oleh Tuhan, ikan itu harus menelan Yunus hidup-hidup tapi tidak boleh menggigitnya. Dulu belum ada sirkus yang dapat menjinakkan ikan besar, tapi di PL ikan besar tunduk kepada perintah Tuhan. Pertemuan selanjutnya akan kita bahas secara lengkap. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#46 - 13/06/2010
"Firman Menjadi Daging"
Pdt. Ivan Kristiono, M.Div.


Yohanes 1:1-5, 14
Saudara, perlu disadari bahwa  manusia sedang berebut dengan Tuhan mengenai masalah standard atau patokan. Dosa membawa manusia akhirnya menggulingkan tahta Tuhan di dalam hatinya serta menjadikan diri manusia sebagai patokan dan standard segala sesuatu, termasuk patokan dan standard kebenaran. Misalkan kita berkata “Ada orang aneh”. Bukankah definisi aneh dan tidak aneh itu patokannya diri kita sendiri? Rambut gimbal / gondrong terlihat aneh karena tidak seperti masyarakat saya yang rambutnya pendek-pendek; Sopan atau tidak sopan disesuaikan dengan standard saya; Orang ini bodoh atau pintar kita ukur memakai standar saya . Dibanding dengan saya, pengetahuan dia lebih rendah, maka dia itu bodoh. Dibanding dengan saya, dia nilainya lebih tinggi maka dia itu pintar. Manusia seringkali tidak sadar menjadikan dirinya yang tidak mutlak menjadi standar atau acuan yang mutlak. Mudah/sulit, pintar/bodoh, bisa/tidak, normal/tidak, semua itu patokannya adalah diri sendiri. Maka banyak orangtua yang tidak sadar menjadikan dirinya menjadi acuan mutlak bagi anak-anak. Saat orangtua mendidik anak, mereka tidak sadar sedang menuntut anaknya dengan acuan diri sendiri, “Kok fisikamu cuman dapat nilai 6, dulu papa minimal dapat 8,5. Mau jadi apa besok?”.

Manusia ingin menjadi standard segala sesuatu termasuk standard kebenaran. Alkitab mengatakan bahwa standard kebenaran adalah Tuhan. Tuhan adalah standard mutlak dari segala kebenaran adalah Tuhan. Yang melampaui dunia inilah yang dapat menjadi patokan segala sesuatu. Saat manusia tidak taat dalam standard nya Tuhan, merekapun membuat ide sendiri. Saat ide serta pikiran manusia telah dijadikan standard, maka manusia mengalami malapetaka, misal: komunisme. Idenya sangat bagus tetapi pada akhirnya sejarah mencatat bahwa manusia banyak yang menderita. Penindasan terjadi di mana-mana, seperti:  Opression, Violence. Pada awalnya, jurang yang terjadi antara yang kaya dan yang miskin dipandang tidak benar. Lalu orang komunis membuat paham yang tanpa kelas dan tanpa ikatan. Dalam level filosofi, hal ini dipandang baik. Antara bos dan karyawan disamakan gajinya, karena sama-sama bekerja. Kesenjangan gaji, hanya membuat eksploitasi satu pihak. Jika konsep tersebut direalisasikan maka ada ketidakrelaan bagi orang di kelas atas dan orang di kelas bawah sangat ingin jika gajinya disamakan dengan yang kelas atas. Namun karena saat itu banyak orang tertindas, filosofi itu terdengar sangat menarik. 


Saat saya  membaca tentang sejarah mode, ternyata Tiongkok juga merupakan sejarah mode. Saya sempat kaget karena menurut saya Tiongkok cukup konservatif dan sulit dinamis. Tiongkok dicatat menjadi sejarah mode, karena ada satu masa di mana semua pakaian dibuat sama. Seperti seragam karyawan yang digunakan untuk bekerja, memiliki seragam yang sama. Mereka ingin membangun masyarakat yang tanpa kelas untuk menghindari penindasan. Namun, dibalik itu nyatanya penindasan baru telah dimulai dengan versi berbeda, yaitu penindasan hak asasi manusia. Hingga memeluk agamapun harus memakai tradisi kebudayaan kuno. Ini namanya, melawan penindasan dengan penindasan yang lebih keras. Alkitab mengingatkan bahwa standard mutlak segala sesuatu bukan ide-ide canggih manusia, tetapi pemikiran-pemikiran yang kelihatan sederhana, namun mengandung kebenaran Kitab Suci. Alkitab mengatakan manusia dan dunia bukanlah standard. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1). Maka Tuhan adalah yang kekal, tidak berubah, dan absolut. Tuhan adalah yang mutlak, tidak berubah serta yang menjadi dasar dari segala sesuatu.  Segala sesuatu dijadikan oleh dia. Tanpa dia tidak ada suatupun yang telah jadi (Yoh. 1:3). Tuhan dan FirmanNya menjadi dasar dari segala ciptaan. Firman menjadi fondasi, dasar, esensi segala sesuatu. Tuhan yang adalah kebenaran merupakan standard. Firman itu telah menjadi daging (Yoh. 1:14) atau Firman itu menjadi manusia. Lalu Allah berfirman dan terjadilah dunia. Setelah dunia tercipta, dunia ini memiliki keanekaragaman. Betul? Jadi jika saya gambarkan: Firman yang satu dan absolut lalu menjadi terang, cakrawala, dan seterusnya. Ini berarti ada keragaman. Mengapa? Karena di dalam Allah Tritunggal sendiri terdapat keragaman; di dalam Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Roh Kudus (Ada 3-ada 1, ada 1-ada 3). Ada Tiga, tetapi satu Allah. Ada satu dan ada keragaman. Demikian juga Firman, pada waktu dunia dicipta, dunia penuh keragaman. Dasar dan essensinya adalah satu dan absolut, namun pancarannya beragam. Kita harus mengingat, bahwa cara Alkitab melihat hidup ada dasar / fondasinya. Saya memakai istilah: esensinya satu, mutlak, tidak berubah, tetapi pancarannya beragam. Misal: Saat saudara melihat pohon, bentuknya pasti macam-macam. Ada yang miring ke kiri, ke kanan. Bentuknya tidak beraturan meskipun masih di dalam lingkup ciri-ciri sebuah pohon cemara. Seperti berjuta-juta manusia yang kita temui, kita lihat mereka memiliki keragaman. Sama-sama punya dua mata, satu hidung dan satu mulut tetapi berbeda satu sama lain. Sama seperti Allah Tritunggal; ada kesatuan dan ada keragamannya. Logika ini pun yang seharusnya diterapkan ke semua bidang. Jangan jadikan semua manusia adalah satu dan jangan hanyut pula dalam keragaman. Konsepnya harus ada satu dan ada keragaman. Esensinya satu, pancarannya beragam. Ada unity ada diversity. Ada singular dan ada plural.

Saya pernah berkhotbah mengenai teology of pleasure yang membahas sampai sejauh mana orang kristen boleh menikmati pleasure, karena itu diijinkan Tuhan. Kadang-kadang orang Kristen waktu menikmati kenikmatan, mereka merasa berdosa luar biasa. Saya punya teman yang setelah ia minum es jeruk atau yang ketiduran, ia merasa berdosa sekali. Dia belum mempelajari teologi of pleasure sehingga merasa berdosa seperti itu. Bukan seperti itu saudara, karena Tuhan tidak segitunya menyiksa kita, itu pandangan yang salah tentang Tuhan. Ada batas-batas kita diijinkan Tuhan untuk menikmati pleasure. Oleh karena itu, bersuka citalah saudara-saudara sekalian karena telah diberi tubuh dan jangan sampai terikat oleh satu kenikmatan saja (addict).

Terdapat dua ekstrem cara pandang selain Kristen atau orang Kristen yang bidat. Pertama, orang yang menekankan segala sesuatu hanya esensi. Saat akan membeli baju, ia pikirannya bertanya-tanya, ”Mengapa harus model dan merk yang itu?”, ”Bukankah yang penting pakaian itu untuk menutup tubuh. Selesai”. Jawaban seperti ini menekankan esensi. Ini mengerikan, jika benar demikian maka Tuhan ciptakan pohon yang lurus saja, karena toh esensinya pohon untuk memberikan oksigen. Dalam sejarah, filosofi hidup tersebut dilakukan oleh kaum Stoic. Orang Stoic itu tenang, tidak emosi, stabil dan selalu memikirkan esensi segala sesuatu. Misal: saat ada Blackberry tertinggal, orang Stoic hanya melihat lalu berpikir, ”Benda itu hanya besi plastik. Kalau saya ambil itu, dapat mempengaruhi integritas saya, maka saya tidak ambil bahkan akan saya kembalikan”. Mereka lihat apapun, yang mereka lihat adalah esensinya. Rata-rata yang hidup demikian adalah orang kaya yang hidupnya sederhana, tenang dan tidak mudah digoncangkan. Orang demikian hidupnya sangatlah fokus dan tidak mudah tersesat  karena mereka sadar role nya. Tetapi kaum Stoic ini memiliki kelemahan, yaitu mereka mem-bypass sesuatu yang indah yang Tuhan beri kepada kita yaitu emosi. Bagi orang Stoic, menangis adalah hal tabu. Padahal Alkitab catat Yesus tiga kali menangis. Dalam Kitab Suci, menangis adalah hal yang indah.

Kedua, orang yang menekankan keragaman. Semua keragaman diikuti dan dihidupi, sehingga tidak tahu lagi esensinya apa. Orang demikian bingung dan hanyut dalam keragaman. Seorang pengamat, sosiolog kiri, sekaligus seorang Filsuf Jerman, Herbert Marcuse memberi kritik kepada orang modern, yaitu: Manusia sekarang sudah menjadi manusia satu dimensi bukan banyak dimensi. Kritik demikian ada benarnya. Hidup manusia kelihatannya memiliki banyak acara, sibuk sana-sini, serta terlihat penuh kegemilangan. Padahal kita sedang mengalami suatu ketersilauan. Manusia itu sebenarnya temanya hanya satu, yaitu hidup hanya untuk belanja. Itu namanya one dimensional man, manusia satu dimensi. Kelihatan acaranya banyak, namun intinya cuman satu yaitu belanja. Orang demikian hanyut dalam keanekaragaman yang tidak ada habis.

Maka, didapat dua ekstrem. Yang satu hanyut dalam keragaman yang tiada habisnya, yang satu tidak pernah terbuka dengan keragaman. Alkitab mengatakan bahwa ada satu dan ada ragam. Ada Firman yang menjadi manusia. Ada standard, esensi, ada yang mutlak, ada patokan tetapi juga ada keragaman. Inilah yang menjadikan pemahaman dunia ini berdasarkan Firman menjadi sulit.  Berdasarkan ada satu ada ragam (Firman menjadi manusia), maka terdapat dua poin yang menjadi peringatan bagi kita untuk tidak dilakukan:

Pertama, jangan berpikir bahwa kebenaran itu dingin dan kaku. Banyak orang Kristen yang salah menilai bahwa kebenaran itu sang mutlak yang berada jauh di luar sana. Bukan di sini, tetapi disana dan tidak ada kaitannya dengan kita. Orang Kristen demikian memegang Firman dengan kaku dan tidak ada toleransi. Ingat, bahwa Firman telah menjadi manusia, ada kehangatan dan tidak boleh ada kekakuan. Saya pernah dengar satu Kotbah yang mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh menjadi pejabat. Dia kurang cermat karena di dalam PL ada beberapa pejabat, yaitu Daniel, Yusuf dan Nehemia. Saat kita menjadi satu pejabat, itu adalah hal normatif dan bukan sesuatu yang mutlak. Ada orang yang Tuhan taruh di tengah-tengah pemerintah untuk melawan penguasa. Ini namanya pancaran. Dalam Alkitab, ada tokoh yang diberi kekayaan seperti Abraham dan Ayub tetapi ada juga tokoh yang sering mengalami kelaparan, kedinginan, kapal karam seperti Paulus dan Petrus. Jika saudara mengatakan bahwa saya ingin menjadi orang Kristen model Abraham tidak ingin seperti Paulus. Maka ketahuilah, bukan kita yang menentukan tetapi Tuhan. Jika kita hanya tertuju kepada pancaran maka kita tidak dapat lagi membedakan yang inti dengan yang pancaran. Contoh lain: ada tafsiran yang mengatakan bahwa orang Kristen yang benar tidak boleh kaya dan tidak boleh miskin. (Berdasarkan Amsal 30:8-9, ”Jangan jadikan aku kaya nanti aku melupakan Engkau dan jangan jadikan aku miskin nanti aku menghina Engkau”). Namun kita melihat bahwa Abraham dan Ayub adalah orang kaya, dan Petrus adalah orang miskin (ia mengatakan bahwa emas dan perak tidak ada padaku). Apakah kita harus hidup seperti salah satu dari mereka? Bukan itu saudara. Jangan tertuju kepada pancarannya tetapi esensinya yaitu panggilan. Setiap orang Kristen pasti ada panggilan. Panggilan itu tetap tetapi pancaran panggilan itu yang berbeda-beda. Jangan menjadikan pancaran sebagai satu patokan. Di sinilah saudara dituntut untuk membedakan mana yang unity dan mana yang diversity nya. Mana yang prinsip dan mana yang pancarannya. Yohanes Pembaptis pakaiannya adalah bulu unta, sedangkan Yesus memakai jubah ungu. Satu jubah ungu sangat mahal nilainya karena diambil dari 3000 binatang. Saudara jangan berharap ingin seperti Yesus yang memakai pakaian mewah dan tidak ingin seperti Yohanes. Mengapa? Karena kedua hal itu hanya masalah pancaran. Setiap kita dipanggil, dan panggilannya itu mutlak. Dipanggilnya akan menjadi seperti apa, itulah yang namanya pancaran. Pancaran tiap orang berbeda-beda, dan jangan dimutlakkan. Yang dimutlakkan adalah Tuhan memanggil. Mau jadi apa dan apa ekspresinya itu terserah Tuhan. Ada orang yang Tuhan persiapkan diam-diam mungkin nantinya dia akan jadi guru Sekolah Minggu untuk sabar menghadapi murid bandel, ada orang yang ceplas ceplos, ada orang yang suka melawan,dsb. Maka, sungguh indah jika di dalam satu oleh wadah pelayanan memiliki keanekaragaman karakter. Saya bersyukur kalau ada orang yang karakternya beda dengan saya, karena Tuhan sedang melengkapi kekurangan saya. Kita ini terbatas dan tidak bisa jadi segalanya tetapi Alkitab mengatakan bahwa ada tubuh Kristus. Bersyukur kita terbatas, karena setiap orang ada bagiannya masing-masing sehingga kita tidak usah mengerjakan segala hal. Saudara boleh mendoakan  bagi gereja, bangsa, dan sebagainya. Tapi setelah kita berdoa, kita juga bersyukur karena saya percaya saya tidak melakukan itu sendirian tetapi ada orang-orang tertentu yang Tuhan panggil. Waktu Yeremia dipanggil Tuhan, awalnya ia frustasi karena ia merasa tidak layak dan tidak kompeten. Yeremia merasa bahwa dia harus mengerjakan segala-galanya  padahal hanya Tuhan utus ia untuk menjadi pesuruh. Maka bersyukurlah jika orang lain ikut mengambil bagian lain dan ia berhasil, karena menunjukkan bahwa Tuhanlah yang hebat bukan manusianya.

Kedua, kebenaran tidak boleh dilepas dari konteksnya. Kebenaran bukan sekedar teori tetapi harus berada di dalam konteks. Firman menjadi manusia, maka kebenaran harus di dalam konteksnya. Misal: ada ibu yang anaknya baru meninggal. Untuk menghibur orang yang sedang dalam duka, saudara tidak mungkin berkata: ”Ibu, tahukah ibu bahwa cakrawala dicipta Tuhan pada hari kedua, Ayub masuk dalam jajaran Kitab sastra ataupun mazmur 119 sangat panjang”. Itu semua memang kebenaran, tetapi maknanya apa untuk ibu itu? Saudara yang telah mempelajari Firman dan kebenaran memiliki tugas yaitu membawa Firman itu dalam konteksnya. Kegagalan orang Kristen adalah gagal membawakan Firman dalam konteks yang tepat. Jika kita berkata kalimat kebenaran sesuai dengan konteksnya, hal itu ibarat menyuguhkan apel emas di atas piring perak (Amsal 25:11). Maka tugas Saudara adalah mengerti kebenaran, sekaligus mengontekskan kebenaran di dalam hidup. Konseling dan penginjilan juga memakai cara seperti itu. Dalam sesuatu yang kontekstual, saya belajar dari Pak Tong. Untuk menginjili supir taksi, ia bicara banyak hal yang kontekstual. Misal: ”Kamu puas tidak hidup seperti ini?”, ”Ya dipuas-puasin pak”, ”Kamu hebat loh, berapa banyak orang yang tidak puas dalam hidup akhirnya berontak, jadi jahat. Kamu ada bijaksana, bisa puas dalam hidup”. Lalu Pak Tong terus masuk lalu dia cerita tentang Yesus. Saat Pak Tong bicara Injil, itu bukan tiba-tiba. Di lift bertemu anak hanya beberapa detikpun dapat menginjili ”Anak pintar, kamu lucu sekali. Sudah besar percaya sama Tuhan ya. Tuhan Yesus sayang sama kamu”.

Saudara yang sudah mendengar banyak kotbah, nanti dituntut bagaimana mengkontekskannya. Sama-sama mendengar Firman yang sama, tetapi aplikasinya berbeda. Tapi, yang paling celaka adalah ada orang yang tahu Firman tetapi dipakai dalam konteks yang salah. Firmannya benar, tetapi dikontekskannya bisa menjadi salah total. Misal: teman Ayub yang menghibur Ayub mengatakan:  ”Tidak mungkin manusia menderita kalau tidak berbuat dosa karena Allah itu adil”. Intinya ia berkata bahwa Ayub menderita karena dosanya besar, lalu menjudge bahwa Ayub merebut hak para janda, menindas anak yatim. Ini celaka, karena penerapannya salah. Pada akhirnya mereka dihukum Tuhan. ”Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub” (Ayub 42:7) . Orang Farisi mengerti Firman tetapi tidak dapat mengontekskannya dengan tepat.  Maka Yesus merombak dan mengoreksi itu. Setelah mengerti Firman, yang dibutuhkan bukanlah rumus, tetapi hikmat (wisdom). Wisdom itu arahnya pengetahuan dan bukan rumus.

Bagaimana agar seseorang memiliki wisdom? Jawab: bergaul dengan orang hikmat. Amsal 1 mengatakan jangan bergaul dengan orang bodoh. Kalau ingin dapat wisdom, kita harus mencari sumbernya misal: Alkitab, mimbar, buku-buku, serta bergaul dengan orang bijak. Di sekeliling kita pasti ada orang yang Tuhan tetapkan yang bijak. Mungkin pendidikannya rendah, tetapi ia bijak. Mungkin orang itu bijak di satu hal dan orang lain melengkapi bijaksana yang lain. Hikmat itu ada dua, yaitu yang Natural dan Supranatural. Natural itu harus berjuang, sedangkan Supranatural adalah Tuhan berbelas kasih memberikan hikmat. Contoh: Untuk bermain piano dibutuhkan les dan latihan (Natural). Sedangkan ada orang yang sedikit diasah langsung bisa bermain piano, lagu-lagu yang dimainkan berkuasa dan menjadi berkat buat banyak orang (supranatural). Jadi hikmat itu ada natural yang harus kita jalankan dengan pelajari, tapi juga mengharapkan supranatural Tuhan memberikan hikmatnya kepada kita. Jadi tetap belajar sekaligus berdoa: minta anugrah Tuhan, PLUS minta Tuhan agar memberikan kesulitan-kesulitan hidup. Sehingga saat saudara membimbing orang lain, saudara yang sudah mengerti bagaimana melewatinya, dapat membimbing orang lain dengan jauh lebih kontekstual mengerti permasalahan. Seringkali kesulitan demi kesulitan Tuhan ijinkan dialami, agar orang itu dapat mengerti konteks pergumulan orang lain. Lalu di situ ia dapat menerapkan Firman yang sesuai dengan konteks. Jadi yang diperlukan adalah hikmat dan bukan rumus hafalan. Amsal di mulut orang bodoh tidak ada gunanya. Jadi, bukan masalah mengerti atau hafal doktrin tetapi bagaimana doktrin itu dapat hidup kontekstual. Firman menjadi daging. Biarlah kita selain belajar Alkitab juga memperhatikan bagaimana kita menerapkan Firman itu dalam hidup yang begitu beragam. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#47 - 20/06/2010
"Kesetiaan Rut"
Ev. Eko Sumardi, M.C.S.


Rut 1:1-6
Saudara, di dalam Kitab Hakim-hakim tidak ditemukan ada peristiwa kelaparan seperti yang Kitab Rut ceritakan. Maka peristiwa kelaparan dalam cerita Rut diperkirakan merupakan kelaparan lokal dan bukan kelaparan global. Awalnya, diceritakan satu keluarga Elimelekh dengan istrinya Naomi beserta dua putranya yaitu Mahlon dan Kilyon. Karena peristiwa kelaparan di tempat asal mereka yaitu tanah Kanaan/tanah perjanjian, maka mereka memutuskan untuk pindah ke Moab. Cerita ini erat kaitannya dengan hidup kita. Setiap hari dan setiap saat, manusia sarat dengan berbagai macam keputusan, kebijakan, rencana dan strategi masa depan. Keluarga Elimelekh didesak oleh kesulitan kelaparan sehingga harus mengambil keputusan untuk hijrah. Berharap di tempat yang baru, mereka mendapat hidup yang lebih lancar untuk mengadu nasib. Bukankah kita pun seperti demikian? Dari kota kecil pergi merantau ke kota yang lebih besar. Dari sekolah SMA pindah ke Sarjana (S1), lalu Master (S2) bahkan Doktor (S3). Seseorang bukan hanya mengambil keputusan saat di dalam keadaan sulit, tetapi juga pada saat keadaan lancar. Saat lancar, orang cenderung untuk membuat rencana agar usahanya dapat lebih berkembang. Oleh karena itu keputusan akan selalu mendesak manusia, baik di saat situasi sulit maupun saat keadaan lancar.


Saat memutuskan untuk hijrah ke Moab, tidak diceritakan terdapat diskusi yang panjang. Artinya, Naomi dan kedua putra Elimelekh juga setuju untuk pindah. Sampai di Moab muncul kesulitan baru yaitu Elimelekh mati. Jika saudara harus memilih, saudara memilih kelaparan atau kesulitan karena ditinggal suami/istri? Di manakah manusia dapat benar-benar sepenuhnya terhindar dari kesulitan? Kesulitan yang satu sudah diatasi  lalu selanjutnya muncul kesulitan lain. Kesulitan senantiasa datang silih berganti dan bervariasi. Matius 6:34 mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” Alkitab tidak mengatakan bahwa kesusahan sehari cukup sehari sebab besok akan lancar. Maka jelas bahwa Alkitab mengindikasikan bahwa manusia yang hidup adalah manusia yang berjalan dari kesulitan yang satu kepada kesulitan yang lain. Setiap orang pasti mengalami kesulitan, namun yang dituntut adalah responnya. Respon bagaimana  manusia dapat menyingkapi dan menaklukkan serta mengelola kesulitan tersebut.

Di dalam manusia mengalami kesulitan, ada dua respon. Respon Pertama, kesulitan sehari tidak diselesaikan dalam sehari. Misal: kesulitan di hari senin tidak diatasi lalu dibawa ke hari Selasa. Selasa memiliki kesulitan sendiri dan tidak diselesaikan maka kesulitannya sedang bertambah double, dst. Respon Kedua, manusia yang bijaksana yang mampu memberhentikan kesulitan pada saat kesulitan itu datang. Di dalam Master class, saya mengamati bagaimana respon Pendeta Tong saat menghadapi kesulitan. Beliau berkata, ”Setiap orang yang datang kepadaku tidak pernah menolong ,tetapi memberi kesulitan yang baru”. Kita tahu bahwa kesulitannya sendiri sudah banyak. Saya perhatikan bahwa beliau adalah orang yang sangat mahir membuka dan menutup file. Artinya saat ada orang datang membawa kasus, ia langsung selesaikan. Lalu ke kasus lain, ia tidak membawa kasus yang sebelumnya meski kasus sebelumnya belum selesai dan masih ada dampaknya. Setelah keluarga Elimelekh pindah, Alkitab tidak catat bahwa ia berhasil di tempat barunya. Namun Alkitab mencatat bahwa keluarga itu tinggal sepuluh tahun di Moab, artinya keluarga itu cukup betah di Moab. Lalu kemudian Elimelekh mati. Kalau kesulitan dalam hal uang, mereka dapat pindah, tetapi jika bertemu dengan kesulitan kematian mau pindah kemana?

Pasca Elimelekh meninggal, Elimelekh memang sudah lepas dari kesulitan, tetapi keluarga Elimelekh belum terhindar dari kesulitan. Mungkin kesulitan saudara jauh lebih rumit dan sulit. Namun, pandanglah kepada hidup yang Tuhan telah berikan sebab itu merupakan tanda bahwa Tuhan terus memelihara hidup Saudara. Setelah Elimelekh mati, Naomi menikahkan kedua putranya dengan perempuan asal Moab, yaitu Orpa dan Rut. Bangsa Yahudi memiliki kebudayaan tidak boleh menikah dengan bangsa lain (kafir). Namun, Naomi tidak memegang konsep demikian. Ia berpikir meskipun suaminya sudah mati tetapi ia akan tetap tinggal di Moab. Naomi berasal dari kampung Yahudi terkenal yaitu Betlehem Efrata, tempat Mesias akan dilahirkan tetapi ia berani menikahkan anaknya dengan bangsa selain Yahudi. Jika Naomi masih tinggal di Betlehem, ia tidak berani menikahkan anaknya dengan bangsa kafir. Namun, karena Naomi tinggal di negeri orang, maka ia berani berbuat demikian.

Naomi memiliki pengharapan setelah pindah ke Moab, Tuhan akan memeliharanya. Kemudian setelah suaminya mati, Naomi berharap akan mendapat penghidupan yang baru di negeri barunya maka ia menikahkan putranya. Manusia juga selalu bergerak seperti itu, hari demi harinya sarat dengan keputusan. Saya percaya bahwa setiap orang pasti mahir dalam mengambil keputusan. Namun saya curiga dan bertanya, “Apakah setiap orang yang mengambil keputusan, memiliki kemahiran dalam mengaitkan keputusan dengan kaitan yang sesungguhnya?” Jawabannya belum tentu. Mengapa? Karena pada dasarnya, di dalam keputusan manusia terdapat motivasi untuk mengambil keuntungan pribadi. Manusia mengambil keputusan hanya untuk  keluar dari kesulitan pribadi. Pemikiran demikian adalah wajar.

Alkitab mencatat, “Mereka diam disitu kira-kira sepuluh tahun lamanya. Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.” (Rut 1:4-5).) Di dalam hatinya, Naomi pasti merasa getir dan pahit hidupnya. Setelah suaminya mati, lalu kedua anaknya menyusul. Cerita ini begitu dekat dengan kita, seringkali kita ingin mengembara mencari keuntungan tetapi justru kerugianlah yang datang. Kedua anak Naomi sudah mati dan Naomi tidak tahu kemana akan melangkah. Sama seperti kita yang sekolah sudah lulus SD, lanjut SMP, SMA, sampai Sarjana. Setelah sarjana, lalu cari kerja mengumpulkan uang untuk biaya menikah. Setelah menikah, lalu cari rumah, mencari uang demi kelahiran anak, perawatan serta pendidikannya. Sudah tua, lalu sakit-sakitan dan harus menikahkan anak. Bahkan sampai meninggalpun sulit karena butuh biaya penguburan.

Manusia memang tidak dapat keluar dari kesulitan, namun ia dapat memaknai, menghidupi serta berkemenangan di dalam kesulitan. Dalam Rut 1:6, “Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka.” Perhatikan saudara, Naomi memutuskan ingin berpindah lagi karena mendengar kabar. Mendengar adalah hal yang sederhana sekaligus hal yang serius. Naomi mendengar bahwa Tuhan memperhatikan umatnya dan memberikan makanan di Yerusalem dan Naomi memutuskan pindah ke sana. Apakah respon Naomi yang demikian itu bagus? Sekilas hal itu terdengar bagus karena ia dapat mengambil keputusan. Tetapi saya tanya, jika Tuhan memperhatikan umatNya yang di Yerusalem, apakah Tuhan tidak memperhatikan umatNya di kota Moab? Apakah Tuhan memperhatikan umatNya tergantung di satu tempat saja dan tergantung situasi? Jika salah meresponi, maka semua itu akan menjadi masalah besar. Naomi berpikir bahwa Tuhan hanya memperhatikan umatNya jika Tuhan memberi makanan dan rejeki kepada umatNya. Apakah benar bahwa umatNya kelaparan mengindikasikan bahwa Tuhan sedang tidak memperhatikan umatNya? Naomi bagus karena mendengar bahwa Tuhan memperhatikan umatNya di Yerusalem. Namun, Naomi tidak mengerti bahwa Tuhan juga memperhatikan Naomi di kota Moab. Seperti peribahasa, “Rumput Tetangga Lebih Hijau”, mungkin kita seringkali melihat orang lain sepertinya tidak pernah susah. Mereka tidak terlihat susah karena tidak mengalaminya, padahal kesusahannya sama-sama banyak.

Pemeliharaan Tuhan bukanlah tergantung tempat, melainkan karena Allah adalah pencipta maka Allah juga memelihara. Tuhan melindungi itu adalah Wahyu Umum. Maka kesulitan Naomi bukanlah kelaparan, bukan suami mati, bukan anak-anak mati. Kesulitan Naomi adalah karena Naomi tidak bertemu dan memahami dengan benar tentang konsep pemeliharaan Tuhan. Mengerti bahwa Tuhan memelihara di dalam keadaan lancar adalah hal yang mudah, tetapi saat di dalam keadaan yang susah pemeliharaan Tuhan sulit ditemui. Padahal di dalam keadaan sulitpun, Tuhan tetap memelihara. Lalu, mengapa kita sulit menemukan pemeliharaan Tuhan di dalam keadaan sulit? Karena pada dasarnya manusia tidak suka dengan kesulitan. Manusia ingin semua kesulitannya segera diselesaikan. Naomi salah melihat permasalahan yang sesungguhnya. Jika manusia bergerak dan memutuskan tidak pada permasalahannya maka setiap keputusan akan dievaluasi ulang. Mengapa? karena keputusan itu tidak fokus. Dia selalu berpindah keputusan karena kesulitan selalu berganti. Saat manusia kurang percaya bahwa Tuhan memelihara, itulah sesungguhnya arti kesulitan.

Jika Naomi memiliki konsep bahwa Tuhan yang memelihara di Yerusalem = Tuhan yang juga akan memelihara di Moab, maka saya percaya Naomi tidak akan pindah. Maka saudara yang sudah mengerti, seharusnya percaya bahwa di manapun Saudara berada di dalam kesulitan dan kelancaran maka di saat itu juga saudara sedang bertemu dengan pemeliharaan Tuhan.  Pemeliharaan Tuhan tidak mengenal tempat, situasi atau keadaan. Tuhan bertanggung jawab memelihara umat ciptaanNya di manapun mereka berada. Jika saudara percaya akan pemeliharaan Tuhan tersebut, maka kita akan jauh lebih tenang dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Saya percaya bahwa setiap dari kita adalah pekerja yang rajin. Banyak orang rajin bekerja karena takut miskin, takut dihina orang, atau karena ingin berprestasi. Namun, apakah saudara memiliki konsep bahwa saudara rajin bekerja karena saya tahu pasti Tuhan memelihara. Jika memiliki konsep demikian, maka saudara terhindar dari motivasi yang salah. Tak hanya dalam hal bekerja, setiap keputusan pun seharusnya kita sungguh-sungguh bertanya kepada Tuhan, “Tuhan selama ini keputusanku didasarkan oleh pertimbangan apa sih? Biarlah keputusan-keputusanku selanjutnya dapat lebih jelas alasan aku memutuskan itu.”

Rut 1:7, “Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda.” Setelah Naomi memutuskan untuk pulang ke tanah Yehuda, Naomi memiliki tanggung jawab kepada kedua menantunya. Tetapi Naomi sadar kelak jika mereka di Yehuda, maka mereka akan dikucilkan karena dianggap sebagai bangsa kafir, apalagi janda. Naomi takut menantunya kelak mengalami tekanan dan menderita karena penolakan bangsa Israel. Maka Naomi menganjurkan, "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mat itu dan kepadaku; kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya. Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras.” (Rut 1:8). Jika saudara menjadi Orpa atau Rut, saudara pilih untuk pergi atau tidak? Orpa atau Rut mengetahui masa lalu Naomi yang penuh dengan ketidakpastian dan ketidakberuntungan. Mulai dari pindah, lalu suami mati, kedua anakpun mati, lalu akan pindah tempat ke negeri lain yang belum pasti. Jika terus diikuti, maka akan susah. Bagi mereka ini adalah keputusan yang sulit. Lalu Naomi melanjutkan,” Kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras. Dan berkata kepadanya: : "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu." (Rut 1:9-10). Kalimat ”kami ikut” diucapkan salah satu dari mereka (sebagai perwakilan), karena tidak mungkin kedua-duanya berkata secara serempak dan dia adalah Rut (Rut 1:16).

Naomi tidak sedang test menantunya untuk membuktikan mereka sayang mertua atau tidak. Perhatikan Rut 1:11-13, Naomi adalah konselor yang baik karena menganjurkan sesuatu yang penting untuk kedua menantunya.  Dia mampu memberi penjelasan yang jujur serta anjuran yang baik. Lalu Orpa menyetujui dan mengikuti nasihat dari Naomi. ”Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.” (Rut 1:9). Dua orang mengamati suatu hal yang sama, tetapi respon dan tanggapan mereka berbeda. Pertimbangan apakah yang mendasari orang tersebut berespon? Inilah yang perlu kita pikirkan secara bijaksana. Dua orang disajikan satu tema: Pulanglah! Dan hasilnya Orpa pulang dan Rut tetap tinggal. Saya yakin mereka berdua pasti mempunyai alasan yang sama-sama kuat, tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, ”Dikaitkan dengan apakah alasan pengambilan keputusan mereka?” Saya percaya bahwa nasihat Naomi menggentarkan hati Orpa yang mendengarnya dan Orpa setuju. Namun Rut berkata, ”Janganlah desak aku meninggalkan engkau, pulang dengan tidak mengikuti engkau. Sebab kemana engkau pergi, kesitu juga aku pergi dan kemana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam. Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. Dimana engkau mati akupun mati disana dan disanalah aku dikuburkan. Begini kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau selain darip ada maut” (Rut 1:16-17).  Saudara coba bayangkan, ada seorang wanita yang mempunyai keteguhan hati seperti ini. Bangsanya berbeda, allahnya berbeda, masyarakatnya berbeda. Naomi sudah meninggalkan kampung 10 tahun, tetapi mengapa Rut tetap mengambil keputusan ikut Naomi? Bukan karena Rut kasihan dengan mertuanya, tetapi karena satu kalimat, yaitu Allahmulah Allahku. Kalimat itu merupakan keputusan yang sangat penting dan klimaks. Keputusan yang tidak didasari untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Keputusan yang sangat klimaks adalah jika setiap keputusan dikaitkan dengan Tuhan. Saat menghadapi keputusan yang sulit, seringkali kita ingat dan mengikutsertakan Tuhan. Namun saat dalam keputusan sehari-hari terlebih dalam bisnis, terkadang kita merasa sulit untuk mengikutsertakan Tuhan di dalam keputusan kerja kita. Tuhan baru  diikutsertakan ke dalam keputusan-keputusan, saat kita sudah merasa sangat buntu dan tidak ada pengharapan.

Rut mengambil keputusan, ”Aku pulang ikut Allahmu. Allahmu sudah menjadi Allahku”. Keputusan ini adalah keputusan yang sangat ajaib. Saudara jangan mengira  bahwa mengikutsertakan Allah adalah hal yang sangat biasa. Mengikutsertakan Allah adalah hal yang sangat besar. Setelah itu Alkitab tidak menceritakan kehidupan Orpa selanjutnya. Rut diceritakan sampai pasal ke-4 dan menjadi sastra yang baik. Rut menjadi contoh yang harus disadari dan dialami oleh manusia. Rut 4:18-21, ”Inilah keturunan Peres: Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas, Boas memperanakkan Obed, Obed memperanakkan Isai dan Isai memperanakkan Daud”. Di dalam silsilah ini ada 9 generasi yang ditulis di dalam kitab Rut. Mulai dari Perez sampai Daud. Di antara pasal ke-3 dan ke-4, Rut bertemu dengan keluarga dari jalur Elimelekh yang bernama Boas. Lalu Rut diambil menjadi istri Boas. Saudara perhatikan, Rut seolah-olah hanya mengambil keputusan yang sederhana, tetapi ternyata keputusan itu berdampak sangat besar khususnya terhadap sejarah umat manusia. Rut 4:18-21 mencatat 9 generasi yang salah satunya diikat oleh kehidupan Rut. Lima generasi diatasnya (sampai Daud) diikat dan diceritakan oleh sejarah kehidupan seorang kafir dari Moab yaitu Rut. Manusia yang berhasil bukanlah manusia yang menumpuk kekayaan, manusia yang berhasil dan bijaksana adalah jikalau manusia di dalam kehidupannya mampu merangkai garis keturunan yang turun-temurun.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mempunyai anak atau istri atau suami?  Richard Pratt mengatakan, ”Jika kita mampu melahirkan keturunan secara jasmani, maka lahirkanlah itu. Tetapi kalau kita tidak mampu, maka, lahirkanlah keturunan secara rohani”. Maka, kita semua memiliki kesempatan, baik yang sudah maupun yang belum menikah atau baik yang sudah menikah tetapi belum punya anak. Kita semua memiliki potensi menyusun generasi demi generasi. Keputusan Rut bukan sekedar kasihan sama mama mertuanya. Namun karena keputusan Rut dikaitkan dengan Tuhan. Dampak keputusan itu sangat besar, sembilan garis disebut oleh garis keturunan. Keputusannya cukup sepele, ”Mama aku ikut engkau pulang. Allahmu kujadikan Allahku. Aku ikut mama pulang”. Saudaraku, keajaiban dan keagungan bukan sekedar peristiwa itu spektakuler dan ajaib. Keagungan dan keajaiban dapat terukir melalui peristiwa yang sederhana dan biasa, asalkan terkait dengan Tuhan. Seperti seorang perempuan yang meminyaki kaki Yesus. Dia ”hanya” memecahkan buli-buli, lalu menyeka dengan rambutnya. Namun Yesus berkata, ”Melalui peristiwa ini, kapan saja injilKu diberitakan, orang ini akan diingat”. Maka sudah seharusnya di dalam setiap hal maupun pekerjaan, setiap keputusan dikaitkan dengan Tuhan. Dengan demikian maka apa yang saudara kerjakan akan abadi, kekal, dan berguna. Bahkan mungkin mampu menyusun generasi baik secara jasmani maupun rohani. Kitab Rut adalah Kitab yang agung sebab ditutup dengan silsilah yang terhubung dengan jalur kelahiran sang Mesias. Untuk itulah hidup yang Tuhan berikan ini. Saya tidak sedang mengajarkan agar kita berusaha agar nama kita populer. Namun, kekekalan hidup itu seharusnya bergema dan berlangsung baik secara keturunan jasmani maupun rohani.

Timotius disebutkan, ”Hai Timotius imanmu sangat tulus ikhlas lahir dari Lois nenekmu dan Eunike mamamu”. Bagaimana dengan saudara? Sudahkah saudara mengaitkan hidup saudara dengan silsilah ke atas dan ke bawah? Dalam Matius 1 disebutkan ada 48 generasi. Orang Chinese sangat bertahan di dalam generasi, bahkan mungkin masih ada foto serta masih jelas silsilah mereka. Namun, saya percaya hormat kepada orang tua kita bukanlah dengan pai-pai (sembah), melainkan hormat orang tua  adalah jika kita bisa mengaitkan nenek moyang yang di atas dan dengan generasi selanjutnya. Melalui hidup kita, nenek moyang kita disebut, itulah namanya hormat orang tua. Bagaimanakah setiap keputusan yang selama ini engkau ambil? Apakah semua itu terkait kepada segala kekekalan di dalam hidupmu yang diberi Tuhan kepadamu? Di manakah Tuhan berkarya di dalam setiap keputusan dan pekerjaan kita? Biarlah akhirnya kita boleh mengukir seperti Rut mengukir, ”Inilah silsilah keturunanmu, silsilah keturunan 5 generasi di atasmu dan 4 generasi di bawahmu”. Itulah hidup, hidup yang mengalami kesulitan tetapi tidak putus keturunan karena pernah mengambil keputusan terkait dengan nama Tuhan, ”Mama aku ikut engkau meskipun engkau tua, meskipun engkau tidak mempunyai anak, meskipun bangsa israel membenci orang Moab, aku ikut engkau. Allahmu adalah Allahku”. Setelah itu Rut bertemu Boas di ladang miliknya saat Rut sedang mengambil jelai-jelai padi. Tuhan memimpin sedemikian rupa hingga apa yang dikehendaki-Nya genap terjadi. Biarlah kita tidak takut saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Namun, takutlah saat kita mengambil keputusan dan melakukan sesuatu yang tidak dikaitkan dengan Tuhan, karena saat Tuhan tidak diikutsertakan, maka kesulitanlah yang akan didapat. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#52 - 25/07/2010
"Ketika Firman Tuhan Datang Kepada Kita"
Pdt. Agus Marjanto, M.Div.


Amos 8:11-14, 9:1-4
Ini adalah Firman Tuhan yang ditujukan kepada nabi Amos untuk Kerajaan Utara (Israel). Saat kita melihat ayat tersebut mungkin kita akan bertanya, apa hubungan ayat yang ditulis ribuan tahun yang lalu dengan kita hidup pada zaman kontemporer ini? Saudara harus menyadari bahwa konteks kehidupan setiap umat manusia itu berbeda, tetapi cara kerja dan prinsip bagaimana Tuhan berintervensi di dalam hidup anak-anak-Nya adalah tetap sama dari waktu ke waktu. Tidak mungkin kita bertemu dengan Amos atau Yerobeam yang menjadi imam pada masa itu atau mengerti apa yang ada di dalam Kerajaan Utara pada waktu itu. Namun, meski konteks hidup berbeda bagi setiap bangsa atau pribadi, firman Tuhan itu tetap untuk selama-lamanya dan prinsip Tuhan membentuk setiap umatnya adalah tetap untuk selama-lamanya. Hari ini saya akan membahas mengenai 4 hal yang paling mendasar ketika firman Tuhan itu hadir di dalam kehidupan kita gerejaNya, yaitu:

1.       Firman Tuhan yang berisi penghakiman yang datang saat Israel berada pada jaman keemasan. Jika kita melihat sejarah Raja Israel secara monarki, maka dari Saul menuju kepada Daud dan disusul Salomo merupakan masa-masa kejayaan. Lalu setelahnya, Israel terpecah menjadi dua yaitu Kerajaan Utara (Israel) dengan rajanya Yerobeam I, dan Kerajaan Selatan (Yehuda) dengan rajanya Rehobeam. Lalu muncul generasi berikutnya dan seluruh raja demi raja memasuki era kegelapan, karena tidak ada lagi ada raja yang dapat menghasilkan kemakmuran, kestabilan ekonomi, atau ekspansi daerah kekuasaan seperti pada masa Daud. Zaman yang bisa membuat sosialnya sangat mapan (jaman keemasan) hanya ada  pada jaman Yerobeam II. Di dalam commentary dijabarkan jika Israel pada  jaman Yerobeam II dan Yehuda pada saat jaman Uzia digabungkan, maka seluruh Israel dan Yehuda akan memiliki luas dan kekuatan militer yang hampir sama seperti pada masa Daud. Zaman ini merupakan zaman yang paling keemasan sebelum seluruh Israel dan Yehuda hancur. Namun jika diperhatikan dengan seksama, di masa yang paling gemilang itulah, justru Tuhan menyatakan suatu kemarahanNya kepada Israel. Ini merupakan ironi di dalam kehidupan manusia. Manusia  selalu melihat  segala sesuatu yang dia lihat melalui mata, lalu kemudian menyimpulkannya dengan otak yang sudah berdosa, dan akhirnya menarik kesimpulan. Di masa gemilang itu, Israel melihat bahwa bangsanya hidup makmur dan merasa bahwa untuk mencapai seperti kejayaan Daud itu bukanlah hal mudah, lalu mereka berasumsi bahwa Tuhan sedang pro dan sedang memberkati bangsa Israel. Namun, Alkitab mencatat bahwa Tuhan sedang tidak memberkati Israel,  sebaliknya Tuhan sedang mengutuk Israel (Amos 8:11-14). Setelah kutukan itu keluar, maka 40 tahun kemudian (tahun 722 SM) Israel hancur berkeping-keping dan tidak pernah lagi muncul di dalam sejarah. Ketika kita membaca firman, Firman itu akan memberi hikmat kepada kita. Alkitab menyatakan fear of the Lord is the beginning of the knowledge (wisdom) (Amsal 1:7). ”Mengapakah seorang muda dapat lebih berhikmat dibanding orang tua yang lebih memiliki pengalaman berpuluh-puluh tahun?” Jawabannya adalah ”Karena orang muda itu melangkah dengan firman”. Firman membuat kita tidak lagi terpesona dengan fenomena. Firman membuat mata hati kita mempengaruhi mata jasmani untuk melihat sesuatu yang ada di dalam di dalam inti/esensi suatu peristiwa (nomena). Di antara seluruh manusia yang ada di Israel utara, hanya ada satu orang yang dapat melihat nomena dibalik kejayaan Yerobeam II. Di saat semua orang di Israel”bertepuk tangan” dan menyatakan ”Memang benar, inilah jaman yang paling makmur. Puji Tuhan, Haleluya.” Amos justru menyatakan, ”Tidak! Ini adalah jaman yang paling kotor dan jaman yang paling Tuhan sedang murka.” Berkali-kali di dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan kita untuk melihat esensi dan bukan fenomena, mengajar kita untuk melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata jasmani. Alkitab mengatakan bahwa pada akhir zaman akan banyak serigala berbulu domba. Fenomenanya adalah domba yang rupanya polos dan dapat dielus-elus, tetapi esensinya adalah serigala. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat mengerti esensi dan tidak terkecoh dengan fenomena? Jawabannya yaitu dengan Iman. Iman membuat kita dapat melihat segala sesuatu dari kacamata Tuhan. Melihat segala sesuatu dari surga. Melihat segala sesuatu daripada tahta Tuhan. Iman memberi kepada kita hikmat untuk menerobos dan mengerti nomena dari lapisan-lapisan fenomena. Waktu Samuel diperintahkan oleh Tuhan untuk mengurapi seorang Raja pengganti Saul, Samuel pun melihat secara fenomena siapa calon yang cocok untuk menjadi raja Israel. Lalu Tuhan berkata, ”Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Aku melihat hati” (1 Sam. 16:7). Jikalau Firman bekerja dalam hidup kita, maka akan membuat kita mengerti esensi dan bukan fenomena.

2.      Firman Tuhan yang berisi penghakiman yang datang saat Israel masih memiliki covenant. Covenant inilah yang membedakan Israel dengan bangsa lain. Israel hanya berpikir jika mereka bangsa yang terpilih maka mereka pasti akan selalu diberkati oleh Tuhan. Di satu sisi, hal itu memang benar tetapi di balik itu mereka harus sadar bahwa ada didikan dan penghajaran dari Tuhan. Janganlah saudara menjadi orang yang berpikir take it for granted. ”Saya orang Kristen maka saya lebih hebat dari semua orang lain. Tuhan cinta saya, Tuhan kasih saya, tidak mungkin dia marah kepada saya.” Saudara perhatikanlah sejarah, maka saudara akan mengetahui bahwa bangsa yang diberikan ikatan perjanjian (covenant) adalah bangsa yang dimusnahkan oleh Tuhan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa orang percaya dapat pergi ke neraka. Sekali kita selamat di dalam Yesus Kristus, maka kita akan selamat sampai ke surga. Namun, hal itu tidak berarti kita dapat mempermainkan anugrah Allah. Israel sudah melawan Allah dengan memutuskan ikatan perjanjian (break the covenant). Alkitab mengajarkan penghakiman Allah akan datang terlebih dahulu kepada umat-Nya sendiri, gereja-Nya. Puncak kemarahan Allah kepada Israel dicatat dalam Amos 9:1-4. Ketika saya pertama kali menemukan ayat ini, mata saya terbuka dan hidup ini menjadi gemetar. Allah bisa menjadi marah, murka kepada umatnya seperti ini. Jikalau saudara belajar dan mempelajari Amos 9, sebenarnya sangat menarik dan juga begitu menegangkan. Kulihat Tuhan berdiri di dekat mezbah (Amos 9:1). Di antara seluruh dunia, maka mata Tuhan ada pada Israel. Di antara seluruh Israel, maka mata Tuhan ada atas Yerusalem. Di atas seluruh Yerusalem maka mata Tuhan ada pada Bait Suci. Dan di antara Bait Suci, maka titik pusatnya adalah tempat korban yaitu mezbah. Ketika israel mendengar ”Mezbah”,  mereka akan bertepuk tangan karena mezbah itu adalah tanda masih ada ikatan perjanjian (covenant). Bangsa Israel berpikir, ”Oh ada Tuhan berdiri dekat mezbah, aku akan dengar khotbahmu Amos. Tuhan telah berikat janji dengan kami maka pasti Tuhan akan memberi kami berkat.” Tetapi yang datang bukanlah berkat, melainkan kutuk. ”Sekalipun mereka menembus sampai ke dunia orang mati, tangan-Ku akan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka naik ke langit, Aku akan menurunkan mereka dari sana Sekalipun mereka bersembunyi di puncak gunung Karmel, Aku akan mengusut dan mengambil mereka dari sana; sekalipun mereka menyembunyikan diri terhadap mata-Ku di dasar laut, Aku akan memerintahkan ular untuk memagut mereka di sana. Sekalipun mereka berjalan di depan musuhnya sebagai orang tawanan, Aku akan memerintahkan pedang untuk membunuh mereka di sana. Aku akan mengarahkan mata-Ku kepada mereka untuk kecelakaan dan bukan untuk keberuntungan mereka.” (Amos 8:2-4) Saya tidak dapat mengerti mengapa pengajaran gereja sekarang ini hanya mengekspos berkat Tuhan. Jika saudara perhatikan bahwa seluruh kitab 16 nabi (12 nabi kecil, 4 nabi besar) maka saudara akan menemukan di dalam 10 bab yang mereka tulis, 9 babnya adalah kutuk dan kemarahan demi kemarahan Tuhan yang ditonjolkan. Tidak lama setelah itu Israel hancur lebur 722 SM dan Yehuda hancur 586 SM. Mereka tidak pernah kembali lagi hingga puluhan tahun lamanya. Mengapa? Karena kemarahan Tuhan. Seringkali saat kita membaca PL, kita berpikir dan berpikirnya salah, ”Tuhan sangat mengasihi Israel, maka Tuhan akan memimpin Israel dan memberkati Israel.” Kenyataannya Allah memilih Israel bukan karena Israel layak untuk dipilih. Allah memilih Israel karena Dia mengungkapkan satu hal, ”Aku memilih engkau karena kesucianKu.” ”Engkau Ku pilih menjadi bangsa kepunyaanKu”, itu artinya kesucian itu harus ada pada Allah. Allah adalah pribadi yang suci. Di antara seluruh sifat-Nya maka sifat kesucian itu menjadi inti. Allah memiliki sifat kasih tetapi kasih-Nya itu suci, adil tetapi adil-Nya itu suci. Allah benar, tetapi benar-Nya itu suci dan Allah murkapun, maka murka-Nya itu suci. Di antara sifat Allah, tidak pernah ditemukan dalam Alkitab sifat yang diulang 3 kali selain kesucian. Hanya ada satu sifat yang diulang 3 kali, ”Suci, suci, sucilah Tuhan semesta alam.” (Yes. 6:3) Ini menjadi penekanan bahwa itu adalah inti daripada pribadi Allah, sekaligus berbicara mengenai suatu yang transendental dan sacred. Israel dan Yehuda telah dipilih oleh Tuhan, maka mereka harus hidup suci sama seperti Tuhan. Ketika bangsa Israel tidak lagi hidup suci, maka yang dihancurkan bukan hanya suku Yebus, Het, Gergasi, suku kanaan, tetapi Israel pun harus keluar. Maka, siapapun yang tidak menghormati kesucian Allah harus keluar dari tanah-Nya yang suci. Inilah satu dari penghakiman Allah kepada gerejaNya, kepada umatNya, kepada Israel. Kemudian apakah kemarahan Tuhan selesai sampai di Amos 9:4? Tidak. Perhatikan Amos 9:5-6. Bagian ini adalah doksologi, nyanyian penutup pada akhir kebaktian. ”Puji Allah Bapa Putra, puji Allah Roh Kudus ketiganya yang esa.” yang artinya seluruh ibadah ditutup hanya bagi kemuliaan nama Tuhan. Kemuliaan bagi nama Tuhan adalah bukan pada saat kita sembuh dari sakit keras atau saat kondisi dipulihkan setelah rugi besar. Alkitab mengajarkan saat umatNya dibinasakan dan dibuang, maka nama Tuhan justru sedang dipermuliakan karena kesucian Allah tetap terjaga untuk selama-lamanya Allah. Ini artinya Allah tidak pro gerejanya justru gerejalah yang harus tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Gereja harus benar-benar sepenuhnya taat dan menjalankan suatu hormat dan kasih.

3.      Firman penghakiman datang ke dalam bentuk yang pribadi (personal). Setiap Kitab Suci memiliki keunikan tersendiri dan berbeda-beda, baik secara content maupun cara berkotbah. Misal: keunikan Yunus adalah ketika dia berkotbah maka dia langsung ke inti (straight forward) dan tidak basa-basi lagi, ”Dalam 40 hari lagi Niniwe akan ditunggang balikkan kecuali kalian bertobat.” Berbeda dengan Yehezkiel, yang bisu selama 7 tahun dan dia memperagakan sesuatu untuk menyatakan kehendak Tuhan. Berbeda pula dengan kotbah nabi Yesaya. Yesaya sangat pandai dan brillian dalam merangkai kata sehingga disebut sebagai the masterpiece of Hebrew Literature (puncak tertinggi daripada karya Ibrani). Dia dapat membuat nubuatan menjadi satu rangkaian puisi yang indah. Lalu bagaimana dengan keunikan Amos berkhotbah? Amos saat berkotbah, khotbahnya keras dan menyinggung dosa pribadi yang sangat personal. Amos 3:15, ”Aku akan merobohkan balai musim dingin beserta balai musim panas; hancurlah rumah-rumah gading, dan habislah rumah-rumah gedang." Amos 4:1, ”Dengarlah Firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada tuan-tuanmu: bawalah ke mari, supaya kita minum-minum!” Jika saudara tidak mengerti konteksnya, maka ayat ini terkesan biasa saja. Namun sebenarnya Firman ini sangat menyinggung personal. Rumah gading / rumah gedang artinya adalah rumah orang kaya. Lembu basan adalah istri dari kaum aristokrat yang gemuk-gemuk. Pada akhirnya, Amos dikejar-kejar dan sangat mungkin hidupnya berakhir karena dibunuh. Saudara perhatikan baik-baik, ketika firman Tuhan sejati datang di dalam hidup kita, maka Dia akan menyentuh bagian yang sangat pribadi yang tidak dapat luput dari hadapan Allah. Firman akan berbicara secara pribadi tanpa ada satu kiasan dan itu akan menyakitkan hidup kita. Dan dari hal itu hanya ada dua respon, yaitu menjadi seperti Petrus yang akan terus maju atau seperti Israel yang menutup telinga terhadap khotbah Amos. Seringkali kita lebih mudah melakukan pelayanan seperti KKR, berbagian persembahan PI atau mengiringi musik ibadah. Namun, ketika dosa kita disinggung maka kita langsung sakit hati. Jika seluruh isi kotbah menyenangkan maka kita cenderung akan merasa senang. Mayoritas orang tidak suka dengan Firman. Sebagian besar orang reform itu, jika sudah mendengar kotbah pak Tong pasti akan merasa senang. Mengapa? Karena Firmannya keras. Namun anehnya hidup tidak pernah berubah. Ini celaka!  Ibarat orang yang sudah ditampar lalu merasa enak tetapi hidup tidak berubah. Mari kita introspeksi diri, ”Apakah kita sungguh-sungguh mau dididik Tuhan? Sungguhkah kita mau Firman datang dalam hidup kita untuk dikoreksi? Atau mungkin yang kita cari hanya pengetahuan akan Firman saja?” Memang tampaknya kita ingin kotbah yang keras, tetapi mungkin kita tidak mengijinkan satu kalimat menusuk hati kita. Dalam Alkitab ada orang yang datang dan mengatakan bahwa ia mau ikut Yesus Kristus. Bagus bukan? Tetapi Yesus langsung bicara, ”Serigala punya liang, burung punya sangkar, tetapi Aku tidak punya tempat meletakkan kepala, kamu mau atau tidak?” Kalimat tersebut sudah mengenai masalah personal. Bagi Yesus tidak masalah jika tidak ada tempat tidur, tetapi bagi orang itu masalah. Lalu ada satu orang yang bertanya, ”Guru aku datang padamu lalu bagaimana agar aku bisa diselamatkan?” Yesus menjawab, ”Engkau memang sudah banyak melakukan ini dan itu sejak mudamu. Namun kurang satu, juallah seluruh hartamu kemudian ikut Aku” Yesus menyinggung masalah personalnya yaitu harta. Firman kalau datang menusuk, akan menuntut sesuatu yang personal. Tuhan mengerti apa yang sebenarnya menjadi dosa personal kita. Jika itu terjadi, biarlah kita dapat seperti Petrus. Ketika Tuhan mengatakan, ”Engkau tidak mau pergi juga?” Petrus mengatakan, ”Tuhan kalimatmu itu adalah kehidupan, kepada siapa kami harus pergi.”

4.      Firman penghakiman ini datang untuk menyatakan ketiadaan Firman. ”Hai Israel aku akan memberikan kelaparan kepadamu, bukan karena makanan, aku akan memberikan kehausan kepada mu, bukan karena air, tetapi kelaparan dan kehausan akan firman Tuhan. engkau akan menjelajah seluruh negeri dan engkau akan mati kelaparan.” Inilah Firman tentang ketiadaan Firman. Saudara, Firman adalah segala-galanya di dalam kehidupan kita. Dengan firmanlah Tuhan menciptakan, menebus, mengarahkan, serta mencerahkan hidup kita. Dengan firmanlah kita akan disempurnakan. Firmannya adalah segala-galanya. Yesus Kristus mengatakan bahwa setiap orang yang hidup, hidup bukan karena roti saja tetapi karena setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Itu adalah hal yang paling esensi dalam hidup kita. Jika Tuhan sudah berkata kepada Israel Utara bahwa tidak ada Firman lagi, maka hal itu adalah suatu penghakiman yang tertinggi. Adalah lebih baik jika saudara dipukul menjadi sakit atau dipukul untuk menjadi rugi / bangkrut oleh Tuhan, daripada Tuhan mengatakan ”Aku tidak lagi bicara kepada kamu.” Kalimat itu adalah penghakiman dari segala-galanya. Jaman intertestamen, Kitab Maleakhi sampai Yohanes pembaptis (400 tahun) disebut sebagai jaman kegelapan. Mengapa disebut jaman kegelapan? karena tidak ada firman, tidak ada lagi kalimat dari  Tuhan. Firman itu segala-galanya maka jangan kita meremehkan Firman.

Kapan kala terkahir Tuhan berbicara secara personal kepada hidup Saudara? Kapan terakhir saudara sadar sekali bahwa Tuhan sedang berbicara kepada saudara? Mungkin sudah tahunan yang lampau. Jika saudara selama mengikuti ibadah atau pelayanan, tetap tidak ada Firman yang datang secara personal dan eksistensial. Maka Saudara perlu  evaluasi bahwa pasti dahulu pernah ada suatu firman yang saudara terus dengar, tetapi saudara buang dan berkata, ”Aku tidak mau lagi Tuhan, tidak mau dengar.” Jika hal itu terus berlanjut maka tidak akan pernah ada kemajuan di dalam mendengarkan firman Tuhan. Firman adalah segala-galanya, gereja dikatakan sejati karena ada firman yang hidup. Gereja boleh tidak ruko, boleh tidak ada AC tetapi harus ada firman, karena firman itu segala-galanya. Saudara bisa memiliki apapun, tetapi jika saudara kehilangan firman maka hidup sama dengan nothing. Biarlah kita bisa menghargai firman dan menghargai saat dimana Tuhan bicara kepada hidup kita. Firman itu ketika datang akan membuat kita mengerti esensi daripada fenomena. Firman itu kalau datang akan menghakimi kita sama seperti Tuhan menghakimi orang lain. Ketika Firman datang maka Ia akan menyentuh dosa kita yang paling personal. Firman itu menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Tuhan menuntut kita memberi suatu prioritas yang tertinggi di dalam kehidupan kita. Prioritas tertinggi itu adalah mendengarkan firmanNya. Biarlah Tuhan boleh dipermuliakan, raja diatas segala raja. Allah yang Esa, yang hidup untuk selama-lamanya. Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#53 - 1/08/2010
"Ibadah yang Sejati"
Pdt. Andi Halim, S.Th.


Roma 12:1-2
Mungkin tema ini sudah akrab di telinga saudara dan mungkin kita sudah terbiasa karena telah melakukan ibadah berulang kali. Namun, mari kita kembali merenungkan esensi dan pengertian ibadah yang sejati. Sebelum itu kita harus mengerti makna asli “ibadah”. Banyak orang yang memiliki konsep bahwa ibadah berkaitan dengan kegiatan dalam satu denominasi gereja tertentu. Ibadah hanya dikaitkan dengan kegiatan yang dilakukan di dalam gedung gereja, pendeta, dan lokasinya. Selain itu ibadah memiliki pengertian mengenai perihal rutinitas yang dilakukan setiap hari minggu. Ibadah juga dianggap sebagai penerusan tradisi nenek moyang, misalnya: nenek moyang A mendirikan gereja, maka A harus beribadah di tempat itu. Seringkali manusia terjebak dalam rutinitas beribadah. Satu hal yang dilakukan secara rutin tidak menjadi masalah, tetapi jika sudah menjadi rutinitas maka orang yang melakukan akan kehilangan esensi karena ia tidak tahu lagi maknanya apa. Mari kita kembali ke definisi dari “ibadah”. Roma 12:1 menyatakan, ”Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Karena itu berkaitan dengan ayat sebelumnya yaitu Roma 11:33-36, ”Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Mengapa rasul Paulus menyimpulkan demikian? Karena ia menyadari bahwa Allah itu di luar jangkauan manusia dan Ia tidak mungkin dapat terpikirkan oleh manusia. Allah adalah Allah yang berdaulat, berkuasa, dan empunya hak atas segala sesuatu yang terjadi di dalam semua ciptaanNya. Maka apa hak manusia untuk berani protes kepada Allah?  Apa hak manusia untuk mempertanyakan kepada Allah apa yang dia ciptakan? Apakah hak manusia sehingga berani protes kepada Allah? Apakah hak manusia untuk mempertanyakan kepada Allah apa yang dia ciptakan? Maka dalam Roma 9:20-21 rasul Paulus mengatakan bahwa manusia hanya tanah liat dan tanah liat tidak berhak menanyakan kepada pembentuknya, ”Apa yang kamu bentuk ini?” Saat penjunan ingin membentuk tanah liat menurut kehendaknya, maka tanah liat tidak berhak memprotes sama sekali. Gambaran antara penjunan dengan tanah liat ini menunjukkan adanya suatu otoritas mutlak dari Allah yang berkuasa atas hidup manusia, serta manusia yang sama sekali tidak punya hak untuk memprotes Allah. Ini namanya kedaulatan Allah dan ciri khas ini sebenarnya ajaran Reformed. Namun banyak orang yang belajar Reformed tidak sungguh-sungguh mempelajari mengenai kedaulatan Allah ini. Sehingga mereka tidak mengakui kedaulatan Allah secara mutlak, luas serta berkuasa tanpa batas. Seringkali justru kita yang membatasi kedaulatan Allah dan tidak menerima kedaulatan Allah yang sepenuhnya atas hidup kita. Seringkali manusia protes, ”Tuhan mengapa saya mengalami hal seperti ini? Mengapa Engkau menimpakan celaka seperti ini atas aku?” Pertanyaan ini seolah-olah membuat Tuhan yang harus bertanggung jawab kepada manusia. Jika manusia mendapat suatu hidup yang tidak enak atau terkena penyakit atau musibah maka mereka protes kepada Allah. Orang yang demikian adalah orang yang pasti tidak mengakui kedaulatan Allah. Jika orang mengakui kedaulatan Allah maka pertanyaan demikian tidak mungkin terlontar.

Suatu saat mata sebelah kanan saya semakin kabur penglihatannya. Berkali-kali berganti ukuran kacamata karena berubah minusnya. Lalu setelah di cek ternyata ada katarak. Tidak ada jalan lain yang dapat diambil selain  tindakan operasi. Setelah operasi terjadi ketimpangan melihat. Mata sebelah kiri buram dan sebelah kanan sangat terang sehingga diperlukan kacamata dwifungsi, satu untuk lihat jarak dekat dan satu lagi untuk melihat benda di jarak jauh. Lalu saya mengeluh dan mengomel di hadapan Tuhan. Namun, saya diingatkan bahwa mata yang saya miliki ini adalah gratis dari Tuhan. Sudah seharusnya saya bersyukur karena Tuhan sudah meminjamkannya. Pernahkah saudara bersyukur untuk mata yang saudara miliki? Atau saudara hanya fokus protes atas kekurangan yang ada? Biarlah kita menjadi orang yang tahu diri dan tahu terima kasih atas semua pemberian Tuhan. Ini baru mengenai hal mata, belum menyangkut organ tubuh kita lainnya. Sadarilah bahwa semua yang kita miliki sekarang hanyalah pinjaman, dan dapat di ambil sewaktu-waktu oleh sang Pemilik. Bagaimanakah sikap hati kita saat Tuhan mengambilnya? Sungguhkah kita rela dan siap mengembalikannya saat Tuhan ingin mengambil? Di sinilah sekali lagi kita harus mengakui kedaulatan Allah. Allah yang meminjamkan segala sesuatu sekaligus adalah Allah yang berhak mengambil apa yang telah Ia pinjamkan. Maka saat Tuhan mengambil anggota tubuh kita, sudah seharusnya kita berterima kasih karena Tuhan sudah meminjamkannya. Jika Tuhan masih mempercayakan organ tubuh pada kita sampai sekarang, sadarilah bahwa di sisi lain terdapat tuntutan dan tanggung jawab kita mengembalikannya untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Kedaulatan Allah bukan hanya berbicara atas tubuh tetapi juga atas segala ciptaanNya; langit, bumi dan segala isinya. Maka Rasul Paulus menyatakan, ”Karena itu segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.” Kalimat ini bukanlah kalimat yang muncul tanpa penghayatan yang dalam akan Allah yang berkuasa dan berdaulat atas ciptaan. Seharusnya kita menyadari bahwa segala sesuatu dari hal yang paling kecil hingga hal yang paling besar, itu semua ada di dalam kedaulatan Allah. Ini bukan Reformed ekstrimis tetapi ini reform yang benar. Jika saudara belajar teologi dari John Calvin dan tokoh teologi lainnya maka mereka pasti mengakui kedaulatan Allah dari perkara paling kecil sampai perkara yang paling besar. Semua itu bukan pemikiran para theolog tetapi berasal dari Alkitab. Para Theolog hanya setia mengajarkan dari apa yang ada dari Alkitab.

Alkitab mengatakan bahwa seekor burung pipitpun tidak akan jatuh di luar kehendak Bapa. Burung pipit sangatlah murah harganya dan kurang dianggap orang tetapi barang yang murah harganyapun Tuhan pelihara. Tuhan Yesus pernah berkata bahwa rambut di kepala kita terhitung semua. Ini berarti bahwa Tuhan berkuasa di dalam hal yang paling kecilpun. Hal yang paling kecilpun ada di dalam kuasa dan kedaulatan Allah. Bagi Allah segala sesuatu di dalam pengetahuanNya, tidak ada yang luput dari pengetahuan Allah. Allah Maha tahu dan tidak ada yang tersembunyi di mata Allah. Perkara besar maupun perkara kecil tidak luput dari kedaulatan Allah. Firman Tuhan mengatakan  ”Hati seorang raja bagaikan batang air yang di tangan Tuhan nya mau dialirkan kemanapun, bergantung dari apa yang Tuhan mau” Raja menunjukkan bahwa ia memiliki kekuasaan yang paling tinggi di bumi, tetapi hatinya berada di tangan Tuhan. Paulus berkata bahwa  tidak ada pemerintah yang tidak berasal daripada Tuhan. Paulus menyadari betapa tinggi hak yang dimiliki Tuhan di atas bumi ini. Maka karena Allah berdaulat, Allah berhak untuk menentukan siapa yang selamat dan siapa yang tidak. Allah berhak memilih Yakub dan membenci Esau karena Allah berdaulat dan berkuasa dan manusia tidak boleh memprotesnya karena manusia tidak memiliki hak untuk protes kepada Tuhan. Dari jaman dulu sampai sekarang manusia ingin menjadi seperti Allah. Setiap manusia tidak ingin hidupnya diatur dan ditentukan oleh kekuasaan lain termasuk kuasa Allah. Manusia cenderung ingin menentukan hidupnya sendiri. Naluri tersebut terus berlangsung dari dulu hingga sekarang. Saya kuatir gereja jaman sekarang menawarkan pengertian teologia yang mengajarkan bahwa nasib manusia ada di tangan manusia itu sendiri. Ajaran yang mengajarkan bahwa manusia sepertinya memiliki kuasa yang dahsyat untuk dapat mengendalikan kuasa Allah. Ajaran ini bukanlah ajaran dari Alkitab dan merupakan ajaran setan. Sejak Adam dan Hawa digoda oleh setan untuk memakan buah, tawarannya adalah ”jika kamu makan buah ini maka kamu akan seperti Allah.” Menjadi berkuasa seperti Allah merupakan godaan dari setan yang akhirnya membuat manusia melawan Allah. Alkitab mengajarkan bahwa hanya Allah yang berkuasa, berdaulat dan menentukan nasib manusia.

Tuhan yang adil juga Tuhan yang sangat mengasihi dan menyayangi anak-anakNya. Kita itu hanya ciptaan dan ciptaan sudah seharusnya bersyukur pada Tuhan karena telah dicipta dan menikmati anugrah Tuhan. Terlebih manusia yang merupakan ciptaan yang paling tinggi dari seluruh ciptaan. Namun dari segala manusia, orang Kristenlah yang seharusnya lebih bersyukur karena dirinya telah ditebus oleh darah Kristus yang sangat mulia. Paulus berkata, ”Bersukacitalah dan bersukacitalah senantiasa” sukacita di sini maksudnya bukan sukacita karena dagangan laris, mendapat jodoh, mendapat rumah baru atau sembuh dari penyakit. Sukacita semacam itu hanya bersifat sementara. Jika semua itu hilang maka sukacita juga akan hilang. Namun sukacita orang Kristen seharusnya dikarenakan Yohanes 3:16, ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Dia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal.” Itulah satu-satunya bukti dari kasih Allah. Sembuh dari penyakit atau mendapat rumah atau jodoh hanyalah anugrah umum yang dapat dirasakan orang non-Kristen sekalipun. Tuhan dapat memberi hujan dan sinar matahari ke semua orang tanpa melihat orang itu baik atau jahat. Demikian pula dengan ibadah yang sejati, ibadah sejati adalah menyadari bahwa hidupku adalah milik Allah dan menyadari bahwa hidup adalah milik Allah. Ibadah yang sejati adalah menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia. Ibadah sejati sekaligus menyadari bahwa kedaulatan ada di tangan Allah dan bukan di tangan manusia. Roma 12:1, ”Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati” Ayat ini memiliki makna yang dalam yaitu setelah Allah mengaruniakan AnakNya yang Tunggal maka tidak berarti kita hanya hidup untuk sukacita dan senang-senang. Bukan itu yang dituntut dari anugerah khusus Allah (penebusan Kristus). Allah mengaruniakan Anak yang Tunggal agar umat-Nya mau mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Maka ibadah yang sejati tidak lepas daripada mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan. ”Mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup yang kudus dan berkenan” menunjukkan bahwa seluruh area hidup seharusnya ditujukan bagi kepentingan Allah, bukan bagi kepentingan pribadi. Orang Kristen boleh datang ibadah kebaktian rutin, aktif pelayanan KKR dsb. Namun jika ia tidak pernah mempersembahkan hidup bagi Allah maka pelayanan itu tidak ada gunanya. Mari kita renungkan, sudahkah saya mempersembahkan hidup bagi Tuhan? Menjadi orang Kristen berarti menjadi seperti orang yang hidupnya dipersembahkan untuk melaksanakan kehendak Tuhan. Perumpamaan kekristenan digambarkan dalam gambaran jaman perbudakan. Di jaman perbudakan, yang dijual di pasar bukan hanya hewan tetapi juga budak. Jika budak telah dibeli oleh orang kaya maka hidup budak itu sudah sepenuhnya menjadi hak tuan yang membeli dapat diperlakukan seenak tuannya dan budak tidak berdaya dan nyawa pun menjadi taruhan budak. Inilah gambaran orang Kristen, kita yang seharusnya binasa tetapi Tuhan membeli saudara dengan darah anakNya yang mahal sehingga saudara tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Maka hidup yang sudah dibeli Tuhan adalah seharusnya hidup yang dipersembahkan bagi Allah, bagi kepentingan Allah dan bukan kepentingan kita. Bukan lagi untuk kepuasan dan kenikmatan diri.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2). Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini, saudara dan saya adalah orang yang hidup di tengah dunia ini tetapi tidak boleh serupa dengan dunia. Ini hal yang sulit karena apa yang dunia nikmati, kita justru tidak boleh menikmati. Reformed melawan arus jaman. Gereja sekarang menawarkan kenikmatan dan kesenangan dari mengikut Kristus. Dalam Yesus tidak ada penderitaan dan bebas dari segala penyakit, itu yang ditawarkan dan itulah nafsu dunia. Tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu (renewal your mind) sehingga engkau dapat membedakan kehendak Allah dan yang sempurna. Menjadi orang Kristen bukanlah menjadi orang yang terus ikut arus dunia tetapi menjadi orang yang menggumulkan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yak. 1:26-27). Ini maksudnya jika kita menyebut bahwa diri kita beribadah maka kita harus melakukan. Melakukan yang menjadi kehendak Allah dalam hidup saudara. Kehendak Allah adalah saat kita belajar menyangkal diri dan memikul salib serta mengikut Dia. Kekuatan untuk melakukan kehendak Allah pasti bukan berasal dari kekuatan manusia. Oleh karena itu orang Kristen pasti terus bergumul dalam melawan kedagingannya dan kepentingan diri sendiri. Dosa yang sudah kita tahu untuk tidak dilakukan masih juga sering kita lakukan. Maka kita harus sungguh-sungguh bergantung dari kekuatan Tuhan saja dan bukan kekuatan manusia. Saya kuatir reform memang hebat dalam pengetahuan dan pendalaman Firman Tuhan tetapi realitas hidupnya tidak mencerminkan kehendak Tuhan. Ada perbedaan antara ideal dengan realita. Maka ibadah bukan hanya sekedar bicara, tetapi juga melaksanakan. Tidak ada satu orangpun yang sudah sempurna di dalam melaksanakan ibadah yang sejati. Kita semua harus selalu bersandar pada Tuhan untuk melaksanakan ibadah yang sejati.  Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Orang Kristen adalah oang yang terus diubahkan setiap harinya untuk dapat melaksanakan firman Tuhan. Maka kita perlu terus membina relasi dan hubungan pribadi dengan Tuhan. Saya kuatir jika orang Reformed yang terus mendalami teologia lama-lama malas berdoa. Relasi antara Pokok Anggur dan ranting-rantingnya menunjukkan relasi hidup orang Kristen dengan Allah. Ibadah yang sejati tanpa perubahan itu bukan ibadah. Ibadah yang sejati tanpa ada mempersembahkan seluruh hidup bagi Allah bukanlah ibadah yang sejati. Maka seharusnya kita menyadari dan berkata, ”Tuhan hidupku bukan milikku, hidupku adalah milikMu, pakailah aku supaya aku boleh menjadi alatMu untuk mempermuliakan nama Tuhan.” Bukan alat yang dipakai hanya untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi alat (instrumen) Tuhan untuk mempermuliakan nama Tuhan. Pada waktu gereja berkembang di abad pertengahan, seluruh kemampuan manusia yang paling prima dipersembahkan untuk pekerjaan Allah, sehingga bangunan yang terbaik adalah gereja, lukisan yang terbaik adalah lukisan Kristen. Semua hal yang terbaik adalah dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan. Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? Apakah pikiran yang paling pintar sudah dipersembahkan bagi Tuhan? Apakah waktu yang paling prima atau waktu sisa yang dipersembahkan bagi Tuhan? Gereja jaman sekarang sulit berkembang karena orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika kondisi ini terus berlanjut maka kondisi kekristenan akan semakin terpuruk. Mengapa kita mau memikirkan pekerjaan atau bisnis dengan menguras tenaga dan pikiran tetapi tidak untuk pekerjaan Tuhan? Urusan gerejawi dan pekerjaan Tuhan hanya diberikan setelah semua urusan pribadi diselesaikan. Waktu dan tenaga yang diberikan adalah tenaga sisa yang masih ada. Gaya hidup demikian menunjukkan apakah hidup saudara sedang melaksanakan ibadah atau tidak. Bukan berarti saya mengajarkan saudara untuk tidak bertanggung jawab atas bisnis dan pekerjaan ditelantarkan demi kepentingan gereja. Maksud saya adalah bagaimana saudara memprioritaskan yang menjadi kehendak Tuhan dan kepentingan pribadi. Biarlah Tuhan Yesus sungguh-sungguh menjadi Tuhan atas seluruh waktu, pikiran dan tenaga saudara.

Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Roma 14:7-9). Ayat ini menerangkan bahwa melaksanakan ibadah harus sampai titik hidup dan mati seseorang untuk Tuhan. Pada jaman gereja mula-mula, jemaat yang berani jadi Kristen resikonya akan mati sebagai martyr. Menjadi Kristen akan dianggap pemberontak dan ancaman bagi pemerintahan Romawi. Orang-orang Kristen banyak ditangkap dan dibakar hidup-hidup, diadu dengan binatang buas. Sehingga rasul Paulus menegaskan ”jika kita hidup, kita hidup bagi Tuhan dan jika kita mati, kita mati bagi Tuhan.” Apakah saudara sudah siap untuk berani hidup mati bagi Tuhan? Taruhan ini dapat dikatakan pertaruhan sampai titik habis. Ini yang namanya trust, mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah apapun yang akan terjadi. Jika harus mati maka saya siap mati untuk Tuhan, itulah ibadah. Orang yang sudah punya komitmen hidup seperti ini pasti tidak akan mempersoalkan masalah kecil, tidak mempersoalkan keuntungan pribadi atau tidak tergoncang saat penyakit dan kegagalan menerpa hidup saudara. Mengapa? Karena saya sudah dibeli dan hidup saya bukan milik saya lagi. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu (1 Kor. 6:19-20). Ini adalah ayat yang sungguh-sungguh menunjukkan suatu fondasi iman Kristen sejati. Jika saudara tidak memiliki fondasi ini maka akan kacau karena tidak ada pegangan dan mudah dipengaruhi ajaran yang simpang siur. Oleh karena itu seharusnya kita memiliki konsep yang tegas yaitu bahwa hidup bagi Allah dan untuk kemuliaan nama-Nya. ”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1 Kor. 10:31). Seharusnya orang Reformed adalah orang yang melaksanakan apa yang menjadi kehendak Allah. Bukan Allah yang harus menuruti keinginanku tetapi aku yang harus menuruti keinginan Allah. Inilah spirit Reformed, spirit ibadah yang sejati, spirit sebagai seorang hamba yang sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Amin? Mari kita berdoa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#54 - 8/08/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #8: Refleksi Kepada Seluruh Eksposisi Yunus 1"
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 1
Hari ini kita akan menyimpulkan seluruh khotbah eksposisi kitab Yunus pasal 1. Pdt. Dr. Stephen Tong sering mengatakan ”Jika bukan saya, siapa? Jika bukan sekarang, kapan?” Kalimat ini sangat menggugah saya dan mendorong kita melayani Tuhan untuk jangan menunjuk orang lain dan jangan mengganti ke kesempatan lain. Seringkali manusia waktu diberi kesempatan melayani selalu menolaknya dengan menunjuk ke orang lain atau mengganti ke kesempatan yang lain. Saat seseorang mengatakan, ”Lain kali saja kalau ada kesempatan lagi saya mau”, jangan kira begitu kita ada waktu luang atau ada kesempatan, Tuhan pasti akan selalu menerima kita. Kalau Tuhan sudah tidak mau memberikan kesempatan kepada saudara untuk melayani, meskipun saudara sekalian mempunyai banyak waktu luang atau kesempatan, maka saudara berusaha sekuat tenaga pun sudah tidak ada gunanya. Kesempatan yang Tuhan berikan sudah lewat. Waktu Tuhan kadang sudah tidak terulang lagi, oleh sebab itu setiap kita harus menangkap setiap kesempatan yang Tuhan berikan pada kita. Kami baru selesai KKR REGIONAL TORAJA UTARA (Senin-Sabtu, 26-31 Juli) dan KKR REGIONAL TANA TORAJA (Senin-Jumat, 2-6 Agt) 371 sesi KKR melayani sekitar 88.000 jiwa. Kalau saudara sekarang berkata ingin terlibat ikut melayani KKR Toraja, maka saya hanya berkata, “Maaf, KKR sudah selesai”. Meskipun saudara sudah siapkan waktu dan rela beli tiket sendiri, dan rela melayani dengan segenap hati, namun kesempatan sudah lewat. Kalau saudara berkata kalau begitu saudara akan ikut KKR Toraja tahun depan saja, lalu kalau saudara ikut KKR Toraja tahun depan, apa yang kami alami selama KKR Toraja yang baru saja lewat (pengalaman bagaimana Tuhan menyertai dan memimpin), saudara tidak akan lagi bisa alami secara sama. Kesempatan sudah berbeda. Mungkin di tahun depan Tuhan tidak memberikan hujan yang membuat kami berjuang melalui jalan berlumpur atau tanah becek seperti trip tahun ini. Untuk mengalami suasana yang sulit seperti itu Tuhan ijinkan hanya satu kali sehingga tidak mungkin dapat dialami lagi dalam kondisi yang sama 100%. Saya terus berpikir mengapa Tuhan ijinkan setiap hari hujan turun waktu kami KKR Toraja. Keinginan kami yaitu setiap KKR tidak hujan agar KKR Siswa banyak siswa yang dapat dilayani, dan KKR Umum banyak orang bisa datang, serta jalan-jalan tidak mengalami kerusakan / berlumpur / becek / licin. Awalnya menurut kami, hujan merupakan gangguan terbesar. Ternyata tidak selalu hujan merupakan gangguan. Sebagai contoh, kami pernah KKR di suatu kota beberapa bulan lalu dan saat itu kehadiran kami membawa hujan deras. Setelah KKR selesai, ada orang yang berterima kasih karena kehadiran kami dari STEMI telah membuat hujan turun. Menurutnya, hujan yang turun adalah berkat besar bagi mereka. Mengapa? Karena kampung itu sudah lama lama tidak hujan, dan mereka sudah lama berdoa minta hujan. Kalau hujan yang tidak turun maka mereka belum bisa memberikan pupuk ke tanah. Kalau sebelum hujan mereka memberikan pupuk, lalu hujan turun maka seluruh pupuk akan hanyut dan tidak ada gunanya ditabur ke tanah. Bagi kami waktu itu, hujan merupakan pengganggu, tetapi bagi mereka justru berkat besar. Dari kejadian tersebut saya menangkap hal yang sangat penting. Terkadang saat kita berdoa, kita berdoa satu hal yang menurut kita adalah baik namun ternyata tidak baik untuk orang lain.  Yang kita tidak mau, justru orang lain sangat membutuhkannya. Contoh berikutnya, saat di KKR Toraja, hampir setiap malam turun hujan sehingga setiap pagi jalanan menjadi becek, berlumpur dan licin. Kondisi cuaca tidak menentu, kadang pagi masih gerimis lalu tiba-tiba panas lalu hujan. Dari baju yang basah lalu kering lagi, membuat kami batuk, flu, serak-serak dan mulai sakit-sakit. Karena kondisi sulit seperti ini dan perjalanan ke sekolah-sekolah harus menempuh jalan yang sulit, maka yang berkhotbah Tuhan berikan hati yang berkobar-kobar untuk menyampaikan firman Tuhan dan bahkan yang awalnya tidak berani menyampaikan firman Tuhan, akhirnya digerakkan Roh Kudus berani memberitakan firman Tuhan kepada siswa-siswa di gunung-gunung yang sulit dijangkau dengan mobil dan ojek, melainkan harus berjalan berkilo-kilo meter. Akhirnya setiap yang ikut, Tuhan pakai satu per satu berani menyampaikan firman Tuhan. “If not me, who?” dan “if not now, when?” serta “if not here, where?

If not me, who?” (jika bukan saya, siapa?). Setiap kali saya mengatur trip KKR, saya bergumul akan kelemahan saya yaitu kalau naik mobil tertentu sering pusing dan mual. Saya paling tidak kuat naik mobil sedan dan mobil yang masih bau jok kursi. Selain itu telinga saya sangat sensitif dengan suara dengung dan mesin di bawah mobil. Dan selama berada di tempat yang bergerak seperti mobil, pesawat, bus, kereta api, kapal, dll, saya tidak bisa tidur. Setiap kali mau pergi KKR, pergumulan terberat saya adalah di perjalanan. Pernah saya naik mobil ke Bandung untuk mengisi seminar, lalu di tengah jalan saya turun dan muntah-muntah. Dari kecil saya memang tidak tahan naik mobil, tetapi Tuhan paksa harus bisa. Perjalanan KKR kemarin sangat jauh dan saya harus tahan, meski kesehatan tidak memungkinkan. Tetapi ini salib yang harus saya tanggung, saya harus mengorbankan diri demi orang lain mendapatkan berkat. Kalau Tuhan sudah pakai pasti Tuhan akan memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menanggung seluruh kelemahan-kelemahan kita demi supaya banyak orang mendapatkan berkat melalui pengorbanan dan pelayanan kita.

Demikian juga dengan Yunus, dia tidak mau berkorban demi keselamatan sekitar 120.000 jiwa di Niniwe. Yunus berpikir untuk apa dia berkorban sehingga musuh Israel (Niniwe) mendapatkan pengampunan dosa dari Tuhan. Banyak orang bertanya setelah kami KKR lalu bagaimana follow-upnya? Saya menjawab, Tuhan yang follow-up mereka, karena kami tidak mungkin follow up mereka karena mereka tinggal di gunung-gunung dan perjalanan terlalu jauh menuju ke sekolah mereka. Saudara harus bergumul sungguh-sungguh antara kehendak Tuhan dan kehendak diri. Setiap akan melakukan trip terkadang dalam hati muncul pertanyaan, ”Mengapa harus saya yang pergi?” saya teringat, “if not me, who?” Namun Yunus tidak pernah memikirkan kalimat tersebut. Di antara seluruh orang Israel, Tuhan memilih Yunus untuk pergi ke Niniwe. Besar kemungkinan Yunus mengerti bahasa Niniwe, karena Yunus tidak mungkin berkhotbah kepada orang-orang di Niniwe dengan memakai bahasa Ibrani. Maka saya yakin Yunus pada waktu berkhotbah kepada orang-orang di Niniwe dengan memakai bahasa yang dimengerti orang-orang Niniwe. Karena Yunus bisa berbahasa Niniwe, maka Tuhan memanggil dia ke Niniwe. Kadang ada orang yang sangat cepat belajar bahasa Jepang atau Korea atau Prancis. Lalu setelah fasih, orang itu hanya bekerja dalam bidang itu untuk mendapat gaji yang lebih besar. Saya percaya jika seseorang bisa berbahasa tertentu, maka pasti ada rencana Tuhan atas hidupnya. Mungkin Tuhan ingin dia menyampaikan firman Tuhan kepada orang yang bisa mengerti bahasa itu. Seharusnya talenta yang Tuhan sudah beri, dipakai untuk kemuliaanNya dan bukan dipakai untuk mendapatkan uang. Jika saudara bisa bahasa Korea atau Jawa, maka mungkin Tuhan ingin memakai mulut saudara untuk menginjili orang Korea atau Jawa. Saya bisa bahasa Indonesia maka dimana ada orang yang bisa bahasa Indonesia maka saya harus pergi ke sana memberitakan Injil kepada mereka. “if not now, when?

Yunus adalah seorang nabi Tuhan dan yang dipakai Tuhan seharusnya tergerak hatinya dan berkata, ”Jika bukan saya, siapa?” Jikalau kita sungguh mengerti kalimat ini, kita tidak akan gampang menolak pelayanan dari Tuhan dan mengalihkannya kepada orang lain. Keputusan Tuhan memilih Yunus pergi ke Niniwe adalah keputusan Tuhan yang tidak berubah. Apapun yang terjadi, Yunus harus pergi berkhotbah di Niniwe. Saya pernah berkata kepada team, ”Jika bukan kalian yang khotbah, lalu siapa yang kotbah? Kita sudah tiba di sini, mari kita memberitakan Injil kepada siswa-siswa dengan berani.” Waktu kami KKR, banyak kepala sekolah atau guru-guru sekolah berkata, ”Sudah berpuluh-puluh tahun sekolah ini berdiri tetapi tidak pernah ada yang melayani sekolah kami seperti ini. Ini adalah kali pertama terjadi seperti ini di sini.” Tuhan sangat baik kepada orang –orang kampung yang miskin, sehingga  Tuhan mengutus kami KKR di sana. Jika saudara perhatikan kehidupan orang-orang kampung yang miskin, itu sungguh kasihan. Makanan mereka kurang begizi, dan makanan rohani yang mereka terima setiap Minggu juga kurang ada gizinya. Makanan jasmani mereka tidak bergizi dan makanan rohani mereka juga tidak bergizi. Banyak hamba-hamba Tuhan yang tidak Sekolah Theologia atau tidak ada panggilan jadi Hamba Tuhan atau tidak belajar Alkitab baik-baik pergi ke kampung-kampung membuka gereja dan menggembalakan orang-orang kampung, bagaimana orang kampung bisa bertumbuh rohaninya? Maka tadi saya katakan bahwa Tuhan sangat mengasihi orang di kampung dengan Tuhan kirim kami dari team STEMI melayani mereka. Dari kota besar menuju ke pedalaman dan orang-orang miskin di kampung-kampung kecil.  Kami pergi ke sana mengabarkan Injil tanpa dibayar. Mereka tidak mungkin mengundang kami dengan membayar ongkos tiket kami, tapi kami datang dengan pakai biaya masing-masing dan tidak terima honor apa-apa. Bagi kami, ini sesuatu yang “rugi”, tetapi apa yang kami rasa “rugi”, ini menjadi keuntungan dan berkat bagi 88.000 jiwa di Toraja. Maka itu bukan lagi dihitung “rugi”, tetapi malah untung.

Tuhan mencintai orang-orang sampai ke pedalaman-pedalaman terpencil dan sangat miskin. Oleh sebab itu Tuhan mengutus kami melayani mereka. Mereka perlu diberi makanan rohani yang bergizi, firman yang solid, dan doktrin yang benar. Jadi, mari kita jangan menunda lagi memberitakan Injil kepada mereka. Kalau kita yang merasa sudah terima ajaran yang sehat dan doktrin yang ketat, kita sendiri tidak pergi melayani mereka, lalu siapa yang akan melayani mereka? Akhirnya nanti setan yang akan mengutus nabi-nabi palsunya pergi melayani mereka. Setiap kali kita menunda untuk mengabarkan Injil, semakin tersesatlah orang-orang yang belum dengarkan Injil. Jangan saudara berpikir kalau semua urusan saudara sudah selesai, baru saudara akan fokus melayani mereka. Terlambat saudara! Karena urusan kita tidak pernah akan berhenti / selesai sampai kita mati. Ini namanya ujian untuk kita lebih taat kepada Tuhan atau lebih egois?

Lalu, “if not now, when?” (jika bukan sekarang, kapan?) Jangan tunggu lagi karena setiap kali saudara menunda-nunda waktu, maka kesempatan akan berubah. Kadang-kadang kami jumpai, ada yang dulu kepala sekolahnya sangat baik, tetapi tahun berikutnya dia sudah dipindahkan dan tidak di sana lagi. Terkadang ada guru yang senang dan menyambut baik, tetapi di tahun depannya dia sangat dingin karena mendapat ancaman dari sekolah. Ancaman yang menghadapkan ia untuk terus mendukung pelayanan kami atau mengundurkan diri dari sekolah.

Yunus mengulur-ulur waktu sehari demi sehari, dan dia sengaja membiarkan Niniwe sehari demi sehari semakin mendekati hari penghakiman Tuhan. Setiap hari Niniwe sedang pelan-pelan menuju kebinasaan. Yunus tahu bahwa sisa waktu kehancuran Niniwe sudah semakin singkat oleh sebab itu dia harus lari pergi jauh-jauh supaya kalau pun kelak harus ke Niniwe, tenggang waktu yang Tuhan berikan sudah berakhir, dan sekarang Niniwe siap dihancurkan Tuhan. Menunggu sampai akhirnya Niniwe dihancurkan oleh Tuhan merupakan pemikiran yang jahat. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sikap Yunus di surga saat bertemu dengan orang Niniwe yang diselamatkan Tuhan, pasti sungkan sekali.

If not now, when?” Jika Tuhan memanggil saudara untuk melayani Tuhan tetapi saudara selalu menolak dengan alasan selalu sibuk bekerja, ingatlah melayani itu anugerah Tuhan dan bisa dapat kerjaan juga itu anugerah Tuhan. Jadi saudara sedang menolak anugerah Tuhan dengan anugerah Tuhan (anugerah menolak anugerah). Maka saudara harus dapat menentukan anugerah mana yang menjadi prioritas dan mengutamakan mana yang lebih utama. Secara kondisi saya adalah seorang yang sangat lemah. Dari tahun 2000 menahan sakit yang luar biasa di tulang saya. Ada pembengkakan tulang yang sakit sekali dan sudah dioperasi 3x, dan sebagian tulang sudah diangkat, namun terus tumbuh “tulang” baru dari jaringan lunak yang mengeras seperti tulang asli, dan tumbuhnya tidak beraturan dan terus menusuk-nusuk daging di sekitarnya. Sudah sekitar 10 tahun saya menahan rasa sakit seperti itu tanpa makan obat anti sakit. Tapi kalau saya tidak ceritakan hal ini, saudara pasti tidak tahu saya ada penyakit ini. Karena secara lahiriah saudara tidak melihat saya sedang kesakitan, namun sebetulnya saya terus menahan rasa sakit. Kelemahan tubuh atau kelemahan apapun bukan alasan untuk tidak melayani Tuhan. Ingatlah kesempatan untuk melayani Tuhan tidak selamanya ada.

Saat Yunus mau dipakai oleh Tuhan, ia tetap terus melawan Tuhan dan bahkan dengan kekuatannya dia pergi melarikan diri dari hadapan Tuhan. Namun Tuhan begitu mencintai dia, dan mengingatkan dia untuk berdoa melalui nasehat orang-orang di kapal. Waktu orang ingatkan Yunus supaya dia berdoa kepada Tuhan, Yunus tetap keras hati tidak mau berdoa kepada Tuhan, sampai akhirnya di dalam perut ikan dia baru berdoa kepada Tuhan. Waktu di kapal, Yunus masih bisa bergerak bebas, hirup udara segar dan melihat langit, namun kesempatan itu dia tidak pakai untuk berdoa kepada Tuhan, namun setelah Yunus sudah tidak bisa bergerak dengan bebas dan sudah tidak bisa hirup udara segar barulah dia berdoa dari dalam perut ikan tersebut. Mengapa Yunus baru berseru saat semua sudah terlambat? Mengapa harus sampai Tuhan pukul dan hajar kita, barulah kita berdoa? Mengapa waktu dalam keadaan normal kita tidak berdoa kepada Tuhan?

Terkadang saya melihat ada orang yang masih single bisa melayani Tuhan dengan maksimal. Lalu orang tersebut ingin punya pacar dan berdoa agar Tuhan memberikan seorang pacar kepadanya. Akhirnya orang itu dapat pacar yang juga sebelumnya rajin sekali melayani Tuhan. Dengan adanya latarbelakang orang ini dan pacarnya yang melayani Tuhan, mestinya secara logika kalau mereka pacaran atau berumah tangga, maka pelayanan mereka akan sangat berkembang dan semakin maksimal lebih dari sebelumnya. Namun faktanya setelah pacaran dan setelah masuk di dalam dunia pernikahan, mereka berdua semakin jarang melayani Tuhan. Apalagi setelah memiliki anak, maka lebih jarang lagi melayani Tuhan. Kadang-kadang saya berpikir, lebih baik dari awal Tuhan tidak berikan pacar dan tidak menjawab doa orang seperti itu dan biarkan orang seperti itu bujangan sampai Tuhan dan bisa terus maksimal melayani Tuhan. Waktu Tuhan menjawab doa orang tersebut, Tuhan sudah tahu kelak hati Tuhan akan disakiti oleh mereka berdua. Namun inilah cinta kasih Tuhan yang kita bisa lihat dalam dunia ini.  Kadang-kadang melihat Yunus yang mendukakan hati Tuhan, lebih baik tidak pilih dia sebagai nabi Tuhan. Namun Tuhan tetap memakainya sebagai nabi Tuhan. Inilah cinta kasih Tuhan. Dalam perut ikan, Tuhan menjawab dan mendengarkan doa Yunus. Lihatlah betapa baiknya Tuhan itu.

Janganlah kita menjadi orang yang demikian yang menunggu sampai hukuman Tuhan datang baru kita berkata, ”Tuhan, dimanakah Engkau?”. Lalu Tuhan menjawab, ”Iya, Aku dari dulu di sini. Kamu yang dari dulu pergi kemana?” Kalau Tuhan mau memakai kita, jangan lagi menunda dan mari kita melayani Tuhan selama hari masih siang.

Hari ini kita sudah masuk ke dalam refleksi eksposisi Yunus 1 dan minggu depan kita akan membahas Yunus 2. Yesus pernah berkata kepada Simon Petrus, ”Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum,  tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (Lukas 22:31-32). Pertama kali saya membaca kalimat ini, saya sangat tersentuh. Saat Simon  mendengar kalimat ini, saya percaya dia sangat tersentuh meskipun teguran keras muncul kepada dirinya,”Iblis sudah siap menampi engkau.” Kalimat tersebut seolah-olah menyatakan Tuhan kejam sama Petrus, namun tidaklah demikian karena Yesus mengatakan, ”Aku telah berdoa untuk engkau.” Kalimat ini sangat agung. Di dalam Kitab Suci sering dikatakan bahwa ”Yesus berdoa”. Namun, kalimat bahwa Yesus berdoa untuk satu pribadi orang tidak sering muncul dalam Alkitab. Dan di bagian ini Yesus mendoakan Simon secara khusus. Ini menunjukkan betapa besar kasih Yesus kepada Petrus. Di dalam kitab 1 Petrus, kita melihat Petrus terus mengingatkan dan menegur orang-orang yang dia layani dengan perasaan dan hati yang mendoakan mereka yang dia layani. Petrus ingat kalimat Yesus, ”Jikalau engkau insyaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” jikalau saudara mengalami kegagalan demi kegagalan janganlah terus bersedih di dalam kegagalan. Segera insyaf dan bangkit karena masih ada saudara-saudara lain yang perlu untuk dikuatkan. Untuk dapat menguatkan saudara yang lain, saudara perlu berkorban. If not me, who? If not now, when? Mari kita berdoa.


(Ringkasan ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)


#55 – 15/08/2010
“…”
Pdt. Aiter, M.Div.


Matius 12:38-40, Yohanes 6:30,35
Sebelum kejatuhan dosa, manusia dapat berkomunikasi dengan Tuhan tanpa hambatan. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Kitab Kejadian mencatat bahwa muncul  hambatan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Mulai diperlukan satu pengantara jika manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhan. Kain dan Habel mulai mempersembahkan korban di atas mezbah. Mezbah dan korban merupakan cikal bakal media yang digunakan orang berdosa untuk berkomunkasi dengan Tuhan. Sebelum orang Israel  berdoa pengakuan dosa, mereka perlu menyajikan korban di atas mezbah. Seharusnya tidak diperlukan media ketika manusia ingin berdoa kepada Tuhan. Tuhan mengijinkan umatNya menggunakan media persembahan meskipun bukan korban itu yang diinginkan Tuhan. Esensi dari  berdoa bukan terletak pada jenis korban yang harus dipotong atau pendirian mezbah dan Daud mengerti akan hal ini. Daud mengerti bahwa bukan persembahan korban yang Tuhan kehendaki, melainkan hati yang hancur. Doa Daud dalam Mazmur 51 berkaitan dengan doa Yunus dalam perut ikan. Setelah Daud berbuat dosa, ia berdoa dan kalimat doanya sangat indah.

 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!” (Mazmur 51:3-4) Daud menyadari bahwa dirinya berdosa di hadapan Tuhan. Jika saudara bandingkan doa ini dengan seluruh doa Yunus, maka sangat terlihat perbedaannya dari segi isi maupun dari segi  doktrin mereka. Doa Daud lebih rohani daripada doa Yunus. ”Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mazmur 51:6) Kalimat ini tidak pernah keluar dari mulut Yunus. ”Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang daripadaMu dan lengkapi aku dengan roh yang rela maka aku akan mengajarkan jalanMu kepada orang2 yang melakukan pelanggaran, supaya orang2 berdosa berbalik kepada Mu. ” (Mazmur 51:14) Ini adalah bentuk komitmen Daud. Daud mengerti satu prinsip yaitu bahwa dirinya yang sudah bersalah, akan bertobat sungguh-sungguh serta akan menguatkan orang berdosa. Doa Daud bukan hanya doa pengampunan dosa tanpa ada perbaikan hidup. Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan, sekiranya ku persembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk tidak akan kau pandang hina ya Allah (Mazmur 51:18). Ini prinsip Daud yang sangat luar biasa. Daud mengerti bahwa mezbah yang sesungguhnya bukan mezbah yang dibangun dari batu (fisik), tetapi jiwa manusia berdosa yang bertobat. Itulah korban yang berkenan bagi Tuhan. Iman Daud yang demikian menerobos seluruh tradisi PL. Orang PL menganggap setelah mereka mempersembahkan korban, dan mengaku dosa, maka mereka bebas berdosa lagi. Lalu setelah berdosa, mereka mempersembahkan korban dan mengaku dosa lagi, dan seterusnya. Hewan yang dikorbankan hanya untuk ”menyuap” Tuhan agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Daud memiliki konsep yang lain dari seluruh orang Israel. Daud mengetahui apa yang Tuhan inginkan. Yang Tuhan inginkan bukan korban pengampunan dosa tetapi jiwa yang hancur.

Yunus hidup di jaman yang orang-orangnya memberi persembahan dan mengikrarkan nazar. Setelah orang dalam kapal melemparkan Yunus ke laut, mereka sangat takut lalu mempersembahkan korban sembelihan serta mengikarkan nazar (Yunus 1:16). Di dalam perut ikan, Yunus berdoa dengan memakai konsep yang sama. ”Tetapi aku dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepadaMu, apa yang kunazarkan akan kubayar” (Yunus 2:9) Doa demikian merupakan satu ekspresi dari jiwa yang hancur di hadapan Tuhan. Tuhan tidak memerlukan eskpresi, tetapi jiwa yang sungguh-sungguh hancur karena menyadari dirinya berdosa. Setiap orang dapat datang kepada Tuhan dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa seolah dirinya bersalah dan perlu bertobat, namun Tuhan lebih melihat kesungguhan hatinya.

Orang-orang yang hidup di jaman Yunus masih memegang konsep bahwa korban yang diserahkan ditujukan untuk meredakan murka Tuhan sehingga tidak lagi ada jatuh korban. Ini merupakan konsep yang dipegang orang dunia / orang kafir sampai hari ini. Mereka menganggap bahwa jika tuhan sedang murka maka artinya tuhan sedang memerlukan korban. Misal di Indonesia: saat ada gunung meletus, mereka memberikan sesajen binatang untuk meredakan murka tuhan. Jika gunung makin meletus, maka berarti ilahnya tidak menyukai korban itu dan harus segera mencari korban yang lain. Korban yang dipersembahkan bukan hanya berupa hewan tetapi bahkan manusia (bayi). Tradisi demikian dilakukan turun temurun hingga sekarang. Manusia masih mempercayai jika ilahnya marah, maka perlu diberikan korban. Setelah memberikan korban, lalu berjanji kepada Tuhan maka semua selesai. Yunus mengira bahwa setelah ia bernazar maka seluruh dosanya akan dihapus. Yunus bernazar bahwa ia akan mempersembahkan korban jika ia keluar. Namun setelah Yunus keluar, tidak dicatat Alkitab bahwa ada satu korban persembahan yang diberikan. Maka janji Yunus  adalah janji palsu.

Perilaku demikian sama dengan perilaku manusia yang hidup sekarang Saat kesusahan, isi doa sangat rohani dan janjinya sangat indah. Setelah keluar dari kesusahan semua janjinya tidak dipenuhi. Misal: Saat sakit saudara berjanji akan mengabarkan Injil jika diberi kesembuhan. Setelah sembuh, mulai berpikir bahwa ia sembuh karena obat dokter yang mujarab atau karena dokter yang menyembuhkan memang dokter pintar dan  banyak orang yang disembuhkannya. Setelah sembuh mulai banyak pertimbangan dan akhirnya tidak menepati janjinya. Apakah Saudara pernah berjanji? Jika ya, sudah berapa lama saudara janji dan tidak melaksanakan? Ada orang yang berjanji akan membaca habis satu Kitab Suci dalam beberapa bulan. Di awal minggu masih semangat membaca banyak pasal. Lalu lambat laun mulai berkurang menjadi beberapa ayat. Lalu tunda dan akhirnya sama sekali tidak membaca lagi. Yunus yang sedang dihukum oleh Tuhan dengan dikurung dalam perut ikan, masih berani berjanji palsu. Yunus berjanji akan memberi persembahan tetapi setelah itu tidak pernah Yunus genapi. Mungkin kita pun sering bersikap demikian. Saudara yang ingin bekerja, lalu kirim lamaran dan tetap tidak diterima mulai memancing Tuhan dan berdoa ”Jika saya diterima kerja, maka semua gaji pertamaku untuk Tuhan” Tuhan pun mengujinya dan memberikan pekerjaan. Setelah terima gaji pertama, mulai muncul pikiran dan pertimbangan lain. Yang awalnya berniat menyisihkan gaji lalu setelah pikir-pikir akhirnya menjadi menyisakan gaji. Gaji yang didapat dipotong untuk beli ini dan bayar hutang baru dipersembahkan ke Tuhan. Berjanji adalah hal yang sangat mudah tetapi menepatinya adalah hal yang sulit. Benar? Di satu sisi janji adalah baik, tetapi di sisi lain janji yang tidak ditepati hanya akan menambah dosa yang baru.

Yunus melakukan kesalahan yang cukup fatal dengan lari dari hadapan Tuhan. Lalu Yunus dihukum Tuhan dengan dikurung dalam perut ikan. Yunus tidak berdaya dan hanya bisa pasrah dibawa oleh ikan itu selama tiga hari. Peristiwa ini Tuhan ijinkan terjadi untuk menyatakan kepada bangsa sekitar bahwa Tuhan berkuasa atas lautan. Di Kejadian, Tuhan menciptakan laut beserta hewan laut dengan berbagai ukuran. Ikan yang menelan Yunus merupakan hewan laut yang sangat ditakuti (sea monster). Orang-orang yang hidup sampai jaman Musa percaya bahwa di laut hidup monster yang menakutkan. Sehingga wilayah laut dianggap wilayah yang tidak dapat ditaklukkan oleh manusia.  Lalu Tuhan mendatangkan air bah dan Tuhan mengijinkan ada bahtera di atasnya. Tuhan juga memelihara orang yang ada di dalam bahtera itu. Laut bergolak sekuat apapun tidak mampu untuk menaklukkan bahtera itu. Tuhan ingin mengajarkan bahwa kuasa-Nya lebih besar dari kuasa kegelapan yang dipercaya orang jaman itu. Semua manusia di daratan, pohon tinggi dan gunung tinggi dapat ditaklukkan air tetapi tidak dengan bahtera dan orang-orang di dalamnya. Air bisa terus naik menutupi segala daratan tetapi tidak dapat menutupi bahtera Nuh. Inilah bukti bahwa Tuhan menguasai dan mengendalikan laut.

Kuasa Tuhan atas laut juga dibuktikan di atas sungai Nil pada jaman Musa. Saat itu sungai Nil dipercaya oleh bangsa Mesir sebagai tempat yang sangat menakutkan karena dikuasai oleh dewa. Orang Mesir sangat bangga dengan sungai Nil dan memberikan sesajen di sungai itu. Sebelum Firaun dan putri Firaun mandi, maka mereka memberikan ”sesajen” di sungai Nil. Tuhan ingin membuktikan bahwa sungai yang ditakuti itu tidaklah berkuasa. Tuhan mengijinkan bayi Musa di dalam keranjang mengalir di atas sungai Nil. Kehadiran bayi itu menyatakan bahwa Dewa Nil tidak berkuasa atas sungai Nil. Allah Yahwe berkuasa atas segala air. Air tidak dapat menguasai orang yang Tuhan lindungi. Dalam cerita Yunus, kuasa Tuhan untuk menaklukkan air tidak hanya termanifestasi di atas air tetapi di dalam air. Ikan besar yang membawa Yunus ke dalam laut sekaligus menyatakan pemeliharaan Tuhan terhadap Yunus. Manifestasi kuasa Tuhan bukan hanya dinyatakan di atas air, tetapi juga sampai ke dalam air. Meski samudera raya mengepung Yunus, tetapi Tuhan memeliharanya. Yunus masih dapat bernafas meski ikan berenang sedalam apapun. Yunus bukan hanya bernafas tetapi Yunus dapat berdoa kepada Tuhan dan Tuhan mendengar. Yunus mengatakan, ”Tuhan mendengarku.” Doa Yunus dari dalam samudera dapat tembus sampai ke telinga Tuhan. Ini merupakan satu tindakan yang Tuhan ijinkan terjadi di dalam sejarah yang menyatakan bahwa Tuhan berkuasa atas laut sedalam apapun.  

Saat terjadi ombak besar, seluruh orang yang berada di kapal sangat ketakutan lalu memanggil allah mereka. Mereka menganggap ilah laut sedang marah maka mereka memanggil allah lain yang lebih hebat untuk meneduhkannya. Lalu Yunus memanggil Allahnya dan  laut pun menjadi teduh. Allah ingin mempermalukan ilah yang ditakuti oleh orang kapal. Tuhan mengijinkan Yunus tercampak ke dalam ombak besar. Semua orang kapal mengira bahwa Yunus pasti mati tenggelam. Namun pemeliharaan atas Yunus sungguh luar biasa dan Yunus tidak menyadari hal itu. Yunus tetap berpikir bahwa semua hal buruk yang terjadi adalah karena kesalahan Tuhan, ”Telah Kau lemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air”(Yunus 2:3) Padahal Yunus sendiri yang menyarankan supaya ia dicampakkan ke laut.

Menurut saudara, doa Yunus di dalam perut ikan keluar di hari yang ke berapa? Jika saudara mengamati doa Yunus ini, maka ada kesan bahwa Yunus berdoa pada hati yang ketiga. ”Tetapi aku dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepadaMu, lalu berfirmanlah Tuhan kepada ikan itu dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat” (Yunus 2:9-10) Dari kalimat tersebut memberi kesan bahwa ikan itu memuntahkan Yunus setelah Yunus berdoa. Yunus orang yang sangat degil sehingga tidak mungkin doa Yunus tersebut keluar di hari yang pertama. Dalam doa Yunus tidak ada kesan pertobatan yang sungguh-sungguh. Terbukti setelah Yunus keluar, ia masih berpikir bahwa semua yang terjadi karena kesalahan Tuhan dan marah-marah kepada Tuhan. Sejak awal memang Yunus tidak ada pertobatan dan Yunus tetap tidak rela pergi ke Niniwe. Kata Niniwe tidak pernah keluar dari mulut Yunus karena terlalu bencinya Yunus terhadap Niniwe. Yunus seolah-olah taat, tetapi sebenarnya Yunus tidak ada hati untuk kota Niniwe.

Yunus dikeluarkan dari perut ikan bukan karena Tuhan menjadi lembut hati mendengar doa atau janji korban Yunus, melainkan karena ketetapan Tuhan yang mengharuskan Yunus keluar pada hari yang ketiga. Yunus di dalam perut ikan dan keluarnya Yunus menjadi tipologi di Perjanjian Baru untuk dikaitkan dengan Yesus yang mati (ada dalam rahim bumi) dan bangkit pada hari yang ketiga. Dalam Kitab Suci banyak paralel tipologi. Yunus harus keluar di hari yang ketiga untuk merujuk kepada kematian dan kebangkitan Kristus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam (Matius 12:40). Ini merupakan  satu-satunya ayat yang mengatakan bahwa Yesus berada di dalam kuburan. Tipologi berarti membandingkan  secara kiasan atas 2 peristiwa atau 2 tokoh. Ayat ini bukan hanya sebagai tema tipologi tetapi sebagai ajaran Tuhan Yesus untuk menyindir orang Farisi. Yesus sering mengatakan bahwa diri-Nya akan mati dan akan bangkit pada hari yang ketiga dan semua itu digenapi oleh Kitab Suci. Kalimat yang menyatakan bahwa Yesus akan mati dan bangkit sudah sering Yesus katakan. Namun Yesus mengucapkan kalimat 3 hari 3 malam hanya satu kali yaitu di Matius 12:40 ini. 3 hari 3 malam bukan berbicara mengenai waktu hurufiah 3x24 jam. Tipologi ini bukan memparalelkan jumlah hari atau jumlah malam tetapi lebih ke kiasan yang ingin disampaikan. Kelahiran dan kematian Yesus selalu ditandai dengan tanda. Tanda memiliki satu keunikan yang berbeda dan tidak pernah ada sebelumnya. Kelahiran Yesus ditandai dengan seorang bayi yang lahir di palungan. Tidak pernah ada bayi yang lahir di palungan, maka ini yang disebut tanda. Kematian dan kebangkitan Yesus juga disertai dengan tanda. Orang Farisi menanyakan tanda dan Yesus memberikan tanda kematian Maka kata mereka kepadaNya, tanda apakah yang engkau perbuat supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepadaMu (Yohanes 6:30). Tanda tidak boleh bersifat umum dan harus bersifat unik. ”Akulah roti yang turun dari sorga. Makanlah dagingKu dan minumlah darahKu”(Yohanes 6:35) Jawaban Yesus ini menjadi satu tanda yang sarat arti. ”Makanlah dagingKu” berarti menyatakan bahwa tubuh Yesus yang akan dipecahkan dan ”Minumlah darahKu” berarti menyatakan bahwa darahNya akan terus dialirkan.

Tanda kematian dan tanda kebangkitan Yesus terdapat di dalam cerita Yunus,
”Angkatan-angkatan ini  jahat Aku tidak akan berikan tanda, selain tanda nabi Yunus” (cari ayat). Tanda nabi Yunus ini adalah tanda kematian dan tanda kebangkitan. Yunus berkata, ”Dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak” Yunus menyadari dirinya seperti berada dalam kuburan orang mati. Kalimat ini berbicara mengenai kematian Yesus. Yunus yang keluar di hari yang ketiga diidentikkan dengan kebangkitan Yesus di hari yang ketiga. Tubuh Yunus setelah dimuntahkan tidak rusak dan tidak hancur. Seharusnya asam dari enzim dalam perut ikan membuat tubuh Yunus terkikis atau hancur. Namun tubuh Yunus sama sekali tidak terluka. Terbukti, saat Yunus berkotbah di Niniwe, tidak dicatat bahwa orang Niniwe ketakutan karena melihat ”zombie”. Yunus bebas berkeliling di kota Niniwe. Ini membuktikan bahwa tidak ada kulit Yunus yang rusak. Saat Yunus kepanasan di tengah terik matahari, (pasal 4) tidak dicatat bahwa keringat Yunus membuat luka (dari perut ikan) menjadi perih. Maka setelah keluar dari perut ikan, tubuh Yunus tidaklah lecet. Yesus mati tetapi Yesus juga bangkit. Saat Yesus bangkit, tubuhnya tidak rusak padahal tubuh Yesus sangat hancur ketika wafat. Terbukti bahwa tidak ada murid yang lari saat Yesus menampakkan diri dan tidak ada perkataan murid, ”Tuhan, wajah mu seram.” Tidak ada komentar apapun mengenai wajah Yesus, maka berarti ada kesembuhan yang dialami Yesus.

Yunus masuk ke dalam perut ikan  dikaitkan dengan kematian Yesus adalah tipologi. Keluarnya Yunus dari perut ikan dengan kondisi sehat dan kebangkitan Yesus dari kebangkitan dengan tubuh baru adalah tipologi. Tipologi ini sedang menyatakan tanda kematian dan tanda kebangkitan. Tipologi ini tidak berbicara mengenai waktu spesifik kematian Yesus (3x24 jamnya), hari ataupun jam spesifiknya. Yesus memakai  tipologi ini untuk menyindir orang yang ada pada saat itu. ”Bangsa yang sangat jahat seperti Niniwe saja dapat bertobat oleh orang yang tidak taat seperti Yunus. Masakan engkau yang katanya bangsa yang mengenal Tuhan sulit sekali untuk bertobat. Yunus yang tidak taat dapat mempertobatkan mereka, sedangkan Aku yang ada disini melampaui Yunus, masakan engkau tetap tidak bertobat?” Cerita Yunus yang  berada di perut ikan 3 hari 3 malam merupakan tema yang Tuhan persiapkan untuk dikaitkan dengan PB yaitu mengenai tanda kematian dan tanda kebangkitan Yesus.  Bukan karena Yunus berdoa maka Tuhan melepaskan Yunus. Yunus baru menyadari bahwa dirinya tidak dapat berbuat apa-apa lagi di hari yang ketiga.

Tuhan sering memakai berbagai cara untuk menegur umatNya yang merasa diri hebat. Misal Yakub yang sangat kuat bergumul dengan Malaikat Tuhan, dipelecokkan kakinya sehingga seumur hidup jalannya pincang. Yakub sangat kuat dan lincah tetapi ketika Malaikat Tuhan mempelecok kakinya, maka barulah Yakub rendah hati. Setelah dipelecok Yakub menjadi pincang seumur hidup tetapi hatinya menjadi lebih rendah hati. Tuhan memakai banyak cara untuk membuat orang menjadi rendah hati. Tuhan memberi saudara suatu kelemahan ditengah kelebihannya agar saudara rendah hati. Saat seseorang bangga dengan kelebihannya, ia dapat ingat bahwa ada kekurangan sehingga ia dapat rendah hati. Tidak ada suatu hal di dunia ini yang dapat kita banggakan, karena sesuatu yang saudara banggakan itu pada akhirnya akan sirna. Yunus boleh merasa bangga karena ia dapat bergerak bebas kemanapun untuk melarikan diri dari hadapan Tuhan. Yunus boleh merasa bangga karena ia memiliki uang yang cukup untuk melarikan diri ke kota yang sangat jauh. Setelah semua kemampuan Yunus melarikan diri tersebut ditunjukkan, Tuhan mengurung Yunus di dalam perut ikan. Di dalam perut ikan, Yunus tidak dapat menggunakan kaki atau uang untuk melarikan diri. Maka terkadang kita perlu berdoa, ”Tuhan jika saya tetap membangkang maka ijinkan saya dihukum Tuhan agar saya bertobat daripada dunia yang menghukum saya” Dunia kalau sudah menghukum dan menjatuhkan vonis maka itu suatu hal yang sangat celaka. Namun jika Tuhan menjatuhkan hukuman, mungkin kita malu sebentar tapi setelah itu bertobat dan menguatkan orang yang bersalah serta membawa mereka kembali kepada Tuhan. Minggu depan kita akan melanjutkan doa Yunus di dalam perut ikan. Mari kita berdoa.


(Ringkasan khotbah ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah)


#56 - 22/08/2010
"Eksposisi Kitab Yunus #10 : Yunus 2 (#2) - Ciri Allah Sejati (#1)"
Pdt. Aiter, M.Div


Yunus 2:1-2, Kis 19:23-27, Yesaya 44:10-14
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka konsep manusia tentang Allah menjadi kacau. Manusia memiliki keinginan untuk mengerti tentang Allah tetapi dosa sudah mempolusi seluruh hidup manusia. Di satu sisi manusia ingin menggali sesuatu mengenai Allah, tetapi di sisi yang lain manusia ingin menjadi Allah. Karena keinginan Hawa untuk menjadi Tuhan, maka ia memakan buah yang dilarang Tuhan. Di satu sisi manusia menyadari keterbatasan diri, tetapi di sisi lain manusia ingin mengenal sesuatu yang bersifat ilahi. Manusia memiliki keinginan mengerti hal yang bersifat ilahi tetapi manusia tidak dapat menemukannya karena polusi dosa. Kemudian manusia hanya dapat melihat diri sendiri lalu menganggap dirinya lebih layak menjadi Tuhan. Akhirnya manusia berusaha menghasilkan ilah palsu dengan menghasilkan teknologi atau penemuan lain yang dihasilkan dari pikiran tertinggi manusia. Manusia menggarap seluruh alam semesta dan menghasilkan ilmu-ilmu serta memproduksi ilah-ilah palsu.  Lebih celakanya, ilah yang diproduksi itu digunakan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Manusia berdosa merasa bahwa mereka perlu mencari sesuatu yang lebih dan lebih ilahi. Dan merekapun menemukan ide yaitu membuat patung, menjual dan akhirnya mendirikan bisnis. Orang yang memegang konsep allah politeist, biasanya menggunakan banyak patung untuk disembah. Patung yang dijual beraneka ragam jenis dan harganya. Orang yang kurang mampu membeli patung murah, dan sebaliknya. Dibalik penjualan patung, yang mengambil keuntungan lebih adalah pembuat patungnya. Dalam Kis 19:23-27 diceritakan bahwa akibat masuknya Injil, membuat usaha penghasil patung di kota itu menjadi bangrut. “Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewi besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya” (Kis 19:27). Dari kalimat tersebut sudah memberi satu konsep, yaitu bahwa dewi artemis bukan Tuhan. Yang membuat Dewi Artemis makmur dan terkenal serta ditakuti adalah manusia yang menyembahnya. Dewi Artemis disembah bukan karena ia memiliki kuasa yang besar sehingga ditakuti banyak orang. Kuil serta patung yang dibuat hanyalah untuk menghasilkan banyak uang. Banyak orang (bahkan seluruh Asia) yang datang beribadah ke kuil Artemis membeli suvenir atau patung untuk disembah dirumah mereka. Mereka membeli patung agar mereka lagi perlu menghabiskan biaya pergi sembahyang ke kuil aslinya. Copian dari patung dewi Artemis yang asli cukup untuk mewakili dan merekapun menyembahnya. Copy yang dijual memiliki variasi harga dari yang paling  murah hingga yang sangat mahal (dilapis emas).

Saya pernah berdiri di puing-puing dewa Artemis. Meskipun yang saya lihat hanya beberapa batu dan tiang-tiang, tetapi lokasinya sangat besar. Gambar yang menunjukkan bentuk asli kuil Artemis itu tampak sangat megah. Sekarang kemegahan dewi Artemis sudah tidak ada lagi dan yang tersisa tinggal pilar-pilarnya. Di tengah kemegahan dewi Artemis, Paulus mengabarkan Injil Tuhan. Saat itu tidak ada gereja besar, yang ada hanya bait Allah. Di jaman PB Bait Allah akhirnya dirobohkan. Tidak ada kemegahan apapun yang ditinggalkan dari Injil yang disebarkan. Tidak ada keuntungan ekonomis yang menjanjikan dari perluasan Injil, tetapi ketika Injil dikabarkan, penyembah kuil Artemis dan pengusaha patung menjadi goncang. Perlahan-lahan pengikut Artemis menjadi habis dan Injil terus menerus dikabarkan hingga hari ini di business park. Kemegahan Artemis adalah kemegahan yang dibuat dari hasil berpikir manusia, tetapi kemegahan Injil berasal dari Allah yang memegahkan Injil lalu menggerakkan orang untuk ikut memegahkan Injil. Jika manusia menolak melakukannya maka Tuhan dapat membangkitkan orang lain.

Konsep Allah yang dimiliki oleh orang di kapal dan Yunus sangat berbeda. Yunus mewakili orang percaya, orang di kapal mewakili orang yang tidak percaya. Yunus dan orang di kapal sama-sama berdoa, tetapi bedanya adalah doktrin Allah yang mereka sembah. Doktrin mengenai Allah mempengaruhi cara berdoa. Orang di kapal memiliki konsep bahwa semakin keras berdoa dan ngotot, maka doa akan semakin didengar allah. Cara berdoa nabi palsu di dalam Kitab Suci biasanya memakai ritual teriak-teriak atau ngotot kepada ilah mereka. Berbeda dengan cara berdoa Nabi Tuhan yang sudah memiliki konsep doa yang benar. Doa mereka berasal dari hati yang takut kepada Tuhan maka mereka tidak berani marah-marah. Setiap orang dari agama lain memiliki konsep mengenai allahnya masing-masing. Konsep demikian mempengaruhi cara berdoa mereka. Ada yang berdoa harus menghadap satu arah tertentu, ada yang berdoa harus di depan patung atau di dalam kuil. Orang Kristen berdoa tidak terikat di satu tempat tertentu dan caranya bebas. Misal: doa dengan membuka mata atau tutup mata, lipat tangan atau tidak, berdoa di perjalanan, di rumah, di gereja, dll. Kebebasan tersebut sekilas tampak baik, tetapi memiliki kelemahan, misalnya: malas pergi ke persekutuan doa karena Tuhan Maha Hadir, doa dimanapun Tuhan mendengar. Maka tidaklah heran jika persekutuan doa selalu sepi. Sepi bukan karena jemaat tidak tahu cara berdoa tetapi karena jemaat tahu bahwa mereka dapat berdoa di mana saja dan Tuhan pasti mendengar. Justru karena tahu bahwa Tuhan pasti mendengar doa, maka mereka berdoa sesuka hati. Pernah ada jemaat yang menyarankan cara praktis yaitu berdoa di satu waktu secara bersamaan dengan pokok doa yang sama. Lebih praktis, tidak perlu kena macet, serta dapat mendoakan pokok doa lebih banyak. Saran ini sekilas cukup baik tetapi aplikasinya tidak baik dan jemaat jadi lebih berdoa sesuka hati mereka. Ketika seseorang merasa bahwa tidak ada harga yang dibayar untuk berdoa, terkadang ia berdoa dengan tidak serius.

Ada yang memiliki konsep bahwa doa dapat diwakilkan. Konsep ini menimbulkan rasa malas berdoa serta terdapat kecenderungan menitip pokok doa. Lebih celaka lagi, orang yang menitip pokok doa lalu merasa sudah berdoa. Pengertian yang benar akan Tuhan yang benar tidak menjamin orang itu berespon dengan benar. Sudah tahu hal yang benar sekalipun, dapat mengakibatkan banyak muncul efek samping. Misal: Matius 6:8 mengatakan, ”Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada Nya” Lalu ada yang berespon, ”Puji Tuhan, kalau begitu saya tidak usah berdoa lagi”. Ini penafsiran yang celaka dan mengakibatkan doa dan persekutuan kita dengan Tuhan menjadi sepi. Tidak ada lagi persekutuan dengan Tuhan karena menyangka Tuhan sudah tahu apa yang akan dikatakan maka sebaiknya tidak perlu berkata lagi. Ketika anak kecil (umur 1-3 tahun) menangis karena menginginkan sesuatu, maka biasanya orangtuanya sudah mengetahui apa yang diinginkan anak itu. Terlebih jika orangtua tersebut sudah memiliki pengalaman mengurus anak lain sebelumnya. Dari suara tangisan anak, orangtua mengetahui apa yang diinginkan lalu si anakpun diberi keperluan yang sesuai. Dari pengalaman orangtua mengurus anak, maka orangtua mungkin sudah hafal pola hidup karena sudah menemukan banyak dalil dari hidup anak-anak. Tuhan yang sejak awal mencipta langit dan bumi adalah Tuhan yang menyaksikan sejarah umat manusia.

Tuhan sudah mengetahui apa yang hendak manusia akan katakan karena sudah ahli melihat gerak-gerik manusia itu. Bukan berarti karena Tuhan sudah mengetahui, lalu manusia tidak lagi perlu menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan. Misalkan ada seorang anak yang sedang ditanya sesuatu oleh orangtuanya. Lalu anak itu berkonsep bahwa orangtua pasti sudah tahu jawabannya, maka sebaiknya saya tidak menjawab dan diam saja. Orangtua anak itu pasti bingung dengan kediaman anaknya. Jika si anak menyampaikan isi hati kepada mereka, mereka pasti akan siap mendengar. Jika saat share didapati ada kalimat yang salah, maka mereka akan siap mengoreksi. Jika saat share didapati ada pemikiran baru yang baik maka orangtua akan senang mendengarnya. Ada satu rasa senang orangtua ketika sang anak dapat membagikan pengalaman dan pergumulannya. Ketika seorang anak sedang lapar minta makan ke orangtuanya, mereka pasti akan memberi makanan. Padahal tanpa anak itu meminta, ia akan tetap disuruh serta diberi makan.  Tuhan mengetahui seluruh jenis kesusahan manusia karena Tuhan menyaksikannya sejak manusia dicipta. Tuhan sudah mengetahui seluruh pergumulan manusia tetapi Tuhan ingin mendengar manusia meminta kepada Tuhan. Dari setiap doa yang dilontarkan manusia, maka dapat di analisa apakah doktrinnya sudah benar atau tidak. Setiap kalimat doa yang diucapkan menunjukkan tingkat kerohanian seseorang. Namun, bukan berarti pemilihan kosakata doa yang baik menunjukkan kerohanian seseorang. Maka saudara jangan merasa minder saat kosakata doa kurang baik, dan sebaliknya.  Saudara yang merasa bahwa saudara telah salah berdoa, tetap harus mencoba berdoa. Mengapa? Karena di doa yang kedua, ketiga dan selanjutnya kelak doanya akan menjadi lebih baik serta lebih lancar. Saat melewati angka pertama memang penuh kegentaran, takut atau grogi tetapi tetap harus berani dilalui. Setelah melewati angka pertama, lalu angka kedua lewat, ketiga lewat, dst sampai angka ke 50. Semua lebih lancar ketika angka satu telah dilewati.

Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku. (Yunus 2:2) Kalimat demikian menghantam konsep ilah orang-orang yang ada di kapal. Orang di kapal berdoa dengan langsung menengadah ke langit tanpa ada selubung yang merintangi. Mereka berdoa dan memanggil tuhan mereka di langit terbuka tetapi tidak didengar dan dijawab. Yunus di dalam perut ikan dikelilingi oleh daging-daging ikan yang tebal bahkan ikan tersebut berada di dalam laut. Yunus berada di tempat yang sinyal HP pun tidak akan di dapat. Namun ketika Yunus berdoa, doanya mampu menembus segala hambatan serta Tuhan menjawab dia. Tuhan yang mendengar serta Tuhan yang menjawab doa merupakan ciri Tuhan yang hidup.

Ada beberapa poin yang mengindikasikan Tuhan sejati dan Tuhan palsu:
1. Pertama, Tuhan sejati adalah Tuhan pencipta dan bukan Tuhan ciptaan. Ini poin yang sangat penting dan Yunus mengetahui prinsip ini. Yunus pernah bersaksi kepada orang di kapal bahwa Tuhannya adalah Tuhan yang mencipta. "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." (Yunus 1:9) Yunus sudah mengetahui konsep Allah yang benar (yang mencipta alam semesta) dengan konsep ilah (yang dicipta oleh ciptaan). Ilah yang dibuat dari dunia ciptaan biasanya diambil dari kayu atau batu lalu dibentuk menjadi patung untuk disembah. Paulus mengatakan bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah Allah. Yes 44:10-14 memaparkan bahwa kayu (ciptaan Tuhan) diambil dan dibentuk oleh tangan manusia menjadi bagus untuk akhirnya disembah. Pertanyaan saya, ”Yang manakah yang akhirnya  menjadi tuhan? Patung atau orang yang menyembahnya?” Ketika saudara mengatakan bahwa patung adalah allah, maka saudara sedang menjadi allah. Patung dari kayu jika dianggap kayu bakar maka akan menjadi kayu bakar. Jika manusia menganggap patung itu adalah souvenir maka akan menjadi souvenir. Kalau saya memberikan nama A kepada patung itu, maka patung itu akan menjadi A. Manusia yang memberi nama maka manusia lebih tinggi derajatnya daripada patung yang dinamainya. Konsep pemberian nama dalam Kitab Suci sangat menarik. Tuhan menjadikan sesuatu lalu Tuhan memberi nama. Tuhan memisahkan terang dari gelap, lalu menamakan terang dan gelap. Tuhan menciptakan manusia pertama lalu Tuhan memberi nama Adam. Ada  perbedaan kualitatif antara yang memberi nama dan diberi nama. Yang memberi nama cenderung lebih memiliki kuasa atas apa yang diberi nama dan yang diberi nama harus lebih tunduk kepada yang memberi nama. Seperti seorang anak yang lahir lalu diberi nama oleh orangtuanya. Tidak pernah ada orangtua yang menunggu si anak besar dahulu baru pikirkan nama anaknya. Tidak mungkin tunggu si anak memikirkan nama yang cocok untuk dirinya. Jika orang tua memanggil nama Ucok, maka Ucok harus menyahut dan datang. Maka yang diberi nama, identik dengan sikap tunduk kepada yang memberi nama.

Tindakan manusia yang telah jatuh dalam dosa adalah ingin menjadi Tuhan, lalu bertindak sebagai Tuhan. Alkitab mencatat bahwa manusia mulai memberi nama dari suatu menara yang sedang mereka dirikan (babel). Saat manusia memberi nama patung, di satu sisi mereka menganggap bahwa patung adalah ilah, di sisi lain manusia sedang menunjukkan bahwa ia adalah ilah tertinggi. ”Saya yang memberi nama, saya yang mengecat, serta mencatat sejarah hidup patung ini serta sayalah yang memberi makan. Maka ketika saya memerintahkan kau (patung), kabulkanlah doa saya.” Sikap demikian justru menyatakan bahwa patung itu adalah budak dan si penyembah adalah tuhannya. Allah yang benar adalah Allah yang tidak tinggal di dalam buatan tangan manusia. Dalam PL, Bait Allah yang pernah didirikan oleh manusia hanya sebagai simbol untuk menunjukkan bahwa Tuhan selalu hadir menyertai umatnya. Tuhan pernah menetapkan Bait Allah untuk menjadi pusat ibadah orang Yahudi, tetapi Allah memilih untuk tidak berdiam disana. Allah sejati bukan Allah yang dimiliki atau dimonopoli bangsa yahudi saja. Allah yang sejati harus dapat diimani oleh bangsa yang lain. Allah  mengijinkan Bait Allah itu dihancurkan untuk menyatakan bahwa Tuhan tidak berdiam dalam tempat buatan manusia, tetapi Allah berdiam di diri setiap manusia. Ini membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang hidup pada diri setiap orang.

Allah yang sejati berani untuk menunjukkan kuasanya kepada setiap ilah yang dianggap manusia memiliki kuasa tertinggi. Dalam mitos yang dipercaya oleh orang tidak percaya, mereka mempercayai bahwa dunia ilah memiliki banyak pergolakan. Misal: ilah A kawin dengan ilah B, memiliki anak C lalu anak itu musuhan dengan D, lalu terjadi perang dsb. Lalu ilah yang memiliki lebih sering menang perang akan lebih disembah manusia. Allah berkata,”Kepada siapakah kamu hendak menyamakan Aku, hendak membandingkan dan mengumpamakan Aku, sehingga kami sama?” (Yesaya 46:5) Tuhan sejati adalah Tuhan yang berani di counter oleh semua ilah yang ada. Salah satu ciri ajaran benar atau tidak adalah dengan berani di counter oleh ajaran lain. Kekristenan tetap bertahan dari dulu sampai sekarang meskipun banyak serangan. Di Indonesia, ada agama tertentu yang ajarannya tidak boleh dikritik. Saat dikritik maka taruhannya leher hilang atau gedung ibadah rata dengan tanah. Jika ajaran yang dipercaya sungguh-sungguh benar, seharusnya dapat membuka hati untuk dibandingkan dengan ajaran lain. Seharusnya ajaran yang benar mengijinkan ajaran lain untuk mengaduk-aduk isi Kitabnya sekalipun. Tidak boleh ada rasa emosi ketika Kitab Suci nya di kutak-katik. Munculnya emosi hanya menunjukkan bahwa ajarannya tidak sejati. Ajaran sejati harus berani untuk menyatakan diri dan dilihat orang lain. Yesus pernah menyatakan diri bahwa diri-Nya suci, tidak bersalah serta siap untuk ditunjukkan kesalahan-Nya. Allah sejati adalah Allah yang bersedia membuka diri untuk dihantam oleh allah lain. Orang Kristen sejati harus membuka diri terhadap iman agama lain dan siap mempertanggungjawabkannya. Petrus mengatakan, ”Siap sedialah memberi pertanggungjawaban imanmu kepada setiap orang” (1Petrus 3:15).

Yunus mengerti konsep Allah yang benar tetapi ia hidup seperti orang kafir yang tidak mengenal Tuhan. Yunus mengetahui bahwa Allahnya mendengar doa tetapi Yunus tidak pernah berdoa dengan inisiatif sendiri. Yunus lebih memilih berdoa di dalam perut ikan. Yunus tahu bahwa Tuhan mendengar dan menjawab, tetapi Yunus mengaplikasikan apa yang ia sudah tahu itu di waktu dan tempat yang tidak tepat. Yunus tidak menggunakan kesempatan yang tersedia saat dia sedang bebas bergerak. Sudah di dalam perut ikan, Yunus tidak lagi dapat menguatkan orang lain karena orang yang di kapal mungkin sudah tiba di daratan. Yunus tidak menjadi kesaksian saat masih memiliki kesempatan. Saya percaya banyak jemaat yang doktrin Allahnya sudah benar. Sudahkah saudara menyatakan iman di tengah banyak kesempatan? Atau saudara hanya menunggu waktu saat keadaan sudah benar-benar terjepit?

2. Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang hidup. Yesus pernah lahir, hidup, mati serta bangkit di dalam dunia. Saat Yesus dalam dunia ini, Ia menyatakan bahwa dirinya adalah Tuhan. Semua manusia pasti juga pernah hidup dan mati tetapi tidak ada yang pernah bangkit, kecuali Yesus. Yesus mati lalu bangkit dan tidak pernah mati lagi. Ini membuktikan diriNya Tuhan. Semua pemimpin agama adalah utusan Tuhan yang tertinggi tetapi satu persatu mereka mati dan tidak pernah bangkit. Kuburan mereka masih ada dan orang-orang masih mengunjungi kuburannya untuk memperingati kematiannya. Tidak pernah ada agama yang memperingati kebangkitan orang mati selain agama Kristen. Ini membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan yang sejati. Saat Maria pergi ke kubur Yesus, malaikat Tuhan menegur. Malaikat mengoreksi konsep Maria yang salah. Yesus tidak mati selamanya, serta sudah bangkit. Yesus telah hidup dan menjadi kekuatan bagi setiap orang yang melayani-Nya. Di manapun umat Tuhan berada, mereka langsung dapat berkomunikasi dengan Yesus karena Yesus adalah Allah yang hidup. Maka sudah seharusnya kita berani meninggikan nama Tuhan. Jika saudara takut maka yang menjadi masalah bukan di Tuhan, tetapi dari diri kita. Ada ketakutan yang belum dibereskan atau karena kita belum sadar akan kehadiran Tuhan yang menyertai hidup kita. Yunus mengetahui bahwa Tuhannya hidup, tetapi ia justru berani melawan Tuhan. Ini ironis yang terjadi sampai sekarang. Banyak orang yang tahu banyak tentang Tuhan tetapi justru hidupnya menjauh dari Tuhan. Seharusnya orang yang sudah banyak tahu, menjalankan yang Tuhan mau. Manusia menyalahgunakan pengetahuannya untuk melawan Tuhan. Meski sudah tahu Tuhan dapat murka, tetapi masih berani lari dari Tuhan.

3. Tuhan sejati adalah Tuhan yang transenden sekaligus imanen. Orang jaman dahulu memiliki konsep bahwa Tuhannya berada jauh dengan manusia. Manusia ingin berkomunikasi dengan Tuhan tetapi Tuhan dirasa jauh di langit sana. Oleh karena itu, manusia membuat patung untuk mendekatkan Tuhan yang jauh itu. Tidak perlu pergi jauh-jauh ke kuil atau tempat tertentu untuk berdoa, cukup efisien berdoa di rumah. Celakanya, kekristenan mengadopsi konsep ini. Ibadah cukup di depan TV untuk menghemat tenaga, ongkos, tidak terkena macet dan tidak perlu memberi kolekte. Akhirnya banyak konsep yang diciptakan untuk mendekatkan suatu hal mistis yang dianggap jauh. Misal: saya ingin diberi kekayaan maka saya mencari dewa yang gemuk. Jarang ada patung yang dibuat tidak menarik atau kurus-kurus karena nanti tidak dibeli orang. Banyak ilah yang disembah akhirnya diperalat untuk keuntungan pribadi.

Banyak orang yang memiliki ajaran benar tetapi tidak mau menyampaikan. Sedangkan ada orang yang ajarannya salah tetapi berani dan percaya diri menyampaikannya. Apakah saudara mengetahui bahwa Allah saudara adalah Tuhan yang hidup? Tahu. Lalu, saudara perkenalkan Allah yang hidup untuk menjadi berkat bagi banyak orang atau tidak? Jika tidak mengapa? Saat orang yang tidak percaya (Nahkoda) mengingatkan Yunus untuk berdoa, maka seharusnya Yunus berdoa dan menyampaikan imannya. Jika orang di kapal mendengar doa Yunus, mereka akan sadar dan mendapati bahwa doanya lebih egois, lalu berpikir dan akhirnya bertobat. Mereka akan melihat perbedaan doa. Berdoa dengan Allah yang hidup dan imanen memberikan nuansa sendiri bagi yang mendengar. Yunus lebih memilih berdoa di dalam perut ikan, tidak ada yang melihat dan tidak menjadi kesaksian. Hari ini telah dibahas mengenai tiga poin, minggu depan akan kita lanjutkan poin mengenai konsep Allah sejati. Konsep Allah yang benar akan membuat hidup kita berjalan di jalan yang benar. Mari kita berdoa.


(Ringkasan khotbah ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah)


#57 – 29/08/2010
“Eksposisi Kitab Yunus #11: Yunus 2 (#3) - Ciri Allah Sejati (#2)”
Pdt. Aiter, M.Div.


Yunus 2:1
Minggu lalu kita sudah membahas tiga ciri Allah sejati. Poin pertama, Allah sejati adalah Allah pencipta. Allah yang mencipta bukanlah allah ciptaan. Ilah produksi pikiran manusia semakin hari jumlahnya semakin banyak. Ini disebabkan karena perkembangan pikiran manusia yang semakin tinggi, serta konsep hidup dan kebudayaan yang berbeda-beda. Setiap kebudayaan memiliki ciri dewa masing-masing. Kebudayaan yang suka berperang akan menghasilkan produk yaitu dewa-dewa perang. Kebudayaan yang suka damai akan menghasilkan dewa yang wujudnya penuh kasih dan senyum. Setiap suku bangsa memiliki ilah masing-masing maka tidak heran jika jumlah dan jenis ilah semakin banyak. Poin kedua, Allah yang sejati adalah Allah yang hidup. Allah pencipta adalah Allah yang hidup. Ilah ciptaan berasal dari benda-benda mati sehingga selamanya akan menjadi allah yang mati.  Tidak ada sejarah di dalamnya allah ciptaan itu karena memang ia tidak pernah hidup. Maka manusia memberikan sejarah dan silsilah kepada allah ciptaannya. Jika diselidiki maka tidak ada bukti di dalam sejarah umat manusia dari kehidupan ilah itu karena hanya hasil pikiran dari orang tertentu. Allah yang hidup tidak mengijinkan orang untuk menebak-nebak diriNya, kemudian dibukukan oleh manusia. Allah yang hidup adalah Allah yang memperkenalkan diriNya serta memberikan buku kepada manusia agar manusia mengetahui diri-Nya. Allah yang hidup memberitahu manusia dengan cara juga memakai manusia (nabi dan rasul) untuk menuliskan Kitab Suci. Bukan manusia yang membuat buku sejarah dan silsilah untuk ilahnya. Misal: Seorang anak  yang sudah dari kecil ditinggal ayah dan ibunya ingin mengetahui kehidupan ayah dan ibunya secara detail. Lalu dengan sesama anak mereka berdiskusi, ”Oh muka kamu dan muka saya agak mirip maka orangtua saya sepertinya saudara.”Akhirnya mereka melakukan diskusi dengan data direka-reka serta dari memori yang terbatas dan menjadikan buku. Lalu buku mengenai orangtua itu disebar ke teman-temannya. Lain hal jika ayah yang hidup mendengarkan anak-anaknya sedang berdiskusi. Ketika diskusinya salah, maka sang ayah akan menginterupsi dan menjelaskan kebenaran tentang dirinya. Manusia tidak akan mengetahui penciptanya jika Pencipta itu tidak mewahyukan diriNya. Ketika manusia dan sesamanya mencoba mencari Tuhan, maka mereka hanya akan mendapat kesia-siaan. Puji Tuhan, Allah kita adalah Allah yang hidup. Amin?

Ketiga, Allah yang hidup adalah Allah yang transenden (jauh) sekaligus imanen (dekat). Agama kafir menjadikan Allah yang jauh menjadi dekat dengan membeli patung untuk dibawa pulang ke rumah. Tidak perlu jauh pergi ke gunung atau negara tertentu untuk dapat sembahyang, dirumahpun dapat dilakukan. Akhirnya dirumahnya banyak koleksi dewa. Dewa itu diperalat manusia agar dewa itu mengabulkan keinginannya. Sungguh kasihan orang yang hidup demikian, mereka rela membuang uang sangat besar untuk hal seperti itu. Minggu lalu saya ke pekanbaru untuk mengisi program intensif dan KKR di sekolah methodist Pekanbaru. Saya sengaja mengosongkan waktu satu hari untuk pergi ke daerah. Saat itu saya tidak ada planning sama sekali ke kota mana yang akan dituju. Lalu saya teringat kota Bagan siapi-api dan langsung menghubungi orang kunci disana, tetapi tidak dapat dihubungi. Akhirnya bersama pak Johan Silitonga dan penginjil, saya pergi kesana dan berbicara dengan Kepala sekolah disana. Setelah bicara akhirnya ia mengijinkan dan kami sungguh bersyukur karena 98% murid disana beragama Buddha. Lalu kami mencari hotel dan bermalam untuk pagi-paginya KKR. Malam itu adalah puncak ritual penyembahan bulan arwah. Mereka mengadakan acara yang sangat besar untuk menghibur para arwah. Mereka percaya bahwa arwah dapat marah dan tidak mau pulang ke alamnya sehingga arwah perlu dihibur secara besar-besaran. Melihat hiburan itu, saya hanya berpikir bahwa yang dihibur bukan arwahnya tetapi manusianya. Yang mendapat hiburan bukan arwah tetapi manusianya, tetapi bagi mereka arwahnya sedang dihibur. Di pertengahan tahun biasanya ada ritual pembakaran tongkang yang sangat besar, serta hiburan dari artis Hongkong. Ironisnya ternyata kehidupan mereka sangat miskin, tetapi mereka rela menghabiskan uang yang sangat banyak untuk ritual seperti itu. Kita bersyukur atas KKR di Bagansiapi-api dan Pekanbaru yang mayoritas siswanya Buddha. Tuhan sudah memberkati sesi demi sesi selama dua hari dan menjangkau 1024 siswa. Iblis boleh senang dengan kepergian kami, tetapi nanti kami akan membawa tim yang lebih banyak untuk KKR disana dan tempat mistik lainnya (seperti Tepolar). Maka, Tuhan yang hidup adalah Tuhan yang menyatakan dirinya dan tuhan yang mati dipopulerkan oleh manusia.

Dalam seluruh kitab Yunus akan ditemui hal yang paradoks. Yunus adalah orang yang dicintai Tuhan sekaligus dimurkai Tuhan. Inilah ciri Allah yang sejati poin keempat, yaitu Allah yang adil dan Allah yang kasih. Mungkin sekilas kita sudah mengetahui dan mengerti maknanya, tetapi mari kita telaah dari Alkitab dan contoh lainnya. Allah menyatakan keadilan dan kasihnya tanpa memandang wajah. Ketika Allah yang sejati melihat umat yang dikasihiNya melakukan dosa, maka ia akan menghukumnya. Penghukuman Allah ini menandakan bahwa kita adalah milik-Nya. Asumsi: A adalah milik B, maka yang berhak menghukum A ketika A salah adalah B, bukan C. Mengapa? Karena B milik A. Saya berhak untuk menghukum anak saya jika ia salah dan bukan hak saya untuk menghukum anak tetangga yang melakukan kesalahan. Tuhan memiliki kuasa atas orang yang dicintai-Nya dan orang yang dicintai-Nya pun menyembah-Nya. Orang yang tidak menyembah Tuhan tetap merupakan milik Tuhan. Allah yang sejati mampu menerobos wilayah perbatasan ilah lain. Allah yang sejati dapat memiliki orang yang dimiliki oleh ilah lain. Sedangkan ilah lain tidak mampu mengambil orang yang dimiliki oleh Allah sejati. Oleh karena itu orang Kristen yang sungguh-sungguh tidak dapat di hipnotis atau dirasuki iblis. Hipnotis dapat membawa korban yang dihipnotis ke dunia lain. Orang yang mempelajari ilmu demikian sangat tahu ciri orang yang akan dikerjainya. Ketika ilah lain ingin mengganggu orang yang percaya kepada Tuhan sejati, maka dia harus berhadapan dengan Tuhan yang sejati. Tuhan yang sejati adalah pencipta dunia ini, maka dapat melampaui semua wilayah yang seolah bukan milikNya. Tuhan yang sejati dapat menerobos dan menghukum orang yang seolah bukan milikNya. Tuhan yang dapat menghukum sekaligus Tuhan yang dapat memberi cinta yang besar kepada semua musuh. Tuhan yang sejati mampu menerobos kepemilikan ilah lain dengan cinta kasihnya yang luar biasa. Untuk dapat beralih kepemilikan tidaklah mudah, diperlukan kekuatan yang kuat. Alkitab mencatat bahwa kekuatan yang dapat menarik orang untuk beralih kepemilikan ini adalah kekuatan pengorbanan. Yesus mengatakan bahwa masih banyak domba yang sedang berada lain yang harus dituntun. Kalimat ini memiliki resiko yaitu Yesus harus mengalirkan darah kepada setiap domba yang akan dituntun-Nya. Tidak mungkin ada pemindahan kepemilikan ilah tanpa ada pengaliran darah ”Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibrani 9:22) Tuhan menerobos wilayah kepemilikan iblis dengan menyatakan kasihNya yang besar yaitu dengan mati di kayu salib. Orang belum percaya awalnya adalah milik Iblis (ilah palsu), tetapi ketika ia percaya bahwa Yesus telah mati baginya, maka ia menjadi milik Tuhan. Saat Iblis ingin merebut mereka, iblis tidak dapat melakukannya karena kuasa Tuhan lebih besar. Puji Tuhan kita yang telah menjadi milik Allah.

Jika dilihat dari segi keuntungan maka percaya Kristus lebih banyak untungnya daripada ruginya. Semua orang, khususnya orang Chinese jika ditawari sesuatu maka selalu pikir untung rugi. Agama tertentu ketika ditanya ”Apakah agamamu menjamin masuk surga?” maka jawabannya adalah mudah-mudahan atau tergantung level kebaikan. Agama lain menjawab kepastian masuk surga dengan tidak pasti. Tidak ada agama yang menjamin dengan pasti bahwa agama itu akan membawa dirinya ke surga selain agama Kristen. Maka orang seharusnya cenderung memilih yang pasti masuk surga karena merupakan pilihan yang aman. Jikalau setelah menjadi Kristen tetap tidak masuk surga maka setidaknya ia tetap ada kepastian dari antara yang tidak pasti. Banyak yang  sudah mengetahui logika ini tetapi tetap tidak pilih karena mata dibutakan.

Jika logika untung rugi tersebut tidak dipilih, maka seharusnya manusia dapat berpikir secara logika atas suatu prinsip. Semua orang pasti ingin masuk surga karena konsep surganya adalah tempat yang tidak ada penderitaan. Semua agama menawarkan bahwa ajarannya akan dapat membawa manusia masuk ke surga. Untuk dapat masuk ke surga, maka dibutuhkan penuntun yang telah pergi ke surga. Betul? Orang dari dunia tidak mungkin dapat menuntun ke surga karena mereka belum pernah pergi ke surga. Hanya orang dari surga saja yang dapat menuntun manusia untuk pergi ke surga. Orang dunia ingin menuntun orang ke surga tetapi konsepnya masih salah. Konsep surga bagi orang dunia adalah yang ada di atas sana, sedangkan bumi berbentuk bulat. Ketika orang di belahan bumi bawah menunjuk ke atas dan orang di belahan bumi atas menunjuk ke bawah, maka posisi surga sudah berbeda-beda.

Orang dari dunia tidak dapat menjadi penuntun ke surga, maka perlu ada penuntun dari surga yang datang untuk menuntun manusia ke surga. Yesus berasal dari surga, datang ke dunia, serta akan menuntun manusia ke surga. Yesus berkata, ”Percayalah kepada Allah, percaya juga kepada-Ku. Dirumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal” (Yoh 14:2). Maka percaya Yesus pasti selamat dan masuk surga. Amin? Tuhan menyatakan kasihNya saat di dunia ini. Allah Bapa yang mengasihi Allah Anak harus siap melaksanakan keadilanNya kepada Allah Anak. Allah Bapa mengirim AnakNya yang tunggal turun dengan satu misi yaitu mati. Alkitab menyatakan bahwa ketika Yesus menanggung dosa-dosa manusia maka saat itulah murka Allah turun kepada Tuhan Yesus. Cinta kasih Tuhan yang paling besar yaitu ketika Yesus mengorbankan nyawa untuk kita (orang yang seharusnya dimurkai Allah). Murka Allah yang besar serta cinta Allah yang besar sekaligus dinyatakan dalam satu tanda salib. Dua sifat Tuhan menyatu dalam salib. Saat kedua sifat menyatu bersama, ada dua respon manusia yang menerima salib. Ada yang terharu sekali karena Tuhan sangat mencintainya dan ada yang gentar karena melihat murka Tuhan sangat besar dinyatakan. Orang yang sedang hidup di dalam dosa, merasakan betapa besarnya cinta kasih Tuhan kepada kita. Orang yang sudah menerima cinta kasih Tuhan, akan teringat murka Tuhan atas dosa. Ada paradoks yang terjadi ketika orang melihat salib. Di satu sisi orang  yang belum percaya Tuhan akan menyadari besar cinta kasih Tuhan kepadanya. Di sisi lain bagi orang yang sudah percaya Tuhan akan menyadari bahwa dirinya berdosa dan layak dimurkai Tuhan dan akhirnya ia lebih cinta dan melayani Tuhan lagi. Satu tanda salib telah mengubah berjuta-juta manusia dari yang awalnya membenci Tuhan lalu berbalik mencintai Tuhan.

Adil dan kasih juga tercermin dalam sifat ayah dan ibu. Ketika ibu melihat anaknya bandel, maka ibu yang cinta sekaligus menjalankan keadilannya dengan memukul anak.  Di dalam satu pribadi ada kasih dan murka. Di satu sisi ingin sayang si anak lalu di sisi lain ingin mendidik si anak. Meski hati ibu juga sakit ketika menghukum anak, tetapi keadilan harus dijalankan demi kebaikan sang anak. Ini dilema seorang ibu sejati. Ibu yang tidak sejati akan membiarkan si anak larut dalam kesalahannya. Mungkin si anak yang dihukum akan bertanya-tanya mengapa ia dipukul dan sang ibu menjawab ia melakukannya karena kasih. Adil dan kasih perlu dijalankan dengan seimbang. Tidak baik jika terlalu adil dan tidak baik jika terlalu kasih. Alkitab mengatakan bahwa orang yang memanjakan anaknya akan membuat si anak menjadi menginjak kita. Tuhan menyatakan cinta kepada manusia sekaligus menghajarnya tanpa pilih kasih. Jika Allah Bapa rela menghajar Allah Anak, terlebih kita anak Allah yang telah diselamatkannya. Amin? Maka penghajaran Tuhan membuktikan bahwa Tuhan mencintai kita. Jika ayah dan ibu sudah tidak peduli dengan kelakuan si anak maka itu adalah kecelakaan bagi si anak. Jika orangtua masih memarahi anak maka itu berarti masih ada perhatian dan cinta kasih. Tuhan memberi penghukuman justru kepada orang yang dicintaiNya. Yunus yang dicintai Tuhan lebih berat dihukum daripada orang kapal yang tidak mengenal Allah. Orang yang di kapal dan Yunus sama-sama berdosa tetapi penghukuman kepada Yunus lebih berat. Tuhan tidak pilih kasih dan menghukum orang yang justru Ia paling cintai. Penghakiman akan dimulai pertama-tama kepada umat Tuhan. Alkitab mengatakan, ”Rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi.” (1 Pet 4:17)

Poin kelima adalah Tuhan yang mendengar dan Tuhan yang menjawab. Alkitab mengatakan bahwa ”Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya” (Amsal 18:13). Orang yang  terlalu cepat memberi jawab dari mendengar, maka jawabannya akan salah. Mengapa? Karena ia terlalu cepat menyimpulkan suatu hal. Urutan yang benar adalah mendengar dahulu lalu menjawab. Dalil ini berlaku tidak hanya bagi sesama, tetapi juga bagi Tuhan. Sebelum Tuhan menjawab maka Tuhan perlu mendengar lebih dahulu. Urutan ini tidak boleh terbalik. Kalau Tuhan hanya menjawab saja tanpa mendengar, maka manusia tidak perlu berbicara. Cara ini bukan yang dikehendaki Tuhan. Meskipun Tuhan dapat menjawab sebelum manusia bicara, tetapi manusia perlu berbicara kepadaNya. Dalam tanya jawab sehari-hari, kita perlu mendengar dahulu agar mendapat data untuk dianalisa lalu akhirnya mendapat jawab. Orang yang menyembah ilah palsu biasanya doanya sangat detail karena takut ilahnya kurang dengar. Kemudian cara ini diadopsi orang Kristen. Keinginan doa orang Kristen dinyatakan hingga ke hal yang sangat detail berharap agar Tuhan tidak salah menjawab. Setelah dijawab lalu dilihat ternyata kurang baik, lalu isi doa diperbaiki. Dijawab lagi dan dilihat kurang, minta lagi dan seterusnya sampai lebih detail. Jawaban doa seperti apapun bagi manusia akan tetap dirasa kurang tanpa konsep doa yang benar. Alkitab mencatat bahwa Tuhan sudah mengetahui sebelum manusia meminta sesuatu. Bahkan Tuhan akan memberikan apa yang belum dipikirkan manusia.  Seorang anak yang ingin pergi ke sekolah minta dibawakan pulpen sedangkan ibunya sudah mempersiapkan botol minum, tempat makan dan lain-lain yang tidak terpikir akan berguna bagi si anak. Sama halnya dengan Tuhan, banyak yang belum dipikirkan tetapi Tuhan mungkin sudah lebih dahulu menjawab.

Yunus berkata, ”Tuhan menjawab aku,” Maka Tuhan yang menjawab dan Tuhan yang mendengar merupakan dua tema yang sangat penting. Tuhan perlu mendengar dahulu sebelum menjawab. Tuhan tidak sibuk sehingga Ia tidak dapat mendengar doa kita. Frekuensi kita dengan frekuensi Tuhan sangat berbeda. Tuhan menciptakan dunia hewan disertai telinga yang sangat sensitif dan peka. Binatang dapat menangkap suara yang sangat kecil dari kejauhan. Jika binatang yang adalah ciptaan Tuhan saja memiliki telinga yang sangat peka, apalagi Tuhan sang pencipta. Tuhan sangat mendengar setiap doa yang kita keluarkan, tidak perlu kita diktekan Tuhan sudah mengetahui. Tuhan bukan hanya mendengar tetapi Tuhan juga menjawab. Tuhan menjawab berdasarkan apa yang menurut Tuhan baik adanya. Matius 7:11, ” Jadi jika kamu yang jahat tahu pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga, ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadanya.” Allah selalu memberikan yang terbaik tetapi manusia memilah yang baik menjadi yang baik dan yang tidak baik. Dua point mengenai yang baik dan yang tidak baik ini adalah hasil penilaian dari manusia.  Ini dilema yang seringkali muncul, saat Tuhan melihat hal ini baik, manusia merasa tidak baik. Ayub mengerti konsep ini dan berkata, ”Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau meneruma yang buruk?” (Ayub 2:10). Bagi manusia ada hal baik dan ada hal buruk, tetapi bagi Tuhan semua itu baik bagi manusia. Manusia harus siap menerima hal yang buruk sekalipun karena itu adalah baik adanya.

Tuhan mengaruniakan seorang anak kepada Abraham setelah penantiannya selama 25 tahun. Ini adalah hal yang baik karena Tuhan mengaruniakan anak. Lalu setelah Ishak dididik hingga remaja, Tuhan ingin mengambil anak itu. Abraham tidak menggerutu, protes atau mencurigai suara Tuhan, melainkan ia taat dan mengerti. Tuhan yang memberi maka Tuhan juga berhak mengambil. Abraham mengamini bahwa melalui keturunannya akan muncul bangsa yang besar. Abraham beriman akan janji Allah itu maka ia tidak protes dengan permintaan Tuhan itu. Abraham sadar bahwa ia hanya memiliki anak tunggal sedangkan janji Allah akan digenapi melalui dirinya. Di satu sisi Tuhan menjanjikan keturunan yang besar, di sisi lain Tuhan hendak mengambil satu-satunya keturunannya. Abraham beriman dan berpikir bahwa Tuhan pasti akan membangkitkan Ishak satu-satunya penerus Abraham, atau alternatif selanjutnya mungkin Tuhan sedang menyiapkan seorang pengganti setelah Ishak. Orang yang taat dan mengerti akan Tuhan yang benar maka hidupnya stabil dan tidak tergoncangkan oleh masalah. Dalam Kej 22:5 ,”Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu”. Abraham mengerti bahwa ia berdua akan pergi ke atas gunung dan mereka berdua pun akan kembali bersama. Abraham beriman bahwa Tuhan pasti menyiapkan cadangan yang lain sehingga Abraham menyebut Tuhan sebagai Yehova Jire (Tuhan menyediakan). Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil dan Tuhan juga berhak memberikan kembali. Ini konsep kestabilan iman Kitab Suci. Ketika saudara mendapat suatu berkat, ingatlah bahwa Tuhan dapat mengambil berkat itu sewaktu-waktu. Ketika berkat itu justru membuat saudara jauh dari Tuhan maka Tuhan berhak mengambilnya. Maka ketika saudara diberikan berkat seharusnya saudara tambah melayani Tuhan. Amin? Kehidupan orang di desa lebih sederhana dibanding orang di kota. Fasilitas yang dimiliki di kota lebih banyak, maka seharusnya orang kota lebih rajin  melayani Tuhan. Tuhan sejati adalah Tuhan yang mendengar serta Tuhan yang menjawab. Ketika Tuhan menjawab, kita harus siap menerimanya.


(Ringkasan khotbah ini SUDAH diperiksa oleh pengkhotbah)


#59 - 12/09/2010
"Iman Perwira Di Kapernaun"
Pdt. Benyamin F. Intan, Ph.D.


Lukas 7:1-10
Ada hal yang sangat menarik dalam bacaan Firman Tuhan ini. Saat melihat perwira dari Kapernaum, Yesus mengatakan bahwa iman seperti itu tidak pernah Ia jumpai di Israel. Ini adalah satu bentuk pujian dari Yesus karena seorang perwira adalah seorang kapten yang membawahi 100 tentara. Terlebih situasi pada saat itu, orang Israel sedang dalam masa penjajahan pemerintah Romawi. Seorang perwira dipandang sebagai sosok yang sangat kejam karena ia berwenang memberi perintah tentaranya untuk membunuh atau menangkap orang. Maka seorang perwira penjajah pasti dibenci oleh bangsa yang dijajah. Namun Yesus justru memuji perwira ini bahwa iman demikian  tidak pernah dijumpai di Israel, bahkan di kalangan murid Yesus. Tidak hanya itu tetapi juga dikatakan bahwa Yesus heran. Bukankah merupakan hal yang mengherankan mendengar bahwa Yesus heran? Yesus adalah oknum kedua Allah Tritunggal yang memiliki atribut-atribut Allah. Sifat Allah yang Mahakuasa (omnipotent), dan Mahatahu (omniscience) pasti dimiliki oleh Yesus. Kalau Yesus Mahatahu, lalu mengapa Yesus heran? Manusia dicipta segambar dan serupa dengan Allah, artinya kita memancarkan sifat Ilahi di dalam hidup kita dengan memuliakan Tuhan. Sifat Ilahi yang dimaksud adalah sifat Ilahi yang dapat dikomunikasikan (Communicable attribute of God) seperti kasih, keadilan, kesucian Allah. Manusia hanya mungkin memiliki sifat Allah yang dikomunikasikan Allah dan tidak mungkin memiliki sifat Allah yang tidak dapat dikomunikasikan. Sifat Allah yang tidak dapat dikomunikasikan (Incommunicable attribute of God) yaitu seperti omnipotent, omniscience, dan omnipresence (Mahahadir). Ketika manusia heran maka itu bukanlah hal yang mengherankan. Namun merupakan hal yang heran ketika melihat Yesus heran. Dengan kata lain, perkataan Yesus tersebut memiliki makna bahwa “Saya heran mengapa kalian tidak heran melihat iman perwira ini?

Saudara, apakah hal yang membuat Yesus sampai berkata “Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” (Luk. 7:9)? Ketika Yesus masuk Kapernaum, Yesus diberitahu orang tua Yahudi bahwa ada seorang perwira yang sangat mengasihi hambanya yang sakit keras dan hampir mati. Cinta kasih diuji ketika orang yang dikasihi sedang berada dalam kesukaran, sakit atau hampir mati. Ketika mengakui ikrar pernikahan, itu adalah ikrar untuk selalu mengasihi pasangan di kala mereka dalam kondisi sehat maupun sakit, saat kelimpahan maupun kekurangan. Si perwira ini sangat mengasihi hamba ini dan sangat menghargainya. Pada jaman itu, budak adalah alat hidup (living tool). Maksudnya, jika seorang tuan menganiaya budak  sampai babak belur, mata buta atau mati sekalipun maka tuan itu tidak akan terjerat hukuman. Saat itu budak dianggap tidak ada nilainya. Sang perwira Romawi sangat berkuasa dan memiliki 100 tentara. Ia berpangkat kapten dan seharusnya ia dapat tidak peduli dengan budak yang sakit keras itu. Perwira tersebut menolong budak yang sakit itu, bukan karena budak itu sangat berguna semasa sehatnya. Perwira ini tidak menolong budaknya dengan setengah hati, ia mencari tabib yang paling baik yaitu Tuhan Yesus. Siapa di antara saudara yang ketika pembantunya sakit jantung lalu membawanya ke Singapore untuk pasang stem? Atau dibawa ke dokter yang sekali pasang alat stem harganya 200 juta?

Dalam hal ini, Tuhan Yesus melihat hati dan cinta dari perwira yang jarang ditemuinya. Allah hadir di dalam hati perwira ini. Dalam Matius ada diceritakan bahwa seseorang yang sedang sakit keras biasanya akan berteriak keras pada malam hari. Seorang yang sakit pastilah tidak dapat berjalan dan harus dijaga dengan baik secara intensif. Maka, Perwira ini merekrut budak lain untuk bergiliran menjaga budak yang sedang sakit itu.

Perwira ini memiliki cinta kasih yang berbeda dengan cinta yang lain. Alkitab membedakan ada empat macam cinta kasih. Cinta kasih yang pertama adalah eros yaitu cinta suami istri (sex/nafsu). Yang kedua, cinta kasih storge yaitu cinta kasih dalam keluarga seperti cinta adik terhadap kakak, cinta anak terhadap orang tua dan sebaliknya. Yang ketiga, cinta kasih philia yaitu cinta kasih dalam persahabatan atau antar teman. Ketiga cinta kasih tersebut memerlukan timbal balik (take and give). Dalam kebudayaan Yunani (di masa PB) terdapat satu macam kasih yang tidak dimiliki oleh manusia dan hanya dimiliki oleh dewa yaitu agape. Agape merupakan cinta kasih yang unconditional, unlimited serta unmotivated. Cinta yang tidak mengharapkan balasan dari orang yang dikasihi padahal orang itu tidak layak menerima cinta kita. Saat itu Israel diajarkan untuk mengasihi saudara/teman dan membenci musuh, tetapi Yesus mengajarkan sebaliknya. Perwira ini sudah memiliki cinta kasih agape yang pada masa itu adalah satu jenis cinta kasih yang baru. Perwira ini menjadi Yahudi yang taat dan telah menangkap inti dari pengajaran Kristen, yaitu Allah adalah kasih adanya. Yesus datang ke dalam dunia dari tempat mulia untuk menjadi manusia supaya manusia dapat menemui Dia. Padahal manusia tidak layak menerima cinta kasih Tuhan yang demikian. Cinta kasih yang disebutkan dalam Alkitab adalah cinta kasih yang menyangkal diri. Ibarat sebuah lilin yang harus meleburkan dirinya untuk dapat menerangi kegelapan. Cinta kasih agape ini berlawanan dengan ajaran Plato yang mengatakan bahwa semua tujuan cinta kasih adalah self-centered (diri sendiri). Cinta yang ditujukan untuk mengambil dan memonopoli apa saja yang diinginkan. Jika saya tanya, siapa yang suka anjing? Pertanyaan ini memiliki dua arti, yaitu suka memelihara anjing dan suka makan anjing. Ketika dikatakan suka memelihara, maka pasti ada pengorbanan untuk anjing untuk merawatnya. Namun ketika dikatakan suka makan anjing, maka akan membuat anjing lari terbirit-birit karena hendak dipotong. Si perwira memiliki cinta kasih Allah yaitu agape. Ini Poin Pertama mengenai iman kepercayaannya.

Mari kita perhatikan Poin Kedua mengenai iman kepercayaan perwira ini. Saat Yesus di Kapernaum, dikatakan bahwa si perwira meminta kepada tua-tua (yaitu ahli Taurat dan orang Farisi) untuk menyampaikan kepada Yesus untuk menolong hambanya yang sakit keras. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong” (Luk. 7:4). Sekilas terlihat bahwa perwira ini sombong karena ia tidak datang sendiri kepada Yesus atau mengapa tidak hamba yang sakit keras itu yang dibawa ke hadapan Yesus. Seharusnya yang memerlukan pertolongan  lebih berusaha keras daripada yang diminta tolong. Terlebih dengan kalimat mereka “Ia layak Engkau tolong”. Kata “layak” di dalam Kekristenan adalah hal yang sangat sensitif. Kalimat ini seperti menunjukkan bahwa manusia berdosa layak untuk ditolong dan mendapat pengampunan Tuhan padahal sebenarnya tidak. Siapakah manusia sehingga berani berkata bahwa dirinya layak ditolong Tuhan? Lalu mengapa Yesus tetap mau pergi menyembuhkan hambanya itu? Bukankah konsep meminta tolongnya sudah salah? Para tua-tua mengira bahwa Yesus layak menolong karena perwira itu sangat mengasihi bangsa itu dan membangun rumah ibadah. Dengan jasa yang demikian besar, mereka mengira bahwa Yesus selayaknya menolong dia. Yesus dapat saja menolak permintaannya, tetapi ia tetap pergi menyembuhkan hamba perwira. Meski yang ditolong hanya seorang hamba Yesus tetap pergi. Mengapa? Yakobus mengatakan bahwa doa orang benar besar kuasanya. Yesus mengetahui suara domba yang benar dan yang tidak benar.

Kita harus bersyukur ketika persembahan kita dapat dipakai untuk keperluan Tuhan. Itu merupakan privilege dari Tuhan ketika Tuhan mau memakai kelebihan saudara. Dalam cerita Yesus memberi makan 5000 orang, yang diberi makan hanyalah kaum laki-laki saja. Jika ditambah dengan perempuan maka jumlahnya bisa mencapai 12 sampai 14 ribu orang. Yesus dapat langsung membuat mujizat dari benda yang tidak ada menjadi ada kemudian membagikan makanan ke semua orang. Yesus dapat memakai cara seperti Musa yang berdoa dan minta diturunkan roti dari surga. Namun Yesus tidak memakai cara demikian. Yesus bertanya kepada murid-muridnya, “Ada makanan tidak?”. Muridnya menjawab tidak ada lalu didapati makanan dari seorang anak kecil yaitu 5 roti dan 2 ikan.  Saudara dan saya adalah seperti anak kecil ini yang mungkin hanya memiliki sedikit dari apa yang diperlukan. Namun 5 roti dan 2 ikan itu dapat dipakai Tuhan. Mungkin Tuhan memakai keuangan, waktu atau pikiran kita, tetapi biarlah saudara memiliki hati yang merasa diri tidak layak datang kepada Tuhan. Daud memiliki segalanya tetapi Tuhan tidak mempercayakannya membangun rumah Tuhan. Tuhan berkata “Tidak, tanganmu berlumuran darah.” Maka anaknya yaitu Salomo yang akhirnya membangun rumah Tuhan.

Seorang perwira di jaman penindasan tersebut harus menunjukkan sifat yang kejam. Ia tidak boleh bersahabat dengan bangsa musuh. Namun, perwira ini bukan hanya mengasihi bangsa Yahudi tetapi juga memiliki iman Yahudi. Ia datang ke tempat bukan orang Yahudi yaitu bait Allah (Sinagoge) dan ia berdoa. Bahkan ia memberi persembahan untuk membangun rumah ibadah orang Yahudi. Perwira ini telah berbaur serta mengidentifikasikan diri sama dengan orang Yahudi. Resiko yang dihadapi sangat berat dan mungkin ia akan diturunkan jabatan dari seorang kapten. Atau mungkin ia dapat dijadikan budak seumur hidup bersama keluarganya atau dihukum mati. Maka pasti setiap kali ia datang ke kebaktian, hatinya begitu gentar dan tulus untuk bertemu Tuhan. Bahkan ia datang ke kebaktian dengan hati yang mati hidup. Sangat mungkin isi doanya  “Tuhan, Engkau adalah Allah yang mahakuasa, pasti Engkau mampu melepaskan kami dari pemerintahan Romawi yang akan menangkap saya, dst. Namun jikalau tidak, saya akan tetap datang berbakti kepadaMu”. Saya dapat informasi bahwa ada satu penatua yang ditusuk di gereja di bekasi. Kondisi yang dihadapi gereja di sana mirip dengan kondisi perwira yang setiap saat dapat dianiaya karena imannya. Ini merupakan iman yang mengatakan “Jika Tuhan mengijinkan saya mati karena melakukan ibadah, maka saya akan tetap menjalankan ibadah.” Ketika Sadrakh, Mesakh dan Abednego akan dibuang ke api yang menyala, mereka berkata “Tuanku ketahuilah bahwa Allah yang kami sembah sanggup melepaskan kami. Tetapi seandainya tidak, kami tetap tidak akan menyembah patung buatan tangan tuanku,” Ini yang disebut iman. Orang Yahudi dan orang Farisi pada jaman Yesus percaya bahwa penderitaan disebabkan karena kutukan dari Tuhan. Maka dalam perumpamaan Samaria yang murah hati, imam Yahudi membiarkan orang Yahudi terkapar dan tidak menolongnya. Mereka lupa satu hal, yaitu bahwa ada orang yang menderita bukan karena dosa tetapi karena hidupnya konsisten dengan Firman Tuhan. Inilah poin kedua mengenai iman perwira Kapernaum ini.

Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh (Luk. 7:6-7). Ketika Yesus sudah dekat ke rumah perwira itu, orang-orang justru mengatakan agar Yesus tidak perlu datang karena perwira itu merasa tidak layak. Jika saudara menjadi Yesus bagaimana respon ketika mendengarnya? Bukankah sebelumnya dikatakan oleh tua-tua bahwa Yesus perlu menemui dan mendatangi hamba yang sakit itu? Maka perkataan Farisi dan Ahli Taurat itu hanya karangan mereka. Si perwira tidak pernah meminta orang Farisi supaya Yesus datang ke rumahnya. Memang ia meminta mereka untuk menyampaikan kepada Yesus menyembuhkan hambanya, tetapi dia tidak minta agar Yesus datang ke rumahnya. Perwira tersebut berpesan kepada orang-orang bahwa Yesus cukup mengatakan satu kalimat kesembuhan maka hambanya akan sembuh. Perwira tersebut percaya jika Yesus mengatakan sesuatu, maka akan terjadi sesuai dengan apa yang dikatakan. Inilah iman yang luar biasa.

Poin Ketiga yaitu ia merasa tidak layak. Ini tanda orang beriman. Semakin ia dekat dengan Tuhan maka akan merasa diri semakin tidak layak. Bagaikan cermin yang ketika kita semakin dekat maka kita akan diterangi dan diperjelas lagi. Yesaya adalah nabi besar dalam PL. Ketika dia melihat kemuliaan Tuhan ia berkata, “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir. Namun mataku telah melihat sang Raja, yakni TUHAN semesta alam..” (Yes. 6:5). Semakin iman dan kerohanian seseorang semakin baik maka saudara akan melihat ketidaklayakan dia di hadapan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan akan merasa ketika ia masuk gereja maka hatinya hancur, dan merasa tidak layak. Orang yang bertingkah seperti boss maka orang itu justru masih kecil di hadapan Tuhan.

Mari kita masuk dalam Poin Keempat dari iman perwira Kapernaum ini. Perwira menyampaikan kepada orang Farisi dan Ahli Taurat bahwa jika Yesus berkata bahwa hambanya akan sembuh maka si hamba akan menjadi sembuh. Bagi orang Farisi dan Ahli Taurat, hal itu adalah tidak mungkin karena bertentangan dengan tradisi Yahudi. Di dalam tradisi Yahudi, ketika saudara menyembuhkan orang, saudara harus menyentuh dan melihat dia. Wanita yang sakit pendarahan mendekati Yesus dan merasa cukup dengan menjamah jubah Yesus untuk menyembuhkan dirinya. Nabi Elia menyembuhkan orang dengan melalui touching (pegang, doakan dan sentuh).

 Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).  Orang Yahudi dan Farisi cukup bebal dalam menerima Firman. Kejadian 1:1 mengatakan ketika Tuhan berfirman “Jadilah terang” maka terang pun jadi. Tidak perlu sentuhan, cukup perkataan Firman maka kuasa Tuhan dapat nyata. Dalam Kitab Suci sering Tuhan berfirman, “Dengarlah hai orang Israel”. Lambat laun terbentuklah budaya shema atau budaya dengar. Budaya ini sangat dominan dalam tradisi Yahudi.  Dalam cerita Lazarus dan orang kaya, permintaan orang kaya ditolak oleh Abraham. Orang kaya mengira dengan kebangkitan dirinya maka akan membuat orang yang tidak percaya dapat bertobat. Abraham mengatakan bahwa orang yang hidup sudah memiliki Kitab Taurat dan Kitab Nabi. Jika mereka tidak mau mendengar Firman maka mereka pun tidak akan percaya sekalipun telah melihat orang mati yang bangkit. Gereja yang tidak bertanggung jawab selalu memberikan visualisasi kesembuhan agar orang percaya. Gereja yang sejati harus lebih memroklamirkan hal yang paling utama yaitu Firman Tuhan. Iman muncul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman. Iman muncul bukan dari penglihatan akan mujizat. Sekilas iman perwira tampak sederhana, tetapi sesungguhnya ia memiliki pemahaman yang melampaui ahli taurat dan orang Farisi. Perwira tersebut tidak pernah minta kepada tua-tua agar Yesus datang ke rumahnya. Saya percaya  perwira hanya berpesan agar Yesus menyembuhkan hambanya cukup dengan kalimat kesembuhan yang Yesus ucapkan. Tua-tua yang mendapat pesan demikian otomatis tidak dapat terima konsep itu. Mereka hanya mengerti bahwa kesembuhan terjadi secara visualisasi. Padahal saat itu Shema adalah budaya yang sangat dominan dalam tradisi Yahudi.

Iman yang lebih mengejutkan sehingga membuat Yesus heran adalah ketika si perwira berkata “Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk. 7:7). Perwira itu terlalu yakin bahwa Yesus pasti akan bersedia menyembuhkan hambanya. Seperti perjamuan di Kana dimana Maria kehabisan anggur. Yesus bertanya, ”Mau apa engkau daripadaku perempuan?” Perkataan Yesus ini seolah cukup kasar tetapi didalamnya terdapat teguran. Teguran bahwa mujizat tidak digerakkan dari kehendak manusia tetapi hanya karena kehendak Allah. Yang mengatur terjadinya mukjizat adalah Tuhan dan bukan manusia. Mujizat tidak dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja semau hamba Tuhan. Gereja yang tidak bertanggung jawab selalu muncul divine healing. Ini ajaran sesat dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Perwira ini mengatakan jika atasan mengatakan demikian maka akan terjadi. Darimana ia mengetahui bahwa atasannya akan berkata demikian? Orang yang bergaul dan memiliki fellowship yang akrab dengan Tuhan pasti akan mengetahui kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan menurut systhematic Teologi dibagi menjadi dua macam yaitu kehendak Tuhan yang dinyatakan kepada manusia (God’s revealed will) dan kehendak Tuhan yang tidak dinyatakan kepada manusia (God’s secret will). Kehendak Tuhan yang dinyatakan kepada manusia adalah seperti jangan membunuh, jangan berzinah, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kehendak Tuhan yang tidak dinyatakan, seperti waktu manusia meninggal, waktu dapat jodoh, waktu kedatangan Yesus, waktu dapat anak, kesembuhan manusia, dsb. Perwira ini menyadari bahwa ia tidak mengetahui God’s secret will. Ia tidak mengklaim bahwa ia pasti sembuh pada waktu sekian. Orang yang dapat mengklaim bahwa orang yang sakit pasti sembuh telah menyamakan dirinya dengan Tuhan dan sudah memasuki wilayah God’s secret will. Di sisi lain perwira ini mengerti kehendak Tuhan Yesus. Dia berkata jika Tuhan berkata kesembuhan saja maka hambaku akan sembuh. Ia bukan hanya mengetahui bahwa Yesus mampu, tetapi juga tahu bahwa Yesus akan melakukannya.

Setiap manusia yang telah ditebus oleh darah Yesus telah dilepas dari kuasa dosa. Kita yang telah diberi Firman telah diberi Roh kudus maka kita dapat mengetahui kehendak Tuhan. Paulus mengatakan, “Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.” (Kol. 1:9). Secara teori sangat mudah tetapi prakteknya sulit karena manusia sangat lemah dalam kedagingan. R.C. Sproul mengatakan God’s will of disposition. Maksudnya jika dalam setiap pergumulan kita, kita melibatkan Tuhan dengan membaca Firman dan berdoa maka Roh Kudus berbicara. Setiap keputusan yang dihasilkan adalah kehendak Tuhan bagi dirinya. Jika saudara dalam pergumulan melibatkan Tuhan dan bergumul dalam Firman dan doa maka Roh Kudus akan memimpin kita. Ketika Roh Kudus memimpin kita maka itulah kehendak Tuhan (God’s will of disposition).

Saudara disini, baru kita mengerti alasan Yesus heran. Yesus akan heran jika kita tidak heran melihat  iman perwira yang tercermin dalam kasih agape kepada sesamanya. Pertama, Kasih agape mendasari semua hubungan, relationship, human relationship nya. Kedua, iman yang mengambil resiko. Ketiga, ketidaklayakan diri di hadapan Tuhan. Keempat, iman yang berlandaskan Firman Tuhan (bukan berlandaskan visualisasi). Kelima, bergaul akrab dengan Tuhan dan melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan. Inilah iman yang murni dan tercermin dalam semua aspek kehidupanya. Maukah Saudara memiliki iman demikian? Mari masuk dalam doa.


(ringkasan ini BELUM diperiksa oleh pengkhotbah-Timur/Sonny)

No comments:

Post a Comment

Post a Comment